
"Rin, kok kamu disini?" tanya Arga yang baru datang. Tak sengaja mereka bertemu dengan Erina yang sedang duduk di coffee shop dekat lobby.
"Eh, papa. I-iya pa. Tadi habis shalat dan makan siang. Mama nggak ikut?"
"Mama maunya main sama cucu. Katanya Ardian urusan kamu." Erina tersenyum mendengar jawaban Arga.
"Rin, bisa kita ngobrol sebentar disini?" tanya Arga. "Ada yang mau papa bicarakan."
Setelah memesan kopi, mereka duduk berhadapan.
"Ada apa pa?"
"Maaf kalau papa kali ini ikut campur dalam urusan keluarga kalian. Apakah kamu akan membolehkan Ardian menikah lagi?"
Erina terperanjat mendengar pertanyaan sang mertua yang tanpa basa-basi. Ia membuang pandang lalu menyesap mochalatte yang ada di hadapannya.
"Papa tahu kalau selama ini Ardian nggak pernah mendapatkan haknya. Papa nggak akan menyalahkanmu. Mungkin kamu masih trauma dengan kejadian malam itu. Tapi itu sudah hampir setahun berlalu. Apakah kamu nggak kasihan sama Ardian? Dia itu lelaki normal yang memiliki kebutuhan biologis yang harus dipenuhi."
"Maafin Erin yang belum bisa menjadi istri yang baik untuk anak papa."
"Jangan minta maaf pada papa. Tapi minta maaflah pada Ardian dan ijinkan dia untuk menikah lagi kalau memang kamu tidak bisa memberikan haknya. Kalian tidak perlu bercerai. Kalian tetap dapat tinggal seatap dan mengasuh anak-anak kalian. Bagaimana menurutmu kalau papa carikan calon istri untuk Ardian?"
"Terserah Ardian pa."
"Nanti kita bicarakan dengan Ardian. Ayo sekarang kita ke kamar Ardian."
"Erin mau disini dulu pa. Di dalam ada Gustav dan Starla. Kasihan Ardian bila terlalu ramai."
"Ya sudah, papa duluan ya Rin."
Sepeninggal Arga, Erina duduk termenung memandangi minuman yang ada di hadapannya. Ia memikirkan pembicaraannya dengan Arga. Haruskah aku menyerahkan Ardian pada wanita lain?
Di dalam kamar, Ardian bolak balik melihat ke arah pintu. Tentu saja hal itu membuat yang lain heran.
"Elo kenapa sih?" tanya Gustav heran.
"Erin kemana ya?"
"Mungkin dia pulang. Dia kecapekan kali nemenin elo semalaman." sahut Gustav.
"Nggak mungkin dia pulang tanpa bilang sama gue."
Tak lama Arga masuk ke dalam ruangan.
"Eh, papa. Sendirian aja pa?" tanya Gustav.
"Iya. Mama kalian nggak mau diajak kesini. Katanya dia mau main sama cucu. Nih, mama kalian bawain puding coklat."
"Elo mau, Di?" tanya Starla. Ardian menggeleng.
"Nanti saja. Gue mau istirahat dulu. Gus, tolong tirainya lo tutup." Suara Ardian terdengar lesu. Gustav menuruti keinginan Ardian.
__ADS_1
"Di, tadi papa bertemu Erin di coffee shop. Dia habis makan siang. Papa juga sempat sisipan sama gadis yang ada di foto."
"Papa lihat Nathalie?" tanya Gustav. Arga mengangguk.
"Papa rasa penampilan gadis itu nggak malu-maluin untuk dijadikan yang kedua."
"Apa maksud papa? Papa mau nyuruh Ardian menikahi pelakor itu?" tanya Starla emosi.
"Kalau memang Ardian dan gadis itu saling suka, kenapa tidak? Daripada hidup bersama istri tapi kebutuhan biologis tidak terpenuhi. Dan Erin juga hingga saat ini belum bisa mencintai Ardian. Sementara gadis yang kamu sebut pelakor itu jelas-jelas mencintai Ardian."
"Tapi papa kan tahu kalau Ardian nggak cinta Nathalie," Gustav ikut bicara.
"Cinta akan datang saat mereka sudah terbiasa bersama. Apalagi kalau gadis itu bisa memenuhi kebutuhan Ardian. Laki-laki itu kuncinya di perut dan bawah perut. Sesimpel itu."
"Ih papa kok jahat gitu sih. Memangnya papa nggak kasihan sama Erin dan anak-anaknya? Bagaimana kalau ternyata Ardian nanti lebih mencintai istri keduanya lalu menceraikan Erin?" Starla masih tak bisa menerima usulan Arga. "Jangan-jangan nanti papa akan menyuruh Gustav kawin lagi karena sampai sekarang Starla belum bisa memberi anak kepada Gustav."
"Aku pasti akan menolak usulan papa, sayang." Gustav memeluk bahu sang istri.
"Tuh Gustav aja akan menolak. Apalagi Ardian yang memiliki anak dengan Erin."
"Tapi Gustav kan mendapatkan kebutuhan biologisnya. Coba kalau tidak dapat mungkin dia juga akan mencari istri lain."
"Pa!" seru Starla tak suka. Gustav langsung memeluk sang istri yang mulai cemberut.
Tak lama pintu kamar terbuka dan masuklah Erina dengan senyum tipis. Semuanya saling pandang. Apakah Erina mendengar percakapan mereka?
"Rin," Starla berdiri dan memeluk Erina. "Maaf ya dulu gue merebut Gustav dari elo."
"Iih.. kenapa mendadak mellow gini sih? Gue juga mendoakan yang sama buat elo dan Ardian."
Erina masuk ke balik tirai. Dilihatnya Ardian memejamkan mata. Ah, mungkin dia lelah. Dilihatnya piring yang berisi makan siang belum habis isinya. Sepertinya Nathalie tidak jadi menyuapi Ardian. Kenapa obatnya belum diminum? Erina mendekat ke meja yang berada di samping ranjang. Ia hendak merapikan piring bekas makan namun saat itu tangan Ardian menarik-narik bajunya.
"Sayang."
"Hei, nggak tidur?" bisik Erina sambil mengelus kepala Ardian.
"Nggak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Kangen."
"Sama Nathalie?"
"Sama kamu."
"Ih, gombal banget sih."
"Aku benar-benar kangen sayang. Kamu kok lama?"
"Oh, tadi gue shalat dan ngopi dulu. Menghilangkan penat."
__ADS_1
"Kamu pasti ngantuk ya. Sini tidur di sampingku."
"Hahaha.. ada-ada aja. Bisa-bisa gue diusir sama perawat."
"Kalau gitu duduk di sini. Aku ingin memelukmu." Erina menuruti keinginan Ardian. Ia biarkan Ardian memeluknya.
"Di, tadi papa bilang kalau ... "
"Sampai kapanpun aku nggak akan menduakanmu."
"Tapi apa yang papa bilang benar. Gue bukan istri yang baik. Gue nggak pernah memenuhi kewajiban sebagai istri."
"Jangan menyalahkan diri sendiri. Aku yang menyebabkan hal itu. Aku yang membuatmu tak bisa melaksanakan kewajibanmu. Aku nggak keberatan dengan hal itu. Apalagi waktu itu kamu membenciku. Tapi aku yakin kini rasa benci itu sudah mulai menghilang dan di hatimu mulai tumbuh rasa cinta."
"Ih pede banget," balas Erina sambil memukul perut Ardian.
"Aaah... sakit sayang,"
"Eh, maaf Di. Mana yang sakit?" tanya Erina sambil mengusap-usap bagian yang tadi ia pukul. Ardian menangkap tangan Erina.
"Kenapa?"
"Bahaya." Erina menatap Ardian bingung. "Sentuhanmu bisa membangunkan sesuatu yang tertidur di bawah situ."
Tanpa sadar Erina melirik ke bagian bawah tubuh Ardian. Wajah Erina memanas. Ardian tergelak melihatnya. Ya ampun, bagaimana mungkin gadis tomboy yang terkenal galak bisa malu-malu seperti itu.
"Tunggu aku sembuh ya, baru nanti kamu boleh melakukan segala hal yang kamu mau."
"Iih.. apaan sih!" Erina membuang pandangnya. Wajahnya masih terasa panas karena malu.
"Aku tahu kamu sudah nggak sabar memegang perutku yang sixpack ini."
Ardian mengambil tangan Erina dan mengecupnya. Lalu ia menarik Erina sehingga Erina terjatuh di dadanya. Erina mencoba duduk kembali namun ditahan oleh Ardian.
"Setelah aku keluar dari rumah sakit, kita mulai semuanya dari awal. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Jangan membantah, mungkin menurutmu cinta tak penting. Tapi untukku cinta melengkapi hubungan kita. Dan perlahan kita akan memulai hubungan suami istri beneran. Bukan seperti sekarang ini. Bagaimana?"
"Apakah menurut dan patuh pada suami bagian dari kewajiban istri?" tanya Erina sambil bersandar nyaman di dada Ardian.
"Hmm.. sepertinya iya. Kamu keberatan?"
"Sepertinya bisa dikompromikan. Sekarang gue adalah seorang ibu. Kalau gue nggak bisa patuh pada suami, bagaimana mungkin gue bisa berharap anak-anak patuh pada orang tuanya. Di, apakah elo akan bertahan seandainya gue bilang mau mencoba menerima cinta lo? Gue nggak tau berapa lama prosesnya, tapi gue mau mencoba mencintai elo."
"Kamu tahu, sampai kapanpun aku akan bertahan demi kalian. You know why? Karena aku yakin Allah telah memilihkan kamu menjadi jodohku."
Erina mengubah posisinya menjadi duduk. Dipandangnya wajah Ardian. Ia mencari kebohongan di mata Ardian. Bukan menemukan kebohongan, ia malah menemukan sorot mata yang menggetarkan hatinya. Apakah sorot matanya menyiratkan rasa cintanya padaku? tanya Erina dalam hati. Apakah getaran ini menandakan aku mulai mencintainya?
Erina mendekatkan wajahnya ke wajah Ardian. Merasa mendapat angin, tangan Ardian memegang tengkuk Erina menariknya mendekat sehingga ia bisa menc*** bibir istrinya. Erina memejamkan matanya dan menikmati ciuman itu.
Saat itu, tanpa mereka sadari, Arga dan Gustav mengintip melalui celah tirai. Keduanya saling pandang dan tersenyum. Sepertinya gencatan senjata menuju perdamaian sudah dimulai.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1