
Erina terlihat bingung. Dari tadi ia mondar mandir di depan ruangan Andrew, sang daddy. Tingkahnya tentu saja membuat Kimmy, sekretaris Andrew sekaligus keponakannya, heran.
"Kak Erin, kalau mau ketemu om Andrew masuk saja langsung, lagi nggak ada tamu, kok."
"Hmm...." Erina terlihat ragu hendak mengetuk pintu ruangan Andrew.
"Kak Erin kenapa sih? Kok kayak kucing mau lahiran," tanya Kimmy heran.
"Kim, tante Michelle sudah balik belum? Kalau kak Sonya lagi dinas kemana?"
"Mama dan papa rencananya baru balik sebulan lagi. Kalau kak Sonya masih dinas di Makasar sampai minggu depan. Kakak ada perlu dengan mereka? Telpon aja kak."
"Hmm... nggak usah deh. Nggak enak ngobrol lewat telpon."
"Kak Erin cerita aja sama Kimmy. Siapa tau Kimmy bisa bantu." Erina memandang gadis berusia 19 tahun yang berdiri di hadapannya. Gadis mungil yang dulu sering dipanggil bayi oleh saudara-saudaranya, termasuk dirinya.
"Kamu masih bayi."
"Ih, kak Erin mah gitu. Kimmy sudah hampir 20 tahun lho. Bukan bayi lagi."
"Tetap saja kamu masih kecil. Kamu mah nggak ngerti urusan oramg dewasa."
"Hmm.. urusan nikah ya kak?" tanya Kimmy penasaran. "Kak Erin mau dijodohin? Sama siapa kak?"
"Huuu.. sok tau kamu!" Erin mengacak rambut Kimmy.
"Kak Erin! Rambut Kimmy jadi berantakan kan!" Kimmy kalang kabut menghindari tangan Erina.
Keributan yang menarik perhatian Andrew. Tak lama kemudian Andrew menyembulkan kepala dari dalam ruangan.
"Ada apa sih kalian ribut-ribut di sini? Kayak anak kecil aja," omel Andrew sambil memandang keduanya bergantian.
"Kak Erin nih om," adu Kimmy.
"Tumben kamu kesini, Rin? Biasanya daddy harus panggil dulu baru kamu kemari."
"Om, kayaknya kak Erin mau ngomongin sesuatu deh sama om Andrew," celetuk Kimmy. Erina langsung melotot ke arah Kimmy. Mulutnya mengucapkan kata 'Ember' tanpa suara kepada Kimmy.
"Benar rin? Ayo masuk ke ruangan daddy. Kim, sementara hold dulu semua telpon yang masuk selama satu jam ke depan."
"Oke boss!" sahut Kimmy seraya mengacungkan jempolnya. "Kak, jujur aja kalau nggak mau dijodohin ya."
Kimmy buru-buru kabur sebelum rambutnya kembali diacak-acak oleh Erina.
"Duduk, Rin. Kamu mau minum?" tawar Andrew sambil melangkah menuju mini bar yang ada di kantornya.
__ADS_1
"Hmm... nggak dad," tolak Erina.
"Yakin?" Erina mengangguk. "Tumben. Biasanya tanpa daddy suruh kamu ambil sendiri."
"Mau coba berhenti minum, dad."
Andrew langsung menoleh ke arah Erina dengan pandangan heran.
"Really? Why?"
"Nggak apa-apa. Cuma pengen berhenti aja minum alkohol."
"Hmm.. apa karena kekasihmu Zafran yang melarang?"
"Eh... itu salah satu penyebabnya."
"Oke... kamu sudah dewasa. Sudah bisa memutuskan apa yang terbaik untukmu." Andrew membatalkan niatnya untuk minum. Diletakkannya gelas yang sudah terisi ke atas meja. "Daddy yakin kamu lagi ada masalah. About work?"
"Bukan."
"Relationship?" Erina mengangguk ragu.
"Zafran?" Kembali Erina mengangguk.
"Is it good or bad?"
"How bad?"
"Really bad."
"You two broke up? Didn't you say that he will marry you?"
"Fail."
"Why? You don't love him? Or he's cheating on you?"
"I love him. He's not cheating on me. He loves me, still."
"Then what happen?"
"I can't marry him."
"Why? If you two really love each other, I guess there's no reason you can't marry him. Unless.... " Andrew tak meneruskan ucapannya. Sepertinya ia bisa menebak penyebabnya. Direngkuhnya Erina ke dalam pelukannya. Dengan lembut dielusnya punggung putri kesayangannya. Erina yang tadinya tak ingin menangis, akhirnya terisak di dalam pelukan Andrew.
"Dad, kenapa tuhan nggak sayang Erin? Kenapa dunia nggak adil sama Erin? Kenapa mereka selalu menyakiti dan meninggalkan Erin? Apa salah Erin?"
__ADS_1
Andrew tak menjawab, karena ia tahu Erina tak membutuhkan jawaban. Erina hanya ingin melampiaskan segala kegundahannya. Dibalik sifat tomboy dan temperamentalnya ternyata Erina hanyalah seorang gadis biasa yang bisa rapuh juga.
Andrew tak menutup mata mengenai segala kisah percintaan putri tersayangnya ini. Bahkan salah satu kekasih Erina berselingkuh dengan sekretaris Andrew. Saat itu Andrew mengambil tindakan langsung memecat keduanya yang kebetulan bekerja di perusahaannya. Bahkan Andrew sempat mem-black list keduanya sehingga mereka sulit mencari pekerjaan dan terpaksa pindah keluar kota agar mendapat pekerjaan.
Semua itu Andrew lakukan sebagai cara men-support sang putri yang hampir bunuh diri akibat perselingkuhan tersebut. Namun satu hal yang Andrew lupa bahwa putri kecilnya ini juga membutuhkan pelukan hangat sang daddy. Selama ini Andrew hanya berusaha melindungi fisik Erina tanpa mencari tahu bagaimana sesungguhnya hati Erina. Wajar kalau Andrew merasa Erina tegar. Karena setiap kali putus cinta, Erina akan kembali tegar walaupun harus melewati fase mabuk dan memaksakan diri untuk bekerja lebih keras dari biasanya.
Saat Erina menjalin hubungan dengan Zafran, tak terbersit sedikitpun dalam pikiran Andrew kalau putrinya akan kembali gagal mempertahankan hubungannya. Zafran salah satu yang terlama setelah Gustav. Biasanya hubungan Erina hanya bertahan setahun. Bahkan sejak awal mereka menjalin hubungan Zafran sudah memperlihatkan keseriusannya dan sempat menyampaikan rencana akan melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Bukan sekali dua kali Zafran ikut dalam acara keluarga besar mereka dan diperkenalkan sebagai calon suami Erina. Pembawaannya yang menyenangkan membuat keluarga besar mereka menerima Zafran dengan tangan terbuka, kecuali Eyang Fatma. Walaupun tidak secara terang-terangan menolak Zafran, Eyang Fatma berkali-kali menyatakan akan menjodohkan Erina dengan Dipo.
"Lalu bagaimana?" tanya Andrew. "Apakah Zafran tidak bisa membujuk keluarganya?"
Erina menggeleng lemah.
"Rin, usiamu nggak muda lagi. Sudah saatnya kamu menikah. Kamu tau kan kalau mommy sudah nggak sabar pengen gendong cucu. Daddy juga ingin pensiun dan menyerahkan perusahaan ini sama kamu."
"Dad, urusan perusahaan kan nggak tergantung dengan status Erin. Bahkan menurut Erin dengan status single seperti sekarang ini, memudahkan Erina berekspansi dan fokus dalam pekerjaan. Kalau Erin menikah, sulit buat Erin mengembangkan perusahaan daddy."
"Justru itu, kami merasa khawatir. daddy dan mami khawatir dengan kesehatanmu. Kamu kalau sudah bekerja suka lupa waktu. Kalau ada pasangan hidup, ada yang akan mengingatkan dan mengurusmu," jelas Andrew. "At least you have someone to lean on."
"I have you and mom," jawab Erina.
"Kami nggak selamanya bisa mendampingimu"
"Daddy dan mommy masih sehat. Masih kuat. Kalian akan hidup 100 tahun lagi. Kalian akan melihat Erin mencapai kesuksesan."
"Rin, kami ada rencana akan pindah ke Texas. Your grandpa needs me. Kamu tau kan sepeninggal granny, dia sering sakit-sakitan. As an oldest, I need to go back and accompany him."
Erina termanggu mendengar ucapan Andrew. Ia sangat mengerti keinginan Andrew. Bukan sekali dua kali sang daddye menyampaikan hal ini. Andrew pernah mengatakan ingin membantu orang tuanya mengurus peternakan mereka. Sebagai putra tertua dan satu-satunya anak lelaki, tanggung jawab meneruskan peternakan tersebut berada di tangan Andrew.
"I'll be okay if you two want to move there. I'm a grown-up woman. I'm not a kid anymore."
"We're not okay. Especially your mom. She'll refuse to move until you have someone to guard you."
"Ya ampun dad, kan Erin bisa meng-hire beberapa bodyguard kalau memang mommy khawatir."
"It's not something to debate. We want you to marry someone that will take care and love you as we love you."
"What if.... Zafran can't marry me?" tanya Erina pelan.
"You have to find another man or marry Dipo," jawab Andrew lugas.
"Dipo? NO!" tolak Erina. "Erin nggak mau nikah dengan dia. Please dad, jangan paksa Erin menikah dalam waktu dekat."
"Daddy kasih kamu waktu enam bulan. Terserah kamu apakah akan membujuk Zafran atau mencari pria lain," tegas Andrew. Erina masih ingin membantah namun melihat bahasa tubuhnya ia tau Andrew tak ingin dibantah.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐