TAKLUK

TAKLUK
MELAMAR


__ADS_3

"Daf, elo mau nggak kawin sama gue?"


⭐⭐⭐⭐


Happy reading ❤


Daffa terkekeh mendengar pertanyaan Erina yang dianggapnya absurd.


"Daf, gue nggak bercanda."


"Rin, kamu nggak mabok kan?" tanya Daffa mendadak serius.


"Gue sadar 100%. Gue belum minum."


"Kenapa tiba-tiba kamu ajak aku kawin? Padahal kita baru ketemu lagi setelah reuni 3 bulan yang lalu."


"Elo beda."


"Beda gimana?"


"Ya beda saja. Keliatannya elo orang baik."


"Bagaimana kalau ternyata aku sudah menikah?"


"Ardian sudah cerita kalau elo belum menikah."


"Bagaimana kalau ternyata aku playboy? Atau bagaimana kalau aku psikopat?"


"Kalau playboy nggak mungkin elo pacaran sekian lama dengan Britt. Kalian putus juga gara-gara keyakinan kalian berbeda. Bukan karena elo suka main cewek," jawab Erina yakin.


"Rin, penampilan kamu tomboy. Pembawaan kamu kasar tapi kamu naif."


"Naif?" Daffa mengangguk.


"Bagaimana bisa kamu memiliki pikiran sepolos itu. Aku yakin kamu bukan baru sekali pacaran. Seingatku kamu sempat pacaran dengan Gustav kan? Dan pas reuni kamu dijemput seorang pria tampan yang aku yakin bukan kakakmu."


"Apa hubungannya?"


"Ya aneh aja, baru ketemu lagi, belum ngobrol banyak tiba-tiba kamu ngajak kawin. Dan dengan mudahnya kamu bilang aku beda dan yakin bahwa aku orang baik."


"Tapi elo memang orang baik kan?"


"Banyak yang bilang begitu sih."


"Apa perlu gue tanya ke Brit? Lagipula kalau elo nggak baik, mana mungkin Ardian mau nge-set blind date buat kita."


"Blind date? Aku dan kamu? Serius?" Daffa kembali terkekeh. Erina mengangguk yakin.


"Kenapa? Elo nggak mau?"


"Kata siapa aku nggak mau."

__ADS_1


"Ya sudah, nggak usah pakai blind-date segala. Langsung aja kita nge-date beneran dan nggak usah pacaran kelamaan. Langsung menikah."


"Rin, sabar dong. Menikah bukan perkara mudah."


"Kenapa? Apa menurut lo gue kurang cantik? Gue bukan wife-material? Jangan bilang orang tua lo nggak suka cewek model gue." Erina mengoceh panjang lebar. Daffa hanya memperhatikan sambil mengulum senyum.


"Sudah?" tanya Daffa setelah Erina berhenti mengoceh. "Kata siapa kamu nggak cantik? Kamu itu sejak dulu cantik walau tomboy dan galak. Kalau orang tuaku pemikiranya modern, nggak kolot. Walau mungkin akan keberatan dengan kebiasaan minum dan merokok kamu. Tapi kalau kamu mau pasti bisa merubah itu."


"Lalu kenapa elo menolak?"


"Aku nggak bilang menolak. Tapi dibutuhkan waktu untuk kita saling mengenal. Dulu kita nggak pernah dekat walau satu sekolah."


"Setelah menikah baru kita saling mengenal lebih dalam."


"Rin, kamu segitu kebelet pengen kawin?"


"Bukan gue yang kebelet, tapi eyang yang sudah bolak balik nanyain."


"Pasti mau dijodohin oleh eyangmu?" tebak Daffa tepat.


"Iya."


"Kenapa menolak? Biasanya orang tua pasti sudah memikirkan matang-matang kalau ingin menjodohkan anak atau cucunya."


"Gue nggak mau dijodoh-jodohin. Jaman milenial gini kok masih ada perjodohan."


"Hmmm... bagaimana kalau kita coba nge-date dulu selama beberapa bulan ini?"


"Rin, nggak baik terburu-buru begitu."


"Gue juga sudah bilang begitu ke eyang. Tapi beliau tetap ingin menjodohkan gue kecuali gue bisa membawa calon suami ke hadapan dia."


Daffa menghela nafas. Ia tahu bagaimana perasaan Erina, karena sebenarnya kedua orang tuanya juga ingin menjodohkan dirinya dengan anak sahabat mereka. Sejak ditinggal menikah oleh Brittany yang peranakan Jerman, dua tahun lalu, belum sekalipun Daffa memiliki kekasih lagi.


Flashback on


"Mas, kamu nggak ada niatan mencari pengganti Brittany?" tanya Mira, ibunda Daffa.


"Hmm.." Bukannya menjawab Daffa malah asyik mengganti saluran TV.


"Mas, kalau diajak ngomong bunda jawabnya yang benar," celetuk Rinda, adiknya.


"Cerewet kamu. Anak kecil nggak usah ikut-ikutan."


"Biarpun Rinda lebih muda dari mas Daffa, tapi Rinda sudah mau punya anak. Nggak kayak mas Daffa yang gagal move on dari kak Brit," jawab Rinda tak mau kalah. "Memang susah banget ya ngelupain kak Brit?"


"Iya mas. Usia kamu sudah mau 26 tahun. Paling tidak kamu sudah harus mulai memikirkan mencari calon istri."


"Jodohin aja bun," celetuk Rinda sambil memasukkan potongan strawberry ke mulutnya yang sejak tadi tak berhenti mengunyah.


"Sembarangan kamu," omel Daffa sambil mengacak rambut Rinda.

__ADS_1


"Seru lho mas dijodohin. Apalagi kalau sudah menikah dengan orang tersebut. Setiap hari penuh kejutan."


"Kayak kamu dan Boy?" tanya Daffa. Rinda mengangguk.


"Banyak hal baru yang kita bisa pelajari dari pasangan kita. Apalagi kalau keduanya belum pernah pacaran dan belum tau hal-hal 21+. Semakin semangat mengeksplore walau awalnya malu-malu. Nih buktinya belum setahun menikah, kita sudah mau punya anak."


"Huuu.. itu mah kamu aja yang kegatelan dan kegenitan. Tiap malam minta jatah sama suami. Jadi deh tuh."


"Iih.. ini mah hasil kerja sama yang baik. Weeekk.. mas Daffa ngiri tuh. Nggak bisa melakukan hal-hal yang enak kayak kami," Rinda meledek Daffa.


"Sudah.. sudah... Kalian berdua nih masih kayak anak kecil aja." Mira melerai keduanya.


"Rinda tuh bun yang rese'."


"Mas, bunda serius lho."


"Masalah calon istri?" Mira mengangguk.


"Sabar aja bun. Umur Daffa juga belum 30 tahun. Masih mau merintis karir."


"Mas, kamu mau nggak ayah jodohin sama Melati, anaknya pak Jarwo." Irwan sang ayah, yang baru saja keluar kamar ikut bicara


"Melati yang dulu gendut itu yah?" tanya Rinda dan tak lama tawanya pun pecah.


"Kenapa Rin?" tanya Daffa penasaran.


"Mas, mendingan buruan cari pacar deh kalau nggak mau dijodohin sama si Melati."


"Emangnya kenapa?"


"Eeeengh... nggak apa-apa. Cuma yang Rinda tau, si Melati itu hmm.. kurang cantik dan ... gimana ya bilangnya. Hmm... pokoknya bukan selera mas Daffa deh."


"Tapi yang bunda tau, si Melati karirnya bagus, pintar dan jago masak."


"Jago masak dan tukang makan bun. Dulu kan kak Boy, teman kuliah si Melati. Dulu bodynya nggak banget deh. Sekarang agak langsingan lah."


"Waah, body shaming kamu. Ingat, lagi hamil jangan suka ngata-ngatain orang." Daffa mengingatkan.


"Bagaimana dengan Siska, keponakan pak Dipta. Itu lho, yang kerja sebagai notaris. Penghasilannya lumayan lho." Mira ikut mengajukan calon. "Atau mau cari yang shalihah seperti Abel, anak ustadz Mahmud?"


"Bunda, ayah, Rinda, aku tau maksud kalian baik. Tapi aku masih belum berpikir ke situ. Daffa masih mau membesarkan perusahaan ayah."


"Tapi mas... "


"Bunda dan ayah percaya deh sama Daffa. Kalau nanti Daffa menemukan calon yang tepat, pasti akan Daffa kenalkan ke kalian."


"Mas, ayah dan bunda nggak akan ikut campur mengenai bagaimana memilih calon istri. Yang penting buat kami, mas nyaman dan yakin bisa membimbing gadis tersebut menjadi istri dan calon ibu yang baik."


Daffa memeluk sang bunda penuh rasa sayang. Ia sangat bersyukur kedua orang tuanya tidak pernah memaksakan kehendak mereka. Walau hal itu tidak berlaku untuk Rinda.


Flashback off

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2