
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat Ardian tiba di rumah Erina. Bang Mamat, security di rumah Erina, yang mengenali mobil Ardian langsung membukakan pintu pagar.
"Malam bang," sapa Ardian.
"Malam den Ardi. Malam ini den Ardi menginap disini kan?" tanya bang Mamat.
"Iya bang. Mungkin selama uncle Andrew di rumah sakit saya akan sering menginap disini," jelas Ardian. "Kenapa bang?"
"Nggak papa den. Bang Mamat senang aja kalau ada laki-laki lain di rumah. Kebetulan pak Ali sedang ijin dua hari ini pulang kampung karena anaknya sakit."
"Oh gitu. Tenang bang, sekarang ada saya."
"Iya den. Saya juga lebih tenang kalau neng Erin ada yang nemenin. Biasanya kalau tuan dan nyonya lagi ke Amerika, neng Erin nggak ada yang nemenin."
"Bang, saya masuk dulu ya. Takut seblaknya keburu dingin."
"Seblak? Buat neng Erin? Sejak kapan neng Erin doyan seblak? Dia kan jijik lihat seblak. Dia pernah lihat kita makan seblak rame-rame, eh dia mau muntah," jelas bang Mamat. "Apa karena ngidam ya?"
"Mungkin bang. Saya masuk dulu ya."
Sesampainya di dalam rumah Ardian meminta bi Imas menyiapkan seblak yang dibawanya.
"Mbok Siti mana bi?"
"Lagi nemenin non Erin di kamar, den. Dari tadi non Erin muntah terus."
"Bukannya kemarin sudah mendingan ya?"
"Mungkin karena jauhan sama den Ardi makanya non Erin muntah-muntah lagi," ujar bi Imas sambil tersenyum.
"Memang wanita kalau hamil selalu begitu ya bi?" tanya Ardian heran.
"Setiap orang beda-beda den. Ada yang nggak mabok sama sekali. Ada yang cuma pagi aja maboknya. Ada yang cuma sebentar. Ada juga yang sampai menjelang lahiran masih mabok. Bahkan seingat bi Imas, dulu waktu nyonya mommy hamil non Erin, yang muntah-muntah malah tuan Andrew." Ardian manggut-manggut mendengar penjelasan bi Imas.
"Bi, memangnya non Erin nggak doyan seblak?"
"Iya. Non Erin nggak doyan. Makanya bibi bingung juga waktu tadi dia minta seblak. Mana mintanya yang pedas banget. Tapi ya mau gimana lagi, namanya juga ngidam. Den Ardi siap-siap aja menghadapi non Erin. Galaknya akan melebihi biasanya."
"Bi, nanti antar ke kamar ya. Oh iya, masih ada jahe?"
"Buat apa den? Oh, mau bikinin teh jahe buat non Erin ya?" Bi Imas segera menyiapkan bahan-bahan untuk membuat teh jahe sebelum mengantarkan pesanan Erina.
Setelah membuat teh jahe dan air jeruk, Ardian naik ke kamar Erina.
"Non, makan dulu. Tadi katanya minta seblak. Ini sudah dibeliin kok nggak mau dimakan?"
Di dalam kamar terlihat bi Imas dan mbok Siti sedang berusaha membujuk Erina untuk makan.
__ADS_1
"Non harus makan walau sedikit. Sejak pulang tadi non Erin kan muntah-muntah terus," bujuk mbok Siti sambil memijat kaki Erina.
"Nggak mau mbok. Nanti muntah lagi. Erin capek muntah terus."
"Mau minum teh hangat dulu? Bibi buatin ya?" bujuk bi Imas. Erina menggeleng.
"Bi Imas dan mbok Siti keluar saja. Biar nanti Erin saya yang urusin," ucap Ardian sambil menaruh minuman yang dibawanya.
"Elo ngapain lagi kesini? Gue kan sudah bilang kalau elo nggak perlu nemenin. Gue ini bukan anak kecil!"
"Elo memang bukan anak kecil, tapi di dalam perut lo ada dua calon anak kecil yang harus dijaga kesehatannya. Kasihan mereka akan kekurangan gizi kalau elo nggak mau makan," bujuk Ardian sambil duduk di pinggir ranjang.
"Sana jangan dekat-dekat gue! Badan lo bau!" Erina menutup hidungnya.
Sementara itu bi Imas dan mbok Siti yang masih berada di dalam kamar memandang Erina dengan heran. Perasaan den Ardian nggak bau deh, batin mbok Siti. Bi Imas mendekati Ardian dan mengendus-endus. Ardian yang bingung juga mencoba mengendus ketiaknya. Harum.
"Bi Imas ngapain sih?" tanya Erina bingung.
"Mau ngecek badan den Ardian bau apa nggak, non. Nggak bau kok. Iya kan mbok?" Mbok Siti mengangguk.
"Badan lo bau! Sana mandi dulu!" perintah Erina masih terus menutup hidungnya.
Yang lain saling berpandangan pasrah.
"Ya sudah, den Ardi mandi aja dulu. Nanti bibi ambilin baju tidur tuan daddy buat baju ganti. Baju kotor den Ardi taruh saja di keranjang." Bi Imas mendorong Ardian ke kamar mandi.
"Sssttt... den Ardi, turutin aja maunya non Erin. Bumil memang suka begitu," bisik Bi Imas sambil menyerahkan handuk bersih kepada Ardian.
Tak lama Ardian sudah terlihat segar dalam balutan piyama milik Andrew. Saat ia keluar dari kamar mandi, bi Imas sudah keluar kamar. Tinggal mbok Siti yang masih memijiti kaki Erina.
"Neng, minum teh jahenya ya. Biar perutnya enak. Itu den Ardi yang bikin lho," bujuk mbok Siti. Erina malah ngumpet di balik selimutnya.
"Mbok Siti keluar saja. Biar saya yang urusin Erin. Mbok Siti dan bi Imas istirahat aja. Malam ini saya menginap."
Setelah mbok siti keluar kamar. Ardian menarik kursi ke samping tempat tidur. Di atas nakas sudah tersedia minuman dan seblak pesanan Erina.
"Rin, makan dulu. Perut lo pasti kosong lagi karena muntah terus. Mumpung minuman dan makanannya masih hangat. Tadi elo minta seblak kan? Nih, sudah gue beliin sesuai pesanan lo."
"Sudah nggak kepengen," jawab Erina pendek. Ardian menghela nafas kesal. Ya ampun, dah gue bela-belain beli eh dia nggak mau makan.
"Jangan begitu. Kasihan anak-anak kita kalau perut lo kosong. Nanti darimana mereka dapat makanan?" Ardian terus membujuk. "Makan ya walau sedikit."
Erina menyembulkan kepalanya dari balik selimut.
"Wangi apa nih? Elo ya yang wangi banget? Malam-malam pakai parfum mau kemana?"
Ardian terperanjat mendengar ucapan Erina. Ya ampun, bukannya tadi dia yang bilang badan gue bau ya? tanya Ardian dalam hati.
__ADS_1
"Gue nggak pakai parfum. Gue kan habis mandi. Ini wangi sabun mandi lo. Tadi kan elo sendiri yang bilang badan gue bau," ucap Ardian heran.
"Ooh pantesan wangi banget." Hanya itu komentar Erina. "Rajin banget malam-malam mandi."
Astagaaa, kalau nggak ingat dia lagi hamil, gue piting nih anak, omel Ardian dalam hati.
"Jadi gue sudah nggak bau kan? Gue sudah boleh dekat-dekat sama elo?" Erina hanya melengos tak menjawab.
"Mana seblaknya? level 10 kan?" tanya Erina.
Ardian menatap ngeri semangkok seblak berwarna merah merona di atas nakas.
"Iya, level 10. Sesuai pesanan elo. Memangnya elo doyan seblak?" Erina hanya mengangkat bahu. "Gue suapin ya?"
"Nggak mau. Nanti muntah lagi."
"Minum dulu teh jahenya biar perutnya hangat."
"Elo yang bikin?" Ardian mengangguk.
Akhirnya pelan-pelan Erina mau makan walau awalnya terlihat ragu. Tak lama Erina mengambil mangkok dan sendok dari tangan Ardian dan memakan seblak tersebut sampai tandas. Mulutnya megap-megap karena kepedasan, namun ia tak berhenti makan. Ardian hanya memandang takjub saat Erina makan.
"Ngapain ngeliatin? Mau? Nih!" Erina menyodorkan sesendok penuh seblak ke arah mulut Ardian.
"Nggak usah. Elo habisin aja," tolak Ardian. Ia bisa membayangkan bagaimana pedasnya seblak tersebut.
"Makan!" perintah Erina.
"Tapi itu pedas banget, Rin."
"Makan! Tau dari mana ini pedas kalau elo belum nyobain? Atau elo keluar dari sini?" ancam Erina sambil tersenyum licik.
Akhirnya dengan terpaksa Ardian membuka mulutnya dan memakan seblak tersebut. Benarlah, rasa pedas dan panas langsung menyerbu mulut Ardian. Ia buru-buru menelannya lalu meminum sebotol air mineral yang ada di atas nakas sampai habis.
"Sssshhh.. haaaah... pedas banget, Rin!" omel Ardian sambil mengipasi mulutnya
"Pedas tapi enak. Mana vitamin dan susu gue?" tanya Erina dengan nada galak.
Sambil kepedasan Ardian mengambilkan apa yang Erina minta. Untunglah tak ada drama mual dan muntah. Sepertinya benar apa kata mama Amel dan bi Imas.
"Habis ini elo pulang kan?" tanya Erina sambil bersiap tidur.
"Pulang? Gue nginap. Gue sudah bilang sama mama papa kalau malam ini akan menginap di sini."
"Pulang aja, gih! Kan elo sudah lihat gue makan dan minum vitamin. Tugas lo sudah selesai."
"Kok elo tega banget sih? Ini sudah tengah malam Rin. Gue sudah capek dan ngantuk banget. Besok pagi-pagi sekali gue harus ke Bandung. Gue nggak sanggup harus nyetir pulang."
__ADS_1
"Ya sudah sana tidur di kamar tamu.," usir Erina dengan nada waspada. "Kalau elo tidur disini jangan-jangan elo memperkosa gue lagi."
⭐⭐⭐⭐