
Erina dan Andrew tampak serius berdiskusi di ruang meeting. Setengah jam yang lalu mereka baru saja selesai melakukan meeting dengan klien yang berjalan lumayan alot. Kini keduanya masih melanjutkan mendiskusikan hasil meeting tersebut.
"Dad, Erin rasa sebaiknya kita tolak proyek ini. Terlalu berisiko. Lagipula angkanya juga nggak masuk."
"Dad juga pikir begitu. Tapi mereka salah satu klien utama perusahaan kita. I'm afraid if we refuse this project will give bad credit to our company."
"Erin tahu, tapi dad..."
"Let's think about it again. We'll discuss with them again next week. I hope there'll be another option for both of us."
"Dad, can I talk about our company?" tanya Erina hati-hati sembari merapikan dokumen yang ada di hadapannya.
"What's the matter, dear? Bukankah kamu sudah setuju melanjutkan perusahaan ini setelah dad move to Texas?"
"Hmm.. itu yang ingin Erin bahas." Erina terlihat ragu. "Apakah daddy tidak bisa menjalankannya dari sana?"
"What do you mean? Kita sudah bahas, setelah pernikahanmu dengan Daffa, we're going to move to Texas."
"Dad, Erin takut tidak bisa menjalankan perusahaan dengan baik. Selama ini Erin lebih banyak mengurusi desain atau hal-hal teknis. Erin belum menguasai manajemennya."
Andrew terkekeh melihat sikap putri semata wayangnya yang selama ini terlihat tomboy, namun ternyata memiliki ketakutan seperti itu.
"I thought you're fearless."
"I'm still a girl." Erina membela diri.
"You're a toughest girl I've ever known. Don't worry my baby girl. I'm sure you can take over my position and lead this company." Andrew menenangkan Erina. "You have strong management team. They're my right hand. They will help you."
"Still... I'm affraid." Erina terlihat ragu.
"Kalau kamu ragu, kamu bisa mengajak Daffa bergabung dengan perusahaan ini. Kalian berdua bisa menjadikan perusahaan ini lebih hebat dari sebelumnya. Atau kamu ajak Ardian. Dia pasti mau membantumu."
"Ardian ..... "
"Wait, let me ask you something. Apakah kalian bertengkar? Sudah lama daddy tidak melihat dia main ke rumah kita."
"Me and Ardian? Fight? Nope.. Kami baik-baik saja. Mungkin dia sedang sibuk. Dad, makan siang apa kita hari ini." Erina berusaha mengalihkan perhatian Andrew.
"Erina Aurelia Smith, tell me the truth. What happen between you two?" desak Andrew.
Erina memandang sang daddy dengan pandangan bingung. Gosh.. should I tell him about Ardian?
__ADS_1
"What had happened? Don't tell me that he loves you."
Erina terkejut mendengar tebakan Andrew yang sangat tepat. Wah, jangan-jangan bokap gue cenayang nih, pikir Erina. Bagaimana dia bisa tahu tentang hal itu.
"How do you know? Are you a psychic?" Andrew tergelak mendengar pertanyaan Erina.
"Oh my god. It's so obvious. You're silly girl."
"Dad....!" protes Erina.
"Jadi selama ini kamu nggak menyadari hal tersebut?" Erina menggeleng.
"He's my bestfriend. You know it."
"I know that. But I also know that he likes you... hmm, nope.. he loves you."
"Dad, it's impossible."
"Kenapa tidak mungkin? He's a man. You're a woman."
"Tapi dia sahabatku. Bahkan mungkin bisa dibilang dia sudah seperti saudaraku."
"You're silly girl. You're so naive. Bagaimana selama ini kamu tidak menyadari perasaan dia terhadapmu. Bahkan dulu kami berpikir kalian pada akhirnya akan menjadi sepasang kekasih. Kami dan orang tuanya bahkan pernah membicarakan kemungkinan kalian menikah."
"No. Kami tidak bercanda. Bahkan saat kamu putus dari Pras, kami sempat berpikir untuk menjodohkan kalian. Tapi ternyata setelah kamu berhasil move on dari Pras, kamu menjalin hubungan lagi dengan yang lain. Terakhir dengan Zafran."
"Mana mungkin Ardian menyukaiku. Buktinya dia sama seperti Erin, sering gonta ganti pacar. Mantan dia lebih banyak daripada mantan Erin."
"Kamu pikir kenapa dia selalu ada setiap kamu membutuhkan dia? Kamu pikir kenapa dia berani meninggalkan sebuah meeting penting hanya karena kamu butuh teman curhat atau sparing?" Andrew masih menyebutkan banyak hal yang membuat Erina tertegun.
"I guess I was blind all the time. But, it's impossible for me to like him as a man. It'll be awkward between us, if we become a couple. Besides that, I've already taken by Daffa. I love him."
"I don't blame your choice. He was coming in the right time. But I hope you and Ardian will always be a good friend. For the sake of your grandpas and our family." Erina tersenyum.
"Erin nggak pernah menjauhi dia, tapi justru dia yang menjauhiku. Ini gara-gara aku menolak lamarannya."
"He proposed? Really? And you turned him down?" Andrew tampak tak percaya. Erina mengangguk. "I'm speechless."
"Ardian yang aneh, Dad. Kalau memang dia menyimpan rasa buat Erin, kenapa juga dia dulu berniat ngejodohin Erin dengan Daffa."
"Love is a bizzare thing."
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐
"Rin, besok lo ikutan ke acara pertunangan Gwen?" tanya Raina saat mereka makan siang di sebuah mall.
"Hmm.. pas weekend ya acaranya? Lo datang bareng mas Henry?" Erina balik bertanya. "Elo gimana Lex? Datang bareng Raymond?"
"Ray besok mau ke KL. Antar mamanya periksa kesehatan," jawab Alexia yang terlihat asyik menikmati udang bakar.
"Berangkat bareng yuk. Mas Henry juga nggak bisa datang. Ada meeting dengan klien. Kata mas Henry gue boleh pergi kalau pergi sama kalian."
"Elo mau ajak Daffa?" tanya Alexia.
"Nggak tau nih. Gue belum bilang ke dia mengenai acaranya Gwen." jawab Erina. "Coba gue telpon dia ya."
Tak lama Erina sudah berbicara dengan Daffa di ponselnya. Wajahnya terlihat kecewa. Tak sampai lima menit, Erina mengakhiri pembicaraan.
"Kenapa Rin? Muka lo lecek banget. Daffa nggak bisa ya?"
"Iya. Tadi pas gue telpon dia lagi dalam perjalanan ke bandara. Ada proyek di Aussie yang mengalami masalah," jawab Erina kesal. "Dia akan berada disana sampai tiga hari. Setelah itu dia harus ke London untuk bertemu dengan papanya. Gue sudah bisa tebak pasti urusan pekerjaan."
"Memangnya dia nggak kasih tau elo tentang perjalanannya itu?" tanya Raina.
"Untuk jadwal ke London, dia memang sudah bilang sama gue. Makanya gue santai saja karena masih seminggu lagi. Nah, yang ke Aussie ini dia lupa kasih tau gue karena dia juga mendadak di kabarinnya."
"Ya sudah, kita ajak Ardian aja biar jadi supir kita," usul Alexia. "Sudah lama juga kan kita nggak jalan bareng dia."
"Nggak usah! Biar gue yang antar jemput kalian."
"Tapi Rin...."
"Kalau gue bilang nggak usah ya nggak usah!" seru Erina kesal sambil membanting sendok yang dipegangnya. Untung saja piring yang ada di hadapannya tidak pecah.
Kedua sahabatnya terkejut melihat reaksi yang tak mereka sangka. Kenapa Erina terlihat kesal. Apakah mereka berdua bertengkar?
"Elo dan Ardian bertengkar?" tanya Raina hati-hati. Dia sudah hafal dengan temperamen gadis berambut pendek yang duduk di seberangnya.
"Si kuya itu melamar gue," ucap Erina pelan.
"What?!"
"Really?"
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐