TAKLUK

TAKLUK
CONFESSION


__ADS_3

Erina pagi itu terbangun dengan perasaan gundah. Kemarin ia berkunjung ke rumah Daffa. Disana ia disambut dengan ramah oleh Irwan, Rinda serta Boy. Bagaimana dengan Mira? Walaupun tersenyum namun terlihat dipaksakan. Ia menghindar saat Erina ingin memeluknya. Hati Erina terasa sakit diperlakukan seperti itu. Belum lama ini ia baru saja merasa bersyukur bertemu dengan keluarga yang menyambutnya dengan hangat. Namun pertemuan kali ini terasa lebih dingin walau Irwan dan Boy berusaha mengajaknya berbincang.


Flashback On


"Erin, selamat datang di rumah sederhana kami,"sambut Irwan saat Erina memasuki rumah mereka. "Om harap kamu merasa nyaman disini."


"Ah, om bisa saja. Rumah sebesar ini dibilang sederhana. Apa kabar rumah Erin yang lebih kecil dari ini," balas Erina setelah mencium tangan Irwan.


"Ah, kamu pandai merendah."


"Om juga."


"Yah, bunda mana?" tanya Daffa saat tak dilihatnya sang bunda menyambut kehadiran mereka.


"Bundamu ada di dapur bersama Rinda. Sepertinya sedang memasak."


"Daf, boleh aku ikut membantu tante Mira memasak?" tanya Erina.


"Memangnya kak Erin bisa memasak?" tanya Boy yang sejak tadi ikut menyambutnya.


"Hehehe.. nggak bisa. Makanya kak Erin ingin membantu sekaligus belajar memasak pada tante Mira." Erina terlihat malu.


Pernahkah kalian membayangkan si cewek tomboy model Erina tiba-tiba bersikap malu-malu? Tak pernah terlintas di pikiran Daffa, Erina ternyata bisa bersikap seperti itu. Satu lagi hal yang membuat Daffa penasaran. Apakah ia bisa menaklukan atau bahkan merubah sifat tomboy Erina. Sehingga dengan demikian sang bunda bisa lebih menerimanya.


"Ayo, aku antar kamu ke dapur."


Sesampainya di dapur Erina melihat Mira dan Rinda sedang sibuk memasak makanan yang terlihat seperti nasi Hainan. Hmm.. melihatnya saja sudah menggugah seleraku, batin Erina.


"Selamat sore tante, selamat sore Rinda," sapa Erina ramah.


"Eh, ada kak Erin. Kapan datang kak?" Rinda menyambut sapaan Erina dengan ramah. "Kakak kok nggak bilang-bilang kalau mau main kesini?"


"Sengaja Rin, biar nggak merepotkan."


"Justru kamu datang tiba-tiba kayak begini membuat kami repot," ucap Mira dingin. Tak ada lagi kehangatan di ucapan maupun sambutannya.


"Maaf tante kalau kedatangan Erin mendadak." Erina mendekati Mira hendak menyalaminya.


"Kamu ngapain disini? Sudah kamu duduk manis saja di ruang tamu. Dapur ini sudah cukup penuh dengan kehadiran Rinda dan perut gendutnya. Ketambahan kamu membuat tante nggak leluasa bergerak."


"Bunda..."


"Omongan bunda salah?" tanya Mira dingin. "Buat apa orang yang nggak bisa masak masuk ke dapur. Bikin ribet saja."


"Tante, Erin mau bantuin tante sekaligus belajar masak."


"Kamu tiba-tiba datang tanpa persiapan apapun dan ingin membantu? Maaf, saya nggak mau keluarga saya keracunan makanan."


"Bunda!" tegur Daffa sedikit keras sehingga membuat yang lain tersentak.


"Mas, ngomong ke bunda kok kayak gitu?" tegur Rinda setelah hilang kagetnya. Sementara itu Erina hanya terdiam tak tahu harus bagaimana.


"Bunda sih nyalahin Erin."

__ADS_1


"Daf, tante Mira benar. Kehadiranku disini bukannya membantu tapi malah mengganggu. Mungkin lain kali saja Erin belajar masak dari tante Mira. Lagipula sepertinya masakannya sudah mau matang."


"Rin... "


"Tuh, Erin aja sadar diri. Mendingan kalian di depan saja."


"Erin bantu menata meja saja ya. Kalau hanya menata meja Erin yakin nggak akan membuat keluarga tante masuk IGD," ucap Erina santai walau sebenarnya hatinya sakit diperlakukan seperti itu oleh Mira. Sabar Rin, ini baru mulai.


"Memangnya kamu bisa?" tanya Mira sedikit ketus. Ia tak percaya Erina tidak mundur walau diperlakukan dingin dan ketus.


"Kalau hanya menata meja, Erin bisa tante. Dulu pernah belajar table manner saat berkunjung ke rumah grandpa."


"Ayo Rin, kita siapkan meja makan," ajak Daffa sambil menarik tangan Erina. "Bun, kalau capek dan butuh panggil kita ya."


Flashback off


Baru saja Erina hendak melangkah ke kamar mandi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Terdengar nada dering yang Erina atur sebagai penanda panggilan dari Ardian.


"Halo.. ada apa Di?"


"Kok nggak pakai salam?"


"Sama elo mah nggak usah pakai basa basi segala. Ada apa pagi-pagi telpon gue?"


"Jogging yuk. Habis itu nge-drift."


"Tumben. Elo nggak ada janji sama Giana?"


"Oh itu beneran putus? Bukan sekedar latihan putus."


"Latihan putus? Mana ada orang pacaran pakai latihan putus."


"Ya mungkin saja elo mau bikin trend baru." Erina tergelak mendengar ucapannya sendiri.


"S****n lo! Gimana? Mau jogging bareng nggak? Elo nggak ada janji dengan Daffa kan?"


"Daffa lagi keluar kota. Baru berangkat subuh tadi."


"Ya sudah, gue jemput elo." Tanpa banyak kata lagi, Ardian memutus pembicaraan.


⭐⭐⭐⭐


"Di, menurut lo gue harus lanjut atau nggak?" tanya Erina setelah mereka selesai nge-drift. Mereka kini sedang asyik menikmati makan siang.


"Kenapa tiba-tiba nanya begini? Elo sendiri yakin nggak?"


"Gue yakin. Tapi.... "


"Apa yang membuat lo yakin sama dia?"


"Dia beda."


"Oh ya?"

__ADS_1


"Yang pasti gue nyaman banget sama dia."


"Lebih nyaman mana, dengan dia atau dengan gue?" tanya Ardian tiba-tiba. Erina terlihat heran mendengar pertanyaan tersebut.


"Pertanyaan lo aneh."


"Apanya yang aneh? Gue dan dia sama-sama cowok."


"Iya gue tau. Tapi kenyamanan yang gue dapat dari kalian berdua itu berbeda. Nggak bisa dibandingkan."


"Rin, memangnya elo nggak pernah memandang gue sebagai cowok?"


"Elo kenapa sih? Kok tiba-tiba jadi absurd begini?"


"Nggak absurd-lah. Gue sudah lama mau tanya, tapi selalu gue tunda."


"Elo itu sahabat gue. Bahkan mungkin, elo itu sudah kayak kakak buat gue. Pastinya kenyamanan yang gue dapat saat dengan elo berbeda dengan saat gue dengan Daffa."


"Tapi perasaan gue sekarang berubah Rin. Gue nggak bisa lagi memandang elo sebagai sahabat atau adik. Yang pasti kita nggak ada hubungan darah."


"Maksud lo?"


"Rin, I love you." Suasana mendadak hening di antara mereka setelah Ardian mengucapkan tiga kata keramat tersebut. Namun tak lama kemudian Erina tergelak.


"I love you too," balas Erina setelah tawanya usai. Jawaban yang membuat Ardian terbelalak.


"Really? Do you want to marry me?"


"Wow... I guess we're talking about different kind of love." Erina mulai kelabakan setelah mendengar ucapan lanjutan yang keluar dari mulut Ardian.


"But you said, you love me too."


"Off course I love you, as a friend or brother maybe. Not as a man."


"Rin, gue serius. Gue cinta sama elo." Ardian terlihat serius.


"Please Di, masalah gue dan Daffa aja belum beres. Jangan lo tambahin masalah gue dengan pernyataan cinta dan ajakan lo untuk menikah."


"Apakah elo akan tetap menerima Daffa sebagai calon suami kalau elo tahu masa lalunya?"


"Masa lalu apa? Elo selalu menyebutkan masalah itu tanpa memberikan penjelasan," sungut Erina kesal.


"Elo belum tanya ke Daffa?" Erina menggeleng.


"Gue nggak mau mendesak dia. Kalau memang dia serius sama gue, seharusnya dia yang menceritakan hal tersebut tanpa perlu gue tanya."


"Bagaimana kalau dia nggak berani terus terang?"


"Mungkin memang lebih baik gue nggak tahu masa lalu dia. Buat gue yang terpenting adalah dia bisa menerima diri gue apa adanya."


Ardian menghela nafas kesal. Sepertinya tak akan mudah baginya menggeser posisi Daffa yang sudah mulai memenuhi ruang hati Erina.


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2