TAKLUK

TAKLUK
KENCAN


__ADS_3

Happy reading ❤


"Lex, gue bingung."


"Bingung kenapa lagi sih Rin?" tanya Alexia sambil sibuk membuka-buka majalah fashion. "Stok bingung lo banyak banget."


"Si***n lo!"


Tiba-tiba tanpa ketuk pintu, Ardian masuk ke dalam kamar Erina.


"Rin, lo beneran ngajak Daffa menikah?"


"Hah?!" Alexia langsung melempar majalah yang dari tadi dipegangnya. "Beneran Rin?"


"Iya. Kenapa sih gitu aja kok kaget?" Erina balik bertanya sambil sibuk memilih baju di wardrobe. "Tau dari mana?"


"Daffa semalam telpon gue. Dia minta ijin ke gue buat nge-date sama elo. Padahal gue baru mau ajak dia buat blind date sama elo."


"Lo stress ya?" tanya Alexia sambil memegang dahi Erina.


"Apaan sih? Gue baik-baik saja." Erina menepis tangan Alexia.


"Elo beneran ngelamar dia?" tanya Alexia masih penasaran. "Tapi aneh banget sih kok dia minta ijin ke Ardi untuk ngajak elo nge-date."


"Iya. Malam ini dia mau jemput gue buat nonton dan diner." Erina mematut baju yang hendak dipakainya.


"Jangan dress yang itu," ucap Ardian sambil memperhatikan mini dress yang dipegang Erina.


"Kenapa?"


"Terlalu pendek dan terbuka. Kesannya murahan."


"Dia emang harus terlihat murahan supaya Daffa mau sama dia. Kalian ingat kan gimana cantik dan seksinya Brittany," ucap Alexia absurd.


"Kalau yang ini?"


"Jelek, Kurang elegant." Kali ini Alexia yang menolak. "Menurut gue elo harus tampil casual namun tetap cantik."


"Kalau cantik mah sudah dari orok," ucap Ardian. "Dia kan setengah bule. Gue rasa cocoklah dengan selera si Daffa. Sebelas dua belas sama Brit. Makanya dia nggak perlu baju yang terlalu seksi."


"Gimana kalau ini?" Kali ini Erina mengeluarkan celana jeans dan kaos kedodoran.


"Rin, elo mau nge-date. Bukan mau ngejar layangan atau main futsal. Ya kali pakai baju kayak gitu." Kali ini Alexia yang protes.


"Coba lo pake baju ini." Ardian menyodorkan outfit casual yang terlihat nyaman namun tetap terlihat mature.


"Nah kalau ini gue setuju. It's a perfect choice. Hebat juga selera lo." Alexia setuju pilihan Ardian.


"Gini-gini gue taulah gimana selera cowok. Gue yakin Daffa bakal terpesona tapi nggak memberi kesan murahan." Setelan celana bahan dan kaos turtleneck warna krem menjadi pilihan Ardian.


"Apa nggak terlalu tertutup?" Erina terlihat ragu. "Bagaimana kalau atasannya gue ganti dengan kaos turtleneck tanpa lengan ini?"


"Bioskop dingin lho. Lagipula tato di pundak lo bakal keliatan." Ardian menolak usul Erina.


"Biarin aja dia pilih baju yang itu. Erina kan bukan anak kecil yang harus diatur-atur cara berpakaiannya. Pakai apa yang lo anggap nyaman aja, Rin," bela Alexia.


"Tapi Lex, first impression itu penting."


"Di, si Daffa bukan baru sekali ini ketemu Erin. Dia pasti tau gimana gaya sahabat lo ini."

__ADS_1


Akhirnya setelah perdebatan yang lumayan alot, Erina memilih memakai jeans ketat dipadu dengan kaos turtleneck tanpa lengan dan dipadankan dengan sepatu sneaker yang terlihat manis, tapi tetap menunjukkan sifat tomboy Erina.


"Non.. non Erin, ada temannya," terdengar suara bi Imas. "Lagi duduk di taman belakang ditemenin sama tuan dan nyonya."


Ketiganya berpandangan mendengar ucapan bi Imas.


"Mampus gue! Si Daffa belum sempat gue briefing, gimana kalau dia ketemu sama daddy dan mommy."


"Buruan turun!" Alexia mendorong tubuh Erina keluar kamar.


"Lex, Di, gimana kalau Daffa nggak bisa jawab pertanyaan mommy dan daddy?"Erina terlihat cemas. Keduanya hanya angkat bahu.


"Sudah buruan temuin dia nggak usah banyak mikir."


Erina bergegas menemui Daffa yang terlihat sedang asyik ngobrol dengan kedua orang tuanya.


"Hai Daf."


"Hai Rin." Keduanya sama-sama terpaku sejenak. Baru kali ini Erina melihat Daffa berpakaian casual namun tetap terlihat menawan. Celana jeans hitam dipadu dengan kemeja dan cardigan.


"Rin, kamu kok nggak bilang mau keluar dengan anaknya pak Irwan," tanya Andrew menyadarkan Erina.


"Pak Irwan?" Erina balik bertanya.


"Iya, pak Irwan owner building yang sedang kita kerjakan." Erina masih terlihat bingung. "Itu lho gedung Prince."


"Really dad?" Erina tak percaya mendengar penjelasan Andrew.


"Ah, itu gedung milik keluarga besar kakek yang kebetulan dikelola oleh ayah." Daffa terlihat malu. Erina lagi-lagi terpana melihat sikap Daffa yang dinilainya cukup humble. Another point for him.


"Kamu jangan merendah begitu. Semua orang kenal siapa Irwan Hermawanto kakak beradik. Kamu masih ingat pak Irman Hermawanto dan bu Irma Hermawanto?" Erina mengangguk ragu. Kedua nama terakhir adalah para pengacara terkenal yang memiliki firma hukum yang masuk jajaran top five.


"Mereka adalah adik kembar pak Irwan. Kita pernah hadir di acara ulang tahun firma hukum mereka beberapa tahun yang lalu."


"Saat itu aku sedang menyelesaikan kuliah S2 di Inggris. Jadi tidak bisa hadir."


"Honey, biarkan mereka pergi. Ngobrolnya kapan-kapan dilanjut lagi," Yuna memotong pembicaraan. "Nak Daffa nanti sering-sering main kesini ya. Rumah kami siap menyambut kehadiran nak Daffa."


"Iya Daf. Selama ini cuma kita yang sering berkunjung ke rumah aunty Yuna," Celetuk Ardian yang ikutan nimbrung bersama Alexia.


"Eh, ada elo Di. Elo juga ada disini Lex?" Daffa menyalami Ardian dan Alexia. "Di, gue pinjam Erina ya."


"Elo bawa aja. Biar hidup gue tenang. Uncle Andrew dan Aunty Yuna pasti setuju. Iya kan?" Ardian dengan santai duduk di samping Andrew.


Erina hampir mengeluarkan sumpah serapah bila tidak melihat tatapan tajam dari sang mommy.


"Om, tante, kami pamit dulu."


⭐⭐⭐⭐


Sepanjang perjalanan keduanya tak banyak bicara. Masing-masing tenggelam dalam pikiran.


"Ehem... Rin, kamu nggak keberatan nonton film horror kan?" tanya Daffa memecah keheningan. Tangannya bergerak menyalakan audio di dalam mobil. Tak lama mengalunlah lagu lembut mengisi keheningan.


"It's okay Daf. Gue suka banget film horror."


"Really? Wah kebetulan yang nggak disangka ya. Aku juga suka banget nonton film horror. Apalagi film horror Indonesia, lebih menyeramkan daripada buatan luar."


Erina tertawa mendengar ucapan Daffa.

__ADS_1


"Elo tuh lucu, sudah sering hidup di luar negeri tapi masih cinta produk dalam negeri."


"Kamu boleh percaya boleh nggak. Selama menempuh pendidikan di luar, aku lebih sering makan nasi daripada kentang dan roti. Bunda sering mengirimiku masakan indonesia. Bahkan aku belajar masak beberapa jenis masakan indonesia."


"Wah, elo jago masak dong."


"Ya, lumayan deh. Sedikit-sedikit bisa dan kata teman-teman lumayan enak."


"Hmm.. perlu dibuktikan." Daffa terkekeh mendengar jawaban Erina.


"Hari Minggu besok apa acaramu?" tanya Daffa tiba-tiba."Kamu suka olahraga?"


"Hmm.. belum ada acara khusus. Paling-paling tidur. Aku jarang olahraga."


"Really? Badan kamu sangat proporsional dan cukup langsing untuk ukuran cewek yang jarang olahraga. Maaf aku nggak bermaksud kurang ajar."


"Santai aja Daf. Banyak orang yang bilang gue terlalu kurus. Padahal makan gue banyak lho."


"Bagaimana kalau malam minggu berikut kamu ikut aku ke vila? Aku akan masak enak buat kamu."


"Vila? Menginap?" Daffa mengangguk. Erina terdiam. Daffa menyadari hal tersebut. "Eh, sorry. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Malam minggu besok keluargaku mau menginap di vila. Kebetulan bunda ulang tahun. Beliau nggak mau dirayakan besar-besaran. Dia hanya mau kumpul dengan anak dan cucunya."


Erina tak tahu harus bicara apa. Ini kali pertama seorang pria yang baru dekat dengannya mengajak ke acara keluarganya.


"Maaf, apakah aku terlalu lancang?"


"Ah, nggak apa-apa, tapi..... apakah tidak terlalu cepat? Seperti yang elo pernah bilang. Butuh proses dan waktu untuk menjadikan hubungan ini menjadi sebuah hubungan yang serius."


"Apakah aku terlalu terburu-buru?" tanya Daffa khawatir. Erina mengangguk. "Maaf kalau kamu nggak nyaman."


"Eh, nggak usah minta maaf terus. Belum lebaran." Keduanya tertawa. "Aku hanya nggak terbiasa langsung dikenalkan kepada keluarga. Apalagi kita baru sekali ini jalan bareng."


"Entahlah. Setelah mengetahui bahwa kedua orang tua kita saling mengenal, kurasa nggak ada salahnya aku mengenalkanmu kepada keluargaku."


"Tapi Daf, apakah keluarga lo bisa menerima gue yang seperti ini? Tomboy, urakan, kasar."


"Hmm.. kurasa nggak ada masalah. Selama ini aku hanya pernah mengenalkan seorang wanita kepada keluargaku dan ternyata kami tak berjodoh."


"Sorry."


"It's okay. Dulu kupikir setelah sekian lama kami bersama, keluarga kami bisa menerima perbedaan tersebut. Tapi tuhan memiliki rencana yang berbeda. Keluarga kami tidak bisa kompromi mengenai perbedaan keyakinan tersebut."


"Hmmm... hubungan kalian cukup lama ya."


"Yap. Hampir 8 tahun kami bersama."


"She's a lucky girl to have you all that long." Erina membuang pandangnya ke arah jalanan. Dipandangnya deretan lampu yang mereka lewati.


"Maaf, kalau aku jadi membicarakan dia. Bukan maksudku di kencan pertama membicarakan mantan."


"It's okay Daf. Gue iri sama Brit yang memiliki pria setia seperti elo. Sementara gue.... "


"Kesetiaan nggak ada artinya bila Tuhan berkehendak lain."


"Selama ini gue belum pernah ketemu cowok yang bisa setia dengan satu pasangan dan memiliki happy ending. Kecuali Gustav. Setia pada satu wanita dan berakhir di pelaminan."


"Gustav dan Starla? Bukannya Gustav itu man.... oh, sorry... aku nggak bermaksud..."


"It's okay. Itu sudah masa lalu. That's the first time I fell in love and the first time diselingkuhi. Setelah itu hubungan gue nggak ada yang langgeng."

__ADS_1


Daffa tak berkomentar mendengar ucapan Erina. Pandangannya fokus ke jalan raya.


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2