
"Yang, tadi malam Lexi telpon. Katanya dia mau ajak kita liburan bareng," ucap Erina pada Ardian yang sedang asyik mengajak main Aidan. Sementara Erina sedang menyusui Azka. Si kembar kini berusia 5 bulan. Keduanya tumbuh sehat. Pipi mereka gembil dan tubuh mereka montok.
"Liburan kemana? Siapa aja yang berangkat?"
"Kata Lexi, keluarga besar bang Raymond mau berlibur ke Korea. Lexi juga ajak Rai dan bang Henry. Kata Lexi, mumpung dia belum hamil."
"Wah seru juga tuh. Bagaimana kalau kita sekalian honeymoon? Kita kan belum sempat honeymoon, sayang."
"Memang masih butuh honeymoon? Kita kan bukan newlywed, sayang."
"Kita memang sudah menikah hampir dua tahun, tapi aku masih merasa seperti pengantin baru. Karena the real married life baru kurasakan beberapa bulan terakhir ini." Ardian senyam senyum sambil menaikturunkan alisnya.
"Apa hubungannya?"
"Kalau orang honeymoon biasanya ngapain yang?"
"Liburan, makan enak, foto-foto, jalan-jalan, belanja sana sini," jawab Erina sambil membuang wajah tak mau melihat Ardian cengar-cengir tak jelas. Ia tahu apa yang ada dalam pikiran sahabatnya itu. Ups, bukan sekedar sahabat, tapi sudah menjadi suami.
"Kegiatan utama honeymoon kan bukan itu sayang. Masa gitu aja kamu nggak tahu," pancing Ardian.
"Itu buat mereka yang belum punya anak. Kalau buat yang sudah punya anak ya seperti yang tadi aku sebutkan," balas Erina.
"Memangnya kamu nggak mau honeymoon versi aku, mi?" Ardian meletakkan Aidan di dalam tempat tidurnya. Lalu ia mendekati Erina.
"Versi kamu itu cuma bikin lelah, pi. Lagipula nggak mungkin kan kita liburan nggak bawa mereka. Aku nggak mau lama-lama meninggalkan mereka. Sekarang aja kita harus curi-curi waktu."
Rupanya pagi itu sifat iseng Ardian muncul. Ditambah melihat asset Erina yang menyembul keluar karena menyusui, membuatnya ingin menyeret sang istri ke ranjang dan mengajaknya bercinta. Ia mulai mengecup leher Erina sambil tangannya bergerilya.
"Piii ... jangan iseng deh," omel Erina. Namun tak ayal keluar ******* halus dari bibirnya. Azka yang sedang menyusu membuka matanya seolah ingin tahu kenapa tiba-tiba sang mimi bergerak gelisah. "Tuh lihat, anak kamu sampai melotot gitu."
"Azka, buruan bobo ya. Pipi mau ajak mimi main."
Bukannya menuruti perintah pipi-nya, Azka malah tertawa tanpa melepaskan hisapannya. Tentu saja hal itu membuat Ardian gemas dan langsung mencium pipi anaknya. Rupanya bukan cuma itu tujuan Ardian mencium pipi Azka. Kini gantian bibirnya mulai nakal.
__ADS_1
"Ardian!" seru Erina kesal. Ia memukul punggung sang suami yang tak mau kalah dari Azka. Bagaimana ia bisa tenang menyusui anak-anak mereka bilang sang pipi tak mau kalah.
"Hehehe.. nanggung mi. Sudah dekat sama bibirku masa dianggurin," ucap Ardian di sela-sela kesibukannya. Rupanya ia benar-benar tak mau melewatkan kesempatan.
"Sayaaang... malu dong sama anakmu."
"Hmmm... " Hanya itu jawaban Ardian tanpa mengangkat wajahnya. Akhirnya Erina terpaksa mengalah. Ia menyusui Azka sambil merem melek akibat perbuatan Ardian. ******* demi ******* lolos dari bibirnya. Apalagi saat tangan Ardian bertambah nakal dan membawanya ke puncak kenikmatan.
Rupanya sang pipi tak puas. Setelah meletakkan Azka di tempat tidurnya, Ardian menggendong Erina ke ranjang dan melanjutkan pertempuran.
Baru saja mereka selesai melakukan pertempuran, tiba-tiba masuk panggilan video call ke ponsel Erina. Tanpa sadar Erina menjawab panggilan tersebut.
"Halo...."
"Assalaamu'alaykum.... Astaghfirullah Erin!" terdengar lengkingan suara Raina.
"Apaan sih Rai?" tanya Erina bingung.
"Hehehe... iya." Erina langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. "Sorry."
"Ada apa sih Rai? Jam segini sudah nelpon," omel Ardian dengan suara mengantuk sambil memeluk Erina.
"Kalian tuh macam pengantin baru aja. Setiap gue atau Lexi telpon pasti habis bertempur. Kemarin Lexi cerita, pas dia telpon kalian malah masih belum selesai."
"Nggak usah ngiri. Ajak bang Henry buat sering-sering sparing," ledek Ardian.
"Gimana mau ajak mas Henry sparing, kalau sekarang dia sibuk urusin pekerjaan. Sejak elo angkat dia jadi tangan kanan, pekerjaan dia makin banyak. Semua itu gara-gara bos laknat sering datang terlambat atau buru-buru pulang." omel Raina.
"Elo kenapa pakai videocall segala sih?" tanya Erina buru-buru melerai karena Ardian sudah siap meledek Raina.
"Gue mau kasih lihat ini ke elo." Raina merubah kameranya sehingga kini terlihat tablet yang dipegangnya.
"Elo telpon kita cuma mau pamer gadget?"
__ADS_1
"Bukan oon. Tuh, lo liat headlinenya. PUTRA MAHKOTA KELUARGA IRAWAN HERMAWANTO AKAN MELEPAS MASA LAJANG. Gue kirim linknya ke elo ya."
"Ada apa sayang?" tanya Ardian.
"Daffa."
"Siapa?"
"Daffa akan menikah."
Ardian menghela nafas kesal. Lalu ia melepaskan pelukannya dan tidur membelakangi Erina yang kini asyik membaca link yang dikirim Raina. Saking asyiknya membaca berita tersebut ia tak menyadari kalau Ardian ngambek.
Selesai membaca berita tersebut Erina bangkit dari ranjang dan mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia masuk kamar mandi dan membersihkan dirinya. Selesai mandi, masih dengan handuk di kepala, Erina melanjutkan membaca berita.
Untuk sesaat pikiran Erina melayang pada kisah asmaranya dengan Daffa dan bagaimana pria itu sempat memaksanya untuk menikah dengannya. Walaupun hubungan mereka hanya sebentar, namun tetap meninggalkan kenangan yang cukup manis. Berakhirnya hubungan mereka berduapun bukan karena Daffa selingkuh seperti mantan-mantannya yang lain. Kalau saja sejak awal Daffa sudah menceritakan semuanya dengan jujur, mungkin jalan hidupnya takkan seperti ini. Tanpa sadar Erina menghela nafas panjang.
Rupanya Ardian sejak tadi memperhatikan tingkah laku Erina. Apa yang ada dalam pikiran Erina, tanya Ardian dalam hati. Muncul rasa cemburu di hati Ardian melihat betapa seriusnya Erina membaca berita tersebut. Ditambah lagi helaan nafas Erina membuatnya berpikir apakah Erina menyesali keputusannya. Apakah Erina masih memiliki rasa kepada Daffa. Rasa cemburu diikuti rasa bersalah memenuhi hati dan pikiran Ardian.
Ardian bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia berharap air dingin mampu mendinginkan hatinya yang mulai panas karena Erina seolah tenggelam dalam berita tentang Daffa. Damn, mengapa aku masih cemburu padahal saat ini aku sudah berhasil menaklukkan Erina. Bukan hanya hanya tubuhnya, tapi juga hatinya.
Keluar dari kamar mandi Ardian tak menemukan Erina. Setelah berpakaian, Ardian masuk ke kamar si kembar. Rupanya Erina sedang menggendong Aidan.
"Rin, aku berangkat."
"Lho, kamu mau kemana? Ini kan hari Sabtu. Jangan bilang kamu mau meninjau proyek."
"Iya, aku harus ke proyek. Nggak enak sama bang Henry dan pak Edwin." Setelah itu Ardian ngeloyor begitu saja tanpa mencium Erina.
"Jangan pulang terlalu sore. Kita mau ke rumah mama Amel." seru Erina namun Ardian tak menyahuti. "Sayaaang... jangan lupa sarapan dulu."
Tak terdengar sahutan. Suara yang selanjutnya Erina dengar adalah suara mobil Ardian yang dikemudikan dengan kasar. Kening Erina berkerut. Kenapa dia? Ah, mungkin dia kesal karena hari Sabtu harus ke proyek. Erina masih tak sadar kekesalan Ardian disebabkan oleh dirinya.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1