
"Bos, are you okay?" tanya sang asisten.
"Aku harus bagaimana? Aku sudah mengecewakan semua orang."
"Tenang bos. Jangan panik begitu. Bukankah di negara ini melakukan one night stand adalah hal biasa."
"Dia masih perawan. Aku melakukannya tanpa sadar. Ada seseorang yang memasukkan alkohol dan obat perangsang ke dalam minumanku. Aku telah memperkosa seorang gadis."
Sang asisten hanya bisa terdiam. Ini adalah kesalahannya karena semalam tidak menemani bosnya pergi ke club.
"Maafkan saya bos. Ini salah saya karena tak bisa menjaga anda. Biar saya yang mengambil alih tanggung jawab bila gadis itu menuntut."
"Jangan! Kamu nggak salah. Semalam aku yang melarangmu ikut karena kamu kurang sehat. Itu juga keinginanku pergi dengan mereka untuk melepas penat."
"Tapi bos... orang tua anda pasti marah. Demikian juga dengan kekasih anda. Saya tak yakin dia bisa menerima hal ini."
Mereka berdua terdiam tak tahu harus bagaimana.
"Bos, kita lihat saja bagaimana kelanjutannya. Kalau wanita itu tidak menuntut itu artinya anda aman. Tapi kalau wanita itu menuntut kita coba cari jalan damai. Bagaimana?"
"Bagaimana kalau dia menuduhku sebagai pemerkosa dan membawa masalah ini ke ranah hukum. Kamu tahu bagaimana hukum di negara ini. Apalagi aku hanya seorang mahasiswa."
"Saran saya, anda jujur saja pada kedua orang tua kalau memang ada tuntutan hukum dari gadis itu," usul sang asisten. "Keluarga besar anda pasti akan dapat menangani masalah tersebut. Jangan lupa, ada pengacara-pengacara handal dalam keluarga anda."
FLASHBACK OFF
Erina terdiam setelah mendengar kisah yang meluncur dari mulut sang kekasih. Sementara itu Daffa hanya mampu menghela nafas kasar setelah menceritakan masa lalunya. Ada sedikit rasa lega namun di saat yang bersamaan ia merasa khawatir.
"Apakah gadis itu Honey? Apakah dia hamil dan menuntut untuk dinikahi?" Daffa tak langsung menjawab. Ia menundukkan kepalanya. "Jawab Daf!"
"Ya, gadis itu Honey. Ia hamil akibat perbuatanku malam itu. Padahal saat itu usianya belum lagi 20. Tadinya ia tak ingin menuntutku karena ia tahu aku melakukannya dalam keadaan tak sadar. Tapi keadaan berubah saat ayahnya meninggal dalam kecelakaan."
"Apakah itu ada hubungannya dengan ini?" Erina memperlihatkan foto-foto surat kaleng yang diterimanya.
"Rin, apa ini?!" tanya Daffa kaget.
"Seperti yang kamu lihat. Itu surat-surat kaleng yang kuterima belum lama ini. Ini yang membuatku penasaran."
__ADS_1
"Katakan padaku, dari mana kamu mendapatkan foto-foto tadi?" desak Daffa.
"Seorang gadis blasteran menemuiku. Aku tak tahu siapa namanya. Tapi ia mengaku sebagai kakak dari Honey."
"Melody," ucap Daffa pelan.
"Siapa Melody? Benarkah ia kakaknya Honey?"
"Melody adalah kakak satu bapak dengan Honey. Ibunya orang Indonesia. Sementara ibunya Honey orang Vietnam."
"Mereka berdua sejak kecil dirawat oleh ibunya Honey karena ibunya Melody meninggal saat melahirkan dia."
"Melody menginginkanmu," ucap Erina pelan.
"Apa maksudmu?"
"Bukan hanya Honey yang menginginkanmu, tapi juga Melody."
"Aku tak peduli dengan hal itu!" sergah Daffa keras.
"Daf, tolong jelaskan padaku kenapa Melody mengatakan kamulah yang membunuh ayah mereka? Apa itu benar?"
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu begitu sial?"
"Ini karena hatiku lemah. Aku tak sanggup menerima kenyataan pahit yang bertubi-tubi. Honey hamil, orang tuaku marah, Brit memutuskan hubungan. Gara-gara itu semua aku lagi-lagi mabuk. Saat mabuk itu aku menabrak seseorang."
"Apakah itu ayahnya Honey?" tanya Erina hati-hati. Lagi-lagi Daffa mengangguk.
"Gara-gara menyetir dalam keadaan mabuk bahkan hingga menyebabkan nyawa seseorang meninggal, aku sempat ditahan. Berkat om Irman dan tante Irma, hukumanku dibatalkan dan diganti dengan denda yang sangat besar," jelas Daffa. "Saat itu aku nggak tau kalau pria yang kutabrak adalah ayahnya Honey. Aku baru mengetahui hal itu saat di pengadilan."
"Apakah itu yang membuatmu mengambil keputusan menikahi Honey?"
"Aku tak pernah menikahi dia. Aku hanya bertanggung jawab atas hidupnya dan anak kami."
Anak kami. Mendengar kata-kata itu membuat hati Erina seolah tertusuk sembilu.
"Aku telah berjanji akan menjaga Honey dan anak kami."
__ADS_1
"Sampai kapan?" tanya Erina. Hatinya mulai goyah dengan emosi yang mulai memuncak.
"Apa maksudmu?"
"Apakah kamu akan melepaskan wanita itu atau tetap menjadi penanggung jawabnya?"
"Rin, tak bisakah kamu mendampingiku? Percayalah aku hanya mencintaimu. Aku tak pernah mencintai wanita itu. Aku hanya tak ingin menelantarkan anak kami."
Lagi-lagi anak kami. Seolah mereka melakukan itu dengan cinta. Seolah anak itu adalah anak yang mereka nantikan.
"Tapi kalian terlihat bahagia saat bersama. Seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia," sindir Erina. "Di foto itu kamu tersenyum lebar penuh kebahagiaan. Bila orang tak tahu mengenai masa lalu kalian, mereka pasti berpikir kalian adalah keluarga bahagia yang terpaksa harus menjalani LDR. Atau memang begitu kenyataannya?"
"Rin. Aku tak pernah mencintai dia dan yang kuinginkan menjadi pendamping hidupku hanya kamu."
"Bagaimana dengan anak kalian?"
"Tak kan ada yang berubah. Aku tetap akan bertanggung jawab atas hidup mereka. Aku tak ingin melanggar janji yang telah kubuat. Hanya itu hubungan kami, tak lebih."
Hati Erina sakit saat mendengar jawaban Daffa. Itu artinya aku harus berbagi dengan wanita lain. Suatu hal yang sangat kubenci sejak dulu hingga saat ini. Apakah Daffa lupa mengenai hal ini? Mengapa ia memintaku membagi dirinya dengan dua perempuan lain? Honey dan anak mereka.
"Please Rin, jangan tinggalkan aku. I really love you. I don't think I can live without you."
"Daf, kamu tahu aku nggak bisa membagi priaku dengan wanita lain. Kamu tahu itu alasanku putus dengan para mantanku. Kalau memang aku mau berbagi dengan wanita lain, maka aku takkan memilih meninggalkan Zafran."
"Please Rin. Untuk kali ini buatlah pengecualian untukku. Kupastikan takkan membagi hatiku dengan wanita lain. Hanya kamu satu-satunya wanita di hatiku."
"Hatimu takkan mungkin bisa hanya untuk aku. Ada orang yang akan selalu mengisi hatimu walaupun kamu nggak mencintai Honey. Tapi aku yakin kamu pasti mencintai anak itu."
Kali ini Daffa tak membantah ucapan Erina. Ia memang sangat mencintai Erina, wanita yang akan mendampingi hidupnya. Tapi ia pun tak bisa begitu saja melupakan janji yang sudah dibuatnya. Apalagi Chloe adalah anaknya, darah dagingnya yang terlahir akibat kesalahannya.
"Tapi sayang..."
"Tolong kamu pikirkan baik-baik siapa yang akan dipilih. Aku atau mereka?" Erina berusaha menahan tangisnya. Walaupun penampilannya terlihat tegar dan tomboy, ia tetaplah seorang gadis biasa.
"Rin, dengarkan dulu alasanku kenapa aku tak bisa melepaskan mereka. Ada alasan lain kenapa aku nggak bisa melepaskan mereka. Itu karena... karena Honey sakit parah."
Erina terkejut mendengar kalimat terakhir yang Daffa ucapkan. Apakah ini artinya sekali lagi aku harus mengucapkan selamat tinggal? tanya Erina. Tanpa menunggu kelanjutannya, Erina tahu siapa yang akan dipilih oleh Daffa.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐