TAKLUK

TAKLUK
BERTEMU KELUARGA


__ADS_3

"......... Sepertinya kita hentikan rencana kita untuk berkencan. Kamu berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku."


⭐⭐⭐⭐


Happy Reading


"Hey, tidak semudah itu young lady. Setelah kamu melamarku dan menjerat hatiku, tak semudah itu kamu melarikan diri dariku," Daffa mempererat pelukannya. Diraihnya jemari Erina dan dikecupnya dengan lembut. "Kamu harus bertanggung jawab."


"Apa maksudmu bertanggung jawab? Apakah aku telah melakukan sesuatu yang merugikanmu atau menyakitimu?" Erina mengangkat wajah dan menatap Daffa.


"Iya kamu harus bertanggung jawab atas lamaran dan hatiku yang telah kamu curi. Apakah kamu mau melarikan diri begitu saja disaat hatiku telah terpenjara dalam pesonamu?"


Erina menatap mata Daffa dan berharap menemukan kebohongan atau kilatan jahil disitu. Namun Erina tak menemukan itu di mata Daffa. Ia malah melihat sesuatu yang asing. Sesuatu yang tak pernah ia temui di mata barisan para mantan. Daffa menggunakan kesempatan itu untuk mencium dahi dan pucuk hidung Erina.


Mendapat perlakuan seperti itu membuat Erina kembali menundukkan pandangannya. Erina merasakan ada debaran aneh di dadanya yang ia yakini bukan penyakit jantung. Ya tuhan, kenapa aku begini? Ini bukan kali pertama ia dipeluk atau dicium lelaki. Namun entah mengapa kali ini rasanya sedikit berbeda. Ia merasa seolah ini adalah pengalaman pertamanya dipeluk dan dicium lelaki.


Kenapa aku seperti orang yang baru pertama kali jatuh cinta, batin Erina. What? Jatuh cinta? Aku jatuh cinta.... pada Daffa? Apa mungkin secepat itu aku bisa jatuh cinta kembali? Tanpa disadari Erina menggelengkan kepalanya. Tentu saja hal tersebut disadari oleh Daffa.


"Rin, maafkan aku yang terlalu lancang melakukan hal itu. Padahal aku belum meminta ijin darimu."


"It's okay Daf. I don't mind. Aku hanya terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri."


"Kenapa? Apakah sikap dan ucapanku membuatmu bingung? Maaf kalau aku membuatmu bingung."


"Aku bingung terhadap diriku sendiri yang tidak seperti biasanya. Dihadapanmu, di dalam dekapanmu aku merasa menjadi orang yang berbeda. Bukan lagi Erina yang tomboy dan kasar. Tapi Erina yang seperti layaknya gadis biasa."


"Apakah itu buruk?"


"Entahlah. Sahabat-sahabatku pasti akan kaget melihat perubahanku yang begitu drastis."


"Kuharap kaget yang positif." Daffa kembali mencium dahi Erina. Ciuman bukan karena nafsu namun terasa penuh kasih sayang. Kali ini Erina melingkarkan tangannya memeluk tubuh Daffa.


"Kuharap ini bukan mimpi. Kalaupun mimpi aku tak ingin terbangun."


"Kalau begitu jadi dong weekend besok bertemu dengan keluargaku?"


"Kamu yakin?"


"Kenapa harus tidak yakin? Ternyata baru beberapa kali bertemu, kita mulai merasa nyaman dan merasakan adanya ketertarikan diantara kita." Erina tak memungkiri hal itu.


"Kuharap rencana Tuhan kali ini adalah yang terbaik untuk kita," ucap Erina pelan.


⭐⭐⭐⭐


Sepanjang perjalanan menuju vila yang terletak di kaki gunung, Erina tak banyak bicara. Sejak semalam ia tak bisa tidur. Setelah subuh ia baru mulai mengantuk. Untunglah Daffa tidak terlalu pagi menjemputnya karena kebetulan ada pekerjaan yang harus diselesaikan.


"Kamu ngantuk?" tanya Daffa karena Erina diam saja. Tangan Daffa mengelus lembut kepala Erina.


"Aku terlalu tegang untuk mengantuk, Daf."


"Hey, tenang saja. Kamu sudah pernah bertemu dengan ayahku. Demikian juga dengan om dan tanteku. Bahkan kamu sering kontak dengan Boy adik iparku, untuk membicarakan pekerjaan."

__ADS_1


"Tapi aku belum pernah bertemu dengan ibumu. Bagi sebagian besar orang, bertemu dengan ibu kekasihnya adalah hal yang paling menakutkan."


Daffa terkekeh mendengar ucapan Erina. Ia tak bisa menyalahkan Erina tentang hal tersebut. Stigma yang terbentuk di masyarakat adalah hubungan ibu mertua dengan menantu wanita cenderung tidak akrab.


"Tenang saja, aku akan selalu mendampingimu," janji Daffa. Kini digenggamnya jemari Erina dan dikecupnya dengan lembut.


"Thanks Daf."


"Hmm... Rin, bagaimana hubunganmu dengan Zafran? Apakah ia masih sering menghubungimu?"


"Sejak kejadian kemarin itu dia sudah tidak pernah mengontakku. Tapi dia pernah datang ke kantorku untuk mengantarkan undangan pernikahannya."


"Rupanya jadi juga dia menikahi Zulfa. Baguslah. Kuharap setelah menikahi Zulfa ia tak lagi mencoba masuk ke dalam kehidupanmu. Aku tak kan membiarkan hal itu terjadi."


"Daf, balik aja yuk." Daffa tergelak mendengar permintaan Erina.


"Terlambat Rin, nggak sampai satu jam lagi kita akan sampai."


"Daf, apakah bundamu akan suka dengan hadiah yang kubawa?" Erina telah mempersiapkan sebentuk buket bunga yang ditaruh di kursi belakang dan sebuah jam tangan sebagai hadiah.


"Bunda pasti akan suka dengan hadiahmu. Apalagi di ulang tahunnya yang ke 50 ini dia juga mendapat hadiah calon menantu." Erina mencubit lengan Daffa karena malu mendengar perkataan tersebut. Calon menantu. Apakah kali ini dia benar-benar akan menjadi calon menantu seseorang?


Erina tenggelam dalam pikirannya sehingga tak menyadari mobil sudah melewati pintu gerbang vila.


"Ayo turun," ajak Daffa setelah selesai memarkirkan mobilnya. Tampak beberapa buah mobil yang telah terparkir.


"Tas bajuku nggak usah diturunin dulu ya Daf. Siapa tau aku nggak jadi menginap malam ini."


"Kenapa nggak jadi?"


"Ada-ada saja kamu. Keluarga besarku pasti akan menyukaimu."


Erina memandang jejeran mobil dan vila-vila yang terhampar di hadapannya. Ini nggak main-main. Keluarga Daffa bukan orang biasa, pikir Erina. Apakah sebaiknya aku putar balik?


"Daf, berapa banyak saudara yang berkumpul?"


"Nggak sampai 10 keluarga kok. Bunda hanya 4 bersaudara. Aku sendiri hanya 3 bersaudara. Paling-paling 20an orang saja yang bisa hadir." Daffa menjelaskan.


"Oh god... maksudmu acara ini bukan sekedar kumpul keluarga inti?"


"Ya begitulah. Kenapa?"


Bukannya menjawab, Erina malah mengulurkan tangannya yang langsung digenggam oleh Daffa.


"Tangan kamu dingin banget. Gugup?"


"Iyalah. Hanya bertemu dengan orang tuamu saja aku gugup apalagi ini bertemu keluarga besar."


"Keluarga ayahku tahun ini nggak datang." Erina langsung menghentikan langkahnya.


"Daf, balik aja yuk. Aku malu."

__ADS_1


"Seorang Erina malu? Mana Erina yang dulu galak bahkan kemarin ini berhasil mengalahkan seorang pria dengan sekali tendangan?" tanya Daffa sambil tersenyum lebar. "Tenang saja Rin. Mereka semua sudah jinak kok."


"Iih. nggak lucu banget sih. Garing tau!" Namun Erina tertawa juga mendengar ucapan Daffa.


"Sini, jangan jauh-jauh dari aku." Daffa menarik tubuh Erina agar mendekat lalu ia melingkarkan lengannya di bahu Erina. "Tenang saja aku siap menggendong kalau kamu pingsan."


"Sumpah, nggak lucu banget," omel Erina sambil mencubit pinggang Daffa.


"Ouch, sakit Rin." Daffa meringis menahan sakit yang sebenarnya tak seberapa.


"Lebay."


Tiba-tiba.....


"Eh, Daffa sudah sampai!" Tampak seorang wanita muda berdiri di pintu masuk.


"Daf, itu bunda?" tanya Erina sambil berbisik.


"Bukan. Itu adik bunda yang paling kecil. Usianya cuma terpaut 3 tahun denganku. Namanya tante Aira."


Aira langsung memeluk erat Daffa begitu mereka tiba di hadapan wanita tersebut.


"Daf, siapa tuh? Pacar baru?" tanya Aira sambil berbisik.


"Calon istri."


"Sumpeh lo?! Demi apa? Akhirnya elo nggak bakal ngejomblo lagi. Alhamdulillah." seru Aira heboh. "Hey semuanya sini. Daffa bawa calon istri nih!"


Tak sampai semenit segerombolan anak muda muncul di hadapan mereka dengan pandangan ingin tahu.


"Waaah, Daffa pinter pilih calon istri."


"Cantik banget Daf."


"Sudah move on nih dari yang lama."


"Asyiiik... ngebesan lagi nih kayaknya."


Itulah sebagian kehebohan yang menyambut mereka. Semua berebut ingin melihat calon istri Daffa.


"Kenalin dong Daf!"


"Sabar, sabar. Kenalin ini Erina, calon istri gue."


"Boleh dong kalau salaman doang?" celetuk salah satu pria muda yang tak kalah tampan dari Daffa.


"Sorry bro, sebelum dia gue halalin elo nggak boleh sentuh dia. Gue khawatir elo tikung," sahut Daffa setengah bercanda setengah serius.


"Daf, masa salaman saja nggak boleh?" bisik Erina tak enak dengan sikap protektif Daffa.


"Rin, kenalin dia itu playboy kelas kakap. Namanya Virgo. Hati-hati kalau dekat dia." Perkenalan yang disambut sorakan dari yang lain

__ADS_1


"Kenalannya dilanjutin nanti lagi. Yuk kita masuk dulu. Kasian mereka pasti capek." Untunglah Aira menyelamatkan suasana. "Oh ya Daf, bunda sudah nungguin lho dari tadi."


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2