TAKLUK

TAKLUK
BAGAI TERSENGAT LISTRIK


__ADS_3

Sudah sebulan sejak Ardian mengalami kecelakaan. Kini kondisinya mulai membaik. Bekas operasi mulai sembuh, namun ia tak boleh banyak mengangkat ini itu. Akibatnya Ardian tak bisa membantu Erina menggendong si kembar. Bukan karena Ardian tak mau membantu atau karena dokter melarangnya. Namun Erina yang tak tega meminta bantuannya.


"Mi, sini biar pipi yang gendong Aidan."


"Jangan pi. Bahu kamu masih dalam pemulihan. Nanti kalau kamu gendong Aidan, bahu kamu sakit lagi." Erina mulai mengubah cara bicaranya pada Ardian.


"Tapi mimi pasti repot harus urus mereka."


"Nggak repot kok. Pipi tolong ambilin dua botol ASI dari dalam kulkas ya. Tadi siang aku sempat memeras susu."


Ardian menuruti permintaan istrinya. Setelah membawa apa yang diminta, Ardian kembali ke dalam kamar. Di sana dilihatnya Erina menggendong Aidan yang mulai merengek kehausan, sementara Azka berada dalam buaiannya. Untunglah Azka lebih sabar. Erina menggendong Aidan sambil sesekali menggoyang buaian Azka.


"Kamu beneran nggak mau dibantu?"


"Memangnya kamu bisa menyusui mereka?" tanya Erina.


"Kalau pakai botol bisa," jawab Ardian sambil nyengir. "Pipi kasihan lihat mimi repot begitu."


"Kamu jagain Azka aja. Biar aku nyusuin Aidan."


"Jangan jauh-jauh."


"Kenapa?"


"Mau lihat."


"Lihat apa? Lihat anaknya ne*** atau lihat yang lain?" tanya Erina sambil memicingkan mata. Lagi-lagi Ardian hanya bisa nyengir. "Nanti kepengen."


"Memangnya masih belum boleh?"


"Bukan belum boleh. Tapi belum siap."


"Kapan siapnya?" Erina angkat bahu.


Sebenarnya perasaannya sudah mulai tak karuan setiap kali Ardian membahas hal tersebut. Apalagi bila Ardian menatap penuh gairah saat ia menyusui anak-anak mereka. Erina adalah wanita dewasa yang tahu apa rasanya bercumbu. Rasa menggelenyar aneh di tubuhnya muncul saat Ardian menatapnya seperti saat ini.


"Sayang, anak-anak sudah tambah besar dan berat. Aku nggak tega lihat kamu mengurus mereka sendirian."

__ADS_1


"Aku nggak sendirian mengurus mereka. Ada mbok Siti dan bi Imas."


"Hmm.. bagaimana kalau kita ambil satu babysitter untuk membantu mereka. Biar bagaimanapun usia mbok siti dan bi Imas sudah nggak muda lagi. Mereka juga sibuk mengurus rumah. Aku nggak tega melihat kalian kecapekan."


"Tapi apakah mereka nggak akan tersinggung. Nanti dikiranya kita nggak percaya sama mereka."


"Nanti biar aku yang bicara sama mereka." Tangan Ardian mengelus perlahan kepala Aidan yang masih semangat menyusu pada Erina. Tanpa sadar jari Ardian menyentuh salah satu aset Erina. Keduanya terkejut dan terdiam.


Ardian terdiam karena takut Erina marah. Selain itu ada bagian tubuhnya yang bereaksi karena sentuhan tak sengaja itu. Ardian tahu ukuran aset tersebut. Malam itu terasa pas di tangannya. Seiring waktu Ardian penasaran karena sepertinya aset miliki Erina itu semakin mo***k dan menantang.


Sementara Erina terdiam karena tubuhnya bagai tersengat listrik ribuan volt. Entah mengapa di dalam pikirannya berkelebat bayangan liar saat malam itu Ardian menyetubuhinya. Dan akhir-akhir ini pikirannya semakin liar dengan bayangan tangan dan mulut Ardian yang memainkan kedua aset berharganya ini. Konyolnya lagi, ia merasa malam itu tubuhnya tak menolak bahkan memberikan reaksi yang tepat pada perbuatan Ardian. Ah, apakah sebaiknya kutanyakan pada Ardian bagaimana reaksiku saat kejadian malam itu?


Sejak memutuskan serius dengan pernikahannya ini, Erina mencoba mencari tahu lebih jauh mengenai kejadian malam itu. Memang Ardian sudah menceritakannya, namun ia membutuhkan saksi. Makanya Erina menghubungi Deni, sang bartender yang menceritakan apa yang terjadi di club pada malam itu.


"Ma-maaf sayang. Nggak sengaja," ucap Ardian sambil nyengir tanpa dosa.


"It's okay," jawab Erina lirih sambil terus menundukkan wajah memandangi Aidan. Di saat bersamaan, baby Azka mulai merengek meminta perhatian.


"Pi, tolong ambil Azka dong. Sekarang giliran dia," ucap Erina sambil melepaskan mulut baby Aidan yang sepertinya masih belum puas menyusu.


"Tapi baby Aidan sepertinya belum puas menyusu, Mi. Tuh lihat, mulutnya masih mencari-cari."


Tak lama giliran Azka yang menyusu pada Erina. Ardian memandang kedua anaknya dengan perasaan sayang sekaligus gemas karena pipi mereka yang semakin gembil. Sesekali ia memandang Erina yang dengan telaten menyusui Azka. Dadanya berdesir saat Erina memberikan asetnya yang sebelah lagi pada baby Azka. S***, kenapa terlihat begitu menggoda, omel Ardian dalam hati sambil meneguk ludah. Konyolnya lagi saat sebelah tangannya memegangi botol Aidan, ada bagian tubuhnya yang kembali mengeras hanya karena melihat pemandangan indah tersebut.


"Jangan mupeng gitu, pi," ledek Erina. Rupanya ia bisa menebak jalan pikiran Ardian. Bagaimana tidak, sorot mata Ardian menunjukkan gairah.


"Maklum mi, senjata pipi kelamaan jomblo," jawab Ardian absurd. "Mi, maaf ya kalau selama ini pipi sering menjadikan mimi sebagai obyek fantasi liarku."


Erina tak menjawab. Kembali ia menundukkan pandangannya memandang baby Azka yang sedang lahap menyusu. Sebenarnya ia melakukan itu karena khawatir Ardian melihat pipinya memerah karena malu.


Setelah kedua bayinya kenyang, Erina bergegas masuk ke kamar. Setelah Ardian keluar rumah sakit, Erina membiarkan Ardian tidur sekamar dengannya. Hal ini ia lakukan agar lebih mudah mengurus Ardian sekaligus ia melatih dirinya sendiri untuk tidur di atas ranjang yang sama dengan sang suami.


Ardian menyusul Erina setelah memastikan kedua bayi mereka tertidur nyaman. Pintu yang menghubungkan kamar mereka sengaja dibiarkan terbuka sedikit. Di dalam kamar, Ardian tak melihat Erina. Namun terdengar suara dari dalam kamar mandi. Pasti Erina sedang membersihkan diri. Ardian merapikan tempat tidur mereka. Kali ini Ardian menyimpan guling yang selama ini Erina pakai sebagai pembatas.


Tak lama Erina keluar kamar mandi dengan menggunakan baju tidur pendek. Setelah itu Erina memakai skincare lalu naik ke atas ranjang.


"Di, gulingnya mana?"

__ADS_1


"Aku simpan."


"Kenapa disimpan? Itu kan sebagai pembatas."


"Kurasa akhir-akhir ini guling tersebut tak menjalankan tugasnya menjaga perbatasan. Karena setiap pagi aku pasti memeluk guling yang lebih hangat, yaitu kamu."


"Iih, modus," ucap Erina cepat.


"Bukan modus, hanya memilih yang lebih comfy aja," sahut Ardian sambil memamerkan smirk-nya.


Duh gusti, kenapa tiba-tiba jantung gue berkhianat sih? Padahal dari dulu gue sudah biasa melihat dia memamerkan smirk-nya pada para gadis, batin Erina.


"Lagipula aku hanya menolong menjadikan ucapanmu kenyataan, sayang."


"Maksudnya?"


"Saat di rumah sakit kamu bilang ingin tidur di pelukanku. Makanya kupikir guling itu lebih baik pensiun supaya aku bisa mewujudkan hal itu," jawab Ardian menggoda Erina.


"Iih.. itu kan cuma salah satu cara supaya kamu cepat bangun," balas Erina cepat. "Sudah ah, aku mau tidur."


Rupanya kali ini Ardian tak mau menerima penolakan. Ia memeluk Erina yang tidur membelakanginya.


"Di..." Suara Erina bergetar karena gugup.


"Ijinkan aku tidur memelukmu seperti ini. Tapi perlu kamu tahu, kalau malam ini sepertinya aku bisa melakukan hal yang lebih dari sekedar memelukmu," bisik Ardian. Bibirnya begitu dekat dengan telinga Erina sehingga nafas hangatnya membuat tubuh Erina meremang.


"Ke-kenapa begitu?" tanya Erina gugup. Oh god, kenapa gue jadi gugup begini sih, maki Erina dalam hati.


"Malam ini sepertinya kamu sengaja menggodaku dengan baju tidur yang pendek ini dan parfummu yang wangi. Perpaduan yang mampu merusak pertahanan diriku," bisik Ardian sambil mulai mencium ringan leher Erina.


"A-aku nggak sengaja menggodamu. Malam ini gerah, makanya aku memilih tidur dengan baju ini. Dan perlu kamu tahu, aku nggak pakai parfum apapun. Kamu kan lihat sendiri tadi aku hanya pakai skincare dan body lotion. Hal yang rutin kupakai sebelum tidur."


"Aku rela kok malam ini digoda kamu. Nggak usah takut, aku nggak akan memaksamu. Namun jangan larang aku mencumbumu malam ini."


"Memangnya kamu mampu menahan diri setelah mencumbuku?" pancing Erina.


"Itu semua tergantung kamu, sayang," bisik Ardian. "Aku akan berhenti bila kamu meminta. Jangan takut untuk memintaku berhenti bila kamu mulai merasa tak nyaman."

__ADS_1


Justru gue takut nggak mau berhenti, batin Erina. Tubuhku siap namun perasaanku masih ragu. Rin ingat, elo bisa kehilangan dia bila perasaanmu terus meragu bisik hatinya. Apa elo mau dia jatuh kepelukan wanita lain? Hati nurani Erina mulai memprotes.


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2