TAKLUK

TAKLUK
SIAP DAN SIAGA


__ADS_3

"Nggak usah cemberut melulu," tegur Ardian pada Erina. "Nggak capek dari tadi manyun terus?"


"Terserah gue," jawab Erina ketus. "Ngapain sih pake maksa gue ke dokter kandungan segala?"


"Ibu hamil itu musti rutin periksa kehamilan supaya ibu dan bayinya sehat."


"Sok tau!" Ardian tak menyahut. Ia fokus ke jalanan. "Di, gue pengen makan sushi."


"Hah? Susi?


"Sushi. Pengen sushi!" tegas Erina. "Makanan jepang!"


"Oh, sushi. Nanti ya sayang setelah kita ketemu dokter."


"Nggak mau! Gue mau sekarang. Satu hal lagi, nggak usah panggil pake sayang bisa kan?"


"Tapi sayang, sebentar lagi kita sampai klinik. Masa harus putar balik?"


"Jangan panggil SAYANG!"


"Kenapa? Gue kan beneran sayang sama elo, ibu dari anak-anak gue."


"Anak-anak? Cih, jangan mimpi gue bakal mau hamil anak lo lagi," sahut Erina kesal. "Buruan, gue pengen sushi."


"Iya, iya.. nanti gue antar lo dulu ke klinik. Nanti kita pesan online aja ya sushinya."


"Nggak mau!"


"Oke, oke nanti pas elo tunggu giliran ketemu dokter, gue akan beli sushi."


"Gue maunya di tempat langganan kita."


"Tapi itu jauh Rin."


"Cih, katanya kalau bayi kita minta sesuatu gue tinggal ngomong. Sekarang giliran gue sampein kemauan bayi kita, elo keberatan." Erina merajuk.


"Lo bilang ini bayi kita?" Ardian terdengar bahagia. "Bayi kita."


"Apaan sih?! Buruan turunin gue di depan klinik, habis itu langsung pergi lagi beli pesanan gue. Nggak pake lama," perintah Erina.


Setelah menurunkan Erina di depan klinik, Ardian kembali menjalankan mobilnya untuk membeli sushi pesanan Erina. Sementara itu Erina melangkah masuk ke dalam klinik. Setelah registrasi, Erina mencari tempat duduk yang nyaman. Ia berniat memeriksa email. Walaupun Yuna melarangnya bekerja namun sesekali ia masih memeriksa email untuk memantau proyek yang sedang ia tangani. Saat sedang asyik melihat ponselnya tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.


"Erin?" Terdengar suara seorang wanita menyebut namanya. Perlahan Erina mengangkat kepalanya dan dilihatnya seorang wanita cantik berhijab berdiri di depannya.


"Hmm .... siapa ya?"


"Kamu lupa sama tante?"


"Tante?"


"Ini tante Aira. Kamu lupa? Pasti kamu nggak ngenalin ya karena sekarang tante berhijab." Kini wanita cantik yang ternyata Aira, duduk di samping Erina. "Kamu apa kabar? Lama ya kita nggak ketemu. Daffa kalau ditanya selalu bilangnya kamu lagi sibuk."

__ADS_1


Apakah Daffa tidak menceritakan kalau kami sudah putus. Erina hanya tersenyum mendengar celoteh Aira.


"Kamu kesini sama siapa? Sendirian ya?"


"Eh, iya. Tante sama siapa?"


"Sama om Pandu. Tadi dia lagi ke apotik."


"Siapa yang sakit?" tanya Erina.


"Oh, nggak ada yang sakit. Tante periksa kehamilan."


"Tante hamil?"


"Nggak. Justru tante belum lama melahirkan. Baru dua bulan yang lalu. Memangnya Daffa nggak ngasih tahu?" Erina menggeleng. Bagaimana dia akan memberitahu kalau kami saja sudah putus hampir tiga bulan, batin Erina.


"Lalu kalau bukan karena kehamilan, tante ngapain ke sini?"


"Tante mau pasang kontrasepsi. Bahaya kalau nggak disegel. Bisa-bisa tante hamil lagi." Aira terkikik.


"Disegel? Maksudnya?"


"Ya ampun, kamu benar-benar nggak tahu atau pura-pura nggak tahu nih? Nanti deh kalau kalian sudah menikah, kita bahas hal-hal kayak gitu." Erina tersenyum kikuk, tak tau harus bereaksi apa.


"Nona Erina Aurelia Smith," terdengar perawat memanggil nama Erina.


"Maaf tante, Erina sudah dipanggil. Mari tante," Erina buru-buru berdiri dan meninggalkan Aira.


"Ayo sayang, kita pulang,"ajak Pandu.


⭐⭐⭐⭐


"Nona Erin, bagaimana kondisimu hari ini? Apakah masih mual dan muntah? Masih suka pusing?" tanya dokter Ziva sambil menggerakan alat USG di perut Erina yang mulai terlihat membulat.


"Sudah mendingan, dok. Masih sesekali merasakan morning sickness," jawab Erina sambil memandang langit-langit ruang dokter.


"Nona Erin, coba anda lihat ke layar monitor," ujar dokter Ziva.


"Untuk apa?"


"Apakah anda tak mau melihat janin yang ada di dalam rahim?" tanya dokter Ziva heran.


Biasanya para ibu muda sangat excited untuk melihat janin mereka walau janinnya masih berupa titik kecil. Tapi berbeda dengan pasiennya yang satu ini. Ini adalah kali kedua Erina memeriksakan kandungannya. Saat pertama datang, kehamilannya memasuki usia 8 minggu. Gadis ini datang hanya bersama ibunya. Saat ditanya mengenai suaminya, gadis ini hanya melengos.


Kini dengan kehamilan memasuki usia 12 minggu, gadis ini datang sendiri. Tak didampingi siapapun.


"Nona Erina, apakah hari ini anda datang sendirian? Apakah ibu anda tidak ikut?"


"Mommy sedang menemani daddy di rumah sakit," jawab Erina pendek.


"Hmm, saya perlu bicara dengan orangtua atau ...... suami anda."

__ADS_1


"Ada apa dok?" Ziva tak langsung menjawab pertanyaan Erina. Ia menghela nafas sebelum berbicara.


"Coba kamu lihat ke layar."


"Untuk apa?" Sekali lagi Erina menanyakan hal yang sama. Ia sama sekali tak tertarik dengan apa yang akan diperlihatkan oleh dokter Ziva


Belum sempat dokter Ziva menjelaskan, tiba-tiba terjadi keributan di depan pintu ruang periksa. Tak lama kemudian seorang perawat masuk diiringi oleh seorang pria muda berwajah tampan.


"Maaf dok, bapak ini memaksa masuk," ucap perawat muda itu dengan wajah ketakutan.


Erina menoleh ke arah pria tersebut. Ardian.


"Ada perlu apa ya pak?" tanya dokter Ziva. "Apakah anda ... suami nona Erina?"


Ardian menoleh ke arah Erina sebelum menjawab. "Iya dok, saya suami Erina."


"Bukan dok, dia bukan suami saya," sela Erina cepat.


"Apa maksudnya ini?" tanya dokter Ziva heran. Demikian juga dengan perawat yang sedari tadi berdiri di samping meja.


"DIA BUKAN SUAMI SAYA!" ujar Erina tegas.


"Saya belum menjadi suaminya, tapi saya ayah dari bayi di dalam perut dia."


Dokter Ziva dan perawat muda itu saling pandang lalu tersenyum. Ini hal baru dalam sejarah praktiknya. Biasanya si pria yang tak mau bertanggung jawab, tapi kali ini sepertinya situasi terbalik. Sejak awal memeriksakan kehamilannya, ibu muda yang ada di hadapannya tampak tak peduli dengan bayinya. Bahkan sejak tadi tak mau menatap layar monitor.


"Hmm.. baiklah kalau begitu. Sus, tolong ambilkan kursi untuk pak ....."


"Ardian. Nama saya Ardian, dok," ucap Ardian cepat. "Saya berdiri saja, dok."


"Baiklah kalau begitu. Anda bisa lihat ke layar monitor ini pak Ardian. Mungkin anda tidak begitu paham. Biar saya jelaskan. Di sini anda dapat melihat di dalam rahim nona Erina terdapat dua janin."


"APA?!" Erina dan Ardian serempak bertanya. Keduanya terlihat kaget.


"Nona Erina hamil bayi kembar. Saat pemeriksaan pertama belum terlihat. Mungkin saat itu salah satu dari mereka masih malu menunjukkan keberadaannya."


"Apa benar dok? Anda nggak bercanda kan?" Kali ini Erina melihat ke arah layar monitor USG. Ia terlihat tak percaya. Benarlah apa yang dikatakan dokter Ziva.


Berbeda dengan Erina yang terlihat shock, Ardian terlihat sangat bahagia. Ia tersenyum lebar mendengar berita yang disampaikan oleh dokter Ziva.


"Hamil bayi kembar tidak semudah kehamilan tunggal. Jadi saya harap pak Ardian selalu sabar dan siaga mendampingi nona Erina."


"Siap dok. Saya akan selalu siap mendampingi istri saya."


"Istri? Siapa istri lo? Nggak usah mimpi!" ucap Erina ketus.


"Maaf ya dok, calon istri saya memang galak."


"Nona Erina harusnya bersyukur karena sepertinya pak Ardian orang yang sangat bertanggung jawab dan akan menjadi suami dan ayah yang baik. Keberadaannya di samping nona Erina akan sangat membantu secara psikis maupun fisik."


"Tuh, dengar apa kata bu dokter. Makanya kita harus segera menikah. Oke sayang?" Ardian menaikturunkan alisnya sambil tersenyum lebar. Sementara itu Dokter Ziva dan si perawat hanya bisa terkekeh melihatnya.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2