
"Mas, kamu kapan berangkat keluar kota?" tanya Mira pada saat mereka makan malam bersama.
"Insyaa Allah kalau tidak ada perubahan Senin malam bun. Kenapa?" Daffa balik bertanya. "Oh iya bun, malam Minggu besok kita diner bareng orang tuanya Erina ya."
"Kok mendadak banget? Kamu mau melamar dia?" tanya Irwan.
"Hmm... gimana ya. Kalau dibilang mau melamar nggak juga. Cuma mau makan bareng saja sekalian menunjukkan keseriusan Daffa."
"Bagaimana kalau kalian tunangan saja dulu kalau memang serius?" usul Irwan.
"Bunda nggak setuju!" tolak Mira.
"Kenapa?" tanya Irwan dan Daffa berbarengan.
"Bunda belum sreg sama dia."
"Apalagi sih bun masalahnya?" tanya Daffa lembut. Ia tahu sifat keras kepala sang bunda tak bisa dilawan dengan keras.
"Iya sayang. Apa masalahnya? Kalau hanya masalah tatoo sepertinya bukan masalah besar. Lagipula dengan kecanggihan jaman sekarang itu bisa ditutupi atau bahkan dihilangkan."
"Bagaimana dengan kebiasaan buruknya yang lain?"
"Bunda boleh percaya boleh nggak. Sebelum Daffa memperkenalkan Erina kepada keluarga, dia sudah memiliki kesadaran untuk berubah."
"Nggak semudah itu berubah."
"Memang tidak mudah, tapi dia mau kok mencobanya. Bahkan setahu Daffa dia sudah tidak minum lagi." bela Daffa.
Mira terdiam. Sebenarnya ia sudah tak memiliki alasan lain untuk menolak Erina, namun tetap saja takkan semudah itu menerimanya. Ada rasa tak rela melepas putra satu-satunya kepada wanita seperti Erina. Ia menginginkan menantu yang memiliki latar belakang yang bersih. Ia mendambakan memiliki menantu yang takkan membuatnya malu di hadapan teman-teman dan keluarganya. Ia khawatir bila mereka mengetahui kebiasaan buruk Erina, maka itu akan menjadi gosip yang memalukan nama baiknya.
"Bun, Daffa punya satu permintaan."
"Apa?"
"Tolong terima Erina dengan segala kekurangannya. Daffa yakin, kalau Erina menjadi istri Daffa, menjadi menantu kalian maka dia akan menjadi menantu kebanggaan."
"Mana mungkin itu terjadi!"
"Kenapa tidak? Daffa yakin, dengan bimbingan bunda, Erin akan menjadi menantu terbaik yang kalian miliki." Daffa berusaha membujuk Mira.
"Benar sayang. Aku bukti hidup dari kepiawaianmu merubah seseorang menjadi manusia yang baik." Irwan ikut membujuk. Kata-kata yang ia ucapkan bukan bualan. Kehidupannya yang kelam berhasil diubah oleh Mira. Berkat dukungan Mira ia bisa sukses seperti saat ini.
"Bagaimana bun? Please beri kami kesempatan," bujuk Daffa. Mira terdiam dan terlihat berpikir keras. Akhirnya....
"Baiklah, bunda beri kalian kesempatan. Syarat pertama yang harus Erina penuhi adalah dalam waktu sebulan ia harus berhenti total merokok dan minum alkohol. Bagaimana?" Mira mengajukan syarat pertama.
"Ayah setuju dengan bundamu." Irwan menunjukkan dukungannya pada Mira, yang langsung tersenyum lebar mendengar ucapan Irwan. Mata keduanya saling memandang dengan penuh cinta.
"Kalau kalian sudah sepakat seperti saat ini Daffa nggak bisa menolak." Daffa menyerah. Ia pikir apa yang diminta oleh sang bunda adalah hal wajar.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐
'Beb, makan siang nanti aku jemput.' Demikian pesan yang masuk ke ponsel Erina.
Tumben ajak ketemu saat makan siang, pikir Erina
'Memangnya kamu nggak ada meeting?' balas Erina.
'Aku secara khusus setelah makan siang nanti mengosongkan jadwal. Kuharap kamu juga bisa mengosongkan jadwalmu.' balas Daffa.
Kening Erina berkerut membaca pesan tersebut. Ada hal penting apa sih kok Daffa mengosongkan jadwalnya? batin Erina. Ia langsung menanyakan jadwalnya hari ini kepada Luna. Oke, aman.
'Oke, aku juga akan mengosongkan jadwalku siang ini. Kurasa daddy juga tidak akan keberatan kalau aku ijin setengah hari.'
⭐⭐⭐⭐
"You look amazing today," puji Daffa saat bertemu dengan Erina di lobby kantor. Ia memeluk erat kekasihnya. Bahkan ia tak segan-segan menc*** bibir Erina. Tentu saja tingkah mereka menjadi perhatian para pegawai yang sedang berada atau melintas di lobby.
"Thank you. Kamu tahu, dari tadi security dan resepsionis memperhatikan kita." Erina berusaha melepaskan diri dari dekapan Daffa. Namun usahanya sia-sia. "Sebentar lagi daddy dan mommy pasti akan mengetahui hal ini."
"Biarkan saja. Bahkan akan lebih baik buat kita kalau ada yang menyeret kita ke KUA," seloroh Daffa sambil sekali lagi mengecup bibir Erina.
"Kamu tuh absurd." Namun Erina pun tak menolak kecupan Daffa.
"Beb, kita makan siang di resto Aura ya," ucap Daffa saat mereka sudah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka ke resto yang disebutkan. Kali ini Daffa membawa supir.
"Tumben kamu pilih resto itu."
"Jangan bilang kamu sudah menyiapkan acara lamaran disitu."
"Hmm.. kenapa hal itu tak terpikirkan olehku," sahut Daffa sambil memeluk bahu Erina.
"Kamu kok tumben minta disupiri pak Mamat?"
"Biar aku bisa puas menciummu," bisik Daffa. Lalu tanpa mempedulikan pak Mamat yang menyetir, Daffa kembali mencium Erina. Ciuman yang terasa manis namun juga menuntut. Bahkan tangan Daffa mulai menyentuh Erina dengan sentuhan yang mampu membuat tubuh Erina terasa melayang.
Gelombang g****h mulai melanda keduanya. Untunglah pak Mamat menyadarkan keduanya dengan dehaman yang cukup keras.
"Maaf mas, kita sudah sampai." Pak Mamat memberitahu tanpa menoleh ke belakang. Lalu ia pun turun dari mobil.
Daffa dan Erina tertawa kecil untuk menutupi rasa malu mereka.
"Kamu nakal." omel Erina.
"Kamu nggak menolak."
"Sepertinya kita harus mengurangi intensitas pertemuan. Aku nggak yakin akan bisa bertahan bila terlalu sering bertemu denganmu."
"Makanya ayo buruan nikah sama aku," ajak Daffa.
__ADS_1
"Hmm.. apakah ajakan ini caramu melamarku?" Daffa tersenyum mendengar ucapan Erina.
"Apakah kamu menginginkan lamaran yang romantis?"
"Jangan bicarakan lamaran kalau aku saja belum berhasil menaklukan bundamu." Kali ini Daffa terkekeh.
"Tenang saja, bunda sudah memberikan lampu hijau untuk hubungan kita. Memang sih belum 100% setuju, bahkan ada syarat yang harus kamu penuhi." Erina menatap Daffa bingung.
"Nanti aku jelaskan. Sekarang kita masuk dulu ke dalam resto. Perbaiki dulu lipstikmu." Daffa membelai bibir Erina, lalu kembali menc***nya. Kalau saja pak Mamat tidak mengetuk jendela mobil, mungkin Daffa tidak akan menghentikan c*****nya.
"Tuh kan, kamu memang nakal." Erina memukul dada Daffa.
"Kamu terlalu menggoda untukku," bisik Daffa dengan suara berat penuh gairah. "Bahkan kini aku yang harus setengah mati memadamkan gairahku ini."
"Kenapa?"
"Ada yang tergugah," jawab Daffa sambil menunjukkan ekspresi tersiksa. Erina tergelak melihat wajah Daffa.
"Makanya jangan nakal. Ayo kita turun."
"Kamu duluan. Aku membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Nanti kamu langsung saja ke ruang VIP. Aku sudah reserved tempat."
Akhirnya setelah memeriksa ulang dandanannya dan dengan terkekeh geli Erina menuruti permintaan Daffa.
"Mas Daffa....?" tanya pak Mamat heran saat melihat hanya Erina yang keluar.
"Sebentar lagi dia akan keluar," jawab Erina sambil tersenyum. Pak Mamat ikut tersenyum tanpa bertanya lebih lanjut.
Erina masuk ke dalam resto. Lalu ia diantar menuju ke sebuah ruangan khusus. Begitu memasuki ruangan tersebut, Erina mendapat kejutan yang sungguh tak disangka. Di dalam ruang VIP tersebut tampak eyang Fatma, Yuna, eyang Marni dan Mira.
Tanpa banyak kata Erina menghampiri dan mencium tangan mereka satu persatu. Saat berhadapan dengan Mira, Erina terlihat ragu namun akhirnya dengan percaya diri ia mencium punggung tangan Mira. Untungnya kali ini Mira tidak menunjukkan keberatannya. Sementara itu eyang Marni menyambut hangat kedatangan Erina.
"Piye kabare ndhuk?" tanya eyang Marni sambil memeluk Erina. "Kok ndak pernah main ke rumah eyang?"
Erina yang tak menyangka eyang Marni akan menyambutnya dengan hangat agak tergagap. "Eenngh... maaf eyang, Erin belum sempat main karena lagi sibuk. Daffa juga sedang sering dinas luar."
"Jangankan ke rumah jeng Marni, Erin bahkan sudah lama nggak main ke rumahku," celetuk eyang Fatma. "Erin, juga belum memperkenalkan calonnya ke saya."
"Oh iya, Daffa mana Rin?" tanya Yuna. "Kata jeng Mira, kalian datang bareng."
"Oh, Daffa masih di mobil mom. Tadi dia menyuruh Erin turun duluan."
"Mas Daffa gimana sih? Mengundang kami tapi malah datang belakangan," gumam Mira kesal.
"Assalaamu'alaykum," Terdengar suara maskulin menyapa mereka. Terlihat Daffa datang dengan wajah segar. Pasti dia cuci muka dulu untuk menurunkan gairahnya, batin Erina.
"Calon menantu eyang kok baru muncul sekarang," sambut eyang Fatma.
Calon menantu? Apakah itu artinya ....
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐