TAKLUK

TAKLUK
MAAF


__ADS_3

Erina terkejut mendengar kalimat terakhir yang Daffa ucapkan. Apakah ini artinya sekali lagi aku harus mengucapkan selamat tinggal? tanya Erina. Tanpa menunggu kelanjutannya, Erina tahu siapa yang akan dipilih oleh Daffa.


⭐⭐⭐⭐


Happy reading ❤


"Apakah itu artinya ini pertemuan terakhir kita?" tanya Erina.


"Apa maksudmu? Rin, percayalah padaku hanya ada kamu di hatiku. Aku hanya tak ingin melepaskan tanggung jawabku terhadap mereka. Aku sudah merusak kehidupan gadis itu. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk dia."


"Maaf Daf, sepertinya lagi-lagi aku hadir sebagai perusak kebahagiaan orang lain. Mungkin bagimu, Honey tak memiliki arti apapun dalam hidupmu. Namun lain halnya dengan gadis kecil itu. Dia adalah anakmu, darah dagingmu. Sampai kapanpun hal itu tak terbantahkan."


"Tak bisakah aku tetap memilikimu tapi tetap membersamai mereka?" tanya Daffa putus asa. "Seperti yang kamu bilang, Chloe darah dagingku. Aku menyayangi dia walaupun dia hadir ke dunia ini melalui sebuah kesalahan."


Kembali hati Erina tersayat mendengar perkataan Daffa. Fix, Daffa tak bisa meninggalkan mereka.


"Daf, perhatikan foto-foto ini. Takkah kamu lihat bagaimana cara Honey menatapmu?"


"Dia tidak mencintaiku, sayang. Hubungan kami hanya sebatas mengasuh anak bersama. Tak lebih."


"Pernahkah kamu melihat atau mengetahui Honey memiliki hubungan dengan pria lain?" Daffa menggeleng. Erina tersenyum tipis. "Daf, kamu bodoh."


"Apa maksudmu?"


"Aku saja bisa mengetahui bagaimana perasaan wanita ini kepadamu. Bahkan foto ini menunjukkan bagaimana bahagianya dia saat bersamamu. Gadis itu mencintaimu. Mungkin awal mula hubungan kalian memang hanya untuk mengasuh anak bersama, tapi wanita memiliki perasaan yang gampang goyah. Seiring kebersamaan kalian, ia pasti jatuh cinta padamu."


"Itu nggak mungkin, sayang."


"Daf, aku saja yang baru sebentar mengenalmu bisa jatuh cinta padamu. Apalagi dia."


"Rin, kamu cinta padaku?" Kali ini Erina membuang pandang, menghindari tatapan Daffa. Ya. aku mencintaimu, jerit Erina dalam hati.


"Hal itu sudah tak penting lagi Daf."

__ADS_1


"Sayang, kita saling mencintai. Kurasa itu bisa menjadi landasan hubungan kita. Tak bisakah itu menjadi pertimbangan bagimu untuk tetap di sampingku?" Daffa meraih jemari Erina dan menciumnya lembut.


"Maaf Daf, itu nggak mungkin. Sudah menjadi prinsipku untuk tidak menjadi duri dalam hubungan orang lain."


Erina melepaskan tangannya yang digenggam Daffa. Ia memandang cincin yang melingkar di jari manisnya. Betapa tragis jalan hidupku. Di saat sebuah cincin melingkar di jari manisku, ada kenyataan lain yang merusak kebahagiaanku. Di saat sebuah keluarga dapat menerima diriku, ada keluarga lain yang harus hancur karena kehadiranku.


"Please sayang, jangan suruh aku memilih. Aku menginginkanmu dan juga mereka dalam hidupku."


"Daf, pernahkah kamu memikirkan bagaimana rasanya menyerahkan orang yang dicintai kepada orang lain? Mungkin kamu belum pernah mengalami hal itu. Rasanya sakit, amat sakit. Dan itu sudah kualami berkali-kali. Jadi aku tahu bagaimana sakitnya perasaan Honey saat mendengar kamu mencintai wanita lain, bahkan akan menikah dengan wanita tersebut. Sementara itu, ia dan anakmu selama bertahun-tahun menunggumu untuk membentuk sebuah keluarga bahagia."


Daffa terdiam mendengar ucapan Erina. Berbagai perasaan berkecamuk. Ia sangat mencintai Erina, namun Honey dan Chloe sudah menjadi bagian dari hidupnya selama beberapa tahun terakhir ini.


"Apakah itu artinya kamu mengorbankan hubungan kita?" tanya Daffa perlahan. Ditatapnya gelas yang ada di hadapannya.


"Hubungan yang terjalin tak ada artinya dibandingkan dengan hubungan yang telah terbentuk di antara kalian bertiga. Selama bertahun-tahun mereka mengisi hidupmu. Jangan bandingkan itu dengan hubungan kita yang baru terbilang bulan. Bukankah akan lebih mudah menghapus yang baru saja ditulis daripada yang sudah lama terpatri?"


Daffa menghela nafas kasar. Ia menyadari akan sulit membujuk Erina untuk menerima masa lalunya. Sama seperti Brittany saat mengetahuinya.


"Rin, tak bisakah kita memulainya lagi dari awal?"


"Seandainya aku tahu akan seperti ini, mungkin aku takkan membiarkan perasaanku terhanyut lebih dalam. Aku begitu bahagia menemukan pria yang mencintaiku. Bukan hanya itu, aku sangat bahagia akhirnya bisa menemukan keluarga yang hangat dan bisa menerima diriku apa adanya. Sayangnya semua itu harus hancur karena kebohonganmu."


"Ini yang kutakutkan. Kamu akan meninggalkanku. Sama seperti Brit meninggalkanku," ucap Daffa setengah berbisik. "Aku tak sanggup mengatakan yang sejujurnya karena aku tahu takkan ada wanita yang bisa menerima hal ini."


"Bukan masalah bisa menerimanya atau tidak. Tapi kejujuranmu yang kuragukan. Kenapa kamu berbohong mengenai alasanmu putus dengan Brit? Kenapa kamu tak pernah menceritakan apa yang sebenarnya kamu kerjakan saat ke London? Kamu dan keluargamu menutupi itu semua dengan rapi. Entah kebohongan apa lagi yang kalian sembunyikan."


"Apakah kamu bisa menerimanya bila sejak awal kuceritakan mengenai masa laluku?"


"Hal itu mungkin saja akan membuat perbedaan. Karena sejak awal yang kuinginkan dalam sebuah hubungan adalah kejujuran. Aku sudah muak dibohongi. Gustav, Pras, Zafran dan kini dirimu. Kalian semua membohongiku. Kalian bilang mencintaiku, namun ternyata kalian memiliki wanita lain dalam hidup kalian."


"Mereka hanya bagian dari masa laluku, sayang."


"Mereka bukan masa lalumu saja, Daf. Mereka adalah kehidupanmu saat ini dan mungkin saja akan menjadi masa depanmu."

__ADS_1


"Apakah akan berbeda bila aku memutus hubunganku dengan mereka?"


"Aku tahu kamu takkan sanggup dan nggak akan mau melakukan itu. Karena kamu itu orang baik. Itu yang menyebabkan aku tertarik padamu. Namun sayangnya kamu tak jujur sejak awal. Demikian juga keluargamu. Hal itu sangat kusayangkan. Mungkin bila aku tak menerima surat kaleng dan tidak melihat foto-foto ini, kamu masih akan terus membohongiku."


"Sayang, semua kebohongan ini kulakukan demi hubungan kita."


"Yang namanya kebohongan, apapun alasan dibalik itu semua tetaplah bukan hal yang baik."


"Lalu bagaimana kelanjutan hubungan kita?" tanya Daffa pasrah. "Aku tak bisa membiarkan Honey sendirian menghadapi penyakitnya. Chloe pun membutuhkanku sebagai ayahnya. Apakah kamu tak bisa bersabar sedikit lagi?"


Erina tersenyum tipis. Ia tak bisa memungkiri kenyataan hatinya terluka dan sakit karena Daffa tak bisa melepaskan mereka. Sekali lagi dipandangnya cincin yang melingkar di jarinya.


"Daf, cincin ini sangat indah. Lama kumimpikan sebentuk cincin terpasang jari ini."


"Sayang, cincin itu bukti cintaku padamu. Keindahannya tak bisa mengalahkan kecantikanmu."


"Sayangnya cincin ini tak seharusnya melingkar disini."


"Cincin itu memang seharusnya disitu."


"Daf, terima kasih karena sudah mau menerima lamaranku. Kamu pria yang sangat baik dan penuh kasih sayang. Kebersamaan kita yang singkat ini mampu membuatku menjadi wanita yang baik. Aku sangat berterima kasih untuk itu. Begitu juga perhatian dan kebaikan keluargamu mampu mengubahku."


"Please Rin, tak cukupkah semua alasan itu untuk memaafkanku dan melanjutkan hubungan kita?" Daffa tahu keputusan apa yang akan diambil oleh Erina. Namun ia berharap Erina masih bisa merubah keputusannya.


Erina memandang Daffa lalu memandang cincin di jarinya. Perlahan ia melepaskan cincin itu dan meletakkannya di atas meja.


"Rin....."


"Sayangnya cincin ini bukan disini tempatnya. Kukembalikan cincin ini padamu. Berikan cincin ini pada dia yang menjadi ibu dari anakmu. Berikan pada dia yang telah bertahun- tahun berbagi kebahagiaan denganmu. Maafkan aku tak bisa melangkah bersamamu lagi." Erina mencium pipi Daffa lalu berdiri dan meninggalkan Daffa yang masih terdiam.


Please Daf, tahan aku, kejar aku, jerit Erina dalam hati. Namun hingga langkahnya mencapai tangga, hal itu tak terjadi. Daffa yang masih shock hanya terduduk diam memandang cincin yang Erina letakkan di meja.


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2