TAKLUK

TAKLUK
TAKJUB


__ADS_3

"Kakinya masih sakit, sayang?" tanya Ardian pada Erina yang siang itu sedang duduk di ranjang kamar mereka. Di hadapan Erina tampak meja kecil dengan laptop yang terbuka. Pergelangan kaki Erina masih berbalut gips.


"Lumayan. Kalau nggak banyak gerak nggak sakit. Tapi agak repot kalau harus ke kamar mandi," jawab Erina tanpa mengalihkan fokusnya dari laptop.


"Sudah makan siang?"


"Hmm.. "


"Pasti belum. Itu makanan tadi pagi kenapa nggak dihabisin?"


"Gue sudah habisin susunya dan sudah minum vitamin. Nggak usah cerewet!" balas Erina ketus.


"Tadi pagi gue bela-belain masak nasi goreng buat elo, eh malah nggak dihabisin," Gantian Ardian yang ngomel.


"Ngambilinnya kebanyakan. Bingung makannya. Nasi goreng, buah, susu, cemilan, vitamin. Elo mau bikin badan gue bulat kayak ikan paus?"


"Paus bukan ikan."


"Kenapa bukan ikan?"


"Paus itu mamalia, bernafas dengan paru-paru. Masa gitu aja kamu nggak ngerti. Padahal sebentar lagi mau punya anak."


"Kalau memang mamalia, ngapain juga tinggal di laut. Pengen banget eksis." sahut Erina asal.


"Astaga sayang. Memang begitu Allah menciptakan paus. Sama seperti lumba-lumba yang juga mamalia. Eits, jangan bilang lumba-lumba juga pengen eksis di lautan. Intinya Allah menciptakan kedua jenis hewan tersebut dengan keistimewaannya."


"Apa istimewanya paus. Badannya gede banget, kerjaannya cuma berenang ke sana kemari. Keliatan banget malesnya."


"Ya ampun, kamu kenapa jadi ngomelin paus sih?" tanya Ardian sambil mengacak lembut rambut Erina.


"Soalnya dia badannya gede, sama seperti badan gue yang tambah lama tambah gede. Apalagi kalau terus-terusan dicekokin makanan sama. Lama-lama badan gue segede ikan paus bungkuk."


"Paus buk... "


"Iya, iya gue tau paus bukan ikan. Toleran dikit kenapa sih sama ibu hamil. Salah dikit doang."


"Ya tapi ...."


"Mau ngajak debat lagi?" tantang Erina sambil melotot. Bukannya takut, Ardian malah terpesona.


"Eengh.. nggak. Siapa juga yang mau ajak elo berdebat. Sampai kapanpun gue pasti kalah." Erina tersenyum penuh kemenangan.


"Elo ngapain pulang?" tanya Erina


"Kangen."


"Maksudnya?"


"Gue kangen sama elo. Kantor sepi, nggak ada yang diajak ribut."


"Norak."

__ADS_1


"Biarin."


"Lebay."


"Biarin."


"Nyebelin banget sih!" Ardian tergelak melihat Erina kehabisan kata-kata.


"Gue pulang karena mau makan siang sama elo. Tadi mbok Siti laporan kalau sarapan lo nggak dihabisin dan dari tadi kamu di depan laptop terus. Nggak ada istirahatnya."


"Namanya juga banyak kerjaan."


"Pekerjaan kan bisa menunggu. Kondisi lo lebih penting. Elo nggak mau anak-anak kita terpapar radiasi dari laptop kan?"


"Nanggung. Gue lagi nyelesaiin laporan progress proyek Prince building yang kemarin sudah memasuki masa retensi. Biar bagian keuangan nyiapin tagihan terakhir." Muka Ardian berubah mendengar jawaban Erina.


"Kenapa harus elo yang menyelesaikannya? Elo bisa suruh Luna atau Bimo untuk menyelesaikan laporan tersebut."


"Sama aja kan? Lagian kenapa sih kalau gue yang ngerjain? Nggak suka? Cemburu?"


"Iya. Gue nggak suka. Gue cemburu berat. Masih nempel di ingatan gue bagaimana mesranya sikap Daffa ke elo sementara elo diam aja diperlakukan kayak gitu. Gue cemburu banget karena elo selalu manis kalau ngomong sama dia. Bahkan senyum lo lebih lebar dan lepas saat berdekatan dengan dia."


"Nggak usah pundung. Anggap aja ini closure dari gue ke dia."


"Sayang, kalau nanti habis melahirkan dan anak-anak bisa ditinggal kita honeymoon yuk," ajak Ardian.


"Nggak mau."


"Kenapa?"


"Beneran nggak mau?"


"Iya beneran. Lagian ngapain sih pake honeymoon segala?"


"Dulu kita kan nggak honeymoon setelah nikah."


"Lupa ya kalau kita menikah karena terpaksa? Lalu apa istimewanya honeymoon jika elo sudah lebih dulu merenggut paksa kesucian gue? Honeymoon dilakukan oleh pasangan yang saling mencintai."


"Memangnya sampai sekarang elo belum cinta sama gue?" tanya Ardian. Erina mengangkat bahu tak peduli.


"Memangnya harus ya gue cinta sama elo?" Erina balik bertanya. "Tujuan gue menikah sama elo kan demi anak-anak ini supaya pas lahir ada bapaknya. Selain itu gue nikah sama elo kan karena dijual sama daddy buat menyelamatkan perusahaan."


"Rin, jangan bilang seperti itu."


"Memang benar kan? Keluarga kalian menolong perusahaan kami dan sebagai gantinya gue harus menikah sama elo."


"Tapi gue benar-benar cinta sama elo, Rin. Ada atau tidak adanya anak-anak di dalam rahim lo. Ada atau tidak ada perjanjian antara orang tua kita, gue akan tetap menikahi elo."


"Ya sudah. Nggak ada masalah kan? Gue nggak harus cinta sama elo. Keinginan lo menikah dengan gue juga sudah kesampaian."


"Rin, bukan pernikahan seperti ini yang gue inginkan. Gue mau kita saling mencintai dan saling melengkapi. Gue mau anak-anak kita kelak hidup dalam kasih sayang yang sempurna dari kedua orang tuanya. Dan menurut gue itu bisa didapatkan oleh mereka jika kita saling mencintai."

__ADS_1


"Seharusnya elo belajar dari Daffa."


"Kenapa Daffa?"


"Anaknya tetap mendapatkan cinta kedua orang tuanya tanpa mereka harus menikah ataupun saling mencintai."


"Apa elo yakin Honey tidak sedih karena selama ini menyimpan harapan kosong akan dicintai oleh Daffa? Apakah menurut lo hidup anak mereka akan bahagia jika dia mengetahui kedua orang tuanya tak saling cinta?" Lagi-lagi Erina hanya mengangkat bahu tak peduli.


"Rin, gue akan melakukan apapun agar elo mencintai gue dan anak-anak kita."


"Gue nggak akan melarang lo melakukan itu. Tapi gue juga minta elo untuk tidak berharap terlalu tinggi gue akan membalas perasaan lo dan mewujudkan impian lo membentuk keluarga bahagia."


"Apakah elo masih mencintai Daffa? Seandainya gue melepaskan elo, apakah elo akan menerima pinangan Daffa?"


"Kenapa elo bertanya seperti itu?" Tiba-tiba perasaan aneh muncul di hati Erina. Perasaan yang ia sendiri tak tahu apa namanya. "Apakah elo akan menyerah?"


"Mungkin saja gue akan menyerah seandainya elo memang nggak menginginkan gue ada di dalam masa depan lo. Setelah gue pikir-pikir, kita bisa mengasuh bersama mereka tanpa harus terikat dalam pernikahan. Seperti Daffa. Itukah yang elo mau?"


"Entahlah. Gue nggak tahu apa yang gue inginkan. Gue pun nggak tahu apakah gue bisa menjadi ibu yang baik bagi mereka." Tanpa sadar Erina mengelus perutnya yang semakin membulat. Kehamilannya sudah memasuki usia 5 bulan.


Seolah mengetahui kegundahan kedua orang tuanya, tiba-tiba bayi-bayi di dalam perut Erina bergerak aktif. Saking aktifnya sampai membuat Erina meringis. Ini adalah pengalaman pertama Erina melihat tonjolan-tonjolan yang bergerak di dalam perutnya. Seolah ada alien di dalam perut Erina.


"Di ...... " suara Erina tercekat. Wajahnya meringis.


"Kenapa, kenapa? Apa yang sakit?" tanya Ardian panik.


"Perut... perut gue sakit."


"Elo mau melahirkan sekarang? Kan baru 5 bulan sayang," Ardian terlihat bingung. "Tahan dulu, jangan melahirkan sekarang. Kita belum menyiapkan nama untuk mereka. Gue nggak mau mereka lahir kalau elo belum cinta sama gue."


"ARDIAN!"


"I-iya Rin. Elo nggak kenapa-napa kan? Elo nggak mau melahirkan sekarang kan?" tanya Ardian masih dalam mode panik. Ia terlihat sibuk mondar mandir di sekitar ranjang.


"ARDIAAAAAAN!!!" seru Erina sambil menarik keras tangan Ardian sehingga Ardian terjatuh di atas ranjang. Erina terpaksa memukul lengan Ardian agar pria itu tenang.


"I-iya Rin. Pe-perut lo kenapa?" Erina menarik tangan Ardian untuk diletakkan di atas perutnya.


"Di, me-mereka bergerak," bisik Erina sambil menahan sakit karena kedua bayinya masih terus bergerak aktif.


Kali ini Ardian menatap takjub perut Erina. Tangannya merasakan pergerakan bayi-bayi mereka. Bolak balik Ardian menatap perut Erina lalu wajah Erina yang meringis menahan sakit.


"Me.. re.. ka.. bergerak," bisik Ardian. "Mereka bergerak. Anak-anak kita bergerak, sayang"


"Sakit, Di." Ardian langsung mengusap-usap perut Erina dengan lembut.


"Kalian di dalam sana pelan-pelan bergeraknya. Kasihan mimi kalian kesakitan kalau kalian bergerak terlalu aktif."


Seolah mengerti ucapan Ardian, bayi-bayi tersebut mendadak tenang.


"Iya, mimi dan pipi tahu kalian ada di dalam sana. Mimi dan pipi sayang sama kalian." bisik Ardian sambil terus mengusap lembut perut Erina.

__ADS_1


Sementara itu gantian Erina yang memandang takjub Ardian yang sibuk berbicara dengan bayi-bayi mereka dan bagaimana bayi-bayi itu bereaksi dengan suara Ardian. Perasaan aneh itu kembali muncul. Erina menggelengkan kepala berusaha mengenyahkan pikiran tersebut.


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2