TAKLUK

TAKLUK
I MISS YOU


__ADS_3

Happy Reading


"Di, besok temenin gue latihan ya," pinta Erina pada Ardian melalui ponsel.


"Gue nggak bisa, Rin. Giana minta temenin lihat Wedding Feast sekalian lihat Kitchenware yang varu release.


Kitchenware? Seorang Ardian yang selama ini nggak pernah betah lihat pameran, tiba-tiba rajin ke pameran. Apa tadi dia bilang, Wedding Feast? Ngapain juga dia kesitu? Mau nikah sama Giana? Otak Erina dipenuhi dengan pertanyaan.


"Rin... Erin!" panggil Ardian saat Erina tak mengucapkan apapun. "Elo masih hidup kan?"


"Di, elo mau kawin?"


"Mungkin."


"Serius?"


"Kenapa? Nggak suka? Nggak ikhlas? Cemburu?"


CEMBURU? Ya kali gue cemburu liat sahabat gue mau kawin. Erina kembali sibuk dengan pikirannya.


"Erin! Lo kenapa sih?" tanya Ardian saat Erina kembali terdiam. "Tebakan gue benar ya?" Kali ini Ardian tergelak di ujung sana.


"Dih najong! Ngapain juga gue cemburu."


"Lagian kenapa diam aja? Gue yakin elo pasti takut kehilangan gue kan?"


"Elo mabok?" tanya Erina kesal. "Bukannya elo yang takut kehilangan gue?"


"Dih ge-er banget nih anak. Justru gue bahagia banget kalau elo jadi married sama Daffa. Beban hidup gue berkurang. Gue bisa tenang menjalin hubungan sama cewek gue."


"Kalau gue nggak jadi married gimana?"


"Kenapa nggak jadi? Jadiin lah!"


"Kenapa? Biar elo bisa married sama Giana?"


"Iyalah."


"Elo yakin sama dia?" tanya Erina penasaran. "Kenapa belum elo kenalin dia ke gue?"


"Wajib ya ngenalin pacar gue ke elo?"


"Iyalah! Gue harus screening cewek-cewek yang mau ngedeketin elo. Biar elo nggak salah pilih. Elo itu kan paling lemah sama cewek tapi disaat bersamaan elo belum mau komitmen," jelas Erina panjang lebar."


"Sok tau!"


"Biarin!"

__ADS_1


"Perlu elo catat, Rin. Kali ini gue yang pdkt sama Giana."


"Elo dulu juga pernah pdkt sama si Bunga. Bahkan sempat bucin kayak sekarang. Ujung-ujungnya nggak jadi. Malah elo ngegantung hubungan kalian. Sama seperti Calista dan cewek-cewek lain yang lo nggak kasih kepastian dan akhirnya putus."


"Itu gara-gara elo, Rin."


"Kok nyalahin gue?!" balas Erina sengit. "Elo yang takut komitmen, gue yang disalahin. Sudah ah! Ayo dong temani gue latihan. Gue butuh sparing partner nih."


"Kenapa nggak ajak Daffa?"


"Dia nggak bisa bela diri. Gue khawatir malah dia bonyok kalau jadi sparing partner."


"Kalau dia cinta sama elo, harusnya dia rela-rela aja bonyok. Demi calon istri."


"Ya janganlah. Nanti nggak ganteng lagi," ucap Erina asal.


"Jadi Daffa ganteng ya Rin? Ganteng mana sama gue?" tanya Ardian absurd.


"Beda tipis. Sebelas dua belaslah kalian."


"Really? Kalau beda tipis kenapa dari dulu kita nggak pernah pacaran?"


"Pacaran sama elo?" Erina tergelak mendengar ucapan Ardian. "Di, elo beneran nggak mabok? Tadi lo bilang gue cuma jadi beban hidup lo. Elo juga yang bilang sifat jelek gue banyak banget. Elo juga menolak saat Raina mengusulkan untuk menikah sama gue. Kenapa sekarang tiba-tiba elo nanyain hal itu?"


"Nggak tau juga. Tiba-tiba kepikiran saja. Kita berteman sejak SMA sampai sekarang. Bisa dibilang kita dewasa bareng, mabok bareng, bahkan nggak sekali dua kali elo menginap di kamar gue. Bahkan pertama kali elo bikin tatoo gue yang nemenin."


"Coba aja elo tanya sama diri lo sendiri kenapa nggak pernah nembak gue."


"S****n lo, Di. Buruan, mau nggak nemenin gue latihan?"


"Sorry Rin. Not tonight. Gue sudah keburu janji sama Giana. Lagipula elo dadakan sih ngajaknya."


"Ah, nggak asyik lo!" Erina langsung menutup telpon.


Belum lama menutup telpon, tiba-tiba ponsel Erina berdering. Muncul nama Daffa di layar. Ada apa dia telpon? tanya Erina dalam hati. Sejak acara liburan di vila mereka memang belum sempat berkencan lagi karena Daffa mendadak harus ke luar kota untuk mengurus pekerjaannya. Bahkan mereka belum saling menghubungi atau pun berkirim pesan karena keduanya sibuk dengan pekerjaan


"Halo."


"Halo, Rin. Apa kabar?" Terdengar suara Daffa.


"Baik. Kamu apa kabar?" Erina balik bertanya.


"Not good actually."


"Kamu kenapa? Sakit."


"Hmm... begitulah."

__ADS_1


"Sakit apa? Kenapa kamu nggak kasih tau aku?"


"Hatiku..."


"Lever kamu kenapa?" tanya Erina dengan nada khawatir. Bagaimana tidak khawatir kalau terakhir bertemu Daffa terlihat baik-baik saja. Bahkan sangat sehat."


"Leverku baik-baik saja, Rin Tapi hatiku sakit karena terlalu merindukanmu."


Astaga, kenapa lebay banget sih? batin Erina saat mendengar ucapan Daffa. Namun tak ayal ada sedikit rasa senang di sudut hatinya. Padahal ia sudah biasa mendengar berbagai gombalan dari deretan para mantannya.


"Rin, kok diam aja?" Dih, orang-orang kenapa sih nanyanya begini melulu? Memangnya nggak boleh diam ya, batin Erina.


"Oh.. aku lagi mencoba mencerna ucapanmu," jawab Erina asal. "Kupikir kamu benar-benar sakit."


"Apakah kalau aku benar-benar sakit kamu akan lebih mengkhawatirkan diriku? Apakah itu akan membuatmu memikirkanku?"


"Ya ampun Daf, pertanyaannya kok gitu banget sih. Siapapun yang sakit aku pasti akan cemas."


"Oooh... Kupikir aku seistimewa itu sehingga mampu membuatmu cemas." Waduh, kayaknya dia ngambek nih.


"Kamu dimana? Sudah balik dari Aussie?" Erina berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Aku ada di lobby kantormu, sedang menunggu lift yang akan membawaku menemui calon istriku."


"Apa?! Kok kamu nggak bilang kalau sudah pulang."


"Aku baru sampai. Dari bandara aku langsung kesini."


Erina langsung memeriksa seluruh ruangannya. OMG meja itu kenapa berantakan banget. Ia langsung memanggil sekretarisnya untuk merapikan ruangan dan menyemprotkan pengharum ruangan. Lalu ia memeriksa penampilannya dan betapa terkejutnya saat melihat dirinya berantakan. Baru saja ia hendak merapikan rambut, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.


"Masuk." Dan terlihat Daffa muncul dengan senyum khasnya.


"Hai, Rin." Daffa mendekat. Dia tidak bohong, benar-benar baru tiba dari bandara. Terlihat sebuah koper di belakangnya.


"Hai Daf." Erina menghampiri Daffa dan mengulurkan tangan. Tanpa disangka, Daffa menarik Erina masuk ke dalam pelukannya. Erina yang tak siap langsung masuk ke dalam pelukan Daffa. Kejadian tersebut tentu tak luput dari pengamatan Luna, sekretarisnya.


"Ehem.. miss, tamunya mau dibuatkan minuman apa?" tanya Luna dengan senyum mengembang melihat Erina tergagap masuk ke dalam pelukan pria ganteng yang sepertinya bernama Daffa ini.


"Oh.. eh.. kamu mau minum apa Daf?" Erina berusaha melepaskan pelukan Daffa, namun tak berhasil.


"Nggak usah mbak, tolong kamu hold dulu selama satu jam ke depan kalau ada yang mau bertemu dengan miss Erin." Daffa memberi perintah tanpa melepaskan pelukannya. Ia malah semakin erat memeluk Erina.


Tanpa banyak kata Luna tersenyum mengerti dan menutup pintu ruangan Erina.


"Daf, lepasin dong. Nggak bisa nafas nih."


Daffa mengendurkan pelukannya namun tak melepaskan Erina. Tangannya masih memeluk erat pinggang Erina. Dipandangnya Erina dengan tatapan penuh kerinduan, lalu dikecupnya kening gadis itu.

__ADS_1


"I miss you so much."


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2