
"Kalian mau terus berdebat? Gue mau makan, Di. Oh ya Daf, aku bisa kok makan sendiri. Thanks anyway," potong Erina sebelum Ardian menyelesaikan ucapannya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Happy Reading ❤
Ardian kini menatap tajam Erina. Namun yang ditatap bersikap tak peduli. Erina dengan sengaja fokus kepada makanan yang ada di hadapannya. Sementara itu kedua pria tersebut duduk di samping kanan dan kiri ranjang rumah sakit. Tak satupun di antara mereka mencoba berbincang. Keduanya fokus memperhatikan Erina.
"Sudah, Di. Gue sudah kenyang."
"Kamu mau minum apa biar aku pesankan dari pantry," tanya Daffa lembut.
"Gue sudah bikinin dia teh hangat," ucap Ardian sambil membawakan teh hangat untuk Erina.
"Iya Daf, aku minum teh hangat saja." Kali ini Daffa tak memaksa. Ia selalu menatap Erina dengan pandangan mesra. Tampak kerinduan yang mendalam di sorot matanya. Tangannya tak pernah melepaskan tangan Erina. Bahkan kini ia mengelus perlahan punggung tangan Erina. Ardian menyadari hal itu. Lagi-lagi hatinya terasa sakit meskipun Erina tak membalas perhatian Daffa.
"Rin, kenapa bisa kecelakaan?" tanya Daffa setelah Erina selesai makan.
"Aku nggak tau persis bagaimana kejadiannya. Sepulang makan tadi malam, aku tertidur di mobil Lexi. Aku terbangun karena kepalaku terbentur kaca jendela mobil."
"Apa? Lalu apa kata dokter? Kepalamu nggak ada yang berdarah kan?" tanya Daffa cemas.
Kenapa dia begitu cemas, apakah karena dia benar-benar mencintai Erina, batin Ardian.
"I'm okay. Dokter menyuruhku menginap malam ini karena ingin melakukan observasi apakah ada gejala lanjutan. Karena semalam perutku sakit. Mungkin karena tertahan seatbelt."
"Sekarang perutmu bagaimana? Apa kata dokter?"
"Sudah di USG, semuanya baik-baik saja. Aku tinggal menunggu dokter visit, lalu aku akan minta pulang."
__ADS_1
"Sebaiknya kamu tetap dirawat sampai keadaanmu benar-benar pulih." bujuk Daffa. Biar aku bisa lebih sering bertemu denganmu, batin Daffa.
"Ah, aku nggak suka berada di rumah sakit. Lagipula kecelakaan yang kami alami cuma kecelakaan minor. Nothing serious. Bahkan semalam Lexi sudah dibawa pulang suaminya."
Ardian tak ikut berbicara. Setelah Erina selesai makan, ia sibuk membereskan sisa-sisa makanan dan minum. Hatinya merasa bahagia melihat Erina lahap makannya. Namun disaat bersamaan rasa tak suka kerap muncul saat melihat sikap Daffa yang mesra pada Erina. Dan sialnya, Erina tak terlihat menolak perlakuan Daffa tersebut.
"Rin, bisa aku bicara denganmu?"
"Silakan. Toh sejak tadi kamu juga sudah berbicara denganku."
Daffa terlihat menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan. Ardian memperhatikan semua itu. Perasaannya ikut tak karuan, mencoba menebak apa yang akan Daffa katakan pada Erina.
"I love you. Will you marry me?"
Baik Ardian maupun Erina tersentak mendengar pertanyaan itu. Keduanya saling pandang. Ardian yang lebih dulu memutus tatapan mereka. Entah kenapa ada sedikit perasaan kecewa di hati Erina saat melihat sikap Ardian. Apakah dia nggak cemburu ada pria lain yang melamar istrinya? tanya Erina dalam hati. Cih, bilangnya cinta tapi kenapa diam saja saat istrinya dilamar mantan tunangannya.
"Sorry Daf, I'm pregnant other man kids," jawab Erina. Daffa tersentak mendengar jawaban Erina. Walaupun ia sudah mengetahui hal itu namun mendengarnya langsung dari mulut Erina cukup membuatnya terkejut. "Aku nggak pantas menjadi istrimu."
What? Semudah itu? pikir Erina tak percaya. Apakah dia benar-benar nggak peduli dengan hal itu? Benarkah ia takkan mengungkit status anak-anakku? Bagaimana mungkin dia bisa menerima anak-anak yang bukan darah dagingnya.
"Apakah kamu kini sudah bisa melepas Honey dan anaknya? Apakah kamu kini lebih memilihku?" Daffa terdiam mendengar pertanyaan Erina. Ardian yang dari tadi memasang kuping juga menunggu jawaban Daffa.
"Kamu nggak bisa langsung menjawab pertanyaanku. Itu artinya bila nanti aku menikah denganmu maka aku harus membagi dirimu dengan mereka."
"Sayang, situasi kita sama. Aku juga harus membagi dirimu dengan anak-anakmu."
"Itu hal yang berbeda Daffa. Setidaknya kalau kita menikah aku takkan membuatmu berbagi dengan pria lain," ucap Erina datar. "Bila aku menikahimu maka hati dan diriku seutuhnya milikmu."
Dueeeeng!! Hati Ardian seperti disayat saat mendengar ucapan Erina. Apakah itu artinya Erina akan menerima lamaran Daffa? Ardian pura-pura sibuk memeriksa email di ponselnya walau kupingnya terus siaga memantau percakapan Erina dan Daffa. Karena pandangannya hanya ke ponsel, Ardian tak tahu Erina beberapa kali menoleh ke arahnya. Erina ingin mengetahui bagaimana reaksi Ardian. Kini hati Erina yang mencelos karena Ardian terlihat tak peduli.
__ADS_1
"Please Rin, marry me. I really love you. I can't live without you." Lama Erina terdiam dan tak menjawab pernyataan Daffa.
"You know me. Aku nggak bisa membuat wanita lain bersedih karena perbuatanku. Aku tahu bagaimana perasaan seorang wanita yang mencintai namun tak dicintai balik. Aku tahu pedihnya karena priaku memiliki wanita lain. Keputusanku tetap sama. Aku nggak bisa menikahimu." Tanpa sadar Ardian menghela nafas lega. Hal itu membuat Erina dan Daffa serentak menoleh ke arahnya.
"Are you happy Di?" tanya Erina. "What make you happy?"
"Oh ini, tender yang kuajukan lolos. Jelas aku sangat bahagia dengan keputusan tersebut," jawab Ardian absurd. Erina menatap Ardian tajam. Sesaat pandangan mereka bertemu namun tak lama karena Daffa kembali menuntut perhatian Erina.
"Rin, siapa pria yang menghamilimu?" tanya Daffa tiba-tiba.
"Untuk apa kamu menanyakan hal itu? Semua sudah terjadi. Kini ada dua makhluk di dalam perutku. Walaupun aku sangat membenci orang yang telah menghamiliku, aku harus menerima mereka. Biar bagaimanapun mereka bagian dari diriku."
"Pria itu harus bertanggung jawab."
"Kalau dipikir-pikir keadaanku dan Honey tak jauh berbeda. Kami diperkosa dan memiliki anak dari hasil pemerkosaan itu. Kalau boleh aku sarankan, sebaiknya kamu menikahi dia. Hanya bertanggung jawab secara materi tidak cukup, karena Honey membutuhkan seseorang dalam hidupnya untuk membesarkan dan mengasuh Chloe. Apa yang kamu lakukan saat ini belum cukup. Nikahi dia, besarkan anak kalian bersama-sama."
"Aku nggak cinta dia."
"Buka hatimu dan kamu harus belajar mencintai dia. Dulupun kita tak saling cinta, namun buktinya cinta bisa hadir walau sayangnya cinta tak membuat kita bersatu. Aku yakin Honey mencintaimu, ayah dari anaknya. Paling tidak jadikan Chloe sebagai alasan untuk belajar mencintai Honey."
Kenapa mulut lo mudah mengatakan itu pada Daffa, namun elo nggak bisa melakukan hal itu ke gue, Rin? Gue mencintai elo dan anak-anak kita. Nggak bisakah elo juga mencintai gue?
"Apakah elo bisa mencintai pria yang sudah menghamili lo?" tanya Ardian tiba-tiba. Erina menatap Ardian lalu mengangkat bahu tak peduli.
"Apakah kamu bisa mencintai pria yang sudah menghamilimu seperti kamu mencintai anak-anak itu?" Kali ini Daffa yang bertanya. "Kamu dan Honey sama-sama korban, dan menurutmu Honey mencintaiku, pria yang memperkosanya. Lalu bagaimana dengan dirimu?"
"Entahlah," jawab Erina singkat. Lagi-lagi hati Ardian mencelos mendengarnya. "Yang akan kulakukan saat ini adalah belajar menerima dan mencintai mereka."
"Apakah dia yang telah menghamilimu?" tanya Daffa tiba-tiba sambil menunjuk Ardian. Suasana kamar mendadak hening.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐⭐