
"Mas, nanti malam kamu makan di rumah kan?"
"Sepertinya nggak bun."
"Makan di luar lagi? Sama Erina? Masakan bunda nggak ada yang makan dong," keluh Mira.
"Daffa memang akan makan malam dengan Erina, tapi bukan di resto. Daffa mau bertemu orang tuanya."
"Kamu mau melamar Erina?" tanya Irwan yang sudah terlihat rapi. "Oh ya Daf, nanti siang ada meeting dengan PT Fajar Putra. Kamu yang hadir menggantikan ayah ya."
"Belum melamar yah. Nanti malam Daffa mau minta ijin mereka mengajak Erina liburan ke villa. Kalau memang memungkinkan Daffa juga akan minta ijin untuk menjalin hubungan dengan putri mereka," jelas Daffa sambil melahap nasi goreng yang ada di hadapannya.
"Apa perlu kami ikut?" tanya Irwan sambil senyum meledek.
"Ah, belum perlu yah. Daffa bukan mau melamar Erina."
"Kenapa nggak? Semakin cepat semakin baik. Ngapain pacaran lama-lama. Rentan dosa."
"Iya mas. Bunda nggak keberatan kalau memang kamu mau cepat melamar Erina. Bunda nggak sabar melihat kamu di pelaminan."
"Ya ampun ayah bunda kok nggak sabaran gini sih?" Daffa tergelak melihat antusiasme kedua orang tuanya. "Doakan saja semoga hubungan kami lancar dan lebih serius."
"Kalau begitu sebelum ke rumah Erina, kamu pulang dulu. Bunda akan buat kue untuk kamu bawa ke rumah mereka."
"Siap bundaku sayang."
⭐⭐⭐⭐
"Rai, Lex, malam ini gue pake baju apa ya?" tanya Erina saat makan siang dengan kedua sahabatnya di cafe dekat kantor Alexia.
"Malam ini elo ada janji kencan dengan Daffa?" tanya Raina dengan mulut penuh.
"Habisin dulu tuh makanan di mulut, baru ngomong. Nyembur tau!" omel Alexia. Raina buru-buru menelan makanannya. Akibatnya dia tersedak.
"Nggak usah buru-buru gitu makannya Rai. Hati-hati," Erina mengulurkan segelas air putih.
"Ini gara-gara si Alex," omel Raina setelah menghabiskan minuman.
"Kok jadi gara-gara gue?" Alexia tidak terima tuduhan Raina. "Emang elonya aja yang nggak hati-hati."
"Kan elo yang nyuruh gue buru-buru menelan makanan, makanya gue jadi tersedak."
"Eh, gue nggak nyuruh buru-buru ya. Gue cuma bilang telan dulu makanannya baru ngomong," bela Alexia.
"Sudah.. sudah.. kalian kapan akurnya sih? Sudah menikah tapi masih kayak anak kecil." Erina berusaha menengahi para sahabatnya.
"Elo mau kencan lagi sama Daffa?" tanya Alexia. "Kayaknya intens banget nih pertemuan kalian."
"Mulai bucin Rin?" tanya Raina yang kini telah menyelesaikan makanannya.
"Siapa yang bucin?" elak Erina. "Gue kan cuma nanya sebaiknya gue pake baju apa malam ini."
"Jawab dulu pertanyaan gue yang di awal tadi. Elo mau nge-date lagi sama Daffa?" Erina menggeleng.
"Zafran ngajak ketemuan?" tebak Alexia. "Ngapain sih dia ngajakin ketemuan melulu? Bukannya dua minggu lagi dia bakal nikah ya?"
"Jangan mau Rin, kalau diajak ketemuan oleh Zafran. Dasar buaya tuh cowok!" seru Raina kesal.
"Sabar bumil, sabaaaar." Erin mengusap punggung Raina agar tidak emosi. "Ingat lagi hamil."
"Terus nanti malam elo mau ketemuan sama siapa? Ada cowok baru lagi? Atau jangan-jangan elo mau nge-date sama Ardian ya?" tebak Raina. "Wah, gue nggak nyangka akhirnya elo jatuh ke pelukan sahabat sendiri."
"Imajinasi lo terlalu liar Rai. Nanti malam Daffa mau ke rumah."
__ADS_1
"Elo dilamar?" tanya Raina dan Alexia berbarengan.
"Ya ampuuun kalian ini. Dia mau ngobrol sama mom dan dad."
"Yaaaaah...." Keduanya terlihat kecewa.
Tiba-tiba ponsel Erina berbunyi.
"Speak of devil...." Erina langsung memencet icon hijau di ponselnya.
"Wa'alaykumussalaam." Raina dan Alexia saling tatap tak percaya mendengar Erina menjawab salam.
"........."
"Iya nggak apa-apa. Biar nanti aku pulang sendiri. Lagipula aku kan bawa mobil."
"......."
"Beneran nggak papa."
"......."
"Tolong sampaikan ucapan terima kasih kepada bunda ya."
Setelah selesai menerima telpon Erina kembali hendak menikmati makanan. Namun ia batal menyuap makanan karena dilihatnya pandangan tajam penuh keheranan dari kedua sahabatnya.
"Apaan sih?"
"Itu Daffa?" Erina mengangguk.
"Kenapa? Nggak ada yang aneh kan kalau dia menelpon gue?" Erina balik bertanya.
"Elo yang aneh."
"Gaya bicara lo yang aneh. Kenapa mendadak jadi sok manis gitu?" tanya Alexia sambil memicingkan mata dan menatap Erina penuh curiga. Raina di sampingnya mengangguk setuju.
Erina tergelak melihat sikap sahabatnya. Diletakkanya sendok yang tadi dipegangnya. Dijentiknya dahi kedua sahabatnya.
"Sakit Rin!" protes keduanya.
"Makanya jangan suka mikir aneh-aneh."
"Elo jatuh cinta sama Daffa?" tanya Alexia.
"Nggak. Belum."
"Berarti ada kemungkinan itu?" tanya Raina dengan senyum mengembang.
"Don't know. Maybe."
"Aaaah... gue senang banget akhirnya sahabat gue bisa move on dari...."
"Rin." Ketiganya terdiam saat sesosok lelaki menghampiri mereka.
"Apa benar kamu jatuh cinta sama lelaki itu?" tanya Zafran yang secara kebetulan juga ada di cafe tersebut.
"Apaan sih?"
"Itu tadi kamu bilang mungkin jatuh cinta sama lelaki itu. Padahal aku tahu kamu masih mencintaiku. Seperti aku juga masih mencintaimu."
Zafran duduk di kursi kosong sebelah Erina. Diraihnya tangan gadis pujaan hatinya. Erina berusaha melepaskan tangannya tapi Zafran tak mau.
"Kak, lepasin tanganku." pinta Erina.
__ADS_1
"Nggak, jawab dulu pertanyaanku. Bilang kalau kamu nggak jatuh cinta sama dia." Zafran bersikeras.
"Kak, lepasin tangan Erina!" bentak Raina yang selama ini biasanya bersikap lembut. "Kakak menyakiti Erina."
Zafran melonggarkan cengkramannya namun tak melepaskan tangan Erina. Bahkan dengan beraninya ia mengecup jemari Erina. Alexia dan Raina hanya bisa memadang risih sikap Zafran.
"Kak, jangan seperti ini. Kakak akan menikah dengan Zulfa. Aku nggak mau menjadi orang ketiga di antara kalian." Raina juga merasa risih dengan sikap mesra Zafran.
"Tolong bilang kalau kamu tidak jatuh cinta kepada lelaki itu."
"Daffa. Lelaki itu bernama Daffa."
"Persetan! Aku nggak peduli siapa nama dia. Yang aku pedulikan hanya kamu."
"Kak, di antara kita sudah tak ada hubungan apapun. Kakak nggak perlu lagi mempedulikan aku. Kakak malah seharusnya melupakanku dan fokus pada Zulfa."
"Tolong jangan sebut nama dia saat kita berdua. Tolong jangan menikah dengan lelaki itu. Tunggu aku. Aku akan datang melamarmu."
"BANG ZAFRAN!"
Sontak semua kepala menoleh ke arah wanita yang baru saja memanggil Zafran. Betapa terkejutnya mereka saat melihat Zulfa yang datang bersama dua wanita paruh baya.
Zafran langsung melepaskan genggamannya dan berdiri menghampiri ketiga wanita tersebut.
"Aku sudah bilang sama kamu, pergi dari kehidupan calon suamiku. Tapi kamu masih saja menggodanya." Zulfa menangis dalam pelukan salah satu wanita paruh baya yang datang bersamanya.
"Kamu, jangan pernah menghalangi pernikahan mereka dan jangan pernah berharap saya menerima perempuan sepertimu menjadi menantu!"
Zafran terlihat berdiri salah tingkah. "Ummi, jangan begitu. Erina nggak salah."
"Huh, di depan calon istri dan calon mertua kamu masih saja membela perempuan liar ini! Jangan harap ummi akan menyetujui niatanmu menikahi dia, walaupun hanya menjadi istri kedua. Ummi nggak sudi memiliki menantu seperti dia!" Ummi Habibah terlihat emosi dan menatap Erina penuh kebencian.
"Ummi, dengarkan dulu penjelasan Zafran."
"Diam kamu! Nggak usah banyak alasan. Kamu boleh pilih. ummi atau perempuan liar itu?" Zafran terlihat bingung. Tanpa menunggu jawaban Zafran ketiga perempuan itu meninggalkannya.
Zafran masih menoleh ke arah Erina. Ia tampak kebingungan. "Rin...."
"Lupakan aku kak. Ibumu sudah menegaskan hal itu. Nggak akan ada masa depan dalam hubungan kita. Sekali lagi kutegaskan, hubungan kita sudah usai. Jangan ganggu hidupku lagi. Biarkan aku mencari kebahagiaan yang di dalamnya tidak melibatkan dirimu."
"Tapi Rin..."
"Kak Zafran sudah mendengar ucapan Erina. Silakan kakak kejar calon istrinya dan jangan ganggu calon istri orang lain." ucap Raina tajam. Zafran hendak membantah ucapan Raina, namun ponselnya berbunyi dan dilihatnya nama ummi muncul.
"Nanti aku akan menghubungimu lagi setelah aku membujuk ummi." Zafran langsung pergi meninggalkan Erina.
Ketiganya menghembuskan nafas lega setelah kepergian Zafran. Erina mengeluarkan sebatang rokok namun tidak menyalakannya. Tangannya terlihat gemetar. Alexia langsung memeluk bahu Erina. Sementara itu Raina langsung menghabiskan segelas penuh air mineral.
"Siniin ponsel lo?" tanya Raina sambil mengambil ponsel milik Erina.
"Elo mau apa?" tanya Alexia heran.
"Gue mau blokir nomor si Zafran dan gue akan hapus dari daftar kontak."
"Rai..."
"Sudah Rin. Cowok brengsek kayak dia nggak usah lagi lo belain. Hapus dia dari hati dan hidup lo. Nggak worth it!"
"Rai, galak amat. Jangan galak-galak, nanti keponakan-keponakan gue ikutan galak," ledek Alexia. Ketiganya tertawa.
"Thanks ya Rai, Lex.. kalian memang sahabat terbaik yang pernah gue miliki."
"Jangan lupa memang cuma kami sahabat-sahabat setiamu." Koreksi Raina.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐