
"Mas, gimana hubunganmu dengan Erin?" tanya Irwan saat mereka sedang duduk bersantai di halaman belakang. "Kapan kalian akan menikah?"
"Belum tau yah. Erin masih mau berpikir ulang."
"Kenapa begitu? Bukannya dulu kalian semangat sekali untuk menjalin hubungan dan segera menikah?"
"Iya yah. Entahlah mengapa Erin saat ini terlihat tak sesemangat dulu."
"Mas, kamu sudah cerita semuanya ke dia?" tanya Mira yang baru bergabung. Di belakangnya tampak mbok Sumi mengikuti sambil membawa nampan.
"Wah, bunda bikin apa sore ini? Nanti bunda ajarin Erin ya cara bikin kue ini." Daffa mencomot sepotong kue dari piring sebelum piring itu diletakkan di meja.
"Mas Daffa nih selalu gak sabaran ya bu kalau urusan cemilan. Semoga nanti non Erin bisa jago masak seperti ibu," ucap mbok Sumi sambil terkekeh.
"Soalnya kue-kue buatan bunda selalu the best mbok," puji Daffa.
"Sekarang memuji buatan bunda, nanti begitu nikah pasti buatan istrimu akan lebih enak daripada buatan bunda. Iya kan mbok?"
"Iya bu. Apalagi yang namanya pengantin baru, masih hangat, lagi bucin banget. Nasi goreng gosong tetap aja dibilang enak," ledek mbok Sumi disambut tawa yang lain. Daffa hanya bisa nyengir pasrah
"Ayo mas, jangan ditunda lagi pernikahannya. Mbok nggak sabar mau ikutan urusin anak mas Daffa."
"Ya ampun mbok, masih lamalah. Kan nggak mungkin nikah sekarang, tiga bulan lagi melahirkan."
"Eh, ada lho mas yang begitu. Tuh anaknya mister Patrick, baru empat bulan menikah tau-tau cucunya lahir. Apa tuh bu istilahnya? DP apa gitu. Kayak orang mau kredit aja." Mbok Sumi geleng-geleng kepala karena bingung.
"Hush.. mbok tau darimana?"
"Si Ijah, pembantu mereka yang cerita. Anaknya mister Patrick kan pindah ke Amerika setelah menikah. melahirkan disana. Mungkin malu ya bu kalau ketahuan tetangga disini."
"Sudah ah jangan ghibah terus, mbok. Memangnya mbok mau aku kayak gitu. Duluan proses bikin cucu, kalau berhasil baru menikah?"
"Diiih.. amit-amit deh mas. Jangan sampai mas Daffa kayak begitu. Dosa mas, dosa." Mbok Sumi bergidik membayangkan tuan mudanya mengalami hal tersebut. Yang lain tertawa melihatnya. Namun ada satu hati yang terus terluka mengingat hal tersebut.
"Mas, apakah perlu ayah yang menceritakan hal tersebut pada Erin?" tanya Irwan setelah mbok Sumi kembali ke dapur.
"Jangan yah. Daffa takut dia tak bisa menerima hal ini. Daffa nggak mau kehilangan dia."
"Kamu akan kehilangan dia seandainya kamu tidak mencoba jujur pada Erin."
__ADS_1
"Benar apa yang ayahmu bilang, mas. Beberapa hari lalu bunda makan siang berdua Erin. Bunda nggak yakin apakah Erin mengetahui hal tersebut, tapi dari ucapannya tersirat dia mengetahui ada sesuatu yang disembunyikan."
"Bunda cerita ke Erin?" Mira menggeleng.
"Bunda nggak berani mas. Bunda khawatir Erin ngamuk dan menjadikan kamu sansak. Jeng Yuna pernah cerita kalau Erin pemegang sabuk hitam tae kwon do. Bunda bisa pingsan kalau lihat kamu bonyok."
Daffa termenung. Ia galau. Ia ingin sekali jujur kepada Erina, namun disaat bersamaan ia takut kehilangan gadis itu. Selain itu ia juga berusaha memegang teguh janjinya.
"Mas, kemarin Haris laporan ke ayah kalau Honey menghubungimu. Ia memintamu datang ke London lagi?"
"Nggak boleh! Mas, kamu nggak boleh ke London lagi. Gadis itu hanya membuat kacau hidupmu." tegas Mira.
"Hidup gadis itu juga kacau karena Daffa." Daffa tertunduk setelah mengucapkan hal tersebut. Tampak jelas betapa ia memikul beban berat di hidupnya.
"Mas, mau sampai kapan kamu melakukan hal itu?"
"Entahlah bun. Mungkin seumur hidup."
Mira dan Irwan saling berpandangan. Keduanya terlihat prihatin dengan kenyataan yang harus dijalani oleh putra mereka.
"Saran ayah, kamu berdoa dan minta sama Allah. Minta petunjuk dariNya apa yang sebaiknya kamu lakukan. Jelaskan pada Erin kenyataan yang ada. Lebih baik ia mendengarnya langsung dari kamu agar tidak terjadi salah paham," nasihat Irwan.
"Kamu mencintai dia?" Irwan balik bertanya.
"Apakah itu penting? Daffa hanya nggak mau kehilangan dia. Aku butuh dia."
"Dasar anak bodoh. Itu namanya kamu mencintai dia." Irwan terkekeh.
"Daffa nggak berani mencintai dia karena aku tahu dia nggak mencintaiku."
"Dari mana kamu tahu dia tidak mencintaimu? Kamu sudah pernah menanyakan bagaimana perasaan kalian satu dengan yang lain?"
Daffa menggeleng. Irwan dan Mira hanya bisa menghela nafas kesal. Bagaimana mungkin pria berusia hampir 30an, lulusan S2 luar negeri tapi bodoh mengenai percintaan.
"Coba dulu nyatakan perasaanmu padanya. Lebih baik ditolak sekarang daripada ditolak dan ditinggalkan setelah menikah. Kalau ditolak sekarang kamu masih memiliki kesempatan berjuang untuk menaklukan gadis tomboy itu."
Daffa manggut-manggut mendengar wejangan dari Irwan.
"Apakah dulu ayah juga berjuang untuk mendapatkan cinta bunda?"
__ADS_1
"Bundamu ini banyak penggemarnya, nak. Selain cantik, dan jago masak, bundamu selalu perhatian kepada siapapun. Yang menghalangi ayah bukan hanya para pemuda yang naksir bundamu. Kedua orang tuanya adalah halangan terbesar yang harus ayah taklukan."
"Kenapa bunda mau sama ayah?"
"Karena ayahmu ini nggak pernah menyerah membuktikan cintanya dan membuktikan dirinya memang pantas menjadi pendamping bunda. Setelah menikah eyang kakung dan eyang uti malah menjadi penggemar terbesar ayahmu. Bukan hanya kepada kami dia membuktikan keseriusannya menjadi orang baik, tapi juga kepada kedua orang tuanya," jelas
"Kamu tahu apa yang harus dilakukan bila kamu benar-benar menginginkan Erin."
"Bagaimana dengan Honey?"
"Kenapa kamu masih saja memikirkan gadis itu? Mas, kamu harus bisa memilih Honey atau Erina." Mira terlihat kesal.
"Saran ayah, kamu fokus saja dulu dengan hubunganmu dan Erin. Setelah kalian memahami perasaan masing-masing, barulah kamu ceritakan mengenai Honey dan lihat bagaimana reaksi Erin mengenai hal itu."
⭐⭐⭐⭐
"Selamat malam. Nona Erina?" Terdengar suara wanita di seberang sana.
Erina mengerutkan kening karena tak mengenali nomor dan suara orang yang menelponnya. Dilihatnya jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Siapa yang menelpon menjelang tengah malam begini, pikir Erina.
"Hmm.. iya. Saya Erina. Dengan siapa saya bicara?" Erina balik bertanya.
"Bisakah anda menemui saya besok siang di Garage Cafe?"
"Anda siapa? Kenapa anda tidak memperkenalkan diri sebelum mengajak saya bertemu?"
"Anda tak perlu tahu saya siapa. Tapi saya pastikan anda akan mendapat jawaban mengenai kekasih anda."
Ada apa ini? Apakah wanita itu mengetahui masa lalu Daffa? Apakah dia wanita yang selalu ditemui Daffa saat ke London. Apakah dia Honey? Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Erina.
"Apa maksud anda?" Bukannya menjawab, wanita itu malah menutup telponnya. Meninggalkan Erina dalam kebingungan.
Apakah aku harus menemuinya atau aku bertanya pada Daffa? Tapi bagaimana kalau Daffa tak mau berterus terang. Hubungan kami sudah berjalan beberapa bulan, bahkan kami sudan bertunangan. Bukankah seharusnya dia sudah jujur mengenai segala kisah masa lalunya? Kalau memang ia serius ingin menikah denganku, kenapa ia menyembunyikan masa lalunya? Separah apa masa lalunya? Semua pertanyaan muncul di kepala Erina.
Aaah.. bikin pusing saja. Sepertinya kalau aku ingin tahu masa lalu Daffa, aku harus menemui wanita tadi. Dan lebih baik aku tak usah memberitahu Daffa mengenai hal ini.
Akhirnya Erina tertidur dengan kemantapan hati mencari kebenaran masa lalu sang kekasih.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1