
"Mi, makan malam dulu ya. Mau pipi suapin?" tanya Ardian mesra.
"Apaan sih lo? Nggak usah mimi pipi segala bisa nggak? Geli gue dengarnya."
Ardian menahan senyumnya. Tadi saat menemukan Erina yang tertidur di sofa jelas ia mendengar Erina menyebut MIMI.
"Mimi harus terbiasa dong. Dengar kan tadi apa kata om Firza. Kita harus merubah cara memanggil satu dengan yang lain. Memangnya kamu mau anak-anak kita memanggil kita dengan nama dan menggunakan kata elo gue ke orang tuanya? Bisa-bisa kita dianggap nggak mengajarkan sopan santun ke mereka."
"Di, kenapa elo masih disini?"
"Apa maksud lo?"
"Iya, kenapa elo masih disini?"
"Kenapa gue masih ada di sisi lo?" Erina mengangguk.
"Elo tau gue nggak punya rasa cinta ke elo. Elo juga selalu gue perlakukan dengan buruk. Tapi kenapa elo masih aja bertahan? Kenapa elo nggak mencari wanita lain?"
"Gue bukan Daffa."
"Apa maksud lo? Gue tau elo bukan Daffa. Apa hubungannya dia dengan masalah kita?"
"Masih ingat percapakan kita mengenai co-parenting? Waktu itu elo menyuruh gue mencontoh Daffa. Gue nggak bisa, Rin. Karena gue bukan Daffa yang dengan mudah meninggalkan tanggung jawab dengan dalih tidak mencintai wanita yang menjadi ibu dari anaknya."
"Kalau elo nggak cinta sama gue, apakah elo akan tetap menikahi gue?"
"Yup. Buat gue cinta bisa datang karena kita terbiasa bersama. Mungkin elo sering dengar ungkapan witing tresno jalaran soko kulino. Itu ungkapan jadul tapi buat gue itu nyata. Contohnya kebersamaan kita sebelum ada kejadian ini."
"Walau mungkin elo melakukan itu dengan perempuan yang elo nggak kenal?"
"Gue selalu diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap apa yang sudah gue lakukan. Buat gue itu jauh lebih penting daripada cinta."
"Kenapa elo cinta sama gue?"
"Mau seribu kali elo tanyain itu ke gue, jawabannya akan sama. Gue nggak tahu kenapa bisa jatuh cinta pada cewek tomboy menyebalkan seperti elo. Gue nggak mau munafik, secara penampilan elo oke banget. Body proporsional, wajah cantik. Tapi bukan itu yang bikin gue jatuh cinta."
"Lalu apa?"
__ADS_1
"Entahlah. Mungkin jawaban ini terdengar klise tapi memang seperti ini yang gue rasakan. Kebersamaan kita yang membuat gue jatuh cinta sama elo. Gue terbiasa ada elo di dalam hidup gue. Gue merasa hidup gue nggak komplit saat gue jauh dari elo."
Erina terdiam mendengar penjelasan Ardian. Sebenarnya ia pun merasa demikian. Ardian adalah bagian dari dirinya. Di saat membutuhkan teman curhat atau sparing dia pasti mencari Ardian. Di saat mendadak ingin berbuat hal-hal yang menurut orang tuanya tidak masuk akal, ia pun mencari Ardian. Ia lebih banyak melibatkan Ardian dalam hidupnya, dibandingkan kedua sahabat wanitanya. Kapanpun ia membutuhkan kehadirannya, Ardian pasti akan mengusahakan untuk hadir.
"Rin, apakah alasan itu nggak bisa lo pakai untuk belajar mencintai gue? Apalagi saat ini ada benih gue yang tertanam di rahim lo."
"Gue nggak tau, apakah gue bisa mencintai elo. Gue memang menyadari kalau gue sudah terbiasa dengan kehadiran lo dalam hidup gue. Tapi apakah itu bisa membuat gue mencintai elo... gue nggak tau."
Ardian menghela nafas keras. Perjuangan benar-benar masih panjang. Haruskah gue bertahan atau menyerah?
"Haruskah gue menyerah?" tanya Ardian pelan.
"Di, apa yang akan elo lakukan kalau sampai nanti gue tetap nggak bisa merubah perasaan?"
"Sekarang gue yang nanya balik. Apa yang akan elo lakukan kalau tetap nggak bisa mencintai gue?"
"Cerai?" Entah mengapa ada perasaan tak enak di hati Erina saat mengucapkan hal tersebut. "Menurut mommy, gue bukan sahabat yang baik dengan memperlakukan elo seperti saat ini. Menurut mommy gue harus memberi kebebasan buat elo mencari wanita lain untuk dicintai."
"Cerai? Mencari wanita lain? Elo yakin dengan hal itu?
"Menurut mommy, hal itu akan lebih mudah dilakukan sebelum si kembar lahir."
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Gue nggak mau terus menerus menyiksa elo dalam hubungan pernikahan seperti ini."
"Kita jalani pernikahan ini seperti biasa aja. Buat gue yang terpenting adalah elo dan anak-anak ada di sisi gue. Gue nggak mau memusingkan masalah apakah nantinya elo bisa mencintai gue atau nggak. Yang penting buat gue saat ini adalah elo bisa menghapus rasa benci lo ke gue. Kita jalani pernikahan ini seperti layaknya persahabatan kita dulu. Yang membedakan adalah sekarang ada anak-anak di antara kita."
Erina masih terdiam. Ardian memberanikan diri mendekati Erina. Diusapnya lembut kepala Erina. Lalu perlahan ia semakin mendekati Erina.
"Elo mau apa?"
"Gue mau elo pelan-pelan menghilangkan trauma yang elo alami akibat perbuatan gue. Sebagai suami gue memiliki hak terhadap diri lo. Jangan khawatir, gue nggak akan memaksa elo memenuhi hak gue saat ini. Yang gue mau, elo hilangkan kebencian lo dan mulai menerima gue sebagai pasangan hidup lo saat ini." Erina tak membalas ucapan Ardian. Tubuhnya mendadak kaku saat tubuh Ardian terus mendekatinya.
"Boleh gue cium kening lo?" tanya Ardian lembut.
Erina menatap mata Ardian yang kini cukup dekat dengan dirinya. Tak ditemukan hal yang menakutkan di mata itu. Perlahan Erina mengangguk. Tangan Ardian memegang bahu Erina. Ia dapat merasakan tubuh Erina yang kaku. Ardian mencium kening Erina dengan lembut, tanpa desakan. Ardian benar-benar ingin memulainya perlahan. Erina memejamkan mata saat Ardian menciumnya. Dalam jarak sedekat ini, Erina dapat mencium wangi parfum yang Ardian pakai serta ia dapat merasakan nafas hangat pria itu.
"Kenapa? Lo takut gue akan bertindak lebih?" Erina mengangguk.
__ADS_1
"Cewek bodoh."
"Apa maksud lo?"
"Gue nggak bakal memulai kalau nggak dipancing. Termasuk kejadian malam itu."
"Maksudlo, gue yang memancing elo sehingga terjadi hal itu?"
"Elo ada andil dalam kejadian itu. Elo yang memancing gue."
Erina mendorong keras tubuh Ardian yang masih berada sangat dekat.
"Nggak mungkin gue yang memancing elo," tukas Erina tak terima. Pikirannya melayang mengingat-ingat apa yang terjadi malam itu.
"Mommy menelpon gue melaporkan elo belum pulang. Gue mencari elo ke apartemen. Elo nggak disitu. Nggak lama elo menelpon gue. Dari suara lo gue tau elo mabok saat clubing. Gue harus putar otak untuk mencari dimana keberadaan lo. Untunglah saat itu Deni menelpon gue."
Ardian melanjutkan ceritanya tentang kejadian malam itu. Erina menutup mulut tak percaya dirinyalah yang lebih dulu mencium Ardian. Tidak hanya sekali, tapi dua kali. Bukan ciuman biasa tapi ciuman penuh gairah. Erina terbengong-bengong saat Ardian bercerita bagaimana ia mu***h di baju Ardian.
"Gue pria normal yang bisa tergoda melihat tubuh mulus wanita cantik seperti elo. Apalagi gue juga cinta sama elo. Setan membisiki gue untuk melakukan itu sebagai cara memiliki lo seutuhnya."
"Kenapa elo nggak pernah cerita mengenai hal itu?"
"Bagaimana gue mau cerita kalau elo mengancam memukul gue dengan tongkat baseball. Elo marah-marah dan mengusir gue. Sejak itu kita nggak bertemu sampai akhirnya Raymond ngasih tau kalau elo hamil."
"Elo nggak merasa bersalah?"
"Gue merasa sangat bersalah. Tapi rasa ingin memiliki lo saat itu lebih kuat. Saat gue cerita ke Lexi, baru gue menyadari kalau apa yang gue lakukan bisa membuat lo hamil. Elo tau apa yang gue rasakan saat memikirkan hal itu?" Erina menggeleng. "Gue sangat bahagia kalau memang perbuatan gue malam itu bikin elo hamil. Itu artinya gue punya alasan memaksa elo menerim gue."
"Elo gila."
"Iya, gue memang gila. Lebih tepatnya gue tergila-gila sama sahabat gue sendiri." Kini Ardian memegang tangan Erina lalu mengecup punggung tangannya.
"Kenapa elo nggak pernah cerita kalau elo harus melewati jalan yang sulit untuk mendapatkan gue. Mommy sudah menceritakan semuanya ke gue."
"Gue nggak mau elo tau apa yang harus gue lalui. Gue sengaja nggak cerita karena gue nggak mau elo berpikir gue mengarang cerita tersebut buat menarik simpati."
"Cowok bodoh. Terima kasih sudah mau melewati berbagai kesulitan karena cinta lo le gue." Erina ngeloyor meninggalkan Ardian.
__ADS_1
"Jadi lo terima cinta gue nggak?" seru Ardian kepada Erina yang masuk ke kamar mandi. Bukan menjawab Erina malah mengeluarkan tangan dan mengangkat jari tengahnya. Ardian tertawa bahagia melihatnya. Erinanya sudah kembali seperti dulu.
⭐⭐⭐⭐