
Erina menarik nafas panjang setelah meletakkan benda pipih panjang tersebut. Ditatapnya benda tersebut dengan mata nanar. Tubuhnya masih terasa lemas. Apa yang ia makan selalu keluar lagi. Ia hanya bisa minum air putih atau teh hangat.
"Nona Aurel baik-baik saja?" tanya seorang ibu muda yang sedari tadi menemaninya.
"Tidak mama, aku tidak baik-baik saja. Mana mungkin aku bisa baik-baik saja dengan kondisiku seperti sekarang ini," jawab Erina dengan suara bergetar.
"Nona Aurel sebaiknya pulang atau meminta keluarga datang kesini. Nona harus beri tahu nona punya suami mengenai hal tersebut. Suami nona pasti sudah kangen sekali sama nona," ucap Lorina dengan logat khas timurnya.
Lorina adalah perempuan yang diberi tugas merawat cottage yang Erina tempati. Lorina dan Chico adalah pasangan suami istri yang menyambut saat Erina datang ke tempat itu. Erina memperkenalkan diri sebagai Aurel. Pasangan suami istri muda itu tak banyak bertanya mengenai siapa Erina atau apa tujuannya datang ke tempat itu. Mereka mendapat amanat dari Gregory, sang pemilik cottage, untuk melayani dan menemani Erina tanpa banyak bertanya. Dan hal itulah yang mereka lakukan selama dua bulan terakhir ini.
Selama ini mereka berpikir Erina adalah gadis kota yang sedang jenuh dengan keramaian kota sehingga memutuskan menyepi ke tempat tersebut. Bahkan awalnya mereka sempat berpikir Erina adalah kekasih tuan Gregory. Namun hal itu dipatahkan saat tuan Gregory tak pernah datang bahkan sepertinya gadis muda ini juga tak mengenal Gregory.
Selama dua bulan berada di situ, nona Aurel tidak pernah pergi kemana-mana. Paling-paling ia hanya berjalan-jalan sepanjang pantai. Ia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Memang, dua minggu pertama kedatangannya, nona Aurel terlihat sangat sedih. Bahkan mereka sempat takut nona Aurel bunuh diri, karena beberapa kali gadis muda ini berjalan ke arah laut dengan pandangan kosong. Untunglah hal itu tak terjadi. Gadis itu hanya berdiri di bibir pantai dan membiarkan air laut membasahi betisnya.
Setelah dua minggu pertama, nona Aurel terlihat lebih stabil emosinya dan mulai disibukkan dengan pekerjaannya. Ia meminta laptopnya dikirimkan ke tempat itu. Setelah laptopnya datang nona Aurel tampak selalu sibuk bekerja. Bahkan bila Lorina tidak mengingatkan, nona Aurel tidak akan makan. Gadis muda itu lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar atau di teras cottage dengan laptop di hadapannya.
Tapi sejak dua hari yang lalu rutinitas itu terganggu. Saat Lorina datang ke cottage pada pukul delapan pagi, ia tak menemui gadis muda itu duduk di teras cottage seperti kebiasaannya selama dua bulan terakhir ini. Padahal biasanya nona Aurel sudah duduk di teras dengan secangkir kopi dan tentu saja laptopnya. Tapi tidak pagi itu. Tentu saja Lorina merasa cemas.
Apakah nona muda itu bun.. aaah, tidak mungkin. Lorina berusaha menepis pikiran buruk itu. Nona Aurel walau tidak banyak bicara tapi terlihat dia kini lebih santai dibandingkan saat dia baru datang. Kini gadis itu lebih banyak tersenyum dan bicara. Apakah gadis itu sakit? Lorina buru-buru menelpon Chico untuk segera datang ke cottage karena pintu cottage masih terkunci. Tak lama Chico datang dengan membawa serenceng kunci.
"Ada apa Lorin?" tanya Chico heran. Tak biasanya Lorin menelpon dengan suara secemas tadi. Bahkan kini dilihatnya Lorina berdiri dengan cemas di depan pintu cottage.
"Tidak usah banyak bicara dulu. Cepat kaka buka pintu ini," perintah Lorina. "Sa khawatir nona Aurel sakit."
Chico buru-buru membuka pintu. Setelah beberapa menit mencoba berbagai macam kunci, akhirnya mereka berhasil masuk ke dalam cottage. Keduanya segera berlari ke kamar utama tempat Erina tidur. Pintu kamar masih tertutup rapat. Keduanya saling berpandangan.
"Kaka, bagaimana kalau pintu kamar ini terkunci sementara nona Aurel pingsan," tanya Lorina semakin cemas. "Sa khawatir tuan Greg marah sama kita kalau tamunya kenapa-napa."
__ADS_1
Chico tak menjawab pertanyaan Lorina. Pelan-pelan ia menggerakkan handle pintu dan untunglah pintu tidak terkunci. Bergegas keduanya masuk ke dalam kamar dan dilihatnya Erina meringkuk di atas ranjang.
"Nona Aurel, nona kenapa? Nona baik-baik saja?" tanya Lorina sambil mengguncang pelan tubuh Erina.
"Lorin, pelan-pelan. Kasihan nona Aurel ko guncang seperti itu!" tegyr Chico khawatir.
"Ini sa juga pelan-pelan kaka!" jawab Lorina. "Coba kaka buka dulu jendela dan pintu ke balkon, supaya udara segar dan sinar matahari masuk."
"Jangan! Jangan buka tirainya. Kepalaku pusing," Tiba-tiba terdengar suara Erina.
"Nona, nona Aurel baik-baik saja tho?" tanya Lorina.
"Mana mungkin nona Aurel baik-baik saja. Ko bisa lihat sendiri kalau kondisi nona Aurel tidak baik-baik saja," potong Chico kesal.
"Aku baik-baik saja. Hanya saja sejak semalam kepalaku terasa berat. Dan pagi ini perutku terasa tak nyaman. Mual rasanya."
"Nona sakit? Demamkah?" tanya Chico. Lorina langsung memeriksa dahi Erina.
"Oh iya, kemarin nona banyak duduk di luar dan terkena angin laut. Nona pasti masuk angin," seru Chico tiba-tiba.
"Kaka tak perlu berteriak seperti itu! Lihat itu nona Aurel tambah pusing akibat teriakan kaka," omel Lorina.
"Aku nggak apa-apa. Mungkin memang sakit maagku kambuh. Kalian boleh buka pintu dan jendela tapi jangan buka tirainya. Aku pusing melihat cahayanya."
"Hmm.. pasti ini gara-gara nona terlalu sering melototi laptop," gerutu Chico.
"Mama, bisa tolong buatkan sarapan bubur untuk pagi ini? Dan bapa, bisa tolong belikan obat pusing dan obat lambung."
__ADS_1
Ternyata kondisi Erina tidak juga membaik setelah makan dan minum obat. Bahkan, apa yang dimakan pasti dimuntahkan kembali. Dua hari kondisi Erina seperti itu, akhirnya Lorina mengambil inisiatif memanggil dokter Miko yang bertugas puskesmas ke cottage.
Lorina berdiri di samping tempat tidur. Tadi setelah memeriksa kondisi Erina, dokter Miko mengatakan kondisi Erina sebenarnya wajar-wajar saja dialami oleh seorang wanita dewasa. Ada kondisi tertentu yang menyebabkan kondisi Erina seperti itu. Untuk memastikan hal tersebut dokter Miko meminta Erina melakukan beberapa tes.
"Mama, aku harus bagaimana?" tanya Erina lemah.
"Nona Aurel sebaiknya kembali ke rumah. Keluarga nona, terutama suami nona pasti sangat khawatir dan kangen sekali pada nona."
"Apakah sebaiknya kugugurkan saja kandunganku ini?"
"Astaga nona! Jangan berpikir seperti itu. Itu Dosa!" tegur Lorina.
"Tapi aku tidak mengharapkan kehamilan ini!" jerit Erina histeris sambil menjambak rambutnya.
Melihat Erina seperti itu, Lorina langsung memeluknya. Lorina merasa kepedihan yang sangat mendalam melihat kondisi Erina seperti itu. Ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi namun melalui kalimat tadi Lorina mulai bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Pasti nona Aurel bertengkar dengan suaminya makanya ia mengasingkan diri di tempat ini. Mungkin saja nona Aurel belum ingin memiliki anak karena masih sibuk dengan pekerjaannya, pikir Lorina.
"Nona Aurel harus tenang. Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Sebaiknya nona bicarakan dengan suami nona kalau memang belum menginginkan bayi itu," nasihat Lorina.
"Aku nggak mau memiliki bayi ini!" jerit Erina lagi sambil sesenggukan dalam pelukan Lorina.
Lorina tak berkata apapun. Ia hanya memeluk erat Erina. Hatinya sakit mendengar ucapan Erina. Kenapa begitu mudahnya nona Aurel mengucapkan hal itu, pikir Lorina. Tidakkah dia tahu, apa yang dialaminya saat ini adalah sebuah anugrah dari tuhan. Apakah nona Aurel tak tahu betapa banyak pasangan yang menginginkan keturunan, namun tak kunjung memperolehnya? tanya Lorina dalam hati.
"Carikan dokter yang bisa menggugurkan kandunganku ini," pinta Erina dengan suara lemah di sela isakannya.
Kembali Lorina tak mengatakan apapun. Hanya air matanya yang perlahan turun membasahi pipinya.
"Sabar nona. Pikirkan lagi baik-baik permintaan tadi," ucap Lorina dengan suara tersendat menahan tangisnya. "Seharusnya nona Aurel bersyukur diberi anugrah oleh Tuhan. Tidak semua orang diberi anugrah ini meski sudah menikah selama bertahun-tahun."
__ADS_1
Erina tak mengucapkan apapun saat mendengar perkataan Lorina. Ia hanya mampu menangisi dirinya sendiri saat ini. Erina terus menangis dalam pelukan Lorina hingga akhirnya ia kelelahan dan tertidur.
⭐⭐⭐⭐