
Daffa terbangun saat didengarnya pintu kamar diketuk keras. Ia memandang arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih jam 2 .
"Maaas, Buka pintunya!" terdengar suara sang bunda. "Maaas!!"
"I-iya bun, sebentar." Daffa menyeret langkahnya menuju pintu. Kepalanya terasa berat karena baru tertidur sebentar.
"Mas, tadi kamu nggak pulang bareng Erin?" tanya Mira. Suaranya terdengar cemas.
"Nggak bun. Kenapa?"
"Lho, kenapa nggak bareng? Tadi kamu kan habis makan malam sama dia."
"Tadi Erin pulang duluan bun," jawab Daffa pelan. Ia menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Kepalanya tertunduk.
"Kok bisa? Kalian bertengkar?" Mira dapat merasakan sesuatu yang salah. "Mama Yuna barusan telpon bunda. Dia bilang Erina belum sampai rumah."
Daffa terkejut mendengar ucapan Mira. Ia langsung merasa bersalah dan khawatir. Kemana perginya Erina? Ini pasti gara-gara pembicaraan kami tadi. Daffa benar-benar buntu memikirkan kemana Erina pergi. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia langsung memencet sebuah nama dari daftar kontaknya.
"Mas, kamu telpon siapa?" tanya Mira cemas. "Tadi mama Yuna nggak bisa menghubungi Erina."
"Aku telpon Ardian, bun." Daffa tak berhasil menelpon Ardian. Hanya terdengar nada sibuk. Hmm.. siapa lagi yang harus kuhubungi.
"Gimana mas?"
"Nggak bisa dihubungi bun. Telponnya sibuk."
"Coba kamu pikirkan tempat-tempat yang kalian biasa kunjungi. Siapa tahu Erina kesana."
__ADS_1
"Bun, tempat yang biasa kami datangi jam segini biasanya sudah tutup."
"Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?" tanya Mira penasaran. "Bukan hal yang aneh kalau menjelang pernikahan kalian bertengkar, tapi kalau sampai Erin tidak pulang itu artinya pertengkaran kalian cukup besar. Mas, kamu harus sabar menghadapi wanita yang akan menikah. Wanita itu rentan stress kalau sudah urusan pernikahan."
Daffa hanya diam. Seandainya hanya urusan persiapan pernikahan, batin Daffa.
"Mas, coba lagi telpon siapa itu.. si Ardian. Siapa tahu sudah bisa dihubungi." Daffa mencoba lagi namun masih juga tak berhasil. Ardian tak mengangkat telponnya.
"Masih nggak bisa bun. Mungkin dia sudah tidur lagi."
"Mas, apa mungkin Erin pulang ke apartemennya? Mama Yuna pernah cerita ke bunda kalau Erina punya apartemen. Bunda khawatir."
"Tenang bun, Erin bisa menjaga dirinya dengan baik. Sekarang bunda istirahat saja."
"Bunda nggak bisa istirahat kalau bunda belum tahu calon menantu bunda ada dimana."
CALON MENANTU. Maafin aku bun, bisik hati Daffa. Ia memeluk erat Mira. Sikapnya tentu saja membuat Mira heran. Kembali Mira merasa kekhawatiran lain. Ada apa dengan putraku.
Keduanya kini duduk berdampingan di tempat tidur. Daffa meletakkan kepalanya di bahu Mira. Keduanya berdiam diri. Tangan Mira mengusap lembut lengan Daffa yang memeluknya.
"Maafin Daffa, bun," bisik Daffa lirih. "Daffa belum bisa membahagiakan bunda."
"Apa yang sebenarnya terjadi? Ceritakan pada bunda."
⭐⭐⭐⭐
Sementara itu Ardian berhasil membawa Erina pulang ke apartemennya. Dengan susah payah ia menggendong tubuh Erina di punggungnya. Tak ia pedulikan tatapan heran petugas security.
__ADS_1
"Mas... Mbak Erin kenapa?" tanya petugas security yang berjaga di lobby apartemen.
"Biasa. Tolong bukain lift." perintah Ardian. Tangannya penuh membawa tas dan sepatu Erina.
"Baik mas."
Akhirnya Ardian berhasil masuk ke dalam apartemen Erina. Di dalam apartemen ia langsung membawa Erina ke dalam kamarnya. Pelan-pelan ditaruhnya Erina di atas ranjang. Gadis itu tampak tertidur pulas. Perlahan Ardian hendak beranjak untuk meninggalkan Erina namun tiba-tiba tangannya ditarik oleh Erina sehingga ia pun terjatuh di atas tubuh gadis itu.
"Rin..." Ardian mencoba bangkit tetapi Erina malah menc*** bibirnya. Sh** nih anak mabok berat, omel Ardian dalam hati. Entah setan apa yang menyenggol dirinya, Ardian yang awalnya mencoba melepaskan diri dari Erina malah terbuai. Keduanya ber*****n dengan penuh gairah, hingga tiba-tiba Erina melepaskan pagutan bibirnya dan ...........
"Eriiiiiiiiin!!" Ardian hanya sanggup berteriak kesal saat Erina muntah di bajunya. Ya ampun, begini amat sih adegan romantis gue.
Dengan perasaan kesal Ardian mengangkat gadis itu ke kamar mandi setelah gadis itu mengeluarkan semua isi perutnya. Ia letakkan tubuh Erina di dalam bath tub. Lalu Ardian membuka kemejanya yang kotor akibat muntahan Erina. Nih cewek benar-benar bikin masalah, omel Ardian. Dilihatnya celana panjangnya pun terkena muntahan Erina. Gila, mana mungkin gue pulang dengan pakaian kotor begini.
Akhirnya Ardian membuka kemeja dan celana panjangnya. Hanya dengan memakai handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya, Ardian membuka lemari pakaian Erina. Di sana ia menemukan bathrobe. Setelah memakainya, Ardian mencari sprei bersih untuk mengganti sprei tempat tidur yang terkena muntahan.
Dengan cepat Ardian melepas sprei yang kotor dan menggantinya dengan yang baru. Untung gue terbiasa mengerjakan hal kayak gini, gerutu Ardian dalam hati. Kemudian ia memasukkan pakaian dan sprei yang kotor ke dalam mesin cuci. Oh iya, baju Erin juga kotor. Ardian bergegas kembali ke kamar mandi. Disana dilihatnya Erina tertidur pulas dengan kepala bersandar di bibir bathtub yang sudah dialasi dengan handuk.
Dipandangnya wajah gadis itu yang tertidur dengan damai. Tak tampak tanda-tanda ia mabuk. Rin, kenapa sih elo harus lari ke minuman? bisik Ardian sambil mengelus kepala Erina. Elo masih punya gue.
Perlahan Ardian membuka dress yang Erina kenakan malam itu. Elo cantik banget pake dress kayak gitu, pujinya. Dengan susah payah akhirnya Ardian berhasil membuka dress Erina. Ah, untunglah pakaian dalamnya tidak kotor. Saat itulah Ardian tersadar, tubuh Erina sudah setengah telanjang di hadapannya. Tanpa sadar Ardian meneguk ludah kasar saat menatap tubuh mulus Erina.
Ia buru-buru membuang pandang. Bergegas ia mengambil handuk kecil yang tersedia di dalam kamar mandi. Dibasahinya handuk tersebut lalu lembut disekanya wajah dan tubuh bagian atas Erina. Saat itulah ia melihat tatoo kecil kupu-kupu yang ada di dada kiri Erina. Ardian ingat saat ia menemani Erina membuat tatoo tersebut. Gadis itu sangat menggemari gambar kupu-kupu. Ia bilang, kupu-kupu itu unik, serangga yang dapat membawa kebahagiaan bagi yang melihatnya. Serangga yang sejak awal berjuang untuk menjadi sesuatu yang indah. Mulai dari ulat dan kepompong yang jelek lalu berubah menjadi kupu-kupu yang cantik dan dapat terbang kemanapun ia mau.
Lama Ardian tertegun menatap dada Erina. Lagi-lagi ia hanya mampu meneguk ludah saat muncul berbagai pikiran aneh di kepalanya. Aaargh.. gue bisa gila ngeliat tubuhnya, jerit Ardian dalam hati. Buru-buru ia mengangkat tangannya dari dada Erina. Lalu ia mengangkat tubuh Erina untuk diletakkan di ranjang.
Menggendong tubuh setengah telanjang sahabatnya bukan perkara mudah bagi Ardian. Bukan karena tubuh gadis itu berat, tapi saat kulit halus gadis itu bersentuhan dengan dadanya ternyata menimbulkan sengatan listrik bertegangan tinggi. Tubuh Ardian bereaksi tak wajar karenanya. Sadar Di, dia itu sahabat lo. Ardian meletakkan tubuh Erina di atas ranjang. Dipandangnya tubuh mulus itu. Daffa pria beruntung yang bisa mendapatkan elo, pikir Ardian.
__ADS_1
Perlahan Ardian mengecup kening Erina. Lama ia tak melepaskan bibirnya dari kening Erina. Tak ada reaksi apapun dari Erina yang tampak pulas. Ardian melepaskan ciumannya. Pandangannya kali ini beralih pada bibir ranum Erina. Ia teringat kembali ciuman saat di club dan sebelum Erina muntah. Ia ingin merasakan kembali ciuman itu. Mumpung yang punya bibir tertidur pulas, pikir Ardian. Lagipula gue cuma mau nyobain lagi gimana manisnya bibir Erina. Gue nggak akan macam-macam. DIA SAHABAT GUE.
⭐⭐⭐⭐