
"Ma, Ardi ada disitu?" tanya Erina pada Amelia melalui ponsel.
"Nggak sayang. Dia belum pulang?" Amelia menengok jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam. "Mungkin dia pergi dengan Gustav dan teman-temannya. Kamu mau mama temani?"
"Nggak usah ma. Kebetulan hari ini si kembar anteng. Mungkin mereka tahu kalau pipinya belum pulang." Erina memaksakan dirinya tertawa. "Besok Erin main kesana ya, ma."
"Beneran? Mama kirim bang Kardi buat jemput kalian ya? Kamu mau mama masakin apa? Kamu bilang aja lagi kepengen makan apa, nanti mama siapkan."
"Erin lagi kepengen makan udang saos padang."
"Rin, kamu nggak lagi ngidam kan?" tanya Amelia penasaran.
"Nggak Ma, baru kemarin Erin selesai menstruasi. Lagipula anak-anak masih terlalu kecil untuk punya adik."
Setelah menutup pembicaraan dengan Amelia, Erina menatap jam di ponselnya. Pukul 22.15 dan belum ada tanda-tanda Ardian pulang. Kemana dia? Kenapa dia tak mengabari? Apakah akunharus menunggunya? Akhirnya Erina menyerah menunggu Ardian pulang. Tak lama kemudian Erina sudah terlelap di sofa ruang TV. Seharian mengurus dua bayi bukanlah pekerjaan ringan. Walaupun ada mbok Siti dan bi Imas yang membantu ia tetap lelah.
Sejak Andrew dan Yuna lebih sering di Texas, Erina dan Ardian memutuskan pindah ke rumah Andrew. Selain agar rumah tersebut tidak kosong, jumlah kamarnya pun cukup banyak.
Ardian menatap pintu kamar. Jam menunjukkan pukul 23.30 saat ia tiba di rumah. Ardian meletakkan jasnya di sandaran sofa. Betapa terkejutnya saat melihat Erina tertidur lelap di sofa. Ardian mendekati Erina lalu perlahan dikecupnya kening sang istri. Kini matanya beralih menatap bibir Erina yang sedikit terbuka. Dengan hati-hati ia mengecup lembut bibir Erina.
Awalnya ia hanya ingin sekedar mengecup singkat, namun ada rasa tak puas. Dengan lihai Ardian mencium bibir Erina lebih dalam. Bahkan lidahnya berhasil memaksa masuk ke dalam mulut Erina. Siapa sangka, dengan mata masih terpejam Erina membalas ciumannya. Terdengar erangan halus lolos dari mulut Erina saat Ardian menggigit pelan bibir Erina. Erangan yang mampu menggugah hasrat primitif Ardian. Tanpa sadar tangan Ardian mulai menjelajahi tubuh Erina. Lagi-lagi erangan halus keluar dari mulut Erina saat Ardian meraba dadanya.
S***, erangannya membuat gue bergairah, maki Ardian dalam hati. Gue nggak yakin bisa menahan diri bila Erina terus memberi reaksi seperti ini, Namun rupanya semesta berhasil menggagalkan hal tersebut. Tiba-tiba tanpa komando, si kembar yang berada di kamar dengan kompak menangis kencang. Tentu saja tangisan si kembar membangunkan Erina.
"Elo ngapain?" tanya Erina saat menyadari posisi wajah mereka sangat dekat. Ardian tergagap tak mampu mengelak apalagi saat itu tangannya masih berada di atas dada Erina.
"Eenghh.. nggak ngapa-ngapain. Gue cuma... gue cuma cium elo," jawab Ardian gugup karena tertangkap basah menggerayangi tubuh istrinya.
__ADS_1
"Minggir!" desis Erina. Dengan terpaksa Ardian bergeser dan membiarkan Erina bergegas ke kamar bayi. Ardian terduduk di sofa dengan bagian tubuh menegang akibat hasrat primitif yang bangkit. Sh**, kenapa gue jadi kebablasan? Bagaimana kalau seandainya tadi si kembar nggak menangis? Mungkin malam ini gue kembali memperkosa istri gue sendiri. Dasar go***k! Ardian sibuk memaki dirinya sendiri di tengah usahanya memadamkan gairah.
"Di, tolong ambilin asi yang di kulkas dong!" terdengar seruan Erina. Ardian bergegas melaksanakan perintah sang nyonya. Tak lama keduanya sudah disibukkan dengan membujuk si kembar yang masih saja menangis padahal sudah diberi ASI.
"Rin, si kembar sakit?" tanya Ardian sambil memeriksa dahi Aidan.
"Nggak. Dari tadi pagi mereka anteng kok," jawab Erina sambil mengecek dahi Azka. "Diapers mereka juga belum penuh karena tadi sebelum tidur baru gue ganti."
"Lalu kenapa dong?!" tanya Ardian sedikit keras sambil mengayun-ayun Aidan yang berada dalam gendongannya. Ardian malam ini sangat lelah, ditambah lagi ia kesal karena berbulan-bulan hasratnya tak tersalurkan.
"Kenapa elo jadi marah sama gue?! Lo pikir gue pakar bayi?! Lo pikir gue dokter?!" Erina mulai ikut tersulut emosinya. "Mungkin mereka sengaja cari perhatian dari pipinya yang malam ini pulang terlambat."
"Rin!"
"Apa?! Memang elo pulangnya telat banget. Makanya mereka protes!" sahut Erina kesal. Ia juga capek karena seharian ini mengurus bayi. Walaupun anteng, namun menyusui 2 bayi bukan hal mudah. Walau ada mbok Siti dan bi Imas, ia tetap mengurus sendiri kedua buah hatinya.
"Lo pikir cuma elo yang capek?! Gue juga capek! Kalau elo nggak mau capek, siapa suruh bikin anak!"
Tok tok tok .... terdengar ketokan di pintu kamar.
"Non Erin, den Ardian, boleh bibi dan mbok masuk?" Terdengar suara bi Imas di depan pintu.
"Masuk!" jawab keduanya.
"Si kembar kenapa non?" tanya bi Imas sambil mengambil Azka dari pelukan Erina. Demikian juga dengan mbok Siti yang langsung mengambil Aidan dari pelukan Ardian.
"Nggak tau bi. Tiba-tiba nangis. Sudah dikasih susu juga nggak mau diam," jawab Erina khawatir. "Tapi badan mereka nggak panas kok."
__ADS_1
"Mungkin mereka kekenyangan dan mau sendawa. Sudah ditepuk-tepuk punggungnya?" tanya mbok Siti sambil memposisikan Aidan berdiri bersandar di bahunya. Tangannya menepuk lembut punggung Aidan.
Bi Imas melakukan hal yang sama pada Azka. Tak lama kemudian si kembar bersendawa dengan keras. Kedua asisten rumah tangga mereka tersenyum mendengarnya.
"Aduuuh.. cucu bibi kekenyangan ya? Cucu bibi yang ganteng, sholeh dan pandai, bobo lagi ya." celoteh bi Imas sambil mengayun-ayun Azka. Bibirnya membacakan ayat-ayat suci dwngan suara lirih di telinga Azka.
Sementara itu mbok Imas melakukan hal yang sama pada Aidan. Tak lama kemudian si kembar terlelap dalam pelukan asisten rumah tangga Erina. Pelan-pelan mereka menaruh keduanya di ranjang bayi.
"Non Erin dan den Ardian, makan malam dulu ya. Non Erin sejak tadi kan belum makan. Katanya menunggu den Ardian," ucap mbok Siti sambil mengusap-usap punggung Erina. Ia sudah menganggap Erina seperti anaknya sendiri.
"Hari ini bibi masak sop iga. Bibi panasin dulu ya sopnya." Bi Imas dan mbok Siti keluar dari kamar.
"Kenapa kamu belum makan?" tanya Ardian lembut sambil memeluk Erina.
"Nggak lapar. Lagipula pengangguran kayak gue nggak boleh kebanyakan makan. Nanti gendut."
"Ya jangan gitulah sayang. Kamu nggak gendut kok. Lagipula wajar kalau tubuhmu sedikit berisi. Kamu kan sedang menyusui. Kalau kamu nggak mau makan, nanti produski ASInya kurang banyak. Memangnya kamu mau anak-anakmu menjadi anak sapi?" Bibir Ardian mulai nakal mencium leher Erina. Tangannya pun mulai mengelus lembut lengan Erina.
"Ya sudah, ayo kita makan." Erina melepaskan pelukan Ardian dan berjalan keluar kamar bayi.
"Eh... makan? Bukannya tadi kita mau ...."
"Ayo buruan. Gue lapar," ucap Erina cepat.
Ya ampun, gagal lagi gue malam ini, gerutu Ardian sambil mengikuti Erina ke ruang makan.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1