
Mendadak tercipta keheningan di antara mereka. Erina menunggu Daffa menjawab. Sementara itu Daffa bingung bagaimana harus menjelaskan semuanya pada Erina.
"Daf, tolong katakan padaku siapa mereka? Apakah mereka anak dan istrimu? Siapa Honey?" Erina mencecar Daffa dengan serentetan pertanyaan.
"Tolong katakan padaku siapa mereka?" sekali lagi Erina mengulangi pertanyaannya. "Apakah mereka istri dan anakmu?"
Daffa menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan. Ia melepaskan tangan Erina yang sejak tadi digenggamnya. Hati Erina mencelos saat Daffa melakukan hal itu. Ia merasa hal itu merupakan pertanda ia dan Daffa tak akan bersatu. Mungkinkah kali ini ia akan kembali mengalami kegagalan?
"Darimana kamu mendapat berita ini? Ayah bunda? Atau Ardian?" tanya Daffa.
"Bukan dari mereka. Bukan itu yang menjadi isu utama saat ini, tapi kenapa kamu tidak jujur padaku sementara kita akan menikah. Aku pernah bilang padamu bahwa aku tak mau menjalani pernikahan dimana di dalamnya ada kebohongan."
Daffa hanya diam mendengar perkataan Erina. Ia sadar pada akhirnya ia harus menceritakan semuanya pada calon istrinya.
"Maaf."
"Untuk apa kamu minta maaf? Aku tak menginginkan permintaan maafmu. Yang kuinginkan kejujuranmu."
"Rin, aku takut kehilanganmu."
"Kamu takut aku akan meninggalkanmu seperti Brittany meninggalkanmu?" Daffa terkejut mendengar ucapan Erina.
"Rin...."
__ADS_1
"Apa langkah yang akan kuambil semuanya tergantung pada dirimu."
"Please, jangan tinggalkan aku," ucap Daffa memohon.
"Aku nggak bisa berjanji apapun," sahut Erina datar. "Karena kamu telah mengecewakanku."
Daffa kembali terdiam dan nampaknya ia berpikir keras mengenai hal tersebut. Bayangan masa lalunya kembali muncul dipikirannya.
FLASHBACK ON
"Let's party tonight!" Segerombolan pria muda berteriak-teriak penuh semangat dalam sebuah mobil sport yang terbuka atapnya. Jam menunjukkan pukul 9 malam waktu setempat.
"Are you sure you want to come?" tanya salah satu pria berkulit putih bermata sipit.
"Why not?" tanya pria muda yang memegang setir. "It's been sometimes I didn't go to the club. I need a rest from my thesis."
Tak lama mobil mereka tiba di depan club yang kebetulan berada di sebuah hotel mewah. Tampak banyak pengunjung dengan pakaian mewah yang datang ke club tersebut. Ya, club tersebut memang pelanggannya dari kalangan highclass di kota tersebut.
"Okay, let's order!" Pria bermata sipit memanggil waitress untuk melayani mereka. Datanglah seorang wanita mungil dengan dandanan yang cukup seronok. Sontak para pria muda tadi berseru heboh menggoda wanita tersebut.
Tak lama datanglah beberapa wanita. Rupanya para pria muda tersebut memesan beberapa wanita penghibur untuk menemani mereka.
"Hey, you'not drinking alcohol?" tanya salah seorang wanita dengan pakaian yang sangat seksi kepada pria muda yang tadi menyetir. Karena bunyi dentum musik mereka harus berdekatan untuk berbicara.
__ADS_1
"Yeah. I'm not drinking alcohol because I need to sober all night long. I have to drive us home safely," jawab pria muda tersebut. Wanita muda itu mendekat lagi, kali ini lebih berani. Ia menekankan dadanya ke lengan pria tersebut dengan maksud menggoda. Bahkan tangan wanita itu sudah mulai meng***s paha sang pria.
"Do you want to spend the nigth with me?" tanya wanita itu menggoda.
"Sorry." Hanya itu jawaban sang pria muda sambil mengangkat tangan kirinya Disitu tersemat sebentuk cincin. "Engaged man. Not available anymore."
Wanita muda itu hanya tersenyum, lalu ia menarik pria muda itu ke lantai dansa. Selama beberapa saat mereka asyik mengikuti hentakan irama musik. Tak lama kemudian teman-teman mereka bergabung dengan keduanya.
"Bro, I need a rest. I'm tired."
Pria muda itu pun kembali ke meja mereka yang sekarang sepi karena teman-temannya sedang asyik dengan urusan masing-masing. Pria muda itu meneguk sisa cola yang tadi dipesannya. Tak lama, pria muda itu berdiri dan melangkah menuju toilet. Tubuhnya mulai terasa aneh. Kepalanya terasa berputar dan tubuhnya terasa panas.
"S***, apa yang mereka masukan dalam minumanku." umpat pria itu. Ia baru menyadari cola yang diminumnya terasa aneh. Sementara itu tubuhnya semakin terasa terbakar. Ada sesuatu yang mendesak di dalam dirinya, sesuatu yang membutuhkan pelepasan dengan segera. Pria muda itu membuka dua kancing bajunya, berharap dapat membuat tubuhnya lebih dingin. Namun semua itu sia-sia. Akhirnya ia keluar dari toilet dan berjalan menuju ke mejanya. Di perjalanan menuju mejanya, ia bertemu dengan waitress mungil yang tadi mengantarkan minumannya.
Entah setan apa yang merasuki diri, penampilan wanita mungil itu menggugah gairah primitif dalam dirinya. Dipeluknya wanita mungil itu dari belakang. Dengan penuh gairah dicium dan dirabanya seluruh tubuh wanita itu. Dan pada akhirnya mereka melewati malam penuh gairah di sebuah kamar hotel. Lebih tepatnya malam dimana sang pria muda menyalurkan hasrat primitifnya tanpa mempedulikan siapa wanita yang bersamanya.
Keesokan paginya pria muda tersebut terbangun akibat ponselnya yang berbunyi nyaring. Dengan kepala berat, ia membuka mata. Saat membuka mata ia melihat lengannya dijadikan bantal oleh seorang wanita... wait.. wanita? Ya tuhan, apa yang terjadi, siapa dia? Tiba-tiba pria itu merasakan sesuatu yang tak biasa. Ia melihat ke bawah selimut yang dipakai. Oh my god, tubuh mereka polos tanpa sehelai benangpun. Tubuh wanita itu menempel hangat pada tubuhnya.
Perlahan pria muda itu menarik tangannya dan lari ke kamar mandi setelah menemukan boxernya. Di dalam kamar mandi, ia menjambak rambutnya. Apa yang terjadi? Kenapa ada wanita itu. Aku dimana? Sejuta pertanyaan berkecamuk di pikirannya. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. S**t, semalam pasti ada yang mencampur minumannya.
Pria itu menangis karena telah melakukan dosa yang selama ini sangat dihindari. Terbayang olehnya wajah kedua orang tua dan kekasihnya yang berada jauh di tanah air. Ya tuhan, ampuni aku, isak pria itu di bawah shower yang membasahi tubuhnya. Aku benar-benar tak sadar saat melakukan hal itu. Ya tuhan, bagaimana aku mempertanggungjawabkan kejadian semalam. Lama ia menangis, hingga akhirnya ia memutuskan menyudahi tangisannya dan menemui wanita yang semalam tidur dengannya.
Pelan-pelan, dengan mengenakan bathrobe yang tersedia di kamar mandi, pria itu keluar dari kamar mandi. Ia berharap wanita itu masih ada disana, namun ternyata saat ia keluar kamar mandi wanita itu sudah tak ada. Yang tersisa hanya pakaiannya yang berserakan dan tempat tidur yang berantakan.
__ADS_1
Pria itu mendesah kesal saat melihat bercak darah di sprei. S***! Apakah aku memperkosa perawan? Lagi-lagi pria itu hanya mampu menjambak rambutnya. Marah dan menyesal menjadi satu. Apa yang harus kulakukan? Akhirnya pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi asistennya.
⭐⭐⭐⭐