
"Gue tahu jalan pikiran lo. Memang impian semua wanita untuk menikah dan mengandung bayi dari suami yang dicintainya. Saat ini gue nggak tahu siapa pria yang lo cintai. Kemungkinan besar bukan Daffa. Lalu kenapa elo nggak menikah dengan Ardian? Dia mencintai lo dan dia ayah dari bayi yang ada di dalam perut lo."
⭐⭐⭐⭐
Erina tak menyahuti perkataan Raina. Memang benar apa yang dikatakan Raina. Saat ini ia sudah menghapus perasaannya terhadap Daffa. Bahkan ia menghapus nama itu dari hatinya walaupun ia tahu Daffa masih terus berusaha menghubunginya melalui telpon ataupun pesan.
"Gue nggak tahu apa yang terjadi antara elo dan Daffa. Tapi apapun itu, gue yakin itu hal yang sangat prinsip buat elo makanya elo sampai memutuskan pertunangan kalian."
"Elo tahu darimana? Lexi? Ardian?"
"Lexi dan Ardian tidak menceritakan secara detail permasalahan antara elo dan Daffa. Hal itu juga nggak penting buat gue. Sekarang yang terpenting adalah elo jangan menggugurkan kandungan lo."
Erina tak menyahuti ucapan Raina. Pikirannya sibuk sendiri. Bagaimana mungkin gue menerima anak ini padahal gue membenci bapaknya.
"Elo boleh membenci Ardian. Elo mau menghajar dia atau memasukkan dia ke penjara juga silakan," ucap Raina seolah bisa membaca pikiran Erina. "Biar bagaimanapun, bayi di dalam kandungan itu adalah darah daging kalian dan dia sama sekali nggak berdosa."
"Mana mungkin gue bisa menerima kehadiran anak ini."
"Kenapa nggak mungkin? Bahkan seorang pelacur bisa kok mencintai anaknya, meskipun dia nggak tau siapa bapaknya."
"Gue benci Ardian."
"Itu hak lo. Tapi Ardian sudah menyadari kesalahannya bahkan dia sudah minta maaf kepada elo dan keluarga lo. Bahkan dia mau bertanggung jawab. Itu karena dia mencintai lo dan pastinya juga mencintai bayi kalian. Paling tidak, biarkan bayi ini lahir dengan selamat. Setelah itu terserah elo mau diapain tuh anak."
"Gue nggak mau menikah dengan Ardian."
"Itu juga hak lo untuk menentukan siapa yang akan lo jadikan suami. Tapi berdasarkan pengalaman pribadi gue, lebih enak hamil didampingi oleh suami. Paling tidak elo nggak susah sendirian. Kalau perlu, selama hamil lo kerjain aja si Ardian yang aneh-aneh. Sekalian balas dendam." Raina tergelak sendiri membayangkan Ardian pontang panting memenuhi keingingan bumil yang absurd. Mau tak mau Erina tertawa mendengar ucapan Raina.
"Nah, gitu dong. Lebih enak ngeliat elo ketawa daripada marah-marah. Muka lo tambah jutek dan keliatan tua."
"Sialan lo!" Erina mencubit pinggang Raina. "Otak lo jadi tambah sengklek ya sejak melahirkan baby Alea dan Alena."
"Gue nggak mau terjebak dalam situasi baby blues atau depresi setelah melahirkan. Makanya gue sering mentertawakan hal-hal receh biar nggak stress."
"Gue yakin mas Henry yang stress punya bini kayak elo."
"Justru mas Henry makin sayang sama gue dan bersyukur banget istrinya masih bisa bercanda dan tertawa." ucap Raina membela diri. "Saran gue, terima deh lamaran si Ardian. Habis itu lo bikin dia pontang panting memenuhi berbagai keinginan lo. Kalau belum jadi suami aja dia segitu berdedikasinya, apalagi sudah jadi suami siaga. Pasti lebih heboh."
"Gue belum bisa ambil keputusan sekarang."
"Elo sudah ke dokter kandungan?"
"Belum."
__ADS_1
"Mau gue kenalkan ke dokter kandungan gue?"
"Ganteng?" Raina mengangguk sambil mengangkat kedua jempolnya.
"Baik?"
"Bangeeeeet. Dan dia sangat informatif. Dia bersedia menjawab pertanyaan lo kapan pun dibutuhkan."
"Gue pacarin aja ya tuh dokter."
"Wah, kalau itu nggak bisa say. Tuh dokter nggak demen cewek."
"Serius?" Raina mengangguk. Tak lama kemudian kedua sahabat itu asyik mengghibahi dokter ganteng penyuka sesama jenis itu.
Sementara itu di luar kamar, Yuna dan Andrew tersenyum lega karena Raina berhasil membuat Erina kembali ceria.
⭐⭐🥰⭐⭐
"Gimana Rai?" tanya Alexia dan Ardian bersamaan saat mereka bertemu di rumah Raina.
"Sabar. Masuk aja dulu, baru nanti kita ngobrol." Raina mempersilakan keduanya masuk ke ruang keluarga. "Biiik... tolong buatin minum buat Lexi dan Ardian!"
"Elo sudah ketemu Erin, kan?" desak Ardian. "Gimana kabar dia?"
"Gue kesini bukan mau cari minum," gerutu Ardian sembari meminum es jeruk yang disediakan oleh bik Ismi.
"Sudah, jangan kebanyakan ngomel. Elo harus latihan sabar. Menghadapi bumil jauh lebih sulit. Elo harus super duper sabar." Ardian yang tadinya masih mau mendesak Raina akhirnya tutup mulut.
"Benar kata Raina. Menghadapi Erina yang nggak hamil aja kita harus sabar, apalagi saat dia hamil," ucap Alexia.
"Iya, iyaaa.. gue akan coba sabar."
"Nah, gitu dong. Sekarang gue bakal laporan ke kalian. Gue sudah ketemu dia. Kondisinya ya sama seperti perempuan hamil lainnya. Sering mual, muntah, pusing dan nggak kuat cahaya matahari. Selain itu dia baik-baik saja. Oh ya, dia juga masih benci sama elo."
"Kasihan Erin. Mengalami morning sickness tanpa didampingi pasangan," ucap Alexia. Pandangannya menerawang jauh. "Pasti dia sangat nggak nyaman. Untunglah saat ini dia dekat dengan kedua orang tuanya."
"Oh iya, besok sore gue dan Erin akan menemui dokter Hilman. Dia dokter kandungan yang menangani kehamilan gue."
"Dokter Hilman Prianta yang ganteng itu, Rai?" tanya Alexia penasaran.
"Iya. Elo kenal?"
"Bukan kenal doang. Orang tua gue bersahabat dengan orang tuanya. Bahkan waktu gue dan Raymond mau program bayi tabung, kita konsultasinya sama dia." jelas Alexia.
__ADS_1
"Wah, pasti seru dong ngobrol santai sama dokter Hilman. Pasiennya banyak banget. Gue kalau mau periksa harus bikin janji seminggu sebelumnya. Emak-emak muda suka modus biar periksa dalam sama dia." Raina mengikik.
"Termasuk elo, Rai?"
"Nggak mungkin lah. Suami gue kan selalu always nemenin kalau gue periksa."
"Elo gagal modus ya?" Raina dan Alexia cekikikan sendiri, tanpa mempedulikan Ardian yang mukanya mendadak merah.
"Woy, kenapa lo Di?" tanya Raina saat menoleh ke arah Ardian dan melihat sahabatnya itu menahan marah.
"Jangan ajak Erin ketemu dokter itu!" tegas Ardian.
"Kenapa?"tanya Alexia dan Raina berbarengan.
"Nggak apa-apa. Cari dokter lain. Kalau perlu cari dokter yang cewek," ucap Ardian sambil menenggak habis es jeruknya dengan cepat. Akibatnya ia tersedak.
"Pelan-pelan minumnya. Nggak usah pake emosi," ledek Alexia.
"Siapa juga yang emosi?" tanya Ardian sewot.
"Yang pasti bukan kita. Iya kan, Lex?" Kali ini giliran Raina yang meledek.
"Apaan sih? Gue tuh nggak emosi."
"Hmm.. kalau bukan emosi, berarti elo.... cem-bu-ru?!" Kali ini Raina dan Alexia tertawa ngakak karena berhasil meledek Ardian yang kini wajahnya merah padam.
"Cemburu? Nggak juga. Biasa aja. Gue nggak suka aja kalau ada cowok lain yang melihat tubuh Erin."
"Iya.. iyaaa... kita ngerti kok maksud lo. Wajar sih kalau seorang suami punya pikiran kayak gitu. Eh, tapi elo kan belum jadi suami dia, Di." Lagi-lagi Raina dan Alexia tergelak setelah meledek Ardian.
Ardian hanya mampu menghela nafas kesal karena ulah kedua sahabatnya. Benar apa kata mereka, gue belum menjadi suaminya Erin. Gue nggak berhak cemburu, batin Ardian. Tapi wajar dong kalau gue khawatir Erin akan jatuh hati pada dokter ganteng itu.
"Tenang bro, si Hilman gak demen cewek." Alexia menepuk-nepuk punggung Ardian. "Gue malah khawatir tuh dokter jatuh cinta sama elo."
"Ka****t lo, Lex!" Akhirnya Ardian bisa tersenyum tenang.
"Boleh gue ikut?" tanya Ardian.
"Terserah elo. Tapi apa elo siap dimaki-maki Erin di depan umum? Gue bisa bikin dia lebih santai dan tertawa, tapi gue nggak bisa membuat dia berhenti membenci elo," ucap Raina dengan nada prihatin. "Sorry ya, Di."
Ardian hanya bisa termanggu mendengar ucapan Raina. Ia tak menyalahkan Raina. Ia menyadari takkan mudah membuat hubunganya dengan Erina kembali seperti dulu
⭐⭐🥰⭐⭐
__ADS_1