
Malam sudah mulai turun. Jam menunjukkan pukul 8 malam. Ardian yang baru selesai shalat isya mendekati Erina yang sedang asyik membuka ponsel.
"Rin, berhenti main hp. Sejak tadi kamu main hp terus. Kata aunty, kamu nggak boleh main gadget kelamaan. Nggak baik buat bayi-bayi kita." Erina tak memperhatikan ucapan Ardian. Ia tetap asyik dengan ponselnya.
"Sayang, jangan lupa shalat isya." Ardian mengingatkan kembali. Ia duduk di pinggir ranjang.
"Ngapain duduk disitu?" tanya Erina sengit.
"Memangnya kenapa, nggak boleh aku duduk disini?"
"Sana duduk jauh-jauh dari gue!Dan nggak usah sok mengatur hidup gue," ucap Erina ketus.
"Aku suamimu. Aku mau duduk dekat kamu, istriku. Aku bukan mau sok ngatur kamu, tapi sudah kewajibanku menjaga dan mengayomi dirimu."
"Nggak boleh! Jangan panggil gue kayak gitu. Geli gue dengarnya," ucap Erina ketus.
"Lho, kamu kan sekarang memang sudah jadi istriku. Kita sudah sah di mata hukum dan agama. Aku memiliki hak memanggilmu dengan sebutan ISTRI."
Tubuh Erina bergidik mendengar kata ISTRI yang diucapkan oleh Ardian. Ya ampun, gue sudah sah jadi istri dia, batin Erina. Kenapa nasib gue sial banget sih? Gue nggak mau jadi istri dia. Gue benci dia. Apalagi kalau gue harus patuh sama dia, nggak banget. Dan apakah itu artinya gue juga harus memenuhi keinginan dia kalau dia meminta haknya sebagai suami?
"Kenapa diam? Kamu masih belum bisa menerima aku sebagai suamimu?" tanya Ardian. Tangannya terulur hendak mengelus pipi Erina, namun Erina langsung menepis tangan Ardian.
"Jangan pernah elo menyentuh gue!" bentak Erina. "Gue nggak sudi elo sentuh!"
Ardian hanya mampu menghela nafas kesal dengan sikap Erina. Namun ia bisa memaklumi sikap Erina. Seandainya saja ia tidak memulainya dengan salah, mungkin pernikahannya tidak seperti ini. Bisakah aku membahagiakan dia dan anak-anakku kalau dia tak bisa menerima diriku seutuhnya, tanya Ardian dalam hati.
"Rin, aku tahu kalau aku memulainya dengan salah. Tapi tolong berikan aku kesempatan menebus kesalahanku dan membahagiakan kalian," pinta Ardian dengan suara lembut.
"Elo lupa kalau gue terpaksa menikah sama elo? Sampai kapanpun gue akan selalu benci elo." ucap Erina dengan raut wajah jutek.
"Aku nggak lupa dan aku siap menunggu sampai kamu bisa ikhlas menerimaku sebagai suamimu."
"Batu banget sih dikasih tau!" omel Erina.
"Kamu boleh membenciku, tapi jangan benci anak-anak kita. Mereka tak salah apa-apa." Erina tak menjawab.
"Gue capek. Gue mau tidur."
__ADS_1
"Shalat dulu. Vitaminnya sudah diminum belum?"
"Cerewet ah! Gue baru tahu kalau elo bisa lebih cerewet daripada mommy."
"Sudah jadi tugasku mengingatkanmu tentang kewajiban beribadah dan kesehatanmu serta anak-anak kita."
Tak lama terdengar pintu kamar diketok dari luar.
"Ri, Ardi.. kalian sudah tidur?" Terdengar suara Yuna dari luar kamar. Ardian bergegas membukakan pintu kamar. Di depan kamar tampak Yuna diikuti oleh mbok Siti
"Ini mommy bawakan susu dan cemilan untuk Erin. Sstt... malam pertama jangan ganas-ganas ya. Ingat istrimu sedang hamil," bisik Yuna sambil tertawa kecil. Mbok Siti yang mendengar ikut terkikik.
"I-iya ma," jawab Ardian cepat. Huh, jangankan malam pertama. Duduk satu ranjang aja diomelin, gerutu Ardian di dalam hati. Jangan-jangan gue bakal dikasih mae-geri kalau coba-coba meluk dia, batin Ardian. Dan ia tahu bagaimana tendangan seorang Erina.
"Rin, ini jangan lupa susunya diminum." Yuna mengingatkan Erina.
Erina menoleh malas ke arah Yuna. Sebenarnya ia bosan meminum susu kehamilan itu. Rasanya nggak enak, batinnya.
"Mom, malam ini Erin skip minum susu ya," bujuk Erina dengan suara memelas.
"Iya, Erin tahu. Tapi Erin bosan mom. Rasanya nggak enak."
"Nanti anak-anak non Erin pendek lho kalau non Erin nggak mau minum susu," celetuk mbok Siti. Erina menoleh judes ke arah mbok Siti yang langsung bersembunyi di balik tubuh Yuna.
"Mbok Siti sok tau!"
"Ssst... sudah jangan ngomelin mbok Siti. Dia kan cuma concern sama bayi-bayimu. Nih, mommy taruh sini ya. Ardian, jangan lupa Erina diingatkan."
"Iya aunty."
"Kok aunty? Mulai sekarang panggilnya mommy, bukan aunty lagi ya."
"Eh, i-iya aun.. eh mommy."
"Mas Ardi nih lucu. Kayak yang baru kenal aja sama nyonya mommy. Padahal kan sudah sering main kesini," ledek mbok Siti sambil tertawa kecil. Tawanya langsung berhenti saat melihat lirikan maut Erina.
"Maklum mbak, sekarang sudah beda status," jawab Ardian sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Iya, sekarang mommy punya 2 anak. Kamu dan Erina." Yuna menepuk-nepuk punggung Ardian.
"Kalian lebay," celetuk Erina masih dengan nada judes.
"Ya ampun istriku yang cantik kenapa jutek terus sih?" Kesempatan ini Ardian gunakan untuk mencolek ujung hidung Erina. Ia sengaja melakukan hal itu karena tahu Erina takkan memarahinya di depan sang mommy.
"Apaan sih colek-colek hidung gue?" tanya Erina dengan mulut dimanyunkan. Ardian tersenyum melihatnya. Sumpah tuh bibir pengen gue cium, batin Ardian. Ia masih bisa mengingat bagaimana rasa bibir itu.
"Jangan galak-galak sama Ardi. Dia itu sudah sah menjadi suamimu," tegur Yuna lembut sambil memeluk bahu Erina.
"Sekarang surganya Erin terletak pada ridho suami. Makanya kamu harus berbakti pada suami. Jangan membantah ucapan suami dan jangan menolak permintaannya." Yuna menasihati Erina. "Jadilah kamu istri yang enak dipandang oleh suami. Itu pahala lho, Rin."
"Mommy kenapa jadi sok bijak gini deh?"
"Enak aja mommynya dibilang sok bijak. Mommy tuh beneran bijak. Makanya daddy kamu kepincut sama mommy."
"Dih, mommy sudah mau jadi granny masih narsis."
"Bukan narsis, Rin. Tapi itulah kenyataannya. Kalau nggak percaya, tanya aja sama daddy," sahut Yuna tak mau kalah.
Sepeninggal Yuna dan mbok Siti, Ardian kembali mencoba membujuk Erina.
"Ayolah Rin, demi kebaikan anak-anak kita."
"Anak-anak yang tak diinginkan."
Degh, perasaan Ardian terhantam mendengar ucapan Erina.
"Apakah kamu benar-benar nggak bisa menerima mereka?" Erina hanya angkat bahu tak peduli. "Maafkan aku karena telah memberi beban hidup yang sedemikian beratnya."
Usai mengucapkan hal tersebut. Ardian mengambil bantal dan merebahkan diri di sofa yang tentunya terlalu pendek untuk tubuhnya yang jangkung. Ia tak lagi mencoba membujuk Erina. Ia menyadari saat ini Erina takkan bergeming dengan bujukannya.
Ardian sadar pernikahan yang akan mereka jalani bukanlah pernikahan impian Erina. Sekian lama bersahabat dengan Erina, ia sangat mengerti apa yang diinginkan oleh sahabatnya itu. Pernikahan yang indah, dimana di dalamnya ada rasa cinta dan saling menyayangi. Persis seperti pernikahan kedua orang tua Erina.
Saat ini hanya ia yang memiliki rasa cinta kepada Erina dan tentunya kepada anak-anak mereka. Ardian hanya bisa berharap pernikahan mereka akan berujung bahagia bagi semua pihak. Fokus Ardian saat ini adalah membuat Erina menjalani kehamilannya senyaman mungkin. Namun untuk malam ini Ardian lebih memilih untuk menyerah, karena ia sendiri mengalami kelelahan fisik dan juga psikis.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1