TAKLUK

TAKLUK
MUNGKINKAH?


__ADS_3

Ardian tampak termenung memandangi koleksi foto di laptopnya. Foto-fotonya bersama teman SMA. Foto-foto yang di dominasi oleh kehadiran Erina di sampingnya.


Erina Aurelia Smith. Cewek blasteran yang hadir bagaikan angin ribut ke dalam kehidupannya. Insiden mobil menjadi sasaran kemarahan Erina masih teringat dalam pikiran Ardian. Pertemuan yang berawal dari keributan yang pada akhirnya membawa mereka bersahabat selama bertahun-tahun. Keakraban yang terjalin di antara keduanya sering membuat yang lain cemburu. Bahkan tak jarang gadis-gadis yang dekat dengannya merasa tersaingi oleh kehadiran Erina.


Kedua keluarga mereka saling mengenal dan berteman baik. Erina yang anak semata wayang seolah menemukan sosok kakak pada diri Ardian yang memang hanya memiliki satu saudara tiri, yaitu Gustav. Bahkan Amel sang ibu tiri juga sangat menyayangi Erina.


Erina seribg menginap di rumah Ardian. Demikian juga sebaliknya. Melakukan kenakalan, sedih, happy bahkan nekat mereka jalani bersama.


Pernah suatu kali Yuna marah besar saat Erina menyatakan keinginannya men-tatoo pergelangan kakinya. Erina ngambek dan tinggal di rumah Ardian selama seminggu. Moment-moment Erina larut dalam kesedihan akibat diselingkuhi pun mereka jalani bersama. Bahkan bisa dibilang Erina berhutang nyawa pada Ardian. Karena dialah yang menemukan Erina hampir bunuh diri di apartemennya. Sejak saat itu Erina tak lagi diijinkan tinggal di apartemennya. Satu-satunya tempat pelarian Erina adalah rumah Ardian.


Ardian menghela nafas berat saat mengingat bagaimana hubungan mereka selama ini. Setiap hendak memiliki kekasih atau dekat dengan gadis maka Ardian akan bertanya terlebih dahulu pada sahabatnya ini. Bukan meminta ijin, namun lebih karena ingin tahu pendapat Erina mengenai para gadis tersebut.


Dari sekian banyak gadis yang dekat dengannya, semua kandas akibat mereka merasa tersaingi oleh kehadiran Erina dalam hidup Ardian. Bagaimana tidak, walau memiliki kekasih Erina tetap prioritas utama bagi Ardian.


Pernah suatu ketika Ardian dalam perjalanan ke bioskop dengan seorang gadis, tapi langsung dibatalkan hanya karena Erina memintanya pulang dan menemani minum. Entah di club atau sekedar di kamar mereka. Setiap kali Erina tersakiti, maka Ardian selalu menyediakan bahunya untuk menjadi tempat Erina menangis. Atau di saat Erina marah, Ardian bersedia menjadi sparing partner dan menjadi tempat Erina melampiaskan kemarahannya.


Selama ini tak pernah terlintas dalam pikiran mereka untuk menjalin hubungan lebih dari sahabat. Entahlah karena tak ada ketertarikan fisik atau masing-masing memang tak ingin melewati batasan yang terbentuk di antara mereka.


Bahkan ketika Raina mengusulkan mereka berdua menikah, Ardian dengan lantang menentangnya. Apalagi saat itu ia hendak mendekati Giana, gadis yang dianggapnya bisa menjadi pendamping hidupnya. Tapi lagi-lagi kandas dengan alasan yang kurang lebih sama, ERINA.


Selama ini Ardian sangat bahagia sekaligus cemas saat Erina memiliki kekasih. Kecemasan akan Erina yang akan disakiti oleh para kekasihnya. Bahagia karena itu artinya ia pun bisa memiliki kekasih. Namun ternyata kebahagiaan tersebut semu. Tanpa ia sadari ia selalu mencari atau mendekati gadis-gadis yang memiliki sifat bertolak belakang dengan sifat Erina. Gadis yang feminin, manja, sabar dan penurut. Namun apa daya, sifat-sifat seperti itu malah membuatnya tidak nyaman. Dan pada akhirnya ia menggantung hubungan tersebut atau bahkan mengakhirinya.


Sama halnya dengan Giana. Secara fisik ia sangat tertarik pada Giana. Cantiknya tak kalah dari Erina. Sifat-sifatnya bisa dijadikan patokan untuk menjadi calon istri idaman. Cerdas, sabar, jago masak, feminin, manja namun bisa tegas juga. Satu hal yang kurang sreg, Giana suka memaksakan kehendaknya. Bahkan bisa ngambek berhari-hari bila tak dituruti keinginannya.


Tok.. tok.. tok... terdengar pintu kamar Ardian diketok. Tak lama muncul kepala Gustav dari balik pintu kamar yang memang tak terkunci.


"Woy bro, apa kabar?"


"Tumben lo pake acara ketok pintu segala."


"Jaga-jaga aja. Siapa tau lo lagi berduaan sama cewek lo atau mungkin lagi ehem ehem sama Erin."


"Ngaco aja lo!"


"Lho, siapa tahu. Elo kan bukan bocah yang nggak ngerti hal-hal kayak gitu. Gue juga yakin elo sudah nggak virgin," ledek Gustav.


"Sembarangan lo. Gini-gini gue belum pernah melakukan hal 'itu'."

__ADS_1


"Bohong! Gue nggak percaya. Seorang Ardian yang terkenal sering gonta ganti cewek. Mustahil elo masih virgin. Jangan-jangan elo melakukannya untuk pertama kali sama Erin. Virgin ketemu ..." BUUGGH!


Sebuah pukulan melayang ke wajah Gustav sehingga membuat Gustav dan jatuh terhuyung ke atas tempat tidur.


"JANGAN PERNAH ELO NGOMONG YANG NGGAK-NGGAK TENTANG ERIN!" sergah Ardian penuh emosi.


"Di... ini gue! Gustav!"


"Gue tau itu. Justru itu, seharusnya elo yang paling tau tentang gue dan Erin. Kok bisa-bisanya elo ngomong kayak gitu?!"


"So-sorry bro. Gue cuma bercanda," Gustav tergagap sambil mengusap wajahnya yang kena tonjok Ardian. "Segitu marahnya."


"Seharusnya elo tuh sadar diri bro. Erin begini gara-gara elo selingkuhin dia. Lo tau kan luka itu nggak pernah hilang. Apalagi ditambah dia berkali-kali mengalami kegagalan dalam menjalin hubungan.."


"Kenapa jadi salah gue? Kalau berkali-kali gagal seharusnya dia yang introspeksi diri." Gustav membela diri. "Lagipula kenapa elo nggak pacarin dia? Kalian kan cukup lama berteman."


"Entahlah.... " Ardian termenung menatap kejauhan.


"Di, elo jatuh cinta sama Erin?"


"Ya lo tembak aja. Kalau perlu lamar. Gue yakin ayah dan mama akan bisa menerima dia. Mereka sudah tahu gimana sifat Erin."


"Seandainya semudah itu, Stav."


"Dia masih sama Zafran?" tanya Gustav. Ardian menggeleng. "Peluang besar dong buat elo.


"Dia sekarang lagi dekat sama Daffa." Dahi Gustav berkerenyit berusaha mengingat siapa Daffa.


"Daffa mana?"


"Mantannya Brittany."


"Ooh Daffa yang itu. Kok bisa? Zafran dikemanain?"


"Zafran sudah menikah dengan pilihan ibunya."


"Speechless gue. Lalu gimana ceritanya mereka bisa dekat?"

__ADS_1


"Awalnya gue mau nge-set blind date buat mereka. Belum kejadian, mereka malah nggak sengaja ketemu dan sekarang sepertinya mereka serius mau menikah."


"Bagus dong." Ardian kembali terdiam. Gustav menyadari ada sesuatu yang terjadi pada Ardian. Apakah Ardian cemburu?


"Bro, elo baik-baik saja kan?"


"Entahlah. Sepertinya gue nggak baik-baik saja."


"Jangan bilang elo baru menyadari perasaan lo ketika ada cowok yang berniat serius sama Erin?"


"Gue bingung Stav."


"Dia sudah dilamar oleh Daffa?" Ardian menggeleng. "Masih ada peluang bro. Coba aja lo nyatakan perasaan ke Erin."


"Gue sudah pernah menyuruh dia putus dengan Daffa dan gue sudah pernah ajak dia menikah."


"Really? Lalu dia bilang apa?"


"Dia marah. Dia pikir gue nge-prank. Padahal gue serius."


"Elo benar-benar suka sama dia atau hanya takut kehilangan teman baik?"


"Gue nggak tau bro. Gue masih bingung sama diri gue sendiri. Gue mulai merasa kehilangan, karena sekarang yang ada di dunianya hanya Daffa, Daffa dan Daffa."


"Yakini dulu diri lo sendiri bahwa elo memang memiliki rasa buat dia. Bukan sebagai sahabat atau kakak ke adik, tapi rasa terhadap seorang wanita. Makhluk yang berlainan jenis sama diri lo."


"Tumben elo bisa bijak."


"Haruslah. Masa gue mau kekanakan terus."


"Sorry ya tadi gue emosi."


"Untung elo saudara gue. Kalau bukan, sudah gue balas."


"Tapi kebayang nggak sama elo kalau Erin mendengar omongan lo tadi? Nasib lo akan lebih buruk dari sekedar merasakan bogem mentah dari gue."


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2