TAKLUK

TAKLUK
COLLAPSE


__ADS_3

"Sorry karena dengan egoisnya gue sudah membuat hidup lo susah. Ijinkan gue menebusnya dengan mengurus dan mendampingi lo seumur hidup gue." ucap Ardian lemah. "Sekarang elo minum susu dan makan ya. Gue nggak mau elo dan anak kita sakit."


⭐⭐⭐⭐


Ardian mengambil nampan yang tadi ia bawa masuk. Entah malaikat mana yang menyenggol Erina, kali ini ia menuruti permintaan Ardian. Diterimanya cangkir berisi susu dan diminumnya pelan-pelan. Ia khawatir akan mual dan muntah seperti biasa. Ajaibnya ia bisa meminum susu itu sampai habis tanpa merasa mual.


"Good girl." Ardian mengambil cangkir yang sudah kosong. "Sekarang pelan-pelan lo makan sandwich ini."


"Nggak mau."


"Kenapa nggak mau?"


"Nanti gue muntah," jawab Erina ketus. "Gue capek muntah terus."


"Pelan-pelan saja. Sini gue ngomong sama anak kita supaya nggak membuat elo repot."


"Apaan sih lo? Mana bisa ngomong sama bayi yang masih ada di dalam perut," tolak Erina.


"Let me try, okay?"


Sekali lagi malaikat menyenggol Erina. Ia membiarkan Ardian mendekat. Merasa mendapat angin, Ardian mencoba mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut yang masih tampak rata itu.


"Mau ngapain lo?!" tanya Erina keras. Ia kaget melihat tangan Ardian yang terjulur. "Nggak usah aneh-aneh. Nggak usah pake menyentuh perut gue. Modus banget!"


Ardian diam-diam tersenyum mendengar omelan Erina. Ia merasa bahagia Erina memarahinya


"Ngapain senyum-senyum? NGGAK JELAS!"


"Gue bahagia, Rin. Gue bahagia elo balik kayak dulu. Ketus dan judes." Mata Erina membulat mendengar ucapan Ardian yang dianggapnya absurd. "Oke, gue akan bicara dari sini aja."


Erina menatap Ardian dengan siaga. Bersiap-siap menghajar Ardian bila dia bertindak aneh.


"My baby, tolong bantu mimi kamu. Sekarang mimi mau makan supaya kamu tambah sehat dan cepat besar. Kamu jangan nakal ya di dalam sana. Kalau kamu nakal, mimi nggak bisa makan. Bantu mimi supaya tidak mual ya. Di sini pipi akan menjaga kamu dan mimi. Oh ya, kalau kamu pengen sesuatu kasih tahu mimi ya."


Sebenarnya Erina ingin tertawa melihat gaya Ardian bicara di depan perutnya. Apalagi mendengar Ardian membahasakan diri mereka mimi dan pipi. Lebay dan norak. Tapi sekuat tenaga ia tahan tawanya. Biar bagaimanapun ia masih marah pada Ardian.

__ADS_1


"Makan, Rin. Insyaa Allah elo nggak akan mual." Ardian menyodorkan piring berisi sandwich dan potongan jeruk sunkist.


Pelan-pelan Erina menyambil sandwich dari piring tersebut lalu memakannya dengan perasaan khawatir. Gigitan pertama, Erina mengunyah hati-hati. Tak ada yang terjadi. Ia tak mual. Gigitan kedua, kali ini lebih besar dari gigitan pertama. Ia kembali mengunyah pelan-pelan. Aman. Ia sama sekali tak merasa mual. Malah ia mulai merasa kelaparan.


Ardian memperhatikan tingkah Erina dengan perasaan cemas. Yuna sudah bercerita kalau Erina sering mual dan muntah bila makan. Untunglah hal itu tak terjadi. Ardian tak banyak bicara. Hatinya bahagia melihat Erina makan dengan lahap hingga menghabiskan sandwich dan buah yang disediakan.


"Gimana? Masih mual?" Erina menggeleng. "Kamu mau minum apa? Air putih hangat, teh atau mau susu lagi?"


"Gue pengen minum teh jahe."


"Hah?! Teh jahe?" Erina mengangguk. Ardian menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Minum air putih hangat dulu ya. Gue kasih tau bi Sumi untuk buatin teh jahe."


"Gue mau teh jahe sekarang. Buatan elo." Ardian terbelalak mendengar permintaan Erina.


"Buatan gue? Gue nggak bisa. Sebentar gue minta bi Imas atau aunty Yuna supaya membuatkan teh jahenya."


"Cih, gaya-gayaan bilang mau mengurus dan membahagiakan gue. Hanya permintaan kecil seperti itu aja elo nggak bisa penuhi," ucap Erina sinis. Kembali Ardian hanya bisa menggaruk kepalanya.


"Oke, oke. Gue ke dapur dulu. Semoga di dapur ada bahan-bahannya. Tunggu ya." Ardian buru-buru keluar kamar.


"Rin, ini teh jahenya sudah ja.... " Ardian yang masuk membawa pesanan Erina terpaku melihat gadis yang dicintainya tertidur pulas.


"Di, gimana teh jahe.... Lho, anak ini sudah dibuatkan minuman kok malah tidur," ujar Yuna yang masuk belakangan.


"Nggak apa-apa aunty. Biarin Erin tidur." Ardian menaruh cangkir berisi teh jahe di atas meja rias. Kemudian ia mendekati Erina dan menyelimuti gadis itu.


"Terima kasih ya, Di. Karena kamu Erin mau makan. Biasanya dia nggak pernah menghabiskan susu dan makanan yang aunty siapkan. Makanya berat badannya turun hampir 3 kg. Setiap kali makan pasti keluar lagi."


"Sudah kewajiban Ardi menjaga Erin. Maafin perbuatan Ardi." Ardian menatap Erina yang tertidur dengan tenang.


"Kamu tahu nggak, aunty rasa si jabang bayi bisa merasakan kehadiran daddynya. Percaya nggak percaya, karena ada kamu di sampingnya maka Erin tidak mengalami morning sickness." Yuna menepuk-nepuk bahu Ardian.


"Ah, itu kebetulan saja aunty."


"Itu bukan kebetulan. Tadi kamu sempat bilang kan kalau kamu mengajak bayi kalian bicara. Walaupun bayi yang berada dalam kandungan berusia 3 bulan belum memiliki ruh, tapi sepertinya sudah ada koneksi dengan orang tuanya."

__ADS_1


"Sayangnya Erina masih belum bisa menerima keinginan tulus Ardi untuk bertanggung jawab," ujar Ardian pelan.


"Apakah kamu akan menyerah?" tanya Yuna.


"Ardi nggak akan menyerah. Kalau uncle dan aunty memberikan restu, maka Ardi akan terus memperjuangkan cinta Erina."


⭐⭐⭐⭐


Andrew menatap lembaran surat di atas meja kerjanya. Surat dari para subcont yang terpaksa ia batalkan proyeknya.


"Bagaimana mister Andrew?" tanya Henry. "Apa tindak lanjut kita?"


"Henry, apakah mereka akan lewat jalur hukum bila kita tidak membayar ganti rugi?"


"Sepertinya begitu mister Andrew. Kemarin pengacara mereka memberitahu secara lisan mengenai hal tersebut."


"Vino, bagaimana dengan kondisi keuangan perusahaan kita?" tanya Andrew pada Vino, direktur keuangan di perusahaan miliknya.


"Akibat penundaan dan pembatalan proyek otomatis income perusahaan terganggu. Yang pasti, income dari proyek Prince Building belum terealisasi 100%. Berdasarkan project report yang masuk, pekerjaaan kita baru 75%. Income yang masuk baru 80%. Sesuai perjanjian mereka akan melunasi setelah proyek selesai dan melewati masa retensi. Bila sesuai perkiraan pelunasan baru akan terjadi kurang lebih enam bulan lagi."


Andrew menghela nafas berat. Ia tak menyangka putusnya pertunangan Erina dan Daffa memberi dampak yang kurang baik bagi perusahaan. Ia tak menceritakan hal ini pada Yuna dan Erina. Ia tak mau membuat mereka stress.


"Apakah sebaiknya kita mencari pinjaman bank untuk membayar ganti rugi tersebut. Tidak usah long-term, cukup sampai proyek Prince Building lunas," usul Vino.


"Saya kurang setuju. Pinjaman bank hanya akan menambah beban perusahaan kita. Karena saat ini saja perusahaan kita masih terikat hutang pada Bank Androstar." tolak Siska, manager Akunting. "Di atas kertas saat ini hutang kita lebih besar. Kalau ditambah lagi maka tidak mustahil perusahaan akan bangkrut."


"Androstar milik tuan Anto Pranoto?" tanya Henry. Siska mengangguk.


"Kenapa Hen?"


"Anto Pronoto adalah kakak ipar tuan Irwan Hermanto," jawab Henry sambil memperlihatkan sebuah dokumen kepada Andrew.


"Oh my God!" Andrew mendadak pusing dan dada kirinya sakit. Ia bersandar pada kursinya dan berusaha mengatur nafasnya, namun sepertinya tubuhnya terlalu lelah. Tak lama semuanya menjadi gelap.


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2