
Ardian membuka mata. Dilihatnya tirai kamarnya sudah terbuka. Sinar matahari pagi masuk menembus ke dalam kamar. Suara burung berkicau terdengar ramai di atas pohon di depan kamarnya. Ardian menatap jam di atas nakas. Jam 7. Astagaa... jam 7?! Gue kelewat shalat subuh. Kenapa Erin nggak bangunin gue, omelnya dalam hati.
Setelah menjalankan shalat subuh yang kesiangan, Ardian keluar kamar dan disambut dengan wangi yang berasal dari dapur. Hmm.. pasti mbok Siti sudah datang, pikir Ardian. Namun bukan mbok Siti yang ia temui di depan kompor, melainkan Erina yang tampak sibuk memasak.
"Pagi sayang," sapa Ardian lembut sambil memeluk Erina dari belakang. "Kok kamu nggak bangunin aku shalat subuh?"
"Gue bangunin, tapi elo susah banget dibangunin. Sepertinya elo kecapekan karena pulang malam."
"Semalam kenapa pulang duluan? Aku nyariin kamu." Ardian mencium leher Erina.
"Di, yang benar ah. Geli tau. Gue lagi masak nih. Jangan ngomel kalau nanti omelletnya gosong."
"Sayang, kamu nggak kasihan sama aku?" tanya Ardian tanpa melepaskan pelukannya. Suaranya serak menahan gairah yang tiba-tiba menyerangnya akibat melihat tubuh mulus Erina yang pagi itu mengenakan kaos longgar dan celana pendek. Panjang kaosnya melebihi panjang celananya.
"Kasihan kenapa lagi sih Di?" tanya Erina sementara tangannya sibuk memasak.
Bukannya menjawab, Ardian malah menempelkan tubuhnya ke b****ng Erina sehingga Erina bisa merasakan sesuatu yang keras di bawah sana.
"Apaan sih, Di?"
"Yang, kita nikah sudah lima bulan lebih. Belum pernah sekalipun aku meminta hakku sebagai suami. Pagi ini boleh nggak aku memintanya?" Ardian kembali mencium leher Erina.
"Ardian, stop it! .... Ah!!" Sontak Ardian melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Erina agar menghadap ke arahnya.
"Kenapa Rin?" tanya Ardian panik.
"Elo tuh susah banget ya dibilangin. Tuh, tangan gue kena pan. Sakit tau!!" omel Erina sambil mengangkat telunjuknya.
Ardian langsung mengambil telunjuk Erina dan meniupnya lembut. Lalu ia cium telunjuk Erina dan berakhir dengan ia memasukkan telunjuk Erina ke dalam mulutnya. Erina terpaku melihat apa yang Ardian lakukan. Oh god, ini terlalu intim buat gue, batin Erina. Buru-buru Erina menarik tangannya, namun Ardian menahannya.
"Di ...." Suara Erina tercekat. Ia tak mampu melanjutkan ucapannya karena ada sensasi aneh di sekujur tubuhnya saat Ardian melakukan itu. Erina membuang muka dengan dada berdegup kencang.
"Lain kali hati-hati," bisik Ardian lembut.
"I-ini gara-gara... elo," sahut Erina mencoba ketus namun yang keluar malah bisikan.
"Sudah nggak sakit kan?" tanya Ardian sambil menatap dalam mata Erina.
"I-iya.. sudah nggak terasa. Jorok banget sih," omel Erina setelah berhasil mengusir rasa aneh yang tadi sempat ia rasakan.
"Sini aku cuciin tangan kamu. Matiin dulu kompornya." Ardian menarik tangan Erina ke bawah keran air, dibasuhnya dengan lembut. Lalu diajaknya Erina duduk di kursi makan.
"Siniin jarinya."
"Mau diapain?" tanya Erina curiga.
"Mau aku kasih salep biar nggak melepuh."
"Eeeng.. nggak perlu."
"Kata siapa nggak perlu? Sini nurut aja sama suami." Erina kali ini tak membantah.
"Tuh gara-gara elo, omelletnya berantakan. Iseng banget sih!" omel Erina.
__ADS_1
"Nggak apa-apa bentuknya berantakan yang penting rasanya. Lagipula kalau istri yang masak pasti enak," puji Ardian.
"Nggak usah memuji dulu. Dicobain aja dulu." Erina menyajikan dua piring nasi goreng dan sepiring omelet.
"Kok cuma satu omelletnya?" tanya Ardian heran.
"Itu gara-gara elo tadi iseng nempel-nempel melulu. Lagian ngapain sih pake acara cium-cium segala. Geli tau!"
"Yang, gimana yang tadi?"
"Apaan?"
"Ini." Ardian menunjuk celananya. "Kamu nggak kasian sama aku? Sudah menikah tapi serasa jomblo."
"Elo masih ingat tujuan pernikahan kita kan?" tanya Erina datar. Padahal di dalam hatinya ia berusaha mengenyahkan sensasi aneh yang tadi sempat ia rasakan.
"Kita kan bisa menikah dengan konsep friend with benefit, Rin. Sudah berbulan-bulan aku menahannya. Aku ini lelaki normal, sayang."
Erina tak menjawab. Ia bukan tak mengerti apa yang Ardian maksud, tapi bukan hal mudah melakukan hal itu dengan pria yang hingga kini belum ia cintai. Ia tak ingin itu hanya sekedar hubungan s**s. Ia ingin melakukannya atas dasar cinta. Apalagi ia masih trauma Ardian mengambil miliknya yang paling berharga.
"Rin, katanya kalau sudah dekat HPL, anak-anak harus sering ditengok lho. Aku aja belum pernah menengok mereka. Pasti mereka juga ingin kenalan dengan pipinya," ucap Ardian absurd.
"Ardian!"
"Apa mimi sayang?"
"Nggak usah mesum deh pagi-pagi gini!"
"Pagi, siang, sore atau malam, elo nggak boleh mesum!"
"Jadi gimana penyelesaiannya? Masa aku harus bermain sendiri terus. Aku juga nggak mungkin 'jajan' di luar sana. Ngeri, banyak penyakit."
Tiba-tiba ponsel Ardian berbunyi. Erina sempat melirik dan melihat nama Nathalie muncul di layar.
"Iya Nat, ada apa pagi-pagi telpon?"
"................ " Ardian terlihat mendengarkan dengan serius.
"Hmm.. boleh juga tuh. Kebetulan jadwalku hari ini kosong. Kamu mau aku jemput atau ketemuan langsung disana?"
"................."
"Ooh, oke. Kalau begitu nanti kita ketemu langsung disana ya. See you soon." Ardian memutus percakapan.
"Nathalie?"
"Iya."
"Ada apa dia telpon pagi-pagi? Alexia baik-baik saja kan?"
"Semua baik-baik saja. Yang nggak baik ini, Rin." Lagi-lagi Ardian menunjuk ke celananya dengan wajah memelas. Erina langsung membuang pandang dan berusaha menahan tawanya.
"Kenapa Nathalie pagi-pagi telpon?" tanya Erina penasaran.
__ADS_1
"Dia ngajakin nonton pertunjukan musik klasik di kedutaan. Kamu mau ikut?" tanya Ardian sambil menghabiskan sarapannya. "Oh iya, nasi gorengnya enak tapi agak keasinan. Omelletnya aja yang kurang menarik."
"Itu kan gara-gara elo!" omel Erina. "Gue nggak ikut. Kalian aja yang pergi."
"Beneran nggak mau ikut? Mumpung hari libur lho. Sekalian refreshing, sayang. Habis itu kita lanjut diner. Sejak menikah kita belum pernah diner berdua lho. Padahal dulu kita sering diner bareng."
"Gue mau istirahat di rumah aja. Berat bawa perut kemana-mana."
"Hmm.. gimana kalau siang ini aku ajak kamu ke spa? Kamu pasti butuh refreshing."
"Gue mau liat-liat perlengkapan bayi. Gue belum nyiapin apa-apa buat mereka."
"Ayo aku antar kamu belanja."
"Belanja online aja, Di."
"Jangan. Ini kan pengalaman pertama. Kita ajak juga mama Amel dan mommy Yuna. Habis itu kita makan siang bareng dan kalian bisa ke spa. Bagaimana?"
"Hmm.. boleh juga usul lo. Ya sudah lo kabarin mereka. Gue mandi dulu ya."
Melihat Erina ke kamar, Ardian malah mengikuti.
"Ngapain ikut kesini?"
"Mau mandi bareng kamu," jawab Ardian sambil memasang wajah tak berdosa. "Aku mau bantuin. Kamu pasti kesulitan menggosok tubuhmu."
"Astaga Ardian! Modus banget sih!"
"Rin, masa sih aku harus memperkosa kamu lagi untuk meminta hakku sebagai suami?" Ardian memeluk Erina dari belakang.
"Coba aja kalau elo berani memperkosa gue lagi. Gue bakal potong perabotan lo. Mau?!"
Ardian langsung melepaskan pelukannya dan menaruh kedua tangannya di depan senjatanya. Wah, berabe kalau beneran dipotong. Bisa amsyong gue, batin Ardian.
"Oke, oke aku nggak akan memperkosa kamu. Tapi jangan lama-lama dianggurin ya. Kalau senjataku macet gimana?"
"Rajin-rajin diminyakinlah biar nggak macet."
"Kamu yang minyakin ya? Pelumasnya ada di kamu." rayu Ardian. Alhasil selembar handuk melayang ke kepala Ardian.
"Nggak usah mesum. Buruan kabarin mommy dan mama Amel!"
"Rin .... "
"Apalagi?" tanya Erina kesal. Ia sudah berdiri di depan pintu kamar mandi. Ardian mendekatinya dengan tatapan yang sukar diartikan. Ya tuhan, apakah dia akan melanggar ucapannya untuk tidak memperkosa gue?
Setelah dekat, Ardian menarik tubuh Erina ke dalam pelukannya lalu mengecup bibir Erina. Semua itu dilakukan dengan cepat, membuat Erina tak sempat menghindar. Ciuman Ardian sangat lembut dan tidak menuntut. Tubuh Erina yang awalnya tegang, perlahan menjadi rileks walau ia belum membalas ciuman Ardian.
"Thanks," bisik Ardian setelah melepaskan pagutannya. Kini kepala Ardian turun menuju perut Erina dan menciumnya lembut. Erina menahan nafas saat Ardian melakukan itu. Kembali muncul sensasi aneh di tubuh Erina. Tubuhnya mendadak panas dan jantungnya berdegup kencang.
Erina bukan baru sekali pacaran. Ia tahu bagaimana reaksi tubuhnya bila bergairah. Tapi ia tak menyangka hal itu akan ia rasakan terhadap pria yang menjadi sahabat sekaligus musuhnya. Sadar Rin, jangan sampai elo terperangkap oleh serigala yang satu ini, bisik hatinya.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1