
"Assalaamu'alaykum," Daffa mengucap salam ketika masuk ke teras belakang yang luas. Disana tampak beberapa pria dan wanita separuh baya.
"Wa'alaykumussalaam," jawab yang ada di situ.
Seorang pria yang masih terlihat gagah, yang Erina kenali sebagai Irwan, berdiri dan mendatangi mereka. Daffa memeluk pria tersebut dan mencium tangannya takzim. Erina dapat melihat betapa miripnya Daffa dengan sang ayah. Mungkin seperti itulah Daffa saat tua nanti.
"Selamat datang di vila kami, Rin." Irwan mengulurkan tangan mengajak salaman. Erina menyambutnya dan mencium punggung tangan Irwan dengan hormat.
"Terima kasih pak Irwan yang sudah mengundang saya ke vila yang indah ini," puji Erina.
"Nggak perlu terlalu formal kalau di luar kantor, Rin. Kamu kesini kan bukan untuk membahas pekerjaan. Kamu bisa memanggil saya om... atau ayah mungkin?" Pak Irwan mengerling ke arah Daffa yang membalasnya dengan tersenyum lebar.
"Ah, pak Irwan bisa saja. Nanti orang berpikir saya calon menantu keluarga ini," jawab Erina.
"Insyaa Allah kamu akan menjadi calon menantu saya. Ayo sini kenalan dulu dengan yang lain."
Daffa menggandeng tangan Erina dan mengajaknya mendekati seorang wanita yang terlihat sederhana namun bersahaja.
"Rin, kenalkan ini bundaku." Daffa memeluk hangat wanita tersebut, lalu mencium pipinya. "Happy birthday, bun. Daffa bawa hadiah spesial untuk bunda."
Mira membalas hangat pelukan Daffa. Lalu dipandangnya Erina yang berdiri di samping Daffa.
"Bun, kenalkan. Ini Erina."
"Selamat ulang tahun, tante." Erina langsung maju menyerahkan buket bunga dan paperbag berisi hadiah yang telah dipersiapkan sebelumnya.
"Terima kasih nak Erin mau hadir di acara keluarga kami." Mira memeluk Erina dengan hangat. Sementara itu Erina membalasnya dengan ragu. Bukan tak suka, namun ia tak tahu harus bagaimana. Baru kali ini ada yang menyambutnya sedemikian hangat.
"Sa-saya yang terima kasih, tante dan pak.. eh om Irwan sekeluarga menerima kehadiran saya," jawab Erina tulus.
__ADS_1
"Tentu saja kami sangat terbuka menerima calon menantu keluarga ini," celetuk seorang pria yang duduk di salah satu kursi.
"Rin, kenalkan itu om Anto. Beliau kakak bunda yang tertua. Yang duduk di sebelahnya om Pandu, adik ipar bunda. Suami tante Aira." Erina menganggukan kepala pada mereka yang disebut namanya oleh Daffa.
"Yang cantik sebelah sini adalah tante Wita, istri om Anto. Kamu sudah bertemu di depan tadi dengan tante Aira. Dan yang duduk di samping tante Wita adalah nenekku. Ada satu lagi kakak bunda yang nggak bisa datang. Namanya om Benny."
Kali ini Erina mendekati Wita dan Marni, neneknya Daffa. Ia menyalami dan mencium punggung tangan keduanya dengan hormat.
"Pintar kamu Daf. Seleramu dari dulu selalu nggak pernah salah. Cantik-cantik," puji Wita. "Iya kan bu."
"Sini ndhuk, duduk di samping eyang," panggil Marni seraya menepuk sofa yang sedang ditempatinya. Erina terlihat ragu, namun tetap menuruti permintaan Marni.
"Eyang, cocok nggak dia jadi istri Daffa?" tanya Daffa yang ikut duduk di sebelah kiri Marni.
"Hmm... piye ndhuk? Kamu mau menjadi istri cucu eyang?" Marni balik bertanya pada Erina yang terlihat gelagapan tak menduga pertanyaan mendadak itu.
"Eh... oh..."
"Lho ya ora popo tho kalau mbah nanya. Kalau dia nggak mau jadi istrinya Daffa, yo kasian cucuku ini. Lah wong, kethok'e putuku iki wis kesengsem berat karo de'e," sahut Marni. "Piye ndhuk? Kowe siap menjadi cucu menantu eyang?"
Semua mata menatap Erina, menunggu jawabannya. Erina berdehem untuk membersihkan tenggorokannya. Dipandangnya Daffa yang saat ini juga memandangnya dengan tatapan yang mampu membuat Erina bertanya-tanya. Dilihatnya Daffa tersenyum, tak hanya di bibir namun juga di matanya.
"Hmm... kalau memang kami berjodoh dan direstui oleh seluruh keluarga, Erin nggak akan menolak takdir." Jawaban yang diplomatis namun dirasa cukup menjawab pertanyaan semua orang.
"Wah, pacarmu ini pasti jago bernegosiasi ya Daf," puji Anto. "Dan menurut om jawaban yang diberikan cukup diplomatis. Sekarang tergantung kamu, Daf. Segigih apa kamu akan mencoba memenangkan hatinya."
"Insyaa Allah om. Kalau memang sudah jodoh nggak akan kemana. Buat Daffa yang penting ayah bunda bisa menerima kehadiran Erina sebagai calon istri."
"Bagaimana dengan keluarga mister Andrew?" tanya Irwan. "Apakah mereka menerimamu?"
__ADS_1
"Daffa sudah bertemu dan menyatakan keinginan baik Daffa menjalin hubungan dengan putri semata wayang mereka. Dan menurut ayah dengan mengijinkan Daffa membawa anak mereka kesini apakah mereka mampu menolak seorang Daffa?" Daffa balik bertanya sambil tersenyum lebar. Ia mengedipkan sebelah matanya pada Erina yang sejak tadi menatapnya.
"Jadi kapan ayah dan bunda harus datang menemui orang tua Erin?" tanya Irwan.
"Nggak usah pacaran lama-lama Daf," celetuk Aira yang baru datang dengan membawa sepiring cemilan. "Nanti gagal lagi kayak yang dulu. Eh... nggak papa kan gue menyebut hal itu di depan Erina?"
"Ah elo mah kebiasaan tan. Sudah keceplosan baru minta maaf," omel Daffa pura-pura ngambek. Erina bisa melihat betapa dekat hubungan keduanya.
"Nggak papa tante. Setiap orang punya masa lalu yang pasti akan menjadi pelajaran hidup. Daffa sudah menceritakan masa lalunya. Demikian juga saya sudah bercerita tentang masa lalu saya." jawab Erina dengan senyum tulus.
"Waaah... kamu memang hebat memilih calon pasangan hidup," puji Pandu yang langsung mendekati Aira, istrinya. "Tantemu ini sampai sekarang belum bisa menerima kalau om sekantor dengan mantan."
Yang lain tertawa mendengar hal tersebut. Mereka tahu betapa Aira dan Pandu saling mencintai, namun Aira dengan sifatnya sebagai anak bungsu kadang masih suka ngambekan bila Pandu terlambat pulang akibat meeting.
"Kamu kan bisa pindah kerja, yang. Kamu bisa minta posisi di perusahaan mas Irwan atau bang Anto. Biar aku nggak merasa khawatir terus."
Pandu memeluk Aira dari belakang. "Kamu tau kan kalau aku nggak suka nebeng kesuksesan orang lain. Biarkan aku berkarir bukan sebagai adiknya siapa, tapi sebagai diriku sendiri."
"Santai aja tan. Om Pandu mah bucin banget sama elo. Gue masih ingat gimana dulu dia nungguin elo yang lagi ngambek gara-gara lupa tanggal jadian kalian. Mana waktu itu hujan deras."
"Tuh, keponakanmu jadi saksi hidup betapa cintanya aku sama kamu sayang. Jadi jangan cemburuan lagi ya." Pandu mengecup pipi Aira.
"Iya sayang, aku janji nggak akan cemburuan lagi sama mantan kamu itu. Tapi aku juga minta kamu nggak cemburuan kalau mantan aku datang ke toko." Pandu mempererat pelukannya sambil sesekali tangannya mengelus lembut perut Aira.
"Nggak usah cemburu-cemburuan lagi. Anak sudah mau tiga masih cemburuan. Kalau salah satu dari kalian ngambek, gue yang repot," celetuk Daffa.
"Ngobrolnya di stop dulu ya. Yuk kita makan siang dulu. Kasihan eyang sudah kelaparan tuh."
Erina menatap iri keakraban keluarga ini. Keluarganya memang akrab tapi tidak seperti Daffa. Satu hal lagi yang membuat perasaan Erina campur aduk yaitu bagaimana terbukanya keluarga Daffa menerimanya. Satu hal yang belum pernah ia alami dengan mantan-mantannya.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐