TAKLUK

TAKLUK
KARENA ITU KAMU


__ADS_3

"Yang, besok pagi mau sarapan apa?" tanya Erina pada Ardian yang sedang sibuk membaca buku di sampingnya.


"Makan kamu boleh?" Ardian balik bertanya sambil senyum-senyum nggak jelas.


"Iih apaan sih, Otaknya nggak jauh-jauh dari sel***k***** ya. Kalau itu pasti aku nggak akan nanya. Setiap habis subuh kamu selalu minta jatah. Capek tau!"


"Tapi enak kan?" Ardian meletakkan buku lalu mendekati sang istri. Kalau sudah seperti ini Erina sudah tahu bahwa Ardian akan mengajaknya bertempur.


Saat mereka sedang asyik bercumbu, tiba-tiba pintu kamar diketok. Tak lama terdengar suara si kembar bersahut-sahutan memanggil mereka.


"Pipiiiii... Azka nakal nih."


"Mimiii.... Aidan nih ngambil mainan Azka."


"Iiih.. itu kan bukan mainan kamu. Kata pipi, mainan itu dibeli untuk kita berdua. Kamu nggak boleh serakah!" terdengar Aidan mulai kesal.


"Ya tapi Azka kan lagi main. Kenapa direbut?"


"Kamu kan sudah dari tadi maininnya. Gantian dong!"


Sementara itu orang tua mereka masih berada dalam selimut dengan tubuh polos.


"Yang, stop dulu. Itu anak-anak berantem."


"Biarin aja. Sudah nanggung nih. Senjataku sudah siaga. Masa dibatalin peluncuran misilnya," rengek Ardian.


"Iih, kamu nih!" Erina mencubit perut Ardian. "Nanti kan bisa dilanjutkan setelah mereka tidur."


"Tapi ini sudah keburu on sayang." Ardian mengambil tangan Erina untuk menyentuh senjatanya. Ia berharap malam ini Erina mau memanjakan senjatanya. Kebetulan baru tadi pagi Erina selesai haid. Sehingga kebutuhan selama seminggu belum tersalurkan. Giliran mau disalurkan malah terganggu oleh pertengkaran si kembar.


"Iya, tapi nanti dulu. Suruh istirahat di tempat aja dulu. Aku mau lerai anak-anak." Erina keluar dari bawah selimut dan memakai kembali pakaiannya yang berserakan di lantai.


"Mimiii... Azka pukul Aidan nih!" terdengar rengekan Aidan. "Awas ya, aku balas nih!"


"Aaaah... pipiiiii! Aidan pukul Azka nih!" Akhirnya keduanya menangis bersama-sama.


"Aidan, Azka.. kalian ngapain ngapain berantem disitu? Ayo ikut mbak Kinan ke kamar. Kasian mimi pipi pasti sudah bobo.


"Nggak mau! Aidan mau sama mimi! Aidan nggak mau sama mbak Kinan! Mbak Kinan dan mbak Lila cuma sayang, Azka. Aidan nggak suka sama mbak Kinan!"

__ADS_1


Setelah merapikan pakaian dan rambutnya, Erina membuka pintu. Baru saja pintu terbuka, si kembar merangsek masuk ke dalam kamar dan menyerbu ke atas ranjang.


"Ma-maaf non. Jadi ganggu istirahatnya non Erin. Tadi saya sedang shalat dan Lila sedang ke kamar mandi sebentar. Mereka tadi sedang asyik main bareng." Kinan menjelaskan dengan suara takut-takut.


"Iya nggak apa-apa. Ya sudah, kalian istirahat saja. Jangan lupa cek jadwal dan buku si kembar ya."


"Baik non."


Di atas ranjang kedua jagoan mereka sedang berebut bercerita kepada Ardian yang kini posisinya setengah duduk sambil bersandar. Azka dan Aidan kini berebut ingin duduk di atas perut sang ayah.


"Iiih, Azka duluan yang mau duduk di atas perut pipi. Kamu ngapain ikut-ikutan?!" omel Azka sambil mendorong Aidan yang mau naik ke perut Ardian.


"Enak aja! Aidan duluan yang mau duduk di perut pipi! Kamu yang ikut-ikutan!" balas Aidan tak mau kalah.


"Ayo semuanya turun dari perut pipi!" perintah Erina. Kalau sang mimi sudah mengultimatum maka tak ada yang berani melawan, termasuk Ardian.


"Pi, kenapa nggak pakai baju? Memangnya pipi nggak kedinginan bobo nggak pakai baju?" tanya Aidan penasaran. "Azka, kamar pipi dingin atau nggak?"


"Dingin banget. Pipi pakai bajunya dong. Nanti pipi sakit lho kalau nggak pakai baju," ucap Azka.


Kini si kembar sudah kelas 1 SD. Rumah mereka selalu ramai dengan pertengkaran keduanya. Walaupun sering berselisih paham, namun mereka sangat kompak dan saling melindungi.


"Iya, Mimi nggak adil nih. Harusnya pipi diomelin dan disuruh scoutjump juga. Itu baru adil. Iya kan Az?" timpal Aidan.


"Eh, kenapa malah kalian yang ngomelin pipi? Memangnya pipi salah apa?" protes Ardian. Erina hanya bisa geleng kepala melihat gaya ketiganya yang sangat mirip.


"Nggak usah ada yang protes ataupun ngomel. Kalian dan pipi, sekarang dengarkan mimi." Ketiga lelaki dalam hidup Erina segera memasang wajah serius. Mereka paham dari nada bicaranya, sang mimi sebentar lagi akan mengomeli mereka.


"Aidan, Azka, kenapa kalian bertengkar? Kalian kan tahu sekarang waktunya belajar, bukan main." Si kembar menunduk karena merasa bersalah. "Mimi pernah bilang, apapun mainan yang pipi belikan atau diberi sebagai hadiah, adalah milik bersama. Kalau salah satu sedang main, maka yang lain harus mengalah atau kalian main bersama. Mengerti?"


Azka dan Aidan berpandangan lalu mengangguk patuh. Erina tersenyum tipis melihat sikap patuh si kembar.


"Jangan senang dulu. Kalian tetap akan mimi hukum." Keduanya tersenyum kecut mendengar ucapan Erina.


"Dan kamu, pipi. Kenapa tidur tidak pakai baju? Memangnya nggak takut masuk angin. Besok pagi kalian bertiga akan mimi hukum."


Ardian dan si kembar hanya bisa pasrah menanti hukuman dari sang ratu.


⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


Erina yang sedang asyik memasak tiba-tiba merasa mual. Ia pun berlari menuju kamar mandi dan di dalam kamar mandi ia memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya. Ardian yang baru saja masuk ruangan melihatnya dan langung mengikuti.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ardian pada Erina yang terduduk lemas di lantai kamar mandi.


"Mual. Perutku nggak enak. Kayaknya aku masuk angin."


Erina beberapa kali memuntahkan isi perutnya. Setelah itu Ardian membantu istrinya membersihkan diri dan memapahnya ke kamar.


"Bagaimana? Sudah enakkan?" Erina mengangguk. Ardian mengambil minyak kayu putih dan membalur tubuh Erina.


"Thanks sayang. Sepertinya aku kecapekan karena kemarin mengawal kegiatan si kembar seharian. Ditambah tadi pagi kamu minta jatah dobel."


"Maaf sayang. Soalnya aku nggak pernah bisa menahan diri saat melihat tubuhmu." Ardian tersenyum sambil memijat punggung Erina


"Nggak apa-apa. Memang sudah tugasku melayani 3 jagoanku."


"Terima kasih sayang karena kamu mau menerima kami." Ardian memeluk tubuh Erina. Lalu ia mengecup keningnya. "Aku nggak pernah mengira akan menghabiskan hidupku berdampingan dengan pelaku vandalisme."


Keduanya tertawa mengingat bagaimana awal perkenalan mereka saat SMA dulu.


"Aku mengagumi keberanianmu sejak saat kamu menampar Gustav di ruangan ayah."


"Thanks to Gustav, sejak itu kita malah menjadi sahabat ya, sayang." Erina membalas pelukan Ardian dan bersandar nyaman di dadanya.


"Rupanya kekagumanku itu merupakan awal rasa cinta yang terlambat kusadari."


"Di, kamu bahagia menikah denganku? Kenapa kamu tetap bertahan walaupun aku memperlakukan dirimu dengan buruk?"


"Bahagia? Tentu saja sayang. Kebahagiaanku saat ini adalah kalian bertiga. Justru mungkin aku yang harus minta maaf karena keegoisanku membuatku memboikot hubunganmu dengan Daffa. Kalau kamu menanyakan kenapa aku bertahan, maka jawabanku takkan berubah. Karena wanita itu adalah kamu, Rin. Satu-satunya wanita yang kucintai dan kuinginkan dalam hidupku."


"Gombal akut." Erina berdiri.


"Eeeeh.. mau kemana?"


"Lanjut masak. Sebentar lagi si kembar pasti ribut minta makan. Aku heran kemana larinya semua makanan itu karena tubuh mereka tidak menjadi gemuk walau mereka sering kalap makan."


"Metabolisme tubuh mereka sama sepertiku. Apa yang dimakan selalu habis menjadi energi. Makanya tubuhku nggak pernah gendut."


"Narsis," Erina meninggalkan Ardian yang tergelak.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2