TAKLUK

TAKLUK
BUKAN CALON ISTRI IDAMAN


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 9 malam. Erina masih disibukkan dengan pekerjaannya selaku manajer operasional di perusahaan kontraktor milik Andrew. Kebiasaan buruk Erina lainnya adalah menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Bukan sekali dua kali ia menginap di kantor hanya untuk menyelesaikan sebuah proyek.


Kedua orang tuanya tak merasa heran dengan kebiasaan tersebut. Mereka tahu Erina sedang kecewa. Namun kali ini mereka tak mengentahui pasti apa penyebab kekecewaan Erina. Ardian pun tak banyak bercerita. Hanya saja seminggu yang lalu Erina pulang diantar oleh Ardian. Arga pun sudah bercerita pada Andrew kalau malamnya Erina minum di rumah mereka..


"Rin, kamu malam ini pulang kan?" tanya Andrew saat melihat putrinya masih asyik dengan laptopnya. "Mommy sejak tadi pagi mencarimu."


"Hmm.. kayaknya nggak, Dad," jawab Erina tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop. "Daddy bilang aja ke mommy kalau Erin lagi sibuk mengerjakan deadline."


"Kenapa kamu nggak menyuruh anak buahmu untuk membantu? Daddy lihat kamu sudah dua malam ini menginap di kantor."


"Hmm.... " Erina hanya menyahut singkat. Andrew menatap khawatir putri bungsunya. Dipandangnya ruangan sang putri. Dilihatnya banyak kaleng minuman keras berserakan. Belum lagi bungkus rokok di sana sini.


"Jangan lupa makan malam. Jangan kebanyakan minum. Suruh pak Udin merapikan kantormu. Daddy nggak mau Eyangmu kena serangan jantung melihat kekacauan ini." Andrew menghela nafas. Ia tahu percuma membujuk Erina ataupun memintanya bercerita mengenai permasalahannya. "Daddy pulang dulu. Besok daddy akan minta pak Ervin dan pak Gumilang untuk membantumu."


"Oke dad."


Sepeninggal Andrew, Erina kembali tenggelam dalam kesibukannya. Inilah salah satu pelariannya. Apakah dengan cara tersebut akan menyelesaikan permasalahan atau sakit hatinya? Tidak. Semua kesibukan yang ia lakukan hanya sedikit membantunya melupakan Zafran. Minum? Sama saja.


Erina menghentikan pekerjaannya saat dilihatnya ponselnya bergetar. Muncul nama yang ingin ia lupakan di layar ponselnya. Erina hanya memandangi ponselnya tanpa berniat menyahuti panggilan tersebut. Hingga saat ini Erina belum memblokir nomor Zafran. Namun di saat bersamaan iapun tak ingin menyahuti semua panggilan telpon tersebut. Erina kembali menyibukkan dirinya


"Assalaamu'alaykum," Tiba-tiba terdengar suara maskulin menyapa rungunya. Suara yang selama beberapa hari terakhir ini ia hindari.


Diangkatnya pandangan dari laptopnya. Dilihatnya wajah tampan yang selama dua tahun ini menemani hari-harinya, menghiasi mimpi-mimpinya. Wajah tampan yang saat ini ingin sekali ia lempar dengan asbak. Wajah tampan yang akhir-akhir ini sering membuatnya menangis dan berteriak frustasi.


"Rin, aku ...."


"Mau apa kamu kemari? Mau memamerkan cincin tunanganmu? Mau mengantarkan undangan?" tanya Erina sinis. Ya, Erina memperlihatkan sikap sinis dan judes sebagai salah satu cara menutupi kesedihannya. Jauh di dalam lubuk hatinya Erina mengingkari kenyataan yang terjadi di antara mereka. Ia masih belum mampu melupakan perasaannya kepada pria tampan yang memasuki ruangannya itu.


"Beb, dengarkan dulu penjelasanku." Zafran berjalan mendekati Erina. Tak sengaja kakinya menendang kaleng kosong. Dahinya berkerut melihat kondisi ruang kerja Erina. Ia tahu Erina merokok, tapi ia tak tahu kalau Erina masih mengkonsumsi minuman haram tersebut.


"Nggak usah menjelaskan apapun kalau hanya kebohongan yang akan keluar dari mulutmu."


"Beb, please dengarkan aku," pinta Zafran. "Aku terpaksa, beb."


"Terpaksa? Masa sih? Wajahmu saat itu tak memperlihatkan keterpaksaan," ucap Erina sarkas.

__ADS_1


"Tapi beb ...."


"Tapi apa? Kamu mau bilang kamu hanya ingin membahagiakan ibumu? Kamu ingin berbakti kepada kedua orang tuamu? Alasan basi!"


"Oke, oke.. aku salah. Tapi apa yang kamu lakukan juga salah. Kenapa kamu meminum semua itu? Itu haram, beb."


"Hah! HARAM?! NGGAK USAH SOK NGATUR DEH!" Erina mulai terusik.


"Beb, please kita bicara baik-baik. Oke? Tapi sebelumnya kumohon kamu mau berjanji tidak akan mengkonsumsi minuman haram ini."


Erina tertawa sinis mendengar ucapan Zafran. "Pak Ustadz, anda salah tempat. Ini bukan tempat untuk ceramah. Sana ceramah di masjid!"


"Erina!" ucap Zafran agak keras. Sedetik kemudian Zafran menyesali hal tersebut. "Maaf, bukan maksudku mengguruimu, tapi dulu kamu pernah berjanji akan merubah hidupmu menjadi lebih baik. Apakah menurutmu ini perubahan yang baik. Kamu tahu itu perbuatan dosa."


"Hahahahaha ..." Kembali Erina mentertawakan ucapan Zafran. "Aku berjanji untuk berubah? Apakah itu masih ada gunanya sementara kamu sendiri mengingkari janjimu."


"Beb, aku masih mencintaimu. Please percaya padaku. Aku belum menyetujui perjodohan ini. Aku tidak mencintai dia. Aku hanya mencintaimu."


"Kamu memang belum menyetujuinya namun kamu juga tidak menolak persiapan pernikahan kalian. Bahkan kamu terlihat bahagia dengan pilihan ibumu. Wanita cantik dan shalihah yang menjadi calon menantu idaman ibumu."


"Hmm.. jadi wanita itu bernama Zulfa. Nama yang cocok untuk bersanding, Zulfa - Zafran."


"Beb, please percaya padaku. Hatiku hanya untukmu. Beri aku waktu untuk membatalkan perjodohan ini." Zafran masih terus berusaha membujuk Erina. "Tapi kamu juga harus berjanji menjauhi minuman haram ini dan berubah menjadi menantu yang diidamkan oleh ummi."


"Jadi benar selama ini ibumu tidak menginginkanku menjadi istrimu? Aku bukan wanita baik di mata ibumu?" tanya Erina sambil menahan rasa pedih di hati. "Pantas saja selama ini kamu jarang mempertemukan kami."


Zafran tertunduk, tak berusaha menyangkal ucapan Erina. Memang benar apa yang gadis ini ucapkan. Bahkan sejak awal ia memperkenalkan Erina sebagai kekasih, sang ummi sudah tidak cocok.


FLASHBACK ON


"Bang, malam minggu besok kamu ada acara?" tanya Ummi Habibah ketika mereka makan malam keluarga.


"Nggak mi. Memangnya ummi dan abi mau minta diantar kemana?" Zafran sudah tahu tujuan sang ummi bertanya.


"Besok abi dan ummi mau pergi ke arisan keluarga besar Abu Halim. Kamu yang antar ya? Adikmu Zayn besok harus tugas ke Medan." Kali ini Uwais, sang abi, yang bicara. "Sekalian abi mau mengenalkan kamu kepada putri sulung om Yasser."

__ADS_1


Zafran mengerutkan dahi mendengar rencana orang tuanya. Saat ini belum terlintas dalam pikirannya untuk menikah. Ia tahu arisan keluarga besar yang akan dihadiri orang tuanya sekaligus ajang menjodohkan anak-anak mereka. Sebagai keturunan Arab, bukan hal aneh saling menjodohkan anak-anak mereka.


"Tapi bi..."


"Berapa usiamu tahun ini?" tanya Uwais.


"26"


"Usiamu sudah matang, pekerjaan mapan. Tunggu apalagi? Kamu punya pacar?" tanya Habibah. Zafran bingung bagaimana menjawabnya.


"Sebenarnya sudah setahun terakhir ini Zafran menjalin hubungan dengan Erina," ucap Zafran ragu.


"Sama seperti kita?" tanya Uwais sambil menatap tajam putra sulungnya. Zafran menggeleng.


"Kenapa kamu nggak mengenalkan dia kepada kami? Kamu tahu kan kalau abi dan ummi nggak mau kamu berlama-lama pacaran. Kalau bisa malah jangan pacaran. Dosa!" ucap Habibah judes. Sejak awal dia memang sudah curiga Zafran memiliki pacar. Memang bukan suatu hal yang aneh, pria seusia Zafran memiliki teman wanita. Namun Habibah sudah berjanji pada sahabatnya untuk menjodohkan anak mereka. Bahkan sejak keduanya masih kecil, mereka sudah berniat menjodohkan anak-anak mereka.


"Bagaimana kalau Zafran bawa dia sekalian ke acara arisan?"


"Jangan! Ummi mau kenal dulu sama teman kamu itu. Kita belum tahu apakah dia cocok dengan keluarga kita atau tidak," tolak Habibah.


"Tapi ummi, Zafran nggak mau dijodoh-jodohin. Zafran mau memilih sendiri wanita yang akan menjadi calon istri."


"Apakah kalian berdua ada rencana menikah dalam waktu dekat?" Zafran menggeleng. "Kamu sudah kenal dengan keluarganya? Bagaimana agamanya?"


Sesuai perkiraan, pertemuan pertama Erina dengan keluarga Zafran tidak berjalan sesuai harapan. Sejak Erina masuk ke dalam rumah, kedua orang tua Zafran terang-terangan memperhatikan bagaimana cara berpakaian gadis itu. Mereka memang menerima kehadirannya, namun tetap terlihat kurang welcome.


"Bang, ummi nggak suka sama gadis itu." Tanpa basa-basi Habibah menyatakan pendapatnya. "Kamu mau menjadikan perempuan yang suka mengumbar aurat itu sebagai istri? Ummi nggak setuju. Sampai kapanpun ummi nggak akan setuju."


FLASHBACK OFF


"Lebih baik kamu pulang." Tak ada lagi panggilan kakak atau sayang terucap dari mulut Erina. "Kamu tau kan dimana pintu keluarnya."


Zafran terdiam melihat sikap dingin kekasihnya. Tak bisa dipungkiri, sebenarnya hatinya mulai terbagi. Wanita yang dijodohkan dengannya bukan wanita sembarangan. Zulfa adalah seorang dokter yang tentu saja cantik dan shalihah. Sopan dan lembut. Keluarganya salah satu keluarga yang cukup disegani di komunitas mereka. Benar-benar wanita idaman. Sifat yang tak ditemui pada Erina. Namun justru sifat tomboy gadis itulah yang membuatnya jatuh cinta. Sayangnya sang ummi tetap tidak bisa dibujuk untuk menyukai gadis itu


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2