TAKLUK

TAKLUK
GAGAL LAGI


__ADS_3

Sudah dua bulan sejak Erina melahirkan Azka dan Aidan. Keduanya tumbuh menjadi bayi yang sehat. Azka yang sejak awal didiagnosis mengalami kelainan jantung, tumbuh menjadi bayi dengan tubuh dan jantung yang sehat.


Selama dua bulan itu tak ada perubahan signifikan dalam kehidupan pernikahan Ardian dan Erina. Ardian tetap dengan sikapnya yang lembut dan penuh perhatian. Sementara Erina tetap dengan sikapnya yang acuh tapi butuh.


Namun keduanya kompak saat mengasuh kedua anak mereka. Contohnya minggu pagi itu saat mereka berdua disibukkan dengan kegiatan memandikan si kembar.


"Di, tolong dong elo gendong Azka. Gue harus mandiin Aidan sebelum dia ngamuk gara-gara diapers-nya penuh. Ajak Azka ke taman belakang," perintah Erina sambil menyiapkan air untuk mandi si kembar.


"Kamu bisa siapin semuanya? Sini aku bantu siapin pakaian mereka."


"Elo bisa sambil gendong Azka?"


"Bisa dong. Aku kan pipi yang cerdas. Azka, mimi kamu nggak percaya kalau pipi bisa menyiapkan pakaian kalian. Ayo kita bantu mimi," ucap Ardian sambil menggendong Azka ke dalam kamar bayi. Kamar si kembar bersebelahan dengan kamar orang tuanya dihubungkan dengan sebuah pintu.


"Di, tolong ambilin handuk dong. Gue lupa bawa," seru Erina dari dalam kamar mandi.


"Azka, mimi selalu saja lupa menyiapkan handuk. Apa jadinya kalau pipi nggak bantuin, pasti mimi kamu stress berat mengurus kalian."


"Anak kecil jangan diajak ghibah," omel Erina. Ardian hanya tertawa mendengar omelan sang istri. Sementara baby Azka terkekeh seolah mengerti pertengkaran kedua orang tuanya.


Setelah selesai memandikan keduanya, giliran Erina memasak sarapan untuk mereka berdua. Sarapan yang selalu kesiangan karena keribetan mengurus si kembar.


"Masak apa sayang?" tanya Ardian sambil memeluk Erina dari belakang.


"Di, geli ah. Ngapain sih ngendus-ngendus gitu? Gue tuh bau keringat. Baju gue juga basah. Nanti baju lo ikutan basah," omel Erina.


"Keringat kamu nggak bau kok. Sejak dulu aku selalu suka mencium bau keringatmu. Lepas saja bajunya kalau memang basah," sahut Ardian sambil terus mencium leher Erina. "Rin, masa nifas sudah lewat kan?"


"Sudah. Kenapa?" tanya Erina dengan perasaan tak karuan. Entahlah, sejak kelahiran si kembar ada perasaan aneh setiap kali Ardian bersikap mesra kepadanya. Ia merasa gelisah sekaligus bergairah. Ia bukan bocah cilik yang tak mengerti apa rasa tersebut.


"Boleh nggak aku meminta hakku sebagai suami," bisik Ardian di telinga Erina. Tentu saja hal itu membuat tubuh Erina meremang.

__ADS_1


"Apaan sih?" sahut Erina gelisah. Ada gelenyar aneh saat Ardian mencium lehernya. Ya tuhan, kenapa tubuh gue berkhianat sih?


Ardian mematikan kompor lalu memutar tubuh Erina menghadap ke arahnya. Di tatapnya mata Erina. Sementara itu Erina setengah mati berusaha menahan debaran jantungnya yang pagi itu tak mau diajak kompromi. Ardian melepas jepit rambut Erina sehingga rambutnya tergerai. Sejak hamil Erina membiarkan rambutnya panjang. Bukan karena ingin lebih feminin, namun ia malas pergi ke salon langganannya.


"Elo mau apa? Ngapain sih jepitnya dilepas? Gue gerah, Di. Lagipula kenapa kompornya dimatiin? Kan gue belum selesai masak. Memangnya nggak lapar?" tanya Erina sambil menghindari tatapan Ardian. Bukannya menjawab pertanyaan Erina, Ardian malah mencium dan memainkan ujung rambut Erina.


"Sayang, sudah hampir setahun kita menikah tapi kita belum pernah ...." Tiba-tiba terdengar tangis bayi melalui layar monitor yang terhubung dengan kamera di kamar bayi.


"Di, Aidan bangun. Mungkin dia lapar. Tadi minum susunya cuma sedikit," ucap Erina gelisah karena ia bisa merasakan ada yang keras di tubuh bagian bawah Ardian.


"Biarin, sebentar lagi juga tidur lagi." Ardian tak melepaskan pelukannya. Ia malah menarik tubuh Erina agar menempel sempurna pada tubuhnya. Ardian mulai mencium leher Erina.


"Di, nanti Azka terbangun. Elo tau kan kalau Azka gampang terbangun." Benar saja apa kata Erina, tak lama Azka terbangun dan ikut menangis. Jadilah pagi itu di rumah mereka terdengar konser tangis bayi. Ardian menghela nafas kasar karena kesal. Erina nyengir melihat wajah kesal Ardian.


"Rin, masa mereka doang yang disusui. Aku juga .... " Belum selesai Ardian berkata, Erina berhasil melepaskan diri dari pelukannya. Sebelum Erina benar-benar lepas dari pelukannya, Ardian masih sempat mencuri kecupan.


"Ayo pipi bantu mimi urus si kembar," ajak Erina sambil menjulurkan lidahnya meledek Ardian. Lalu ia berlari ke kamar si kembar.


"Awas ya mi, nanti pipi balas!" seru Ardian kesal. Ia hanya mampu mengacak rambutnya karena lagi-lagi ia harus menahan hasratnya. Bisa gila gue kalau kayak gini terus. Apalagi kalau gue harus ngeliatin dia nyusuin anak-anak. Bikin gue jadi pe......


"Iya, iya... sabar."


Begitulah kehidupan pernikahan Aidan dan Erina. Selama menikah Aidan belum pernah mendapatkan haknya sebagai suami. Memang sikap Erina tak lagi seketus di awal pernikahan, namun ia juga masih tak mau melayani hasrat sang suami.


⭐⭐⭐⭐


"Gimana kabar lo, bro?" sapa Gustav saat siang itu bertemu dengan Ardian setelah meeting.


Kini Ardian fokus sepenuhnya dengan perusahaan milik Andrew yang belum lama ini merger dengan perusahaan milik Gustav dan Ardian. Andrew dan Yuna lebih sering berada di Texas daripada di Indonesia. Kondisi lain yang membuat Ardian harus kembali mengurus perusahaan yang dirintisnya bersama Gustav karena Starla saat ini hamil muda.


"Muka lo kenapa ditekuk gitu? Elo nggak bahagia?" tanya Gustav sambil menyodorkan gelas berisi wine.

__ADS_1


"Sorry, gue sudah nggak minum," tolak Ardian.


"Hahaha... ternyata berkeluarga bisa merubah seorang Ardian. Berarti elo sudah nggak pernah clubbing?" Ardian menggeleng.


"Gue sudah nggak punya tenaga lebih buat clubbing. Lagipula kalau gue clubbing, kasihan Erin di rumah dengan dua bayi."


"Kenapa elo nggak hire babysitter atau pembantu buat bantuin Erin?"


"Dia nggak mau anak-anak diasuh orang lain. Dia mulai posesif terhadap anak-anaknya."


"Lalu kapan kalian bisa bermesraan? Jangan bilang sampai saat ini elo masih belum dapat jatah dari Erin," tebak Gustav. Ardian tak menjawab. Sontak Gustav tergelak melihat wajah Ardian. "Yang benar bro? Elo sudah minta?"


"Gue nggak mau maksa dia. Gue tau dia masih belum bisa menghilangkan traumanya."


"Tapi kejadian itu sudah setahun lebih. Masa dia masih trauma? Jadi elo main 'solo' dong?" Lagi-lagi Gustav tertawa melihat wajah nelangsa Ardian. "Sori, sori... gue ikut prihatin bro."


"Dasar saudara kamp**t! Tega banget lo ngetawain gue."


"Elo bikin dia mabuk aja biar dapat jatah. Kayak dulu. By the way, ada satu hal yang gue ingin tahu. Gue dan Starla sampe tebak-tebakan soal ini."


"Soal apa?" tanya Ardian malas sambil mengeluarkan rokok tapi tidak menyalakannya.


"Dulu, waktu elo berhubungan dengan Erin, apakah dia membalas atau diam saja kayak mayat?"


Ardian terdiam mendengar pertanyaan Gustav. Hingga saat ini ia masih mengingat dengan jelas bagaimana tubuh Erina bereaksi saat berada di bawahnya. Dapat dikatakan malam itu permainan cinta mereka cukup panas. Tak hanya sekali mereka melakukannya. Bahkan saat itu ia mampu membuat Erina berkali-kali mencapai kepuasan. Hingga saat ini bayangan permainan cinta mereka masih mampu menggugah naluri kelelakiannya.


Berkali-kali ia bangun dengan tubuh berkeringat dan bergairah karena memimpikan hal itu. Dan bukan sekali dua kali ia harus menuntaskan hasratnya di kamar mandi atau mandi air dingin.


"Elo nggak kepikiran cari istri kedua biar junior lo nggak nganggur? Bagaimana kalau elo kawinin si Nathalie? Gue liat-liat dia masih rajin ajak elo ketemuan kan?" Ardian tak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis. "Dan kayaknya dia juga suka sama elo. Kalau memang Erin nggak bisa cinta sama elo, kenapa elo nggak kawinin Nathalie yang jelas-jelas jatuh cinta sama elo?"


"Gue keluar dulu ya. Nathalie ajak gue makan siang bareng. Habis makan gue nggak balik ke kantor ya."

__ADS_1


"Sekalian bobo siang, Di?" ledek Gustav. Ardian hanya mengangkat bahu tak peduli.


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2