
Erina membuka matanya perlahan saat merasakan hembusan hangat di dahinya. Saat ia mengangkat kepalanya tampaklah wajah tampan seorang pria. What?! Erina terbelalak saat mengetahui dirinya bergelung nyaman dalam pelukan pria itu yang tak lain adalah Ardian. Tanpa ia sadari ia menjadikan lengan Ardian sebagai bantal. Oh my god, kenapa gue bisa ada dalam pelukan dia? Pasti Ardian yang modus nih, pikir Erina.
Erina langsung memukul dada Ardian. Tentu saja bukan pukulan manja, namun pukulan yang mampu membangunkan seekor beruang yang sedang berhibernasi. Namun sepertinya pukulan itu tak dirasakan oleh Ardian yang sedang lelap tertidur.
"Ardian bangun!" seru Erina sambil tangannya memukul dada Ardian.
"Uhuk.. uhuk.. apaan sih pakai pukul-pukul segala? Sakit, sayang." Ardian hanya sedikit membuka matanya lalu kembali memeluk Erina.
Dengan gemas plus kesal, Erina memukul lengan Ardian dengan keras. Alhasil Ardian membuka matanya lebar-lebar sambil meringis menahan sakit di lengannya akibat pukulan Erina.
"Kenapa sih, Rin? Pagi-pagi kok sudah mukulin orang?" tanya Ardian bingung.
"Ngapain elo meluk-meluk gue? Modus ya?"
"Astaghfirullah. Modus apaan?" tanya Ardian masih dalam keadaan bingung. Sesaat ia berpikir, lalu ia buru-buru melepaskan pelukannya.
"Iya kan? Elo modus kan?" tanya Erina marah. Kini posisi Erina sudah duduk menjauh dari Ardian.
"Ya ampun Rin, siapa juga yang modus? Aku benar-benar nggak berniat memeluk kamu. Coba dilihat baik-baik, siapa yang melewati batas?" Kini Ardian juga sudah duduk di atas ranjang. Tangannya mengusap-usap lengan yang tadi dipukul Erina.
Erina terdiam tak jadi mendebat Ardian. Memang benar apa kata Ardian. Sepertinya semalam ia yang melanggar batas. Namun karena gengsinya, Erina tak mau mengakui itu.
"Ini kan ranjang gue. Ya, seharusnya elo menjauh dong kalau lihat gue mendekat."
"Yang semalam menyuruh aku pindah ke kasur siapa? Yang melanggar batas siapa? Lagipula aku nggak tau kalau kamu melanggar batas. Kan kita berdua tidur."
"Semalam gue mau pindah ke kamar tamu kan nggak lo bolehin! Lalu kenapa juga tadi elo malah peluk gue?" balas Erina tak mau kalah.
Ardian menahan tawa melihat sikap Erina. Baginya sudah jelas siapa yang salah dalam hal ini namun bila ia terus mendebat Erina, bukan tak mungkin Erina akan ngambek lagi.
"Oke, oke... aku yang salah. Mungkin aku terlalu capek sehingga aku nggak sadar memelukmu. Kupikir aku memeluk guling." Ardian memilih untuk mengalah. "Ya sudah, kita bersih-bersih lalu shalat subuh bareng."
"Malas. Shalat aja sendiri."
"Kenapa nggak mau berjamaah sama aku?"
"Bisa nggak ngomongnya jangan pakai aku kamu? Geli gue dengarnya."
"Jadi maunya pakai apa? Sayang, beb, hon, bi, ana anta? I you? Bi, kita shalat berjamaah yuk! Begitu maunya? Kalau ingin panggilan mesra bilang aja," goda Ardian.
"Dih amit-amit! Minta ditonjok ya? Bisa nggak biasa aja ngomongnya?"
"Bi, kita kan sudah jadi suami istri. Masa masih pakai elo gue. Nanti kalau anak-anak kita meniru bagaimana?" ledek Ardian.
"Tau ah!"
__ADS_1
"Bi, mau digendong ke kamar mandi untuk pipis dan wudhu?" tanya Ardian.
"Dih, ketahuan banget modusnya! Nggak perlu kayak gitu. Gue nggak cacat. Sana elo shalat aja duluan!"
"Rin, aku ingin menjadi imam shalatmu."
"Gue nggak mau jadi makmum lo!" balas Erina ketus. "Lagian biasanya juga shalat masing-masing."
"Itu dulu sebelum aku punya istri. Karena sekarang aku sudah beristri, aku ingin menjadi imam shalatmu. Apakah itu salah? Aku selalu iri saat melihat bang Henry meng-imami Raina."
"Kebiasaan banget suka iri sama kehidupan orang lain."
"Rin, kita berdua bukan orang yang fanatik dalam beragama. Bahkan bisa dibilang kita sering melupakan agama. Dengan adanya anak-anak kita di dalam kandunganmu, apakah salah bila aku ingin berubah menjadi orang yang lebih baik agar menjadi panutan bagi mereka kelak?"
"Ceramahnya nanti aja. Sana buruan shalat! Tuh sudah jam 5 lewat."
"Berjamaah ya?" rayu Ardian. "Kalau kamu nggak mau aku ajak meniti jalan menuju surga, ayo kita sama-sama ke neraka."
"Ih, siapa juga yang mau masuk neraka bareng elo?"
"Makanya ayo kita shalat bareng."
"Oke, oke... kita shalat berjamaah. Maksa banget sih. Sana buruan ambil wudhu."
Selesai shalat Ardian menyodorkan tangannya kepada Erina. Kali ini tanpa banyak protes Erina mencium tangan suaminya.
"Bi, Ijinkan aku mencium keningmu."
"Apaan sih? Nggak usah sok romantis deh." Erina langsung berdiri menjauh dari Ardian.
"Kenapa?"
"Dikasih hati minta jantung," ucap Erina pendek.
Ardian hanya bisa tertawa kecil. Dalam sujudnya tadi ia meminta agar Allah melembutkan hati Erina dan bisa membalas cintanya.
Sementara itu Erina sudah kembali sibuk dengan ponselnya. Ada notifikasi pesan dari... Daffa? Bagaimana ia bisa tahu nomor gue yang baru? Perasaan saat bertemu tante aira, ia tak memberikan nomor kontaknya.
Daffa : Assalaamu'alaykum. Selamat pagi Erin. Ini Daffa. Aku mendapat nomormu dari Eyang Fatma. Semoga kamu nggak marah kepada beliau. Apa kabarmu? Bisakah kita bertemu? Please, I really miss you.'
Erina menatap pesan tersebut. Ya tuhan, gue lupa memberitahu eyang kalau gue nggak mau lagi berhubungan dengan Daffa. Haruskah gue abaikan atau balas pesan ini? Lagipula diantara kami sudah tak ada hubungan apapun. Apalagi kini gue mengandung anak lelaki lain.
Saat Erina masih bimbang menatap pesan dari Daffa, Ardian masuk ke kamar dengan membawa sepiring roti bakar, secangkir teh madu dan sepiring buah. Ardian heran melihat sikap Erina yang tiba- tiba seperti patung sambil menatap layar ponselnya.
"Ada apa Rin?" tanya Ardian setelah menaruh nampan yang dibawanya. Ia menghampiri Erina. "Pesan dari siapa?"
__ADS_1
"Bukan siapa-siapa." Ardian tak ingin mendesak Erina untuk mengatakan yang sebenarnya. Pagi ini terlalu indah untuk diisi dengan pertengkaran.
"Sarapan dulu, sayang."
"Sudah gue bilang jangan panggil gue kayak gitu," omel Erina. "Lagian kata siapa gue mau sarapan kayak gitu?"
Ardian menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan untuk menahan kekesalannya. Sabar Di, ini pilihan hidup lo. Hari ini perjuangan lo yang sesungguhnya baru dimulai. Ardian berusaha menyabarkan dirinya sendiri.
"Kamu mau sarapan apa?" tanya Ardian lembut.
"Nggak mau sarapan."
"Kamu harus sarapan sayang."
"Mual."
"Kamu mual lagi? Kan sejak kemarin sudah nggak mual, kok sekarang muncul lagi mualnya?" tanya Ardian heran.
"Memangnya nggak boleh mual? Yang hamil siapa? Kenapa elo jadi ngatur kapan gue harus mual dan kapan nggak mual? Siapa yang bikin gue hamil? Lo pikir gue senang merasakan mual kayak gini? Seharusnya elo yang merasakan hal ini, bukan gue!" balas Erina dengan omelan panjang.
Ardian terdiam tak tahu harus berkata apa. Ia yakin takkan menang berdebat dengan Erina. Apalagi yang tadi dikatakan oleh istrinya suatu hal yang benar. Dia memang tak pernah meminta untuk hamil.
Tiba-tiba pintu kamar mereka diketok.
"Non Erin, ini ada kiriman bubur Manado." Terdengar suara bi Imas di dari luar kamar.
Ardian membukakan pintu dan membiarkan bi Imas masuk dengan semangkok besar bubur Manado komplit dengan ikan asin dan sambalnya.
"Dari siapa bi? Mommy pagi-pagi sudah masak?" tanya Erina. Tiba-tiba saja perutnya berbunyi karena melihat makanan yang dibawa bi Imas.
"Bukan mommy yang bikin. Ibu mertuamu yang kirim. Baru banget sampai. Tadi ibu mertuamu telpon mommy dan bilang kalau kamu doyan banget bubur Manado buatannya." ucap Yuna yang baru masuk kamar.
"Ibu mertua?"
"Iya, ibu mertuamu. Mama Amel. Kamu nggak lupa kan kalau sekarang sudah bersuami?" tanya Yuna curiga.
"Oh mama Amel." Hanya itu yang Erina katakan. Ia hanya melirik makanan tersebut. Sebenarnya ia ingin segera menyantap makanan yang dikirimkan oleh Amel, namun ia gengsi.
"Jangan lupa nanti kalian mampir ke rumah pak Arga ya." Yuna mengingatkan lalu segera berlalu. "Oh ya Di, daddy sudah menunggu di meja makan."
"Baik aun... eh mommy. Nanti Ardi ke ruang makan."
"Nggak, kamu nggak boleh makan bareng daddy dan mommy," cegah Erina. Tentu saja Yuna, bi Imas dan Ardian kaget mendengarnya.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1