TAKLUK

TAKLUK
I LOVE YOU


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul setengah 5 pagi saat Erina membuka mata. Ia merasa tangan yang digenggamnya bergerak.


"Sayang," terdengar lirih suara Ardian.


Erina langsung mendekat dan memperhatikan wajah Ardian dengan seksama. Benarkah Ardian yang memanggilnya, tapi kenapa matanya belum terbuka? Apakah yang barusan kudengar itu hanya mimpi? Atau Ardian hanya ngelindur? Erina mendekati wajahnya kepada wajah Ardian. Tanpa sadar tatapannya terpaku pada bibir Ardian. Dirabanya bibir Ardian dengan jari telunjuknya. Bibir itu terasa kering. Erina teringat ciuman panas saat mereka di kantor Ardian. Saat Nathalie memergoki mereka. Wajah Erina memanas mengingat saat itu. Bagaimana mungkin ia malah mendesah saat mereka berciuman.


"Di, elo sudah sadar belum? Buruan sadar dong. Yuk kita pulang. Elo taukan kalau gue paling nggak suka rumah sakit. Apalagi kalau gue harus sendirian menemani orang sakit. Seram tau." Erina sibuk bermonolog.


"Ardian, jangan pingsan lama-lama ya. Gue nggak mau sendirian ngurusin anak-anak. Elo kan janji sama gue mau jadi suami dan ayah siaga. Tapi sekarang elo malah nggak menepati janji lo. Elo malah tidur disini. Ayo buruan bangun. Memang sih ada mama Amel, bi Imas dan mbok Siti yang bantuin gue urusin si kembar. Tapi gue kan nggak enak kalau mau nyuruh-nyuruh mereka. Apalagi nyuruh mama Amel. Bisa-bisa gue dibilang menantu durhaka."


"Di, lo tau nggak. Gue baru sadar lho kalau ternyata wajahlo lumayan ganteng. Nggak kalah ganteng dari mantan-mantan gue. Kenapa selama ini gue nggak menyadari hal itu ya? Kenapa sih nggak dari dulu elo bilang kalau elo mencintai gue? Kenapa nggak dari dulu elo nembak gue?"


"Di, ayo buka mata. Lihat nih dari tadi malam gue nungguin elo. Bahkan gue tidur di kursi ini. Gue jadi tahu gimana capeknya elo kalau menemani gue dirawat di rumah sakit. Ih, mana gue sering banget ya masuk rumah sakit. Thanks ya Di, selama ini elo nggak pernah mengeluh nemenin gue di rumah sakit. Ternyata elo memang sahabat gue yang paling pengertian dan paling sayang sama gue. Eh, gue lupa. Sekarang elo bukan sekedar sahabat, tapi elo sudah jadi suami gue."


Erina menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan. Ia menyentuh rambut Ardian yang mulai terlihat panjang dan menutupi keningnya. Terlihat perban menutupi kening Ardian. Erina merasa ngeri sekaligus nyeri saat mengusap perlahan perban itu.


"Di, rambut lo sudah mulai panjang ya. Nanti kalau elo sudah keluar rumah sakit, kita ke salon bareng yuk. Rambut gue juga sudah mulai panjang. Kita treatment bareng ya. Eh, tapi musti tunggu luka-luka lo sembuh ya. Di, bahu kanan lo tulangnya patah. Pasti sakit banget ya. Padahal gue baru mau ngerasain tidur di atas bahu lo, di dalam pelukanlo. Kalau bahu lo sakit, gue nggak bisa bersandar lagi disitu. Di, apakah nanti gue boleh bersandar atau tidur di bahu lo nggak? Gue nggak mau ada cewek lain yang meminjam bahu lo. Apalagi si Nathalie. Bahu lo cuma buat gue dan anak-anak."


Masih panjang yang Erina ucapkan kepada suaminya yang belum juga membuka matanya.


"Di, gue shalat subuh dulu ya. Nanti kalau elo sudah sehat, gue mau shalat berjamaah sama elo. Gue mau elo jadi imam buat gue dan anak-anak kita."


Setelah shalat dan berdoa, Erina kembali ke samping Ardian. Ia yang tadinya duduk di kursi sekarang duduk di atas ranjang. Tangannya kembali mengusap-usap tangan Ardian. Diambilnya body lotion yang ada di dalam tasnya lalu dipakaikan ke tangan Ardian.


"Nah sekarang tangan lo nggak kering lagi. Eh iya, bibirnya gue pakein lipbalm ya biar nggak kering. Tuh kan, bibirnya nggak kering lagi. Di, tangan lo juga sudah wangi lho. Ingat nggak, dulu elo yang pilihin body lotion yang ini. Elo bilang baunya enak. Wangi segar. Nggak terlalu manis. Cocok buat gue yang aktif. Ingat nggak?" Erina kembali mengusap-usap tangan Ardian. "Tangan kamu dingin. Sini gue gowok-gosok biar hangat."

__ADS_1


Ketika Erina sedang menggosok-gosok tangan Ardian tiba-tiba didengarnya Ardian berbisik lirih. Erina mendekatkan wajahnya untuk mendengar lebih jelas apa yang Ardian ucapkan. Saat itulah tiba-tiba tangan kiri Ardian menahan tengkuk Erina dan dengan cepat bibirnya memagut bibir Erina.


"Ardian... emmhhh.... " Erina tak sempat ngomel karena bibirnya telah dilumat oleh Ardian. Anehnya Erina pun tak berkeinginan menjauhkan wajahnya. Ia malah menikmati ciuman tersebut.


"Hai sayang, pagi ini kamu cantik," bisik Ardian di telinga Erina setelah akhirnya ia melepaskan pagutannya.


"Elo jahat!" omel Erina sambil berbisik. Suaranya bercampur dengan isakan. Tangannya memukul dada Ardian.


"Ouch.. sakit sayang." keluh Ardian sambil meringis menahan sakit. Erina lupa kalau Ardian dalam kondisi cedera.


"Eh, maaf Di." Erina langsung mengusap-usap bagian yang tadi dipukulnya. Untunglah ia memukul bagian dada, bukan lengan atau bahu. "Sakit ya?"


"Aku rela kamu pukul asal kamu nggak ninggalin aku," bisik Ardian.


"Elo jahat!"


"Kenapa pingsannya lama banget?"


"Sebenarnya aku sudah terbangun sejak tadi." Ardian menghapus air mata di pipi Erina. "Sstt.. jangan nangis lagi ya."


"Sejak kapan elo bangun?" tanya Erina ketus. Ia buru-buru menghapus air matanya. Ia malu ketahuan menangisi Ardian.


"Sejak ... ya sejak subuh tadi." Ardian menatap mesra Erina. "Sejak kamu belum shalat."


"Berarti .... " Erina tak sanggup meneruskan ucapannya. Wajahnya memerah karena malu.

__ADS_1


"Iya, aku dengar semua ucapanmu. Awalnya kupikir itu mimpi tapi semakin lama semakin jelas. Dan aku sadar itu bukan mimpi saat kamu menyentuh rambut dan keningku."


"Kenapa nggak langsung melek?" tanya Erina kembali dengan nada ketus. Ia mencoba menjauh dari Ardian, namun Ardian menarik tangannya sehingga ia kembali terduduk di samping sang suami.


"Karena aku mau mendengar semuanya." Ardian tersenyum. Tangannya menarik tangan Erina dan mengecupnya.


"Elo sudah mendengar semuanya." Erina menundukkan kepalanya. Ia tak mau Ardian melihat efek dari sikap mesranya. "Kenapa diam saja waktu gue pakein body lotion dan lipbalm? Sengaja ya?"


"Iya sayang. Aku sengaja. Karena kupikir kalau aku membuka mata, maka kamu akan kembali ke sikapmu yang dulu. Bahkan tadi aku sempat berpikir kalau sebaiknya aku tak pernah membuka mata."


"Kenapa begitu?"


"Supaya aku terus dimanja dan disayang seperti tadi. Aku nggak mau itu berakhir." Kembali Ardian menarik Erina dan menciumnya lembut. "Please, jangan tinggalkan aku."


Kali ini Erina benar-benar pasrah dan membalas ciuman mesra Ardian. Keduanya asyik saling ******* hingga akhirnya mereka berhenti karena pasokan oksigen yang semakin menipis.


"Maafin gue ya, Di," bisik Erina lirih.


"Nggak ada yang perlu dimaafkan. Justru aku yang minta maaf karena sering menghabiskan waktu bersama Nathalie. Padahal dia bukan siapa-siapa. Aku juga minta maaf karena tidak menjaga sikapku kepada Nathalie sehingga menimbulkan kesalahpahaman."


"Kebiasaan buruk lo nggak pernah hilang. Selalu memberi harapan palsu pada setiap gadis. Nggak bisa bersikap tegas terhadap mereka. Itu sebabnya banyak gadis yang sakit hati," omel Erina.


"Buatku itu nggak penting. Yang penting adalah aku nggak mau bikin kamu sakit hati. Aku nggak mau memberi harapan palsu kepadamu. Eits, jangan berpikir yang aneh-aneh. Apa yang kurasakan dan kulakukan untukmu adalah tulus."


"Gombal."

__ADS_1


"Rin, I love you so much."


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2