
Ardian menatap pagar tinggi rumah yang sering ia datangi. Namun akhir-akhir ini ia jarang bahkan hampir tak pernah menginjakkan kakinya di rumah tersebut. Rumah yang bisa dikatakan menjadi rumah keduanya. Kini ia bingung harus bersikap bagaimana. Perasaan yang terlambat ia sadari ternyata semakin berakar dan mulai mengganggu pikirannya. Semakin ia mencoba menghindari Erina, perasaan itu semakin kuat bercokol di hatinya.
Ia masih ingat pembicaraan terakhirnya dengan Erina. Terbayang wajah gadis itu saat mentertawakan ungkapan hatinya. Bila gadis lain yang melakukan itu, mungkin ia tak kan peduli. Namun melihat Erina mentertawakannya, ada sedikit sakit hati dan perasaan sedih. Rupanya begini rasanya ditolak, batinnya saat itu. Memang, seorang Ardian sejak remaja hingga dewasa tak pernah merasakan yang namanya penolakan dari seorang gadis. Baru Erinalah yang menolaknya.
Apalagi saat mengetahui keluarga Erina dan Daffa sudah bertemu. Ardian semakin merasa kalah. Ia akhirnya melarikan diri ke pekejaannya. Bahkan ia sering pergi clubbing dan minum disana. Biasanya ia akan pergi clubbing bersama Erina, menemani gadis itu yang sedang patah hati. Namun kini ia pergi clubbing sendiri karena patah hati oleh gadis itu.
Hampir saja Ardian mengurungkan niatnya memasuki halaman yang berada di balik pagar itu. Namun rasa rindunya yang tak tertahan pada gadis itu mengalahkan segalannya. Akhirnya ia membunyikan klakson dan tak lama security membukakan pagar tersebut.
"Eh mas Ardian. Kok lama nggak kesini mas?" tegur pak Edi, security kediaman Andrew Smith.
"Biasa pak, sok sibuk," jawabnya sambil tertawa.
"Sibuk kumpulin uang buat nikah ya mas?"
"Ah, pak Edi bisa saja. Non Erin ada pak?"
"Ada mas. Tadi baru saja pulang jogging. Langsung saja mas."
Di depan pintu rumah yang terbuka lebar, Ardian kembali meragu. Apakah ia masih akan merasa nyaman di rumah ini? Apakah nanti situasinya akan awkward? Ardian masih sibuk dengan pikirannya hingga tak menyadari Yuna muncul di hadapannya.
"Lho, ngapain bengong di depan pintu Di?" tanya Yuna heran.
"Eh, apa kabar aunty?" Ardian langsung mencium punggung tangan Yuna.
"Kamu mau jemput Erin ya? Langsung ke kamarnya saja. Tadi dia bilang mau mandi."
"Uncle Andrew mana?"
"Tuh di belakang. Lagi sibuk urusin anggrek."
"Hobi baru?"
"Biasalah. Kamu tunggu Erin di kamar saja. Kamu tau kan dia kalau mandi lama."
"Nggak usah, aunty. Ardian temenin uncle saja di belakang." Bahaya kalau gue musti ngeliat si Erin keluar dari kamar mandi cuma pakai handuk. Gue sudah nggak bisa lagi mandang dia seperti dulu, batin Ardian.
"Oh ya sudah. Kamu sudah sarapan? Aunty buatkan susu coklat hangat ya."
"Thanks aunty."
"Morning mr. Andrew," sapa Ardian
"Hey, how are you Di? Long time no see."
"Baik uncle."
__ADS_1
"Kamu kenapa lama tidak mampir kesini?" tanya Andrew sambil mengajak Ardian duduk di gazebo.
"Biasa uncle. Pertengahan tahun begini kerjaan numpuk," elak Ardian.
"Ah, dia sok sibuk." Tiba-tiba Erina muncul. S**t, kenapa dia jadi tambah cantik, omel hati Ardian saat dilihatnya Erina dengan setelan celana dan blus tanpa lengan. Rambut pendeknya terlihat masih basah.
"Lho, tumben mandinya cepat," ucap Ardian untuk menutupi gemuruh hatinya.
"Tuh mommy dari tadi gedor-gedor pintu kamar mandi, kasih tau kalau kamu sudah datang."
"Kalian mau kemana?" tanya Andrew memperhatikan keduanya yang pagi ini mengenakan baju warna senada. "Kok baju kalian bisa kompak begitu? Janjian?"
Erina dan Ardian saling memandang baju satu dengan yang lain. Tak lama keduanya tergelak menyadari warna baju mereka senada.
"Ity artinya kita jodoh, uncle," ucap Ardian asal.
"Dih, siapa juga yang mau berjodoh sama elo. Najong banget!"
"Hati-hati jangan takabur. Nanti ketulah omongan sendiri. Awalnya bilang najong, taunya nanti bucin," timpal Yuna yang datang membawa dua cangkir cokelat hangat.
"Ya nggak mungkin dong Mom, kan Erin sudah ada Daffa," sahut Erina cepat. "Mom, itu buat Erin?"
"Iya, ini buat kalian."
"Rin, kamu nggak dandan?" tanya Yuna heran melihat wajah polos Erina yang belum tersentuh make up. "Bukannya kamu bilang mau pergi ke acara pertunangan teman kalian?"
"Mommy sih dari tadi nyuruh Erin cepat-cepat," omel Erina setelah meyesap coklat hangatnya.
"Nggak dandan Erin tetap cantik kok aunty," puji Ardian.
"Tumben elo bilang gue cantik."
"Soalnya kalau gue sering memuji kecantikan lo, elo jadi besar kepala dan tambah menyebalkan," sahut Ardian sambil terkekeh.
"S****n lo!" Erina memukul punggung Ardian.
"Rin, sakit tau!" protes Ardian.
"Elo sih nyebelin!"
Andrew dan Yuna hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya.
"Kalian ini sudah dewasa tapi kelakukan seperti anak SMA," ledek Yuna.
"Dia tuh sobat paling laknat, mom. Senang banget dia ngeledekin Erin. Pengen merasakan tendangan tanpa bayangan, lo?" ancam Erina sambil berpura-pura mengambil ancang-ancang hendak menendang Ardian.
__ADS_1
"Rin, watch your behavior," tegur Andrew.
"Iih.. daddy kok malah belain Ardian, sih?" sungut Erina kesal. "Erin kan cuma main-main. Mana mungkin Erin tendang dia di depan kalian. Bisa-bisa mommy pingsan melihat Ardian tepar karena tendangan Erin."
Sumpah, kenapa dia jadi keliatan imut sih kalau marah-marah begitu, batin Ardian. Matanya terpaku pada bibir merah muda gadis tomboy yabg diam-diam dicintainya. Apakah dia memakai lipstik khusus sehingga bibir itu terlihat menggoda. Padahal biasanya bibir perokok cenderung gelap, tapi tidak untuk bibir Erina.
"Woy, ngapain bengong?!" tanya Erina saat dilihatnya Ardian memandanginya. Tangannya dengan cepat memukul bagian belakang kepala Ardian.
"Erina!" tegur Yuna sedikit keras.
"Apaan sih mom? Erin kan cuma bercanda."
"Kalau Ardian jadi bego gara-gara keseringan dipukul kepalanya gimana? Memangnya kamu mau punya teman idiot?" tanya Yuna sambil memasang wajah prihatin.
"It's okay aunty. Ardi sudah biasa kok dengan sikap dia yang barbar."
"Skak mat!" seru Andrew sambil tergelak akibat ucapan Ardian.
"Mana ada cewek cantik yang barbar," seru Erina tak terima.
"Ada, tuh Xena the Warrior Princess," ucap Ardian asal.
"Sudah ah! Elo kesini mau jemput gue atau mau ngajak ribut?" tanya Erina kesal. "Ayo buruan! Sudah jam setengah 8 nih. Bumil bisa ngambek kalau kita telat."
Tak lama keduanya sudah berada di dalam mobil menuju rumah Raina. Ardian yang duduk di kursi pengemudi bolak balik melirik Erina yang duduk di sebelahnya. Gadis itu terlihat lihai melukis wajahnya dengan dandanan yang natural ala cewek Korea. Saat Erina memulas lipstik di bibirnya, tanpa sadar Ardian meneguk ludahnya.
"Kenapa lo? Muka lo kenapa gitu? Memangnya elo nggak pernah liat cewek pake lipstik?"
"Biasa aja kali!" Gue sering liat cewek memoles bibirnya dengan lipstik, batin Ardian. Mulai dari yang warna nude sampai warna merah seperti habis makan bayi. Tapi itu bukan bibir lo Rin.
"Elo pengen pake lipstik juga?" tanya Erina. Gue pengen jadi lipstiknya, batin Ardian. "Sini gue pakein lipbalm. Biar bibir lo keliatan bagus."
"Apaan sih?! Mana ada cowok pake lipstik. Emangnya gue banci?"
"Dih, ini beda! Lipbalm tuh nggak ada warnanya dan bagus buat kesehatan bibir lo," balas Erina tak mau kalah. "Tuh oppa-oppa Korea banyak kok yang pakai lipstik. Muka lo kan sudah mirip oppa-oppa Korea."
"Nggak usah punya ide aneh deh," tolak Ardian ketus sambil membuang pandang dan kembali fokus menyetir.
"Dih mau dibikin ganteng kok nolak," desis Erina kesal.
"Rin, gue emang sudah ganteng tanpa perlu pake lip apalah itu!" seru Ardian kesal. "Nggak perlu lip-lipan apalah itu buat ngebikin cewek-cewek berebut minta gue c**m."
"Diiih... kepedean amat lo!" Begitulah sepanjang perjalanan mereka kembali seperti dulu, seolah tak pernah ada insiden ungakapan cinta terlontar dari bibir Ardian.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1