
Baru saja bibir Ardian menyentuh leher jenjang sang istri, tiba-tiba....
⭐⭐⭐⭐
Terdengar tangis dari kamar bayi. Sepertinya Aidan dan Azka tak mau mengerti gairah primitif yang membakar kedua orang tuanya. Dengan kompak mereka berlomba-lomba memamerkan tangis mereka. Otomatis kegiatan pemanasan orang tua mereka terhenti. Keduanya saling pandang. Wajah keduanya memerah. Sementara mata mereka dipenuhi kabut gairah. Tak lama keduanya tertawa cekikikan dengan situasi yang tidak kondusif tersebut.
"Pi, sepertinya kamu harus menahan diri lagi," bisik Erina sambil menempelkan dahinya di dahi Ardian.
"Mi, nanti kita lanjut ya," bujuk Ardian tak rela karena gagal menembus kubu lawan.
"Sekarang sudah jam 6, sayang. Waktunya anak-anak bangun. Habis ini mereka pasti merengek ingin dimandikan. Bukannya kamu juga harus berangkat keluar kota pagi ini?"
Ardian menghela nafas kasar. Kenapa pemilihan timingnya tidak pas. Memang pagi ini ia harus berangkat keluar kota untuk memeriksa project.
"Bagaimana kalau kamu ikut? Sekalian kita honeymoon. Dulu kita belum sempat honeymoon."
"Sudah punya anak baru mau honeymoon. Aneh banget. Lagipula anak-anak sama siapa," ucap Erina sambil merapikan bajunya yang berantakan akibat ulah sang suami. Ia hendak turun dari pangkuan Ardian namun ditahan.
"Please Rin, kita tuntaskan pagi ini ya," bujuk Ardian dengan suara dan wajah memelas. Erina tersenyum melihat tingkah Ardian. Ia mengecup cepat bibir Ardian lalu meninggalkannya tanpa mengatakan apapun.
"Aaaargghhhh... sial, sial, sial!" maki Ardian dari balik selimut. Ya tuhan, susah banget sih mau menyerbu kubu lawan keluh Ardian.
Setelah selesai mengurus si kembar, Erina kembali ke dalam kamar. Dilihatnya ranjang sudah kosong. Kemana Ardian? Erina mencari ke walk in closet, kosong. Saat mendekati kamar mandi yang berada di dalam kamar mereka, Erina mendengar *******. *******? Erina bukan wanita polos yang tak mengerti mengenai hal-hal dewasa seperti itu. Pikiran liar mulai memenuhi kepalanya. Apakah Ardian memasukkan wanita lain saat aku sibuk mengurus si kembar? Hati Erina dipenuhi pertanyaan.
Bagaimana mungkin semudah itu Ardian mengingkari ucapannya. Kini hati Erina tak lagi galau, ia malah meradang memikirkan suaminya sedang bermain dengan wanita lain di dalam kamar mandi mereka. Son of a b***h! Ternyata semua ucapannya kebohongan belaka, maki Erina dalam hati.
Perlahan Erina membuka handle kamar mandi. Ia sengaja melakukan itu pelan-pelan karena tak ingin Ardian berkesempatan menyembunyikan ja***g yang sedang bersamanya. Erina sudah menyiapkan kata-kata makian dan rencana menjambak ja**** tersebut. Saat pintu terbuka, pemandangan yang ditemuinya di dalam kamar mandi membuatnya menjerit terkejut. Ia langsung menutup kembali pintu kamar mandi. Wajahnya memerah, matanya membelalak, nafasnya tersengal seolah habis lari marathon, tangannya menutup mulutnya tak percaya. Ya tuhan, mata gue nggak salah kan? Harus seperti itukah penyelesaiannya?
Sementara itu di dalam kamar mandi Ardian ikut terkejut saat mendengar teriakan Erina. Ia menatap tak percaya Erina yang membuka pintu kamar mandi. S*** harusnya gue kunci pintunya, maki Ardian dalam hati. Ia ingin memanggil Erina, namun diurungkan karena sebentar lagi ia akan mendapatkan pelepasan. Sebenarnya ia malu, namun ia tak memiliki pilihan lain. Akhirnya Ardian memilih menuntaskan kegiatannya. 🤭
Erina bergegas keluar kamar dengan wajah masih terasa panas. Ia bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Di dalam dapur ia bertemu bi Imas.
"Bi, tolong siapin bahan-bahan untuk membuat ayam teriyaki. Aku mau masak untuk sarapan Ardi."
__ADS_1
"Baik non. Eh iya, wajah non Erin kenapa merah begitu? Non Erin sakit?" tanya bi Imas hati-hati.
"Oh.. eh.. nggak bi. Cuma agak gerah aja habis urusin si kembar. Oh iya bi, bisa tolong carikan babysitter untuk si kembar. Kalau nggak salah bi Imas pernah bilang kalau keponakan bibi ada yang sedang mencari pekerjaan kan?" Erina berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Oh, si Tini. Iya non, waktu itu dia memang sempat cari-cari pekerjaaan tapi sebulan yang lalu dia baru menikah. Memangnya kenapa mau pakai babysitter segala non? Kan ada bibi dan mbok Siti."
"Ardian yang suruh bi. Erin juga setuju. Karena biar bagaimanapun, bi Imas dan mbok Siti kan sudah nggak muda lagi. Selain itu kami juga nggak mau kalian kecapekan lalu jatuh sakit. Kalau ada babysitter, bi Imas dan mbok Siti bisa fokus pada urusan dapur dan mengurus rumah mommy yang besar ini."
"Ya ampun non, kami sama sekali nggak keberatan kok mengurus si kembar. Mereka sudah mbok anggap cucu sendiri," ucap mbok Siti yang baru datang sambil mendorong stroller si kembar. Sepertinya mbok Siti akan mengajak si kembar bermain di taman belakang.
"Erin ngerti. Tapi Erin juga nggak mau kalian sakit akibat kelelahan mengurus si kembar. Kalau ada babysitter, kalian tinggal mengawasi saja. Nggak perlu ikut sibuk menggendong. Tuh lihat saja, pipi si kembar makin gembil. Sebentar lagi pasti tubuh mereka tambah berat."
"Benar mbok apa yang Erin katakan. Kalian tetap bisa mengasuh dan mengawasi si kembar namun dibantu babysitter. Lagipula saya juga akan sering keluar kota. Paling tidak Erin ada yang bantuin. Pagi sayang," Ardian menghampiri Erina yang sedang memasak dan memeluknya dari belakang.
Nafas Erina tercekat saat Ardian mencium lehernya. Terbayang kembali apa yang tadi dilihatnya di kamar mandi. Hatinya mendadak resah. Haruskah seperti itu? Apakah ini kesalahanku?
"Di, malu ah dilihat sama mbok Siti dan bi Imas," bisik Erina.
Tak lama keduanya sudah asyik menikmati sarapan mereka. Tak ada yang bersuara. Ada suasana canggung tercipta di antara mereka.
"Rin... "
"Kamu sudah selesai makannya? Kalau belum lanjutkan saja. Aku tinggal sebentar ya. Aku mau mandi dulu. Masa kamu sudah wangi, tapi aku masih bau dapur," Erina berusaha menghindari percakapan dengan Ardian. Ia berlalu masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar mandi, Erina menatap sekelilingnya. Ia masih tak bisa melupakan apa yang tadi dilihatnya. Dadanya berdegup kencang. Mukanya kembali memanas. Erina menggeleng-gelengkan kepala berusaha mengenyahkan bayangan itu. Aah, kenapa teringat terus sih. Tubuhnya meremang saat mengingat ekspresi Ardian. Aah, gue harus gimana?
Erina memutuskan segera mandi. Di bawah siraman shower Erina berharap bayangan itu bisa hilang. Bukannya menghilang, bayangan tersebut semakin nyata dan membuat tubuhnya bereaksi aneh. Ya tuhan, kenapa gue harus lihat?
"Rin... Eriiin." Terdengar suara Ardian di depan pintu kamar mandi. "Jangan mandi lama-lama, nanti masuk angin."
"I-iyaaa.. Sebentar lagi selesai!" balas Erina gugup.
Saat hendak keluar kamar mandi, Erina baru menyadari kalau di dalam tak ada handuk ataupun bathrobe. Ya tuhan, bagaimana gue harus keluar?
__ADS_1
"Erin, sudah selesai?"
"I-iya sudah. Bisa tolong ambilin handuk nggak?" teriak Erina dari balik pintu.
Tak lama Ardian mengetuk pintu kamar mandi. Erina membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengulurkan tangannya. Namun sepertinya Ardian memiliki rencana lain. Bukannya menyerahkan handuk, ia malah mendorong pintu kamar mandi dan menerobos masuk ke dalamnya. Tentu saja Erina kalang kabut. Ia tak menemukan apapun untuk menutupi tubuh polosnya. Ia hanya mampu menutup bagian-bagian tertentu tubuhnya dengan kedua tangannya. Sementara itu Ardian terpaku menatap tubuh polos yang ada di hadapannya. Gila, seksi banget tubuh istri gue, batin Ardian sambil meneguk ludah kasar. Gue benar-benar nggak sanggup lagi.
Ardian menarik tubuh Erina yang masih mematung di hadapannya, ke dalam pelukannya.
"Ka-kamu mau apa?" bisik Erina dengan suara bergetar.
"Aku nggak mau kamu masuk angin."
"Nggak usah modus, Di." bisik Erina lagi.
"Maaf Rin, tadi pagi kamu terpaksa melihatku ..."
"Nggak usah dijelaskan," ucap Erina jengah.
"Kamu nggak tahu, aku sudah setengah mati menahannya, tapi aku kalah," bisik Ardian sambil mempererat pelukannya. Tubuh Erina menggigil dalam pelukannya. "Aku nggak mau memaksamu, tapi akupun membutuhkan pelepasan agar tetap waras."
"Apakah kamu sering melakukan hal itu bila kamu bergairah?" Ardian mengangguk. Mata Erina membulat tak percaya.
"Terpaksa sayang. Hanya itu yang bisa kulakukan agar aku tak selingkuh dengan wanita lain."
"Tapi Di... "
"Kamu terlalu seksi sayang. Bahkan tanpa melihatmu te*****ng atau bercumbu mampu membangkitkan gairahku. Apalagi tadi pagi dan ...... saat ini. Kamu bisa merasakannya kan?"
"Ta-tapi tadi pagi kan sudah," bisik Erina lirih. Ia hanya berani menatap dada Ardian. Perasaannya tak karuan apalagi saat ini ia dapat merasakan Ardian kembali bergairah.
"Iya aku tahu, tapi aku ingin melepaskan ketegangan ini denganmu, bukan dengan tanganku." bisik Ardian mesra. Lalu ia mengangkat tubuh Erina dan meletakkannya dengan lembut di atas ranjang mereka.
⭐⭐❤⭐⭐
__ADS_1