TAKLUK

TAKLUK
ABSURD


__ADS_3

"Bun, malam ini mas nggak makan di rumah ya," ucap Daffa sambil mengoleskan selai ke rotinya.


"Kamu mau kemana? Makan malam dengan Erin?" tanya Mira. Terdengar nada tak suka dalam suaranya.


"Nggak bun. Ada reuni kecil dengan teman-teman yang di London dulu."


"Yang benar?" Mira masih curiga.


"Iya bun. Kalau bunda nggak percaya, bunda boleh telepon mas jam delapan malam nanti."


"Biarkan saja sayang. Daffa kan bukan anak kecil lagi. Usianya sudah mau 30 tahun lho," ucap Irwan yang sedang sibuk menatap gadget di tangannya.


"Tapi sayang...."


"Percaya pada Daffa bun. Kalau memang Daffa mau makan malam dengan Erin, pasti Daffa akan ajak Erin kemari."


"Kenapa begitu?"


"Iya, biar Erin belajar masak sama bunda. Kalau Erin sudah bisa masak, bunda pasti nggak akan menolak dia lagi kan?"


"Bukan itu alasan bunda menolak dia. Tapi masa lalunya...."


"Sayang, tidak sedikit manusia yang memiliki masa lalu yang kurang baik. Tapi banyak juga yang berhasil berubah menjadi lebih baik saat bertemu dengan orang yang tepat."


"Bun, Daffa pun memiliki masa lalu yang tidak bisa dibanggakan," ucap Daffa pelan.


"Apakah kamu sudah menceritakannya pada Erina?" tanya Irwan. Kali ini ia mengangkat pandangannya dari gadget.


"Belum yah. Belum saatnya. Kami masih harus meyakinkan diri kami bahwa ini pilihan yang tepat. Kami tak ingin hubungan ini kandas seperti hubungan kami yang dahulu."


"Mas, bunda dengar mantannya Erin banyak ya?"


"Iya. Lebih banyak dari Daffa," jawab Daffa santai.


"Kamu nggak keberatan? Jangan-jangan dia sudah nggak virgin, mengingat gaya hidup dia." keluh Mira.


"Bun, jangan berprasangka buruk begitu."


"Biasanya kan begitu, mas."


"Erina berbeda bun. Daffa yakin dia masih virgin. Apa perlu Daffa buktikan?" goda Daffa.


"Apa-apaan sih kamu?!" sergah Mira antara terkejut dan kesal. "Jangan aneh-aneh ya kamu."


"Siapa tahu bunda bisa terima Erin dengan tangan terbuka kalau tahu di dalam perut Erin ada calon cucu bunda."


"Iih... amit-amit deh! Nggak ada ceritanya keturunan keluarga kita melakukan hal kayak gitu."


"Bunda lupa gimana liarnya pergaulan Virgo?" tanya Daffa. Tampak ia telah selesai sarapan dan bersiap untuk berangkat.

__ADS_1


"Tapi kan nggak ada yang sampai hamil. Itu juga gara-gara dia kelamaan tinggal di Amerika. Jadi terlalu bebas," sungut Mira kesal mengingat kelakuan keponakannya.


"Sudahlah sayang. Daffa sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya. Biarkan Daffa mencoba menjalani hubungan dengan Erin. Siapa tahu mereka cocok dan bisa menikah dalam waktu dekat."


"Tapi yang, bagaimana tanggapan keluarga besar kita nanti kalau mereka mengetahui latar belakang Erin."


"Bun, mas berangkat dulu ya."


"Apa yang sebenarnya kamu khawatirkan dari Erina? Menurutku dia cukup oke untuk dijadikan menantu, walau mungkin gaya dia berbeda dengan wanita lain. Tapi itu bukan hal besar. Lagipula anak muda jaman sekarang memang begitu," ucap Irwan sepeninggal Daffa. "Dulupun aku seperti itu. Bahkan lebih parah."


"Tapi yang, kamu laki-laki. Dia perempuan." Mira masih menyatakan keberatannya.


"Kita lihat saja dulu sejauh mana mereka melangkah. Kita juga mencoba lebih open minded."


⭐⭐⭐⭐


"Rin, gue bete nih," keluh Ardian saat datang ke kantor Erina.


"Hmm..."


"Rin, dengarkan gue dong." Ardian menutup laptop Erina.


"Di, apaan sih? Kerjaan gue lagi banyak banget nih. Daddy nungguin report ini."


"Tapi gue mau curhat sama elo."


"Oke. Tapi biarin gue selesaikan dulu report ini."


"Justru ini report dari anak buah gue yang harus gue review. Sabarlah. Kira-kira sejam lagi."


"Oke," Ardian menyetujui sambil bersungut-sungut. Ia melangkah menuju mini bar yang ada di dalam ruangan Erina yang cukup luas. "Rin, kok kosong? Minumannya kemana?"


"Gue buang," jawab Erina pendek.


"Demi apa?"


"Gue lagi mencoba berhenti minum."


"Disuruh Daffa?"


"Nggak."


"Ah, nggak percaya! Pasti gara-gara dia. Gue menyesal kenapa kalian musti bertemu." Kali ini Erina menghentikan kegiatannya dan menatap Ardian heran.


"Kenapa begitu? Sebagai sahabat seharusnya elo bersyukur gue mau berubah dan move on dari Zafran."


"Gue nggak suka."


"KENAPA?!" Kali ini nada suara Erina mulai meninggi.

__ADS_1


"Gara-gara dia elo berubah dan menjauh dari gue. Gara-gara dia gue kehilangan elo."


"Apa maksud lo? Kan elo duluan yang minta gue move on. Elo juga yang berniat menjodohkan gue dengan Daffa biar elo bisa tenang menjalin hubungan dengan Giana. Kenapa sekarang pikiran lo berubah?" tanya Erina heran sekaligus kesal.


"Seharusnya gue terima usulan Raina buat married sama elo."


"Di, elo nggak mabok kan? Kemana Ardian yang kemarin bikin planning buat nikah sama Giana?"


"Gue dan Giana putus."


"Again?! Why?"


"Gara-gara elo."


"Kenapa elo selalu menyalahkan gue setiap kali putus?" tanya Erina tak terima.


"Gue pikir kalau gue punya pacar dan elo menjalin hubungan dengan pria lain, gue bisa nggak memikirkan elo lagi. Gue salah. Gue nggak bisa melepaskan pikiran gue dari elo."


"Are you crazy?!"


"Gue sadar Rin. Gue butuh elo. Hidup gue terasa timpang kalau nggak ada elo."


"Jangan main-main, ah! Elo mau nge-prank gue kan? Perasaan ini bukan hari ulang tahun gue."


"Gue serius, Rin." Dan memang Ardian terlihat serius. "Selama ini gue selalu mencari pacar yang sifatnya bertolak belakang dengan elo. Tapi nyatanya tanpa gue sadari gue selalu membandingkan mereka dengan elo."


Erina hanya bisa terdiam mendengar ucapan Ardian yang dianggapnya absurd.


"Elo mabok? Perasaan elo belum minum."


"Batalin rencana lo dengan Daffa."


"Apa maksud lo? Lo berharap kita berdua putus?" Ardian mengangguk serius. "Bercanda lo nggak lucu! Mendingan elo balik deh daripada bikin gw sakit kepala."


"Rin, cuma gue cowok yang bisa menerima elo apa adanya. Cuma gue yang nggak bakal menuntut elo untuk berubah. Elo harus putus dari Daffa. Dia pasti bakal merubah diri lo."


"ARDIAN! Apa-apaan sih elo? Please deh jangan bikin sifat jelek gue muncul." Erina terlihat mulai meradang. Tangannya mengepal tanda ia menahan emosinya. "Mendingan elo keluar sebelum gue panggil security buat menarik lo keluar dari ruangan ini!"


"Rin, gue serius! Will you marry me?" Ardian terlihat serius saat memohon. "Gue akan menjadikan elo wanita paling bahagia di dunia ini."


"Sorry Di, apapun perkataan lo. Gue nggak ada rencana putus dari Daffa."


"Bagaimana kalau dia memiliki masa lalu yang kelam?" celetuk Ardian.


"Masa lalu seperti apa?" tanya Erina penasaran.


"Dia belum cerita ke elo? Sebaiknya elo tanyakan dulu sebelum memutuskan menikah dengan dia. Di saat elo memutuskan untuk mundur, ingatlah gue akan selalu ada buat elo."


Erina termanggu sepeninggal Ardian. Ia selama ini tak berpikir terlalu jauh mengenai masa lalu Daffa. Separah apa masa lalunya sehingga Ardian menyebutkan hal tersebut, tanya Erina dalam hati.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2