
"Rin, kamu hari ini mau ke kantor?" tanya Mira pada Erina yang duduk di sofa. Sementara itu Daffa telah kembali tertidur setelah diambil darahnya.
"Nggak tante. Erin kerja dari sini aja."
"Kalau kamu nggak ke kantor, tante pulang dulu ya. Mau ambil pakaian Daffa. Kebetulan om juga mau ke kantor, biar pak Mamat sekalian antarnya. Nggak apa-apa kan kamu menemani Daffa siang ini?"
"Nggak apa-apa. Tante pulang dan istirahat saja. Biar Erin yang temani Daffa."
"Tapi nanti kalau dia mau buang air kecil gimana?" Tiba-tiba Mira bertanya. "Kan dia belum boleh turun dari ranjang."
"Oh iya ya. Kan nggak mungkin Erin yang nolongin. Bisa bahaya." Wajah Erina memerah mendengar ucapan Irwan. "Sayang, kamu tuh bikin Erin malu saja."
"Ya wajar dong kalau aku bingung. Erin kan belum jadi istrinya Daffa. Lagipula anakmu itu kan pria sehat. Kalau yang nolongin si Erin, jangan-jangan nanti....."
"Eh, nanti biar Erin minta tolong sama perawat yang cowok." Erina langsung memotong ucapan Mira sebelum semakin horor bahasannya.
"Ya sudah kalau begitu. Kami pulang dulu ya. Ini no Aidin dan Sandra. Kalau kamu mau pulang sementara, tante belum datang kasih tau mereka ya." Erina mengangguk cepat mendengar ucapan calon mertuanya sebelum bahasan tentang buang air kecil dilanjutkan.
Sepeninggal Mira dan Irwan, Erina langsung menghubungi Luna, sekretarisnya. Ia langsung minta dikirimkan laptop dan berkas yang harus diperiksa. Setelah selesai, Erina menelpon mbok Imas.
"Assalamu'alaium. Mbok, tolong bilangin mommy kirim makanan ke RS Sehat Selalu."
"Lho, non Erin ngapain di rumah sakit? Non Erin sakit apa?"
"Bukan Erin yang sakit. Tadi pagi mbok Imas dan mbok Siti kan liat Erin pas mau berangkat."
"Rin, kamu ngapain di rumah sakit" Kali ini terdengar suara Yuna di seberang sana.
"Eh, mommy."
"Pagi-pagi kok sudah pergi. Siapa yang sakit?"
"Iya, ini Erin lagi di rumah sakit jagain Daffa. Makanya mommy kirim makanan kesini ya. Minta tolong pak Slamet untuk antar."
"Calon menantu mama sakit apa? Kenapa bisa sakit? Apa kata dokter? Nggak parah kan?"
"Mommy nggak usah panik gitu. Kata dokter, Daffa suspect DB plus kecapekan. Tadi sudah ambil darah untuk dicek. Sekarang dia lagi tidur."
"Ya ampun semoga nggak parah ya. Nanti mommy kirim makanan kesana. Mommy akan buatkan makanan yang bisa kalian makan bareng. Daffa juga harus makan masakan mommy biar cepat sehat. Makanan rumah sakit nggak enak."
"Oke mom, Erin tunggu. Thank you mom. Love you."
Baru saja menutup pembicaraan dengan Yuna, tiba-tiba masuk sebuah pesan dari nomor yang tak dikenal. Erina hanya menatap notifikasi tersebut tanpa berniat membukanya. Ah, paling penawaran asuransi atau pinjaman online, batinnya. Tak lama terdengar dering dari ponsel Daffa yang terletak di atas lemari samping ranjang. Erina membaca nama yang muncul. HONEY. Siapa Honey? Ah, mungkin itu nama temannya. Tapi apakah wajar menyimpan nomor teman dengan nama seperti itu? Batin Erina mulai dipenuhi pertanyaan.
Erina mendiamkan panggilan yang masuk itu. Namun ponsel itu tak juga berhenti berdering. Saat dering ke sepuluh, Erina berniat menjawab namun ponsel itu tak lagi berdering. Apakah ada orang yang bernama Honey itu memiliki kepentingan mendesak sehingga terus menerus menelpon? Apakah Daffa masih menyimpan nomor Brit dengan nama Honey? Erina mencoba menghubungi ponsel Daffa, nama yang muncul Calon Istri disertai emoji hati. Erina tersenyum melihatnya.
Tiba-tiba ponsel Erina berdering. Ardian? Ada apa dia menelpon?
__ADS_1
"Halo Di."
"Assalaamu'alaykum," terdengar Ardian memberi salam.
"Wa'alaykumussalaam. Tumben. Lagi insyaf lo?"
"Sialan! Memangnya Daffa doang yang bisa membuka percakapan dengan salam?" jawab Ardian sewot
"Ngapain jam segini nelpon gue? Nggak meeting?" tanya Erina pelan agar tak mengganggu Daffa yang sedang tertidur.
"Tumben ngomong pelan. Biasanya suara lo kayak tarzan," ejek Ardian. "Lo lagi di WC ya?"
"Sialan lo. Ada apaan sih?"
"Lunch bareng yuk," ajak Ardian. "Gue pengen nyobain warteg baru dekat tempat kita biasa nongkrong. Gue traktir deh."
"Astagaaa.. masa bos ngajak makan di warteg. Dipecat om Aryo lo?" Aryo adalah kakak dari Arga.
"Eh ka***et sembarangan aja kalo ngomong."
"Lagian elo aneh banget, masa ngajak makan cewek cantik kayak gue di warteg. Dimana-mana kalau mau merebut hati cewek tuh ajak makannya di resto, bukan di warteg." Erina terkekeh.
"Dih, siapa juga yang mau merebut hati cewek model elo," gumam Ardian kesal. Gue mau banget Rin, tapi apa gue bisa? batin Ardian.
"Jangan ngambekan ah. Tapi gue nggak bisa lunch bareng elo hari ini."
"Kenapa?" Elo pasti maunya lunch sama Daffa. Ah, gue bakal kangen banget masa-masa kita menghabiskan waktu bersama.
"Rumah sakit? Ngapain elo di rumah sakit? Siapa yang sakit? Elo sakit, Rin? Sakit apa? Elo nggak papa kan? Elo pasti bercanda." Ardian terdengar panik.
"Di! Apaan sih?! Jangan suka motong omongan gue bisa nggak?"
"Ya, tadi elo kan bilang lagi di rumah sakit. Wajar dong kalau gue khawatir dan panik."
Elo memang teman gue yang paling care, Di. Gue yakin perasaan sayang lo ke gue tulus, batin Erina sambil tersenyum. Seandainya saja sejak dulu elo menyatakan perasaan, mungkin jalan cerita hidup kita akan berbeda.
"Bukan gue yang sakit, tapi Daffa." Terdengar Ardian menghela nafas lega. Lagi-lagi Erina tersenyum mendengarnya.
"Oh... gue pikir elo."
"Kenapa kalau gue yang sakit? Duuh si paling khawatir dan panik," ledek Erina. "Thank you Di, elo emang teman gue yang paling baik."
"Cuma teman?"
"Memang maunya apa? Bodyguard? Kacung? Abang?"
"Pacar. Calon suami," jawab Ardian absurd.
__ADS_1
Erina terdiam. Ardian menyadari hal itu. Elo tuh tolol, hubungan lo dengan Erin kan baru membaik, Ngapain juga elo ungkit masalah itu? Sadar Di, Erin memilih Daffa.
"Daffa sakit apa?" Ardian langsung mengalihkan pembicaraan. "Segitu parahnya sampai dirawat."
"Ayahnya menemukan dia pingsan tadi pagi. Kata dokter suspect DB."
"Elo mau gue bawain apa? Gue tau, nungguin pasien itu pasti menjemukan. Belum lagi makanan di cafetarianya pasti nggak seenak resto langganan kita." Ardian mencoba menunjukkan simpatinya.
"Nggak usah Di. Mommy sebentar lagi akan mengirim makanan buat gue dan Daffa. Thanks ya," tolak Erina.
"Elo jaga kesehatan ya Rin. Jangan ikutan sakit. Biarin Daffa aja yang sakit."
"Elo tuh jadi teman yang benar dong. Masa cuma mencemaskan gue. Daffa kan juga teman lo." Ardian tak menjawab. Dia saingan gue, Rin.
Tanpa terasa hampir satu jam lebih mereka ngobrol via telpon. Ini hal yang jarang terjadi karena mereka biasanya lebih memilih hang out bareng kalau ingin ngobrol. Tapi kali ini Ardian harus bisa menahan diri dan mengurangi intensitas pertemuannya dengan Erina. Gadis tomboy yang sejak lama dicintainya dalam diam.
"Sayang... "Terdengar suara serak Daffa. Erina langsung menutup pembicaraannya dengan Ardian.
"Kenapa Daf? Kamu mau apa?" Erina mendekati ranjang Daffa. "Mau minum?"
"Kepalaku terasa berat. Badanku lemas."
"Hmm.. tadi saat ada Dek Arini dan para suster kamu terlihat sehat," sindir Erina kesal.
"Kamu cemburu?" tanya Daffa sambil tersenyum lemah. Diraihnya jemari Erina dan dikecupnya dengan mesra punggung tangan sang kekasih. "Nggak usah cemburu. Aku hanya berusaha bersikap ramah pada mereka. Nggak lebih."
"Cemburu? Aku cemburu pada mereka? Cih, kamu nggak usah ge-er gitu!" ucap Erina sambil menahan rasa kesal.
"Aku senang kalau kamu cemburu. Itu tandanya kamu memang sayang sama aku." Kali ini Daffa menarik Erina untuk duduk di ranjang.
"Aku nggak cemburu."
"Masa sih?"
"Beneran! Kalau nggak percaya ya sudah!"
"Tapi aku cemburu, Rin."
"Cemburu? Kenapa? Sama siapa?" tanya Erina bingung.
"Aku cemburu melihat kamu asyik ngobrol di telpon dengan lelaki lain." Erina terkejut mendengar ucapan Daffa. "Saking asyiknya kamu ngobrol dengan dia, kamu nggak sadar aku sudah terbangun sejak beberapa menit yang lalu. Kalau aku nggak panggil, mungkin sekarang kamu masih asyik ngobrol dengan dia."
"Maaf ya Daf. Tadi Ardian telpon untuk ajak aku makan siang, tapi kutolak karena aku mau menemanimu disini," ucap Erina dengan perasaan tak enak.
Daffa menarik tubuh Erina hingga Erina jatuh ke atas dada Daffa yang langsung memeluknya erat.
"Daf, nggak enak kalau nanti ada dokter atau suster yang masuk dan melihat kita seperti ini." Erina berusaha melepaskan pelukan Daffa, namun Daffa malah semakin erat memeluknya.
__ADS_1
"Please, biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar saja. Aku ingin kamu mendengarkan detak jantungku yang berdetak hanya untukmu," bisik Daffa sambil mencium puncak kepala Erina.
⭐⭐⭐⭐