
Erina terbangun dari tidurnya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia merasa sesuatu yang meresahkan, namun ia tak tahu apa penyebabnya. Ia melihat jam dinding menunjukkan pukul 5. Melihat sinar matahari dari balik gorden yang tertutup sepertinya saat ini sudah sore.
"Moooom.... mommy!!" Erina berteriak memanggil Yuna.
"Ada apa neng?" Bukannya Yuna yang muncul, tapi malah bi Imas yang datang.
"Mommy mana bi?"
"Nyonya mommy pe-pergi non," jawab bi Imas gugup. Erina merasa heran melihat sikap bi Imas.
"Pergi kemana bi?"
"Eengh... bibi kurang tau non. Tadi nyonya mommy cuma bilang mungkin malam ini nggak pulang."
"Mommy pergi sama daddy?"
"Bi-bibi kurang tau non. Nyonya mommy cuma bilang itu dan pesan supaya non Erin jangan lupa makan."
"Duuh.. mommy kemana sih?" gerutu Erina kesal. "Ya sudah bi, aku mau shalat dulu. Nanti Erin mau makan chicken steak ya. Tolong buatin ya bi."
"Baik non."
Sepeninggal bi Imas, Erina mencoba menghubungi nomor Yuna. Tidak diangkat. Lalu ia mencoba menghubungi Andrew. Tidak aktif. Kemana mereka, tanya Erina pada dirinya sendiri. Apakah mereka mendadak harus ke Texas? Apakah terjadi sesuatu pada grandpa?
Saat sedang sibuk berpikir, tiba-tiba telpon Erina berbunyi. Muncul nama Ardian. Ada apa lagi sih nih orang telpon gue? Dengan kesal Erina me-reject panggilan tersebut. Beberapa kali Erina melakukan itu sampai akhirnya Erina mematikan ponselnya. Lalu Erina memutuskan untuk mandi, sebelum di luar tambah gelap.
Selesai mandi, masih mengenakan bathrobe dan handuk di atas kepalanya, Erina duduk di sofa yang ada di kamarnya. Dilihatnya ada segelas teh hangat dan kroket kentang. Erina meminum teh tersebut. Baru saja ia menaruh cangkir, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Siapa sih? Apa bi Imas kelupaan sesuatu ya? Erina membuka pintu kamar.
"Rin, kamu nggak kenapa-napa kan?" Ardian menerobos masuk setelah Erina membuka pintu.
"Eeh.. apaan sih? Ngapain elo kesini?" Erina mundur menjauh dari Ardian. Ia mencengkeram erat bathrobe-nya.
"Kenapa elo nggak jawab telpon gue?" tanya Ardian sambil berjalan ke arah Erina.
"Gue malas aja jawab telpon elo. Kenapa? Nggak suka?" Erina balik bertanya dengan nada judes. Ia menjauh dari Ardian dan duduk di sofa.
"Jangan kayak gitu lagi. Elo bikin gue panik. Gue pikir elo pingsan." omel Ardian sambil membanting dirinya di sofa, duduk di sebelah Erina. "Kenapa cemilannya belum dimakan? Tadi siang elo makan kan? Vitamin dan susunya sudah diminum?"
"Cerewet banget sih!" omel Erina sambil menggeser duduknya menjauh dari Ardian.
"Elo tuh kalau nggak dicerewetin nggak akan mau makan. Masih suka mual? Muntahnya gimana? Kepala masih suka pusing?"
"Nanya-nanya kayak dokter aja."
"Biarin aja. Demi kesehatan lo dan anak kita." balas Ardian tak mau kalah.
__ADS_1
"Iya, iya pak dokter. Gue sudah jarang mual dan muntah. Sesekali masih pusing tapi nggak parah-parah amat. Vitamin dan susu diminum terus. Puas?"
"Good girl. By the way rumah kok sepi? Aunty pergi? Uncle belum pulang?" tanya Ardian.
"Nggak tau tuh. Tadi bi Imas cuma bilang mommy pergi. Dari tadi gue nggak bisa hubungi mereka."
"Kenapa nggak menghubungi gue?"
"Buat apa?"
"Ya buat nemenin elo."
"Nggak perlu. Gue bukan anak kecil yang harus selalu ditemani kemana-mana."
"Elo memang bukan anak kecil, tapi saat ini ada calon anak kita di dalam perut lo. Jadi gue akan merasa tenang kalau bisa menemani kalian."
Baru saja Ardian selesai bicara, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ardian dan Erina melihat nama Yuna muncul di layar ponsel. Erina memandang Ardian heran. Kenapa mommy menghubungi Ardian? tanya Erina dalam hati.
"Sebentar ya gue terima dulu telpon dari aunty." Ardian berdiri dari duduknya. Belum sempat ia melangkah, tiba-tiba lengannya ditahan oleh Erina.
"Disini aja terima telponnya. Nyalain speaker nya. Gue mau tahu mommy dimana. Kenapa dia justru telpon elo, bukan gue."
Ardian menuruti permintaan Erina dengan hati berdebar karena Erina masih memegangi lengannya. Ia pikir tak ada salahnya Erina mendengar pembicaraannya dengan Yuna. Paling-paling aunty Yuna meminta ia menemani Erina karena mereka mendadak harus pergi.
"Assalaamu'alaykum aunty."
"Aunty dimana?"
"Di, malam ini kamu bisa menginap si rumah kan? Temani Erin. Aunty malam ini nggak bisa pulang." ujar Yuna tanpa menjawab pertanyaan Ardian.
"Bi-bisa. Tapi aunty baik-baik saja kan? Apakah aunty bersama uncle Andrew?" tanya Ardian lagi.
"Iya, aunty bersama uncle-mu. Tolong beberapa hari ini kamu temani Erin ya. Aunty harus mengurus uncle-mu. Oh iya, besok jadwal Erin periksa ke dokter kandungan. Tolong kamu temani dia ya," ucap Yuna. "Satu hal lagi, tolong kamu sampaikan kepada mama Amel kalau pertemuannya terpaksa dibatalkan."
"Aunty, apakah kalian akan berangkat ke Texas?" tanya Ardian lagi setelah tangannya dicubit Erina yang penasaran.
"Hmm... tidak Di." Suara Yuna terdengar ragu. "Uncle-mu... masuk rumah sakit. Tadi siang saat meeting dia terkena serangan jantung dan pingsan. Sekarang saja uncle-mu belum sadar. Sudah dulu ya, Di. Titip Erin."
Erin baru mau membuka mulut untuk bicara, disana Yuna sudah memutus pembicaraan. Ardian menoleh cepat ke arah Erina.
"Dad-daddy kenapa?" tanya Erina dengan suara tersekat. "Nggak mungkin! Nggak mungkin daddy kena serangan jantung. Nggak mungkin! Mommy pasti bercanda."
Ardian langsung menarik Erina ke dalam pelukannya sementara gadis itu masih terus menjerit histeris. Tak lama bi Imas masuk dengan tergopoh-gopoh karena mendengar jeritan Erina.
"Non Erin kenapa, den?" tanya bi Imas dengan wajah panik.
__ADS_1
"Barusan aunty Yuna menelpon. Oh iya bi, apakah aunty Yuna sudah menghubungi bibi?"
"Sudah den. Ini bibi lagi menyiapkan pakaian dan perlengkapan tuan daddy dan nyonya mommy. Nanti habis maghrib akan dibawa ke rumah sakit." jelas bi Imas.
"Jadi bibi sudah tau kalau daddy masuk rumah sakit?" tanya Erina. Bi Imas mengangguk ragu lalu menundukkan kepalanya. "Kenapa bibi nggak bilang sama Erin?"
"Nyonya mommy sebelum pergi melarang bibi cerita ke non Erin. Nyonya mommy takut non Erin kenapa-napa."
"Tapi bi, kalau terjadi sesuatu pada daddy gimana? Apa bibi mau.... "
"Sudah bi, bibi keluar saja. Jangan lupa bawa juga obat-obatan dan vitamin punya aunty dan uncle." Ardian menyuruh bi Imas keluar kamar sebelum Erin semakin marah.
Sementara itu Erina terlihat masuk ke kamar mandi. Tak lama terdengar ia memanggil Ardian
"Di, ambilin celana panjang dan kemeja flanel," perintah Erina. Ardian melangkah ke depan pintu kamar mandi dan mengetuknya. Tak lama muncul kepala Erina di sela-sela pintu. "Mana bajunya?"
"Elo mau kemana?" Ardian balik bertanya.
"Mau ke rumah sakit."
"Mau ngapain? Janji temu dengan dokter kandungan kan baru besok. Apa perut lo sakit?"
"Nggak. Gue baik-baik saja."ذ
"Ngapain mau ke rumah sakit? Sebentar lagi maghrib. Gak baik bumil maghrib-maghrib kelayapan."
"Siapa yang mau kelayapan? Gue mau ketemu mommy. Gue mau liat daddy."
"Nggak boleh. Kasihan aunty kalau elo kesana. Nanti disana elo malah tambah histeris liat kondisi uncle."
"Elo jahat!"
"Biarin. Ini gue lalukan demi kebaikan lo. Kalau elo kesana, aunty Yuna malah bingung dan tambah stress. Mengkhawatirkan uncle Andrew yang sakit dan elo yang lagi hamil," jelas Ardian pelan-pelan dengan suara tegas. Satu hal yang jarang ia lakukan terhadap Erina.
"Nggak usah sok ngelarang gue! Elo nggak ada hak mengatur hidup gue."
"Gue bukan mau mengatur hidup lo, tapi gue menjalankan permintaan aunty Yuna buat menjaga elo selama beberapa hari ini. Jadi please, buat kenyamanan kita semua jangan bantah gue."
"Minggir, gue mau keluar!"
"Cuma pakai bathrobe kayak gitu? Apa elo berniat menggoda gue?" tanya Ardian sambil memamerkan smirk-nya. Erina buru-buru melihat penampilannya. Ya tuhan, ikatan bathrobe-nya terlepas sehingga bagian atas tubuhnya terekspos. Erina buru-buru menutup pintu.
"Ambilin baju tidur gue!" teriak Erina dari balik pintu.
Tak lama pintu diketuk. Kali ini Erina hanya mengulurkan tangannya keluar pintu untuk mengambil baju yang dibawa Ardian
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐