
Sesaat suasana hening di antara mereka. Tapi tak lama Raina dan Alexia tertawa terbahak-bahak. Bahkan Raina sampai memegang perutnya yang mengencang akibat tertawa terlalu kencang.
"Aduh.. duuh.. perut gue sakit," ucap Raina disela-sela tawanya.
"Gue nggak nyangka elo jago banget bikin jokes," Alexia mengusap matanya yang berair akibat terlalu banyak tertawa.
Sementara itu Erina hanya diam saja memperhatikan kedua sahabatnya. Wajahnya terlihat datar.
"Sudah ketawanya? Rai, elo bisa melahirkan prematur disini kalau nggak berhenti tertawa."
"Elo sih lucu banget. Prank lo sukses. Sudah lama gue nggak ketawa kayak hari ini."
"Gue akuin elo memang hebat, Rin." puji Alexia sambil masih terus terkikik. "Omongan lo menodai kesucian otak gue."
"Maksudnya? Lagian sejak kapan otak lo suci? Apalagi sejak kawin, otak lo mesum parah," balas Erina.
"Gue jadi ngebayangin elo dan Ardian kawin. Trus gue ngebayangin gimana malam pertama kalian. Pasti banting-bantingan dulu kayak kalian lagi sparing."
"Dih, nih anak pikirannya malah travel kemana-mana!"
"Elo sih..."
"Gue ngomong serius. He said he loves me and asked me to marry him" Kali ini Erina terlihat lebih serius dari sebelumnya. Akhirnya kedua sahabatnya menyadari kalau Erina tidak sedang bercanda.
"He really said that?" tanya Raina dan Alexia bersamaan. Erina mengangguk.
"Pas dia bilang begitu, reaksi gue sama kayak kalian. Bahkan gue jawab I love you too. Gue pikir dia bercanda atau sekedar nge-prank. Tapi setelah gue pikir-pikir sejak dia putus sama Giana, dia memang berubah. Jadi aneh. Bahkan dia sekarang jarang banget telpon gue."
Lalu Erina menceritakan hasil pembicaraannya dengan Andrew, sang daddy. Lagi-lagi Alexia dan Raina hanya bisa melongo mendengarnya.
"Unbelievable." bisik keduanya.
"Ardian, si stupid!" geram Alexia kesal. "Kalau memang dia suka sama elo kenapa nggak dari dulu dia nembak elo. Ngapain juga dia pacaran sama banyak cewek. Ngapain juga dia berusaha menjodohkan elo dengan Daffa. He's so stupid!"
"Sabar, sabar. Percuma juga lo marah-marah ke dia. Mungkin selama ini dia mencoba menyangkal perasaannya. Nggak mudah lho melawan dan menyembunyikan perasaan seperti itu." Raina mencoba meredam emosi Alexia.
"Seperti dulu elo memendam rasa ke mas Henry?" ledek Alexia. "Gue masih ingat gimana girangnya elo saat tahu ternyata mas Henry memiliki perasaan yang sama. Nggak sia-sia elo memendam rasa selama bertahun-tahun."
"Elo benar Lex. Sumpah, nggak enak banget. Kadang kelakuan gue jadi kayak orang bego."
"Hmm.. kalau itu bukan kadang. Di antara kita bertiga elo memang paling bego," celetuk Erina. "Untung saja mas Henry nggak cari istri yang pintar."
"Biarpun gue nggak pintar urusan akademis, tapi untuk urusan kasur gue juara banget. Nih, buktinya." Raina menunjuk perutnya yang membulat. "Elo jelas kalah telak sama gue, Lex."
"Kali ini elo benar, Rai. Kalian berdua menikah selisih enam bulan. Alex duluan menikah. Tapi sampai sekarang dia belum ada tanda-tanda hamil," sahut Erina menyetujui ucapan Raina.
__ADS_1
"Bukan gue kalah pintar dari Raina, tapi gue dan Ray memang menunda untuk punya anak. Tahun depan kita baru mau program. Sekarang gue dan Ray mau puas-puasin berduaan," elak Alexia tak mau kalah. "Lagian, kalau mas Henry kan emang lebih tua dari kita, makanya pengen buru-buru punya anak."
"Hmm.. si paling pengen berduaan." ledek Erina.
"Rin, Ardi nelpon nih," seru Raina saat ponselnya berbunyi. "Gue mesti gimana?"
"Ya, nggak gimana-gimana. Elo jawablah."
"Kalau dia nanyain elo?"
"Aah.. kelamaan lo. Ya, halo Di?" Alexia yang tak sabaran, menekan icon hijau di ponsel Raina dan bicara dengan Ardian.
"......................."
"Siapa, Raina? Ada nih di depan gue. Elo mau ngomong sama dia?"
"..,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,"
"Oh gitu. Oke, nanti gue sampaikan ke Raina."
"Dia bilang apa, Lex?" tanya Raina penasaran. Sementara itu Erina tak berkata apapun selain menyesap kopi di cangkirnya.
"Dia bilang, ke acara Gwen barengan aja. Dia akan menjemput di rumah lo jam 9 pagi."
"Oke, kita kumpul di rumah gue sebelum jam 9 ya. Ingat, jam 9 sudah jalan dari rumah gue." Raina mengingatkan kembali. "Rin, nggak papa kan kita berangkat bareng Ardian?"
"Iya gue janji nggak bakalan awkward.. antara gue dan Ardian. Tapi kalau antara kalian gue nggak janji ya." Raina cekikikan.
"Huuu... nggak bener nih bumil."
⭐⭐⭐⭐
"Daf, kapan kamu pulang?" tanya Erina pada Daffa saat mereka ngobrol via telepon.
"Kenapa? Kangen?" Daffa balik bertanya.
"Iya. Aku kangen banget sama kamu," jawab Erina.
"Kamu kesini saja, sayang," usul Daffa. "Cuaca disini lumayan dingin. Padahal sedang summer."
"Kamu kapan berangkat ke London?"
"Kalau tidak ada perubahan jadwal, besok aku berangkat ke London."
"Kamu nggak kangen sama aku? Biasanya kamu duluan yang bilang kangen," protes Erina.
__ADS_1
"I miss you so much, honey. I wish I can be with you now. I wanna hug and kiss you," jawab Daffa.
"Really?"
"Beneran sayang. Kamu nggak tau betapa beratnya aku untuk konsentrasi pada pekerjaanku. Setiap saat hanya dirimu yang terbayang. Bahkan Mr. John, direktur operasional di sini, sampai protes karena aku terlihat tak fokus saat meeting."
"Kamu memang paling pandai merayu."
"Rin, sepulang aku dari London nanti kita tunangan yuk," ajak Daffa tiba-tiba.
"What?! Are you serious?" tanya Erina tak percaya.
"Aku nggak pernah lebih serius dibandingkan saat ini."
"Bunda kan belum menerimaku sepenuhnya, sayang."
"Aku sadar tentang itu. Tapi aku nggak peduli. Kita nggak perlu terburu-buru menikah. Aku hanya mengajakmu tunangan dulu."
"Kenapa kamu tiba-tiba mengajakku bertunangan?"
"Ardian alasannya."
"Ardian? Apa hubungannya dengan dia? Dia bilang apa sama kamu?" tanya Erina heran.
"Dia memberitahuku tentang perasaannya terhadapmu. Dia ancaman dalam hubungan kita, Rin."
"Really?! Oh my god, he's so crazy."
"Kamu gimana?"
"Maksudnya?"
"Perasaan kamu ke dia gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana."
"Ya sudah, ayo tunangan. Aku nggak mau kamu direbut oleh Ardian."
Erina terdiam mendengar ucapan Daffa. Ia bingung harus bereaksi seperti apa. Sementara itu Daffa heran karena Erina hanya diam saja.
"Rin...."
"Daf, I need to think about it. Aku nggak bisa sembarangan mengambil keputusan. Ini menyangkut masa depanku," ucap Erina setelah lama terdiam. "Let me talk to your mom, okay? Kita tetap membutuhkan restu beliau. Aku nggak mau membuat kamu menjadi anak durhaka."
"You're so sweet honey. Aku memang nggak salah memilihmu menjadi calon ibu anak-anakku."
__ADS_1
Setelah menutup telpon, Erina termenung menatap langit malam. Ia bingung bagaimana perasaannya saat ini. Bukankan seharusnya ia merasa bahagia dan excited mendengar ajakan Daffa untuk bertunangan. Bukankan seharusnya ia bersyukur karena kali ini hubungannya berjalan mulus. Bahkan restu dari Mira, sang bunda, sudah bisa dipastikan berada dalam genggamannya. Mira sudah mulai bersikap ramah dan menerima dirinya. Tapi entah mengapa perasaannya datar-datar saja saat mendengar ajakan Daffa. Rin, bukannya ini yang elo mau? tanya hatinya. Entahlah, apakah memang ini yang kuinginkan. Akhirnya Erina membawa kegelisahan hatinya ke alam mimpi.
⭐⭐⭐⭐