TAKLUK

TAKLUK
DENIAL & JEALOUSY


__ADS_3

Matahari sudah naik sepenggalah saat Ardian membuka matanya. Setelah shalat subuh ia kembali tertidur karena tubuhnya benar-benar lelah akibat pertempuran dengan sang istri. Tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Ardian yang baru bangun membiarkan pesan itu. Ia malah turun dari ranjang dan mencari istrinya. Tadi setelah shalat subuh Erina memilih jogging seputaran komplek.


"Sayang, kamu dimana?" seru Ardian. Rumah terasa kosong. Biasanya jam seperti ini rumah mereka dipenuhi oleh suara tangis bayi atau celoteh para babysitter.


"Den Ardi cari non Erin?" tanya mbok Siti.


"Iya mbok. Erin kemana ya?"


"Tadi habis bikin sarapan buat den Ardi, non Erin pergi pakai mobil. Dia nggak bilang mau kemana. Den Ardi sudah coba telpon non Eri?"


"Belum mbok. Ya sudah, nanti saya telpon dia."


⭐⭐⭐⭐


"Woy, ngapain elo pagi-pagi sudah sampe sini?"


"Gue kangen sama Alea dan Alena."


"Tumben sendirian. Mana si kembar dan besti lo?" tanya Raina sambil memandang menyelidik.


"Si kembar di rumah mama Amel. Disandera," jawab Erina sambil tertawa. "Bang Henry lagi ngapain?"


"Tuh lagi di belakang. Nemenin anak-anak berenang. Elo berantem sama Ardi?"


"Tau ah. Gue lagi sebel sama dia. Kemarin dia tiba-tiba marah dan ngambek. Lalu pagi ini gue baru tau kalau ternyata dia dan Nat masih berhubungan."


"Elo cemburu?"


"Nggak ya!"


"Terus kenapa marah? Kenapa pagi-pagi gini sudah sampe rumah gue?" tanya Raina. "Eh, elo sudah sarapan?"


"Nggak selera."


"Jangan gitu. Nanti ASI lo berkurang kalau nggak makan. Gue suruh siapin nasi goreng ya."


"Nggak usah Rai. Gue lagi nggak kepengen makan." Erina langsung asyik dengan gadgetnya.


"Elo ikutan ke Korea?"


"Malas."

__ADS_1


"Kenapa malas? Kan sudah lama kita nggak liburan bareng. Ingat nggak dulu kita sering vacation ramai-ramai? Terakhir kita vacation bareng waktu Lexi baru jadian sama Raymond. Waktu itu elo dan Ardi lagi sama-sama jomblo."


Erina tak menyahuti ucapan Raina. Tentu saja hal ini membuat Raina heran. Sahabatnya yang satu ini, biasanya kalau sedang marah pasti akan meledak-ledak. Tapi pagi ini hanya wajahnya yang kusut seperti pakaian belum disetrika.


"Rin, elo sudah baca berita yang kemarin?"


"Gara-gara itu Ardi marah sama gue. Padahal gue cuma baca berita yang elo kasih tahu. Gue sama sekali nggak pernah berhubungan lagi dengan Daffa. Tapi dia malah masih suka DM-an sama si cewek kecentilan itu." Raina diam-diam tersenyum melihat sikap Erina. Sabahatnya ini masih saja tak mau mengakui kalau dia cemburu.


"Hai Rin!" sapa Henry yang masuk ke ruang tengah sambil menggendong si kembar Alea dan Alena. "Tumben sendirian."


"Lagi berantem sama suaminya, mas."


"Eh, nggak ya. Gue nggak berantem sama Ardi. Nggak usah nyebar hoaks deh," sungut Erina sambil bermain dengan si kembar.


"Ooh pantas saja kemarin dia mendadak menyuruhku datang ke proyek. Selama di proyek mukanya ditekuk, keliatan banget betenya. Semua orang kena semprot. Padahal kesalahannya minor. Bolak balik liat ponsel." ucap Henry. "Sangkain nggak dapat jatah dari nyonya."


"Kayak Erin sekarang ya mas?" tanya Raina sambil terkekeh.


"Apaan sih lo, Rai,"


"Iya, kamu benar sayang. Persis Erin sekarang. Kalian bertengkar lagi? Atau masalah kemarin belum selesai?"


"Hampir mirip tapi beda mas. Kemarin Ardi yang cemburu. Sekarang Erin yang cemburu."


"Cewek centil?" tanya Henry bingung. "Ardi punya selingkuhan?"


"Huussh... mas Henry nggak usah mengada-ada deh. Cowok bucin model Ardian mana kepikiran selingkuh. Dulu dicuekin sama Erin aja dia tetap setia. Ardi itu cuma terlalu baik sama cewek. Banyak cewek baper gara-gara itu," jelas Raina.


"Cewek centil yang kamu maksud Nathalie sepupunya Lexi? Kalau nggak salah kemarin dia datang ke proyek, tapi Ardi nggak mau menemui."


"Yang benar bang? Waaah nekad tuh cewek. Minta di maegeri kayaknya," ucap Erina kesal. "Kok Ardi nggak cerita ya."


"Sabar Rin, sabar."


"Oh, jadi gara-gara dia kamu marah."


"Iih.. siapa yang marah sih? Erin cuma kesal karena Ardi nggak cerita kalau masih suka di DM sama si centil itu. Abang kan tahu kalau Erin paling nggak suka sama orang nggak jujur."


"Iya.. iya... tapi Rin, terkadang lelaki nggak mau jujur bukan karena memiliki niat buruk. Apalagi kalau sudah menikah. Lelaki terpaksa tidak bisa menceritakan semuanya kepada istri demi ketentraman rumah tangga. Kalian para istri kan gampang cemburuan, ngambek dan buntut-buntutnya marah sama suami."


"Dulu awal menikah dengan mas Henry, gue juga suka ngambek kalau mas Henry cerita habis makan siang dengan teman-teman kantor. Karena gue tahu disitu ada mantannya."

__ADS_1


"Mbak Zara, sekretaris pak edwin? Kan sudah lama putus sebelum kalian menikah. Gue tau banget kok hubungan mereka selesai sebelum bang Henry naksir elo."


"Iya. Wajar aja kalau gue curiga dan cemburu. Setiap hari mereka bertemu. Padahal mas Henry berusaha terbuka menceritakan apa yang dia lakukan selama di luar sana. Tapi, seperti yang tadi mas Henry bilang. Kejujuran dia malah jadi petaka. Dulu awal menikah, gue kalau ngambek pasti nggak mau sekamar." Raina tertawa mengingat hal tersebut.


"Benar itu Rin. Bang Henry mencoba jujur malah nggak boleh tidur sekamar. Bisa kamu bayangin kan gimana perasaan bang Henry. Pengantin baru tapi nggak boleh sekamar. Kejadian itu nggak cuma sekali, tapi berkali-kali. Akhirnya bang Henry memutuskan nggak mau menceritakan kegiatan kantor yang melibatkan Zara. Demi kesejahteraan si junior." Henry terkekeh sambil memeluk mesra Raina.


"Mungkin hal itu juga yang menyebabkan Ardi nggak mau cerita tentang Nat. Bisa jadi demi menjaga ketentraman rumah tangga. Atau karena buat dia Nat memang nggak berarti apa-apa. Benar-benar sebatas adik."


"Adik ketemu gede," gumam Erina kesal. Raina dan Henry tertawa melihat Erina bersungut-sungut. Ya ampun anak ini, susah banget sih mengaku kalau cemburu.


"Saran bang Henry, coba deh kamu belajar mengungkapkan kekesalan atau kecemburuanmu. Nggak semua lelaki bisa peka dengan perasaan istri lho. Bang Henry termasuk yang kurang peka, tapi untungnya Raina tipikal yang selalu mengungkapkan apapun perasaan dia. Awalnya bang Henry kewalahan dengan sikapnya itu. Tapi lama-lama bang Henry terbiasa dan bersyukur banget. Karena dengan begitu permasalahan dalam rumah tangga cepat teratasi."


"Tuh dengar apa kata suami gue. Jangan gampang pundung, Rin. Omongin baik-baik supaya nggak jadi bom waktu. Lagipula menurut gue elo berhak kok untuk cemburu. Itu artinya elo cinta sama dia."


"Iiih... amit-amit ya."


"Amit-amit apa? Assalaamu'alaykum." Tiba-tiba Ardian masuk ke dalam rumah Raina.


"Wa'alaykumussalaam. Speak of the devil. Nongol tuh laki lo."


"Hai Di, kamu kesini bukan mau omongin kerjaan kan? Raina bisa ngambek kalau bang Henry bahas pekerjaan di rumah."


"Mau jemput istri bang. Oh iya, tadi apa yang amit-amit?" tanya Ardian sambil mendudukkan dirinya di samping Erina yang masih pasang wajah jutek.


"Bini lo masih aja denial mengenai perasaannya," sahut Raina yang langsung mendapat pelototan dari Erina. "Gue rasa dia lagi ngambek sama elo, Di."


"Ya ampun sayang kamu ngambek kenapa sih? Bilang dong sama aku, biar aku tahu dimana salahku." Ardian membelai lembut kepala Erina.


"Dia cemburu," celetuk Raina. Dan lagi-lagi mendapat pelototan dari Erina. Bukannya takut, Raina malah meledek Erina dengan menjulurkan lidahnya.


"Cemburu? Sama siapa? Aku kan nggak pernah pergi sama perempuan lain. Aku ini suami yang setia." Erina masih diam. "Apa ini gara-gara Nathalie?"


"Masih perlu diperjelas?" Erina balik bertanya dengan ketus.


"Ya ampun sayang, aku tuh nggak ada hubungan apapun dengan dia. Kemarin itu dia yang DM aku dan kalau nggak penting aku nggak balas DM dari dia. Nih, kamu boleh cek IG aku. Foto-foto saat kami berduapun sudah nggak ada. Aku sudah minta dia untuk tidak men-tag aku." Ardian memeluk Erina dan mencium pipinya gemas.


"Tapi kenapa kamu ngotot mau ikut Lexi liburan ke Korea? Pasti gara-gara ada si cewek centil itu kan?"


"Ya ampuuun.. aku tuh mau ikut biar kita bisa honeymoon sekaligus liburan bareng kayak dulu lagi. Aku juga berencana mengajak papa mama. Lumayan biar ada yang jagain si kembar kalau kita mau.... ouch! Sakit Rin!"


"Otak mesum!" omel Erina sambil mencubit pinggang Ardian.

__ADS_1


"Biarin! Namanya juga pengantin baru," balas Ardian tak mau kalah sambil memeluk erat istrinya.


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2