
"Kak, besok aku diundang mengisi acara di kedutaan. Kakak mau nonton nggak?" tanya Nathalie saat makan siang bersama Ardian.
"Hmm.. jam berapa?"
"Besok kakak sibuk?"
"Besok kakak mau antar kak Erin ke dokter kandungan."
"Kok periksa lagi?"
"Semakin dekat tanggal melahirkan, semakin sering diperiksa."
"Kak Erin pasti bahagia banget ya memiliki pendamping seperti kak Ardian."
"Suatu hari nanti kamu juga akan mendapat pendamping hidup yang jauh lebih istimewa dibanding aku."
"Nggak ada yang mau dengan cewek culun dan cupu kayak aku, kak."
"Hey, kamu tuh cantik, ramah dan menyenangkan. Kamu juga cerdas dan berwawasan luas. Pasti banyak cowok yang naksir kamu. " Nathalie diam tak menjawab.
"Baru kak Ardian yang memujiku seperti ini. Teman-teman kuliahku disana selalu bilang aku freak dan membosankan, walaupun aku berdandan cantik. Dulu saat aku sering ikut cici Lexi hang out bersama kalian, aku selalu merasa seperti ugly duckling. Aku minder berada di antara mereka. Mereka bertiga cantik semua. Bahkan kak Erin yang berpenampilan tomboy selalu berhasil menarik perhatian pria."
"Itu kan dulu. Sekarang kamu nggak kalah cantik dengan mereka."
"Beneran kak? Kakak ngomong kayak gini bukan karena kasihan sama aku kan?"
"Kenapa aku harus kasihan sama kamu? Sejak tadi kita masuk ke resto ini, mata para lelaki nggak berkedip. Bahkan tadi kakak lihat, pasangan yang duduk di pojok sana ribut karena cowoknya ngeliatin kamu terus." Nathalie tertawa senang mendengar ucapan Ardian. Bahkan hatinya sejak tadi berbunga-bunga mendengar pujian yang dilontarkan Ardian.
"Kak Ardian memang jago banget ngegombalin cewek ya. Pantas saja dulu banyak cewek yang berebut mau jadi pacar kak Ardian." Ardian tertawa mendengar ucapan Nathalie.
"Ehem... maaf, boleh saya berkenalan denganmu nona?" Tiba-tiba seorang pria tampan berkacamata menghampiri meja mereka. "Ma-maaf kalau saya mengganggu makan siang kalian. Saya tertarik untuk mengajak nona menjalani audisi calon model brand kami."
"Silakan duduk .... nama anda?" tanya Ardian.
"Tyo, nama saya Tyo." Pria bernama Tyo itu mengulurkan tangannya mengajak Nathalie bersalaman. . Nathalie malah membuang muka sehingga Ardian terpaksa mencolek lengannya.
"Nathalie." ucap Nathalie pendek.
"Maaf nona Nathalie, kebetulan saya memiliki fashion product yang brandnya cukup dikenal di masyarakat. Profil wajah Anda sangat menarik perhatian saya. Apakah anda berkenan mengikuti audisi tersebut?"
Nathalie memandang Ardian meminta bantuannya.
"Ehem.. maaf mas Tyo. Boleh saya panggil anda mas Tyo? Karena sepertinya anda terlalu muda untuk dipanggil pak Tyo."
"Ah, tentu saja anda boleh memanggil saya seperti itu. Saya tidak keberatan. Kalau boleh tahu siapa nama anda dan apa hubungan anda dengan nona Nathalie?"
"Ah, maafkan saya yang lupa akan sopan santun. Nama saya Ardian dan saya adalah ......"
"He's my boyfriend," sela Nathalie cepat sebelum Ardian menjelaskan. Tentu saja Ardian terkejut mendengar ucapan Nathalie. Belum hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba Nathalie menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Ah, I see." Wajah Tyo terlihat sedikit kecewa.
"Mas Tyo, boleh kami tahu media sosial atau website produk anda? Sepertinya kami harus pelajari dulu sebelum Nathalie menerima tawaran anda. Dia harus melihat jadwalnya dulu. Semoga dia masih memiliki slot kosong di jadwalnya yang lumayan padat."
"Baiklah saya mengerti. Untuk menyatakan keseriusan saya, ini kartu nama saya. Disitu ada akun medsos brand kami. Saya sangat berharap bisa mengajak nona Nathalie bekerja sama."
Sepeninggal Tyo, Ardian dan Nathalie berpandangan lalu tertawa kecil.
"Nat, kenapa kamu bilang gitu ke Tyo?" tanya Ardian setelah tawa mereka mereda.
"Yang mana kak? You're my boyfriend?" Ardian mengangguk.
"Bagaimana kalau dia berpikir aku beneran boyfriend kamu?"
"Ya, biarin aja. Kak Ardian kan memang boyfriend aku."
"Maksudnya?"
"Kakak itu teman lelaki aku. Memang benar kan? Hmm.. kakak nggak baper kan aku sebut sebagai boyfriend. Lagipula aku nggak keberatan kalau si Tyo benar-benar percaya kakak pacar aku. Supaya dia nggak berani macam-macam ke aku."
"Huu... kamu tuh ada-ada aja," Ardian mengacak rambut Nathalie. "Jangan sampai ada orang yang salah persepsi mengenai hal itu."
"Kalau seandainya aku benar-benar menganggap kak Ardian sebagai pacar aku gimana?" tanya Nathalie tiba-tiba. "Kakak mau nggak jadi pacar aku?"
"Kamu ini ada-ada aja, Nat. Aku ini sudah punya istri. Mana mungkin aku jadi pacar kamu. Kak Erin bisa ngamuk kalau dengar ucapanmu."
"Sudah ah jangan bahas hal itu lagi. Jangan sampai Lexi atau Raymond mengetahui hal ini. Mereka bisa salah sangka." Ardian tak mampu menyangkal apa yang Nathalie ucapkan. Memang selama ini Erina tak pernah mempermasalahkan kedekatannya dengan Nathalie.
"Jadi, kak Ardian mau nggak jadi pacar aku?" tanya Nathalie lagi. "Kak Erin nggak perlu tahu mengenai hal ini."
"Habiskan makananmu. Setelah itu aku akan mengantarmu ke tempat latihan. Jangan sampai penampilanmu nanti tidak sempurna." ucap Ardian membelokkan pembicaraan.
"Besok kakak jangan lupa datang ya. Aku tunggu. Kalau kakak nggak datang, aku nggak mau tampil. Biar aja terjadi perang antar dua negara gara-gara aku batal tampil," ucap Nathalie saat mereka hampir sampai di tempat latihan.
"Hehehe... kamu nih lucu. Mana ada negara perang gara-gara hal itu." Ardian terkekeh mendengar ucapan Nathalie.
"Ih, kakak jangan meremehkan wanita lho. Tuh buktinya Helen of Troya bisa menyebabkan perang." sahut Nathalie tak mau kalah. Ardian hanya manggut-manggut mendengar ucapan Nathalie.
"Sudah sampai nih. Sana kamu turun dan latihan yang benar biar besok penampilannya sempurna." Ardian mengacak rambut Nathalie.
"Thanks untuk makan siangnya ya kak," ucap Nathalie lalu dengan cepat ia mengecup pipi Ardian.
"Nat?"
"Bye kak Ardian, calon masa depanku." Nathalie langsung keluar mobil tak ingin mendengar protes dari mulut Ardian.
"Dasar bocah." Ardian hanya bisa menggelengkan kepala dengan tingkah absurd Nathalie.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
"Yang, nanti sore jam berapa kita ke dokter?" tanya Ardian pada Erina yang pagi itu sedang menikmati sarapan di taman belakang.
"Sekitar jam 5an. Tapi nggak tau juga jam berapa dapat giliran periksa. Kenapa? Elo ada janji dengan Nathalie?" tembak Erina langsung. Ardian terjengit mendengar tebakan Erina. Apa dia cenayang?
"Gue bukan cenayang."
"Kok kamu bisa tahu?"
"Nathalie kirim pesan ke gue, nanyain jadwal kontrol. Dia bilang kalau dia mengundang kamu liat penampilan dia di kedutaan. Hebat tuh anak sering main di kedutaan. Padahal dulu cupu banget." ucap Erina santai.
"Kamu mau ikut? Setelah itu kita ke dokter."
"Nggak ah. Pegal pinggang gue harus duduk terus. Engap," tolak Erina.
"Kata orang, musik klasik bagus lho untuk merangsang otak janin. Biar anak-anak kita pintar."
"Buat gue, pintar nggak terlalu penting. Buat apa pintar kalau nggak ada akhlak. Kayak pipinya," Kalimat terakhir sengaja Erina ucapkan kencang. Ardian hanya bisa nyengir mendengarnya.
Tiba-tiba mbok Siti mendatangi mereka. Wajahnya terlihat bingung dan tak nyaman.
"Ma-maaf den, ada tamu di depan." ucap mbok Siti.
"Kenapa mbok?" tanya Erina heran.
"I-itu non. Tamunya den Ardian cewek cantik. Kayak artis korea gitu mukanya."
Ardian dan Erina saling berpandangan memikirkan siapa tamu yang dimaksud.
"Tadi tamunya bilang mau ketemu dengan kak Ardian."
"Ooh.. itu pasti Nathalie. Yang, aku temui dia dulu ya." Ardian ngeloyor pergi tanpa menunggu jawaban Erina.
"Non, siapa sih tamunya den Ardian? Cantik banget, non. Mirip artis Korea."
"Artis Korea yang mana mbok?"
"Aduuuh.. siapa ya. Mbok lupa. Padahal dulu sering nonton drakornya bareng nyonya mommy. Pokoknya cantik deh. Non Erin nggak khawatir den Ardian jatuh cinta sama temannya itu?"
"Dia itu sepupunya Lexi, mbok. Sudah kayak adik kita. Nggak mungkinlah Ardian jatuh cinta sama dia."
"Non Erin lupa ya kalau dulu kalian juga cuma sahabatan. Eh taunya sekarang menikah dan den Ardian bucin banget sama non Erin."
"Sudah ah mbok. Kok kita malah bahas mereka. Mbok, nanti masak yang simpel aja. Sayur bening, ayam goreng dan sambal. Aku lagi kangen makanan itu."
"Baik non. Eh, tapi menurut mbok sebaiknya non Erin hati-hati aja sama si Nathalie. Nggak tau kenapa, perasaan mbok kurang enak ngeliat dia. Cantik sih, tapi aura pelakor."
"Sudah ah mbok, nggak usah mikir macam-macam. Nanti malah kejadian lho. Oh ya, uang belanja Erin taruh di atas kulkas ya."
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1