
Daffa menatap foto di layar ponselnya. Foto-foto yang diambil saat ia berkencan dengan Erina. Walaupun hubungan mereka tak terlalu lama namun cukup membekas di hatinya.
Rin, kenapa kamu nggak jawab pesan yang kukirim? Apakah kamu sedemikian bencinya padaku? Tak pantaskah aku mendapatkan maafmu?
"Bos, ada telpon dari ayahnya," ucap Haris hati-hati. Daffa tak bergeming. Pikirannya hanya tertuju pada wajah Erina yang tersenyum manis di dalam pelukannya.
"Bos.. bos." Perlahan Haris menyentuh bahu Daffa.
"Eh, ada apa Ris?" tanya Daffa kaget hingga hampir saja menjatuhkan ponselnya.
"Pak Irwan menelpon."
"Oh. Bilang saja aku lagi banyak pekerjaan."
"Maaf bos, tadi pak Irwan bilang bos harus segera telpon balik."
"Ada apa sih? Kalau urusan pekerjaan kan bisa kamu yang handle. Nggak musti aku kan?" sahut Daffa galak.
Sejak perpisahannya dengan Erina, sifat Daffa kembali dingin dan galak. Tak sedikit karyawan yang kena semprot saat menyerahkan laporan atau saat melakukan kesalahan kecil.
Haris yang selalu mendampingi Daffa berkali-kali harus membujuk karyawan wanita yang menangis setelah kena bentak sang bos. Selain itu Haris juga kena getahnya karena harus membujuk beberapa karyawan senior yang mau mengundurkan diri akibat tersinggung dengan sikap Daffa.
"Bukan urusan pekerjaan sepertinya. Pak Irwan tidak memberitahu secara jelas. Tadi sepertinya beliau sedang sibuk. Dan sepertinya tadi saya mendengar suara orang menangis."
"Siapa yang menangis?" tanya Daffa bingung.
"Saya kurang tahu bos. Makanya sebaiknya bos menelpon pak Irwan."
Tergesa Daffa mencari no kontak sang ayah. Lalu ia mencoba menghubungi Irwan. Tak ada yang mengangkat telpon. Hanya terdengar nada tunggu. Tentu saja Daffa bingung. Tak biasanya sang ayah tak segera menjawab telpon.
"Ris, coba kamu terus hubungi telpon ayah. Aku dari tadi mencoba kok nggak berhasil ya. Aku akan coba menghubungi bunda."
Ternyata sama saja. Daffa tak berhasil menghubungi Mira, sang bunda. Ada apa sih mereka susah sekali dihubungi. Saat Daffa sibuk mencoba menghubungi kedua orang tuanya, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Boy, adik iparnya, muncul dengan wajah cemas dan nafas terengah-engah.
"Mas, buruan pulang," ucap Boy.
"Ada apa sih Boy? Kok terburu-buru begitu?"
"Bunda pingsan, mas."
"Apa? Kenapa bunda sampai pingsan? Mas dari tadi coba hubungin ponsel mereka nggak bisa. Sekarang bunda dimana?"
"Bunda ada di rumah. Bunda dapat kabar dari tante Aira kalau eyang Marni kena serangan stroke. Menurut bi Iyem bunda langsung semaput saat mendengar hal tersebut. Untungnya tadi ayah baru pulang untuk makan siang," jelas Boy. Kini keduanya diikuti Haris sedang berada di dalam lift.
__ADS_1
"Mbak Sandra sudah dikabari?"
"Sudah mas. Dia langsung menghubungi bang Aidin. Sekarang mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat eyang dibawa."
Satu jam kemudian mereka sudah tiba di rumah. Mereka langsung menuju kamar Irwan dan Mira. Di sana mereka melihat Rinda yang sedang memijit kaki sang bunda.
"Yah, gimana kondisi bunda?" tanya Daffa pada Irwan.
"Bundamu baik-baik saja. Sepertinya tadi bundamu kaget mendengar berita tentang eyang Marni. Sekarang bundamu sedang tidur. Ayo kita ngobrol di luar."
"Sayang, ayo kita keluar dulu. Kamu pasti belum makan siang kan?" tanya Boy pada Rinda.
"Rinda mau temani bunda, kak."
"Bundamu sudah nggak papa. Tadi kan dokter Deni juga sudah memeriksa bunda. Sana kamu temani suamimu makan siang. Kasihan suami dan anakmu." bujuk Irwan. "Boy, ajak Rinda makan siang. Mumpung bayi kalian sedang tidur."
Kali ini Rinda dan Boy menuruti permintaan Irwan.
"Apa sudah ada kabar dari bang Aidin?" tanya Daffa. "Tadi Haris yang memberitahu kalau ayah menelpon. Mas coba telpon balik nggak bisa. Mas coba telpon ke bunda juga sama."
"Tadi Aidin mengabari kalau eyangmu masih belum sadar. Akan dilakukan MRI untuk melihat apa yang terjadi. Katanya tensi eyangmu juga tinggi sekali. Semoga tidak terlalu serius."
"Semoga eyang bisa segera pulih."
⭐⭐⭐⭐⭐
"Kemana mom?"
"Menemani eyang ke rumah sakit."
"Eyang sakit?"
"Nggak. Eyangmu mau menjenguk eyang Marni."
"Eyang Marni kenapa mom?" tanya Erina kaget.
"Dua hari lalu eyang Marni terkena serangan stroke dan dirawat di rumah sakit. Eyangmu dapat kabar dari Aira."
Kalau gue ikut, ada kemungkinan bertemu dengan keluarganya Daffa. Apakah gue siap bertemu dengan mereka? Apa yang harus gue katakan kalaubmereka menanyakan hubungan kami, batin Erina.
"Kamu takut bertemu dengan keluarga mereka?" tanya Yuna. "Kamu nggak bisa terus menerus menyembunyikan statusmu. Lagipula kalian sudah putus kan sebelum kamu menikah dengan Ardi."
"Iya sih, tapi untuk saat ini Erin lebih memilih untuk tidak bertemu dengan mereka, terutama Daffa. Dia ada peran sertanya sehingga Erin seperti sekarang. "
__ADS_1
"Ya sudah, kamu nggak usah ikut kalau memang masih belum siap." Yuna memilih tak memaksa Erina. Karena ia tahu semakin dipaksa maka Erina akan semakin menolak.
"Mommy nggak papa pergi berdua dengan eyang?"
"Nggak apa-apa. Lagipula belum tentu Ardian mengijinkanmu bertemu dengan keluarga mantan tunanganmu."
"Memangnya harus ya minta ijin sama dia kalau mau kemana-mana?" tanya Erina heran.
"Iya dong. Dia kan sudah menjadi suamimu. Makanya kalau mau kemana-mana kamu harus minta ijin dia. Kalau dia nggak mengijinkan ya kamu nggak boleh pergi."
"Ribet banget sih." ucap Erina kesal.
"Kamu nggak suka dengan hal itu?" tanya Yuna. "Apakah karena dia itu Ardian atau karena status dia sebagai suami?"
Erina hanya mengangkat bahu dengan gaya tak peduli.
"Jangan begitu dong sayang. Ardian sudah mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Kalau laki-laki lain belum tentu mau bertanggung jawab. Kamu ingat nggak anak tante Siska, si Cinthya, yang ditinggal pacarnya?"
"Cinthya yang nyaris bunuh diri itu mom?" Yuna mengangguk.
"Padahal si pacarnya itu lho yang menghamili dia. Pacarnya nggak mau bertanggung jawab bahkan sampai menuduh itu perbuatan orang lain."
"Ih, jahat banget tuh cowok. Kalau Erin ketemu cowok kayak gitu pasti bakal Erin gebukin." ucap Erina emosi.
"Nah, makanya kamu harusnya bersyukur karena Ardi mau bertanggung jawab. Kamu tahu nggak kalau Ardian itu sempat babak belur digebukin sama daddy dan pak Arga." Erina terdiam mendengar ucapan Yuna.
"Itu kan kesalahan dia sendiri. Kenapa juga dia melakukan hal itu kepada Erin," ucap Erina kesal.
"Waktu itu mommy yang meminta Ardian mencari kamu yang belum pulang setelah kamu pergi makan malam dengan Daffa."
"Ya tapi seharusnya dia nggak memanfaatkan kondisi Erina yang lagi mabok, dong."
"Pernah nggak kamu mencari tahu bagaimana kejadian sebenarnya?" tanya Yuna. Erina menggeleng.
"Coba kapan-kapan kamu cari tahu bagaimana awal mula kejadiannya. Siapa tau saat kamu mabok malah kamu yang memancing gairah dia. Dan ingat Rin, batas antara benci dan cinta sangat tipis. Jangan membenci berlebihan, karena bisa saja suatu saat kamu sangat mencintainya."
"Nggak mungkin! Lagipula kenapa mommy malah belain dia sih?" tanya Erina kesal.
"Eh, jangan takabur sayang. Banyak kejadiannya lho dari benci jadi bucin. Kamu ingat uncle Ted, adik daddymu? Dia dan istrinya dulu saling membenci, bahkan musuh besar di kampusnya. Gara-gara kejadian sepele malah bikin mereka saling mencinta hingga saat ini. Bahkan setelah aunty Diana meninggal, uncle Ted masih belum menikah lagi hingga saat ini. Itu karena dia sangat mencintai istrinya."
"Nggak mungkin Erin bisa mencintai orang yang sudah merusak hidup Erin."
"Seandainya nggak ada kejadian itu apakah kamu ada kemungkinan bisa kembali pada Daffa? Apakah kamu mencintai Daffa?" tanya Yuna penasaran.
__ADS_1
"Entahlah mom. Saat itu Erin sudah mulai nyaman dengan Daffa dan mungkin saja Erin sudah mulai jatuh cinta pada Daffa."
⭐⭐⭐⭐⭐