
"Entahlah mom. Saat itu Erin sudah mulai nyaman dengan Daffa dan mungkin saja Erin sudah mulai jatuh cinta pada Daffa."
⭐⭐⭐⭐⭐
Ardian yang hendak masuk ke dalam rumah Andrew menghentikan langkahnya. Ia tak bermaksud menguping pembicaraan antara Erina dan Yuna, namun kebetulan ia yang pulang untuk meminta tanda tangan Andrew mendengar kalimat terakhir yang Erina ucapkan. Hal itu membuat hatinya seakan dicubit. Ya tuhan, apa mungkin aku bisa membuat dia mencintaiku sementara hatinya saat itu sudah mulai
mencintai orang lain?
"Assalaamu'alaykum."
"Wa'alaykumussalaam. Eh, Ardi kok pulang? Ada yang ketinggalan atau kangen sama istri?" ledek Yuna. Erina hanya melengos tak menoleh ke arah Ardian. Matanya fokus ke arah televisi.
"Ada dokumen yang harus ditanda tangan oleh daddy, mom. Kebetulan sekalian mau makan siang di rumah kalau memang sudah siap mom," jawab Ardian sambil memaksakan tersenyum.
"Rin, suami pulang kok nggak disambut? Sana kamu siapkan makan siang untuk Ardian."
"Mboooook.... siapin makan siang buat Ardian.!" Tanpa beranjak dari duduknya Erina memberi perintah pada mbok Siti.
"Astaga Erin! Ngapain sih teriak-teriak kayak di hutan. Kamu bikin mommy kaget. Bagaimana kalau daddymu jantungnya kumat?" omel Yuna. Sementara itu Ardian hanya tersenyum masam melihat sikap Erina yang tak peduli.
"Mommy aja deh yang nyuruh mbok Siti atau bi Imas. Erin lagi asyik nonton nih," sahut Erina. "Lagian siapa suruh pulang nggak kasih kabar dulu."
"Mom, Ardi ke kamar daddy dulu untuk minta tanda tangan." Ardian meninggalkan Erina dan Yuna.
"Rin, kamu kok gitu sih?"
"Lho, salah siapa coba pulang nggak pakai pemberitahuan lebih dulu?" Erina balik bertanya.
"Kamu itu statusnya istri. Seharusnya kamu bisa bersikap lebih ramah ke Ardian. Dosa lho memberi muka masam ke suami."
"Mommy nih dikit-dikit dosa, dikit-dikit dosa. Kalau seribet ini mendingan Erin nggak usah nikah. Sudah ribet sama perut, masih harus ribet dengan urusan suami. Nyebelin!" Erina berdiri dengan kesal dan berjalan meninggalkan Yuna yang hanya mampu menggelengkan kepala melihat sikap putri tunggalnya.
"Di, bagaimana situasi kantor saat ini? Itu tadi si Erina kenapa kok teriak-teriak begitu?" tanya Andrew yang saat ini masih dalam pemulihan. Karena kondisinya yang belum stabil maka Andrew mengambil keputusan menyerahkan posisi pimpinan kepada Ardian.
"Kantor aman terkendali dad. Para subcont mau menerima penawaran kita untuk masalah ganti rugi yang mereka ajukan. Lalu mengenai urusan bank juga sudah bisa kita tangani. Kebetulan papa dan om Arya bersedia membantu."
"Maaf ya daddy terpaksa meminta kamu menangani masalah perusahaan."
"It's okay dad. Sebagai menantu memang sudah kewajiban Ardi membantu perusahaan daddy. Toh, ini juga perusahaan milik Erina."
"Lalu bagaimana dengan bisnismu dengan Gustav? Belum lagi dengan posisimu sebagai CFO di kantor pak Arya. Kamu pasti sibuk sekali."
"Semuanya aman terkendali, dad. Gustav bersedia menjalani perusahaan itu sendirian. Kebetulan Starla, istrinya, juga bisa membantu. Untuk perusahaan om Arya, Ardian nggak perlu kesana tiap hari."
__ADS_1
"Daddy pernah menyuruh Erina untuk meminta kamu membantunya di perusahaan apabila kami jadi pindah ke Texas. Ternyata ucapan daddy menjadi kenyataan. Tolong kamu bimbing dan dampingi dia dalam menjalani perusahaan ini, ya."
"Baik dad. Ardian akan mendampingi Erina selama dibutuhkan."
"Kok selama dibutuhkan? Bukan selama-lamanya?" tanya Andrew.
"Kalau memang Erina membutuhkan Ardian, insyaa Allah Ardian siap. Semuanya tergantung pada Erina," jawab Ardian diplomatis.
"Daddy titip Erina ya. Kamu tahu bagaimana sifat Erina. Daddy harap kamu bisa sabar menghadapi dia." Ardian mengangguk sambil tersenyum.
"Ardian pamit dulu, dad. Siang ini akan ada meeting mengenai pengajuan tender baru."
"Tender ke perusahaan Hermawanto?" tanya Andrew khawatir.
"Bukan dad. Kebetulan Gustav memberi info ada proyek perluasan sekolah internasional. Ardian mau mendiskusikan hal ini dengan yang lainnya."
"Oke, daddy percaya sama kamu."
"Dad, Ardian balik ke kantor dulu."
"Kamu nggak makan dulu?" tanya Yuna yang datang membawakan makan siang untuk Andrew.
"Nanti saja mom di kantor," tolak Ardian cepat.
"Biar nanti Ardian yang minta sama bi Imas, mom."
Alih-alih meminta disiapkan makan siang untuk dibawa, Ardian lebih memilih langsung ke mobil. Saat Ardian menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah, tiba-tiba mbok Siti memanggilnya.
"Den, den Ardian. Tunggu sebentar, den!" Ardian menoleh ke arah mbok Siti yang mengangkat sebuah tas bekal.
"Kenapa mbok?"
"Ini makan siang den Ardian. Jangan lupa dimakan den, biar kuat menghadapi kenyataan." ucap mbok Siti dengan nafas terengah-engah.
"Sampaikan terima kasih ke mommy ya mbok."
"Itu non Erin yang menyuruh mbok menyiapkan makan siang untuk dibawa den Ardian. Mungkin non Erin khawatir den Ardian sakit." Ardian tersenyum tipis mendengar ucapan mbok Siti.
"Sampaikan terima kasih ke non Erin ya mbok."
"Ih, itu mah sudah kewajiban non Erin den."
"Iya aku tahu, mbok. Tapi tolong sampaikan saja. Biar dia juga tahu kalau saya menghargai perhatiannya. Saya pergi dulu, mbok," ucap Ardian datar. Ardian menjalankan mobilnya meninggalkan mbok Siti yang masih termangu di halaman.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐⭐
"Mom, Erin mau pergi sama Lexi ya."
"Sudah ijin ke Ardian?" tanya Yuna sambil mengupas buah untuk Andrew.
"Mommy aja yang kasih tau dia. Lexi sudah dalam perjalanan. Mungkin lima menit lagi dia sampai."
"Ardian itu suamimu. Kamu harus minta ijin sama dia kalau mau pergi," ucap Andrew sambil mengambil sepotong buah.
"Dad, it's so old fashioned. Sekarang sudah jaman modern dimana kedudukan pria dan wanita itu setara."
"Walau jaman sudah modern, hal seperti itu tetap berlaku, dear." ucap Yuna. "Kamu ingat aunty Vicky, saudara sepupu daddymu? Dia yang dibesarkan di keluarga yang modern, dengan pendidikan dan karir cemerlang, setiap mau pergi pasti minta ijin dulu ke uncle Brian."
Erina hanya terdiam mendengar ucapan Yuna. Ah, mommy kuno banget sih. Lagipula hubungan kami nggak lebih dari sebuah status. Gue juga nggak pernah menganggap dia suami.
"Walaupun kamu masih belum bisa menerima dia sebagai suami, tapi kamu tetap harus minta ijin sebelum pergi kemana-mana," ucap Yuna seolah bisa membaca pikiran Erina. "Ingat, nanti kamu kabari dia."
"Okay mom. Tuh Lexi sudah sampai. Erin pergi dulu ya." jawab Erina cepat sebelum Yuna memberi ceramah lanjutan. Ih, kenapa semua mendadak jadi cerewet sih, omel Erina dalam hati.
Tak lama Erina dan Alexia sudah dalam perjalanan menuju sebuah club. Erina berhasil membujuk Alexia dengan alasan itu keinginan bayi-bayinya.
"Rin, nanti kita cuma sebentar ya. Elo nggak boleh pesan minuman beralkohol."
"Iya, iya. Elo sama cerewetnya dengan mommy dan Ardian." balas Erina.
"Ardian pasti bakal marah banget nih sama gue," gumam Alexia. "Gue pasrah deh kalau nanti Ardian marah sama gue."
"Elo tinggal bilang dipaksa sama gue apa susahnya sih?"
"Elo sudah minta ijin belum sih sama suami lo?"
"Ih, geli gue dengar elo nyebut dia suami gue. Lagipula ini hidup gue. ya terserah gue gimana menjalaninya."
"Lho, kalian itu sudah sah sebagai suami istri. Setahu gue, dalam agama kalian ada kan aturan seperti itu?"
"Nggak usah bawa-bawa agama deh. Gue cuma ingin healing. Gue bosan di rumah terus. Pergi paling jauh cuma ke klinik. Ketemunya emak-emak gendut, perawat dan dokter," omel Erina. "Gue butuh liat yang segar-segar, Lex."
"Jadi tujuan lo clubbing buat cari yang segar-segar? Harusnya elo ke taman bunga atau ke pegunungan, bukan pergi ke club," balas Alexia ketus. "Baru kali ini gue ketemu bumil ngidam ke club."
"Nggak usah protes. Tugas lo cuma menemani gue."
"Iya, iya."
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐