
Erina tersentak melihat sikap Ardian malam itu. Sikap yang berbeda dari biasanya. Tadinya Erina berpikir Ardian akan membujuk dengan lemah lembut seperti biasa. Namun tidak malam ini. Tentu saja Erina heran melihat sikap cuek Ardian.
Selama ini Ardian selalu mengatakan menyesal atas perbuatannya. Dia juga selalu mengungkapkan cintanya kepada Erina dan anak-anak mereka. Lalu kenapa malam ini dia tak seperti biasanya. Apakah dia menyesal menikahi gue? Lho, tapi pernikahan ini kan kemauan dia sejak awal, bukan kemauan gue. Masa iya sekarang dia menyesalinya? Berbagai pikiran berkecamuk di kepala Erina.
Sementara itu Ardian yang telah merebahkan diri di atas sofa mencoba memejamkan matanya. Ia benar-benar sangat lelah hari ini. Setelah kejar-kejaran dengan waktu untuk pengurusan dokumen pernikahan, pekerjaan dan banyak hal lainnya, Ardian mengira pernikahan hari ini takkan terlalu melelahkan. Namun ternyata perkiraannya salah.
Kata-kata dan sikap Erina masih saja tak berubah. Bahkan wanita itu tak menunjukkan empatinya terhadap janin yang ada di dalam kandungannya. Penolakan demi penolakan yang harus Ardian alami sejak pagi hingga malam ini benar-benar menguras energinya. Ardian sadar, perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai.
Bagaimana kalau seandainya sampai anak mereka lahir Erina tak juga berubah? Bagaimana kalau nanti Erina bisa menerima kehadiran anak-anak itu tapi lalu memutuskan untuk meminta cerai dan hak asuh anak-anak mereka? Berbagai pertanyaan lagi-lagi menghantui pikiran Ardian.
Sejak awal Ardian sudah mengakui dirinya mencintai Erina. Kehadiran buah hati mereka dalam perut Erina menambah rasa cintanya. Sebagai suami yang sah di mata hukum dan agama, sikap Erina yang tak menghargainya menimbulkan kekecewaan yang cukup mendalam di hati Ardian. Kini di tengah kelelahan lahir batin yang dialaminya, Ardian mulai berpikir benarkah keputusannya untuk menikahi Erina. Tanggung jawab sebagai suami dan ayah bukan sebuah permainan. Ini tanggung jawab yang akan dibawa hingga ajal menjemput. Mampukah ia memikul tanggung jawab besar ini?
Sepasang suami istri yang seharusnya menikmati kebahagiaan malam pertama, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Mereka sibuk membuat asumsi sendiri-sendiri. Tak seorangpun dari mereka yang dapat beristirahat dengan tenang.
Erina yang masih terduduk di atas ranjang kecewa dengan sikap Ardian yang tak seperti biasanya. Sementara itu Ardian malah sibuk mempertanyakan keputusannya menikahi Erina.
Menjelang jam 12 malam, Erina turun dari tempat tidur. Ia mendekati meja kerjanya. Perutnya tiba-tiba minta diisi. Sementara itu Ardian yang sebenarnya masih terjaga, tak mempedulikan Erina. Ia menaruh lengannya di atas mata, namun telinganya tetap dipasang baik-baik.
Erina duduk di kursi kerjanya. Dipandangnya susu, vitamin serta cemilan yang tersedia. Perlahan tangan Erina mengelus perutnya. Ia memang belum bisa 100% menerima kehadiran mereka di dalam kehidupannya. Namun ia juga tak memungkiri saat ini di dalam rahimnya terdapat dua nyawa yang bergantung kepadanya.
"Kenapa kalian harus hadir di saat yang tak tepat?" bisik Erina sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membulat. "Seandainya saja kalian hadir karena rasa cinta, tentu akan berbeda rasanya. Maafkan ibu yang saat ini belum bisa menyayangi kalian."
Tanpa Erina sadari, Ardian mendengar perkataannya dan tanpa terasa mata Ardian menghangat oleh air mata. Entah mengapa malam itu perasaan Ardian lebih sensitif daripada biasanya. Ardian tak menyangka Erina akan mengucapkan kata-kata itu. Ternyata Erina tetap memiliki empati terhadap janin yang ada di dalam kandungannya meski sikap yang ditunjukkan selama ini berkata lain.
Sementara itu Erina pelan-pelan meminum susu dan vitamin serta memakan cemilan yang telah disediakan. Dipandangnya Ardian dari kejauhan. Pria itu tertidur dengan tenang. Dengan pria itu ia akan menghabiskan hidupnya. Bisakah ia menjalani kehidupan dengan pria yang telah merenggut kesuciannya? Sahabat sekaligus pria yang dibencinya. Beberapa hari ini, tak bisa dipungkiri sifat Ardian yang lembut dan manis menyentuh hatinya walaupun rasa benci itu lebih menguasai hatinya.
Seandainya saja Ardian tidak melakukan hal itu, bukan tak mungkin ia mampu membuka hati untuk pria yang selalu siap saat dibutuhkan. Bukankah dirinya berpendapat kenyamanan lebih penting daripada cinta? Aargh.. kenapa semua ini begitu rumit. Haruskah gue menerima dia sebagai teman hidup meski gue tak mencintainya? Meski semua dimulai dengan kesalahan.
Erina berjalan mendekati sofa. Ia dapat melihat betapa tak nyamannya Ardian berbaring di sofa itu. Haruskah gue menyuruh dia pindah ke ranjang? Sudah siapkah ia berbagi ranjang dengan pria yang dibencinya ini? Bagaimana kalau nanti hal itu terjadi lagi? Tapi Rin, dia itu suami lo. Dia berhak atas diri lo. Akal dan hati Erina sibuk berdebat.
__ADS_1
Sementara itu Ardian masih pura-pura tertidur walau perasaannya tak karuan saat Erina mendekati dan memandanginya. Apa yang Erina akan lakukan? Apakah dia akan memukuli gue atau mungkin membunuh gue? Pikiran horor muncul di kepala Ardian. What the h***, kalau memang itu bisa menghilangkan kebencian di dalam hatinya, gue siap.
"Di, bangun." Dengan ragu Erina menggoyang tubuh Ardian. Namun Ardian tak langsung bangun. Beberapa kali Erina menggoyangkan tubuh Ardian.
"Hmm... ada apa? Kamu kenapa belum tidur? Ada yang sakit?" tanya Ardian yang pura-pura baru bangun.
"Jangan tidur disini."
"Maksudnya?"
"Sana tidur di ranjang." Hati Ardian sangat bahagia mendengar ucapan Erina. Kebetulan badannya mulai terasa kaku akibat berbaring di sofa.
Ardian menuruti permintaan Erina. Dengan langkah ringan, ia pindah ke ranjang. Namun tanpa ia duga, Erina malah melangkah ke pintu.
"Lho, kamu mau kemana?" Ardian segera berdiri dari ranjang dan menahan lengan Erina.
"Oh no... Nggak bisa begitu. Kita sudah suami istri. Nggak seharusnya kita pisah kamar. Apa kata orang kalau mereka tahu malam pertama kita malah pisah kamar." Ardian masih memegangi lengan Erina.
"Gue rasa mereka akan maklum," ucap Erina dengan wajah datar.
"Kalau begitu, biar aku tetap tidur di sofa. Asalkan kamu nggak pindah kamar. Kamu adalah tanggung jawabku. Bagaimana kalau tengah malam kamu kepengen sesuatu? Bagaimana kalau nanti kamu tiba-tiba mau ke kamar mandi?"
"Gue hamil, bukan cacat. Kalau cuma urusan ke kamar mandi, gue bisa melakukannya sendiri tanpa harus dibantu. Lagipula perut gue belum gede-gede amat. Gue masih gampang bergerak bebas. Nggak usah lebay."
Ardian hanya mampu nyengir sambil memggaruk kepalanya menyadari apa yang diucapkan Erina benar adanya. Ia memang lebay. Namun ia ingin melindungi Erina dan selalu siap bila dibutuhkan. Ia sudah berjanji untuk menjadi suami siaga walaupun harus menghadapi sikap ketus Erina.
"Please jangan pindah kamar," bujuk Ardian lagi. "Aku janji nggak akan macam-macam sama kamu, kecuali kamu minta."
Mata Erina auto melotot mendengar ucapan Ardian. Nih orang pede amat sih. Siapa juga yang pengen dimacam-macamin sama dia.
__ADS_1
"Jangan kepedean gitu." Lagi-lagi Ardian hanya nyengir. Setidaknya suasananya tak sekaku tadi dan mereka tak harus pisah kamar.
Erina melepaskan tangan Ardian dari lengannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Ardian cepat dengan nada khawatir.
"Gue mau pipis. Mau ikut?" Ardian terlihat kikuk mendengar ucapan Erina.
Setelah menuntaskan hajatnya dan berwudhu, Erina melaksanakan shalat Isya. Memang sudah kemalaman, tapi daripada tidak. Sementara Erina shalat. Ardian dengan sabar menunggu sambil duduk di sofa.
"Kamu kepengen apa malam ini? Biar aku beliin." tanya Ardian setelah Erina naik ke ranjang.
"Elo ngelindur ya? Ini sudah jam setengah satu malam," ucap Erina heran.
"Lho, siapa tahu ibu hamil ngidam sesuatu. Sebagai suami siaga aku akan mencoba memenuhi keinginanmu."
"Nggak usah lebay. Gue cuma pengen tidur. Gue capek."
"Oke, sekarang kamu rebah disini. Aku baru akan tidur setelah kamu tidur."
"Ya ampun, nggak usah gitu-gitu amat. Sana elo juga tidur. Malam ini elo boleh tidur di sisi sana. Awas, jangan melewati batas guling ini kalau elo nggak mau gue maegeri Besok kita belanja sofa."
"Buat apa? Memangnya kita mau pindah rumah sampai harus beli sofa? Kamu nggak sabar tinggal berduaan dengan aku?"
"Nggak usah ge-er. Gue mau ganti sofa itu dengan sofa bed. Jadi elo nanti tidur disitu. Oh ya, besok kita harus membahas mengenai aturan hidup dalam rumah tangga kita.
Apeess.. apeess.. Ardian menggerutu dalam hati. Sangkain buat apa tuh sofa. Lalu aturan apa yang akan dibuat oleh Erina. Pasti akan merugikan dirinya sebagai suami. Sabar ya tong, elo harus tetap ngejomblo walau gue sudah nikah.
⭐⭐😅⭐⭐
__ADS_1