
"Jadi, elo bakal terima tawaran dia buat menjadikan elo istri keduanya?" tanya Raina tak percaya.
"Gue belum menerima ataupun menolak tawaran itu. Gue masih sayang sama dia tapi gue juga nggak mau jadi pelakor."
"Bukan elo yang pelakor, tapi si Zulfa," ucap Alexia ketus. Raina manggut-manggut setuju. "Dia yang tiba-tiba muncul diantara kalian."
"Tetap aja....."
"Aha!" Tiba-tiba Raina berdiri sambil menggebrak meja sehingga membuat kedua sahabatnya terjengit kaget.
"Apa-apaan sih lo, Rai? Elo belum mau lahiran kan?" tanya Alexia sambil mengelus dadanya karena kaget.
"Gue punya ide bagus."
"Ide apa? Hmm.. gue kok khawatir ya dengan ide yang akan elo ungkapkan," ucap Erina sambil meletakkan gelas yang dari tadi dipegangnya. Dia mengambil sebatang rokok tapi tidak menyalakannya.
"Kalian mau dengar nggak ide gue?"
"Jangan bilang ide bagus lo itu adalah menyuruh gue kawin sama Ardian."
"Kok elo tau sih?" tanya Raina heran. "Sejak kapan elo jadi cenayang?"
Alexia kontan tergelak mendengar perkataan Raina. Sementara itu Erina hanya tersenyum masam.
"Rin, ada apa elo nyuruh gue datang?" Tiba-tiba Ardian menerobos masuk ke kantor Erina tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Nafasnya ngos-ngosan.
Sontak ketiganya tertawa sambil saling berpandangan. Kok bisa ngepas banget sih datangnya, batin Erina.
"Kalau sudah ada Lexi dan Rai, ngapain elo nyuruh gue datang? Gue buru-buru menyelesaikan meeting karena gue pikir ada hal penting. Nggak taunya elo manggil gue cuma buat ngajak minum," sungut Ardian sambil mengisi gelasnya.
"Nggak usah ngomel. Minum dulu biar tenang," potong Erina sebelum Ardian mulai mengomel.
"Di, elo beneran langsung kesini dari kantor? Gila, pasti elo ngebut ya nyetirnya?" tanya Alexia. "Perasaan baru satu jam yang lalu Erina menghubungi elo."
"Lo tau sendiri kan gimana tabiat sahabat lo yang satu ini. Kalau gue nggak segera kesini dia bakalan bete sepanjang hari. Bahkan bukan nggak mungkin dia bakal nyusulin ke kantor gue," jawab Ardian sambil menyesap minumannya.
"Di, elo punya pacar nggak?" tanya Raina tiba-tiba.
"Saat ini nggak ada. Tapi gue lagi ngincer manajer pemasaran di kantor gue. Siapa tau kali ini gue ketemu calon istri yang bisa gue ajak kawin, entah kapan." Ketiganya membulatkan mata saat mendengar jawaban Ardian. Tanpa kentara Alexia menggelengkan kepala.
"Hmm... ada planning buat nikah dalam waktu dekat?" Raina kembali bertanya.
__ADS_1
"Ngapain nanya-nanya? Elo sudah kayak mama Amel, yang setiap ketemu pasti bertanya kapan gue bakal nikah." Ardian terkekeh mengingat hal tersebut. Ibu tiri yang disayanginya sangat mencemaskan dirinya yang hingga saat ini belum juga memiliki pasangan tetap.
"Gimana hubungan lo dengan Calista?" Kali ini Erina bertanya.
"Sudah bubar sejak sebulan yang lalu."
"Kenapa?"
"Dia cemburu sama elo. Katanya, gue lebih perhatian sama elo."
"Bukannya memang iya, Di?" tanya Alexia. "Dari dulu sampai sekarang elo memang lebih perhatian ke Erin, daripada ke cewek-cewek yang lagi dekat sama elo."
Ardian hanya tersenyum mendengar perkataan Alexia, yang memang sesuai dengan kenyataan. Entah kenapa dia memang lebih perhatian kepada Erina daripada para kekasihnya. Mungkin karena kejadian yang mempertemukan mereka. Atau mungkin karena kakek mereka bersahabat. Salah satu alasan lainnya adalah, demi menjaga kewarasan orang-orang di sekitar gadis itu.
"Di, gimana kalau elo married sama Erin?" tanya Raina dengan wajah polos.
Pertanyaan yang sukses membuat Ardian tersedak dan batuk-batuk. Erina buru-buru menepuk punggung Ardian sambil memberikan tissue.
"Elo waras, Rai?" tanya Ardian setelah batuknya mereda. "Jangan bilang ke gue kalau ini keinginan si kembar."
"Gue serius. Gue manusia paling serius di muka bumi ini yang pernah kalian kenal. Gue lagi hamil, jadi nggak mungkinlah gue nggak serius," sahut Raina dengan wajah serius sehingga mau tak mau Ardian mempercayai ucapannya.
"Kenapa tiba-tiba elo nyuruh gue kawin sama Erina? Rin, ada apa sebenarnya? Apa elo se-desperate itu sampai Rai meminta gue buat married sama elo?" tanya Ardian sambil menatap dalam mata Erina.
"What?! Wah sudah gila tuh cowok!" seru Ardian kaget plus emosi. "Terus elo mau, Rin?"
"Gue masih bingung, Di."
"Nggak usah bingung. Tolak aja permintaan Zafran. Dasar cowok nggak setia. Baru mau nikah saja sudah niat poli-polian. NGGAK BERES!" sungut Raina kesal.
"Tapi bagaimana dengan keluarga gue? Mereka sangat berharap gue bertemu jodoh dan segera menikah di tahun ini."
"Elo ngomong jujurlah sama om Andrew."
"Nggak mungkin Di. Daddy pasti bakal kecewa. Belum lagi mommy dan eyang Fatma."
"Gue yakin mereka bakal ngerti kok. Mereka juga nggak mau kan anaknya jadi istri kedua."
"Di, kalau gue bilang sama mereka mengenai pernikahan Zafran, mereka pasti bakal ngejodohin gue. Bahkan eyang Fatma sudah memiliki calon suami buat gue."
"Elo minta waktu aja. Misalnya setahun. Nah, lo cari deh cowok mapan, ganteng, baik dan bisa menerima semua kekurangan lo."
__ADS_1
"Di, elo punya stock teman yang pantas buat sahabat kita ini?" tanya Alexia sambil menatap prihatin ke arah Erina.
"Ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu?" sergah Erina kesal. "Gue bukan cewek penyakitan. Nggak udah dikasihani!"
"Elo memang nggak penyakitan secara medis Rin. Tapi kejiwaan lo yang gue ragukan," jawab Alexia kalem.
"Hmm.. di kantor gue ada anak baru. Manajer HRD. Kayaknya masih single. Elo mau gue atur kencan buta sama dia?"
"Cakep? Tajir? Seksi? Agamis? Baik?" Raina memberondong Ardian dengan pertanyaan.
"Rai, kalau cari yang sempurna, pacarin aja tuh pangeran-pangeran dalam dongeng," sahut Ardian kesal. "Gue bingung, elo kawin sama bang Henry kok malah tambah oon sih?"
"Mas Henry suka cewek polos model gue, Di," jawab Raina pede. Semuanya tertawa mendengar jawaban tersebut.
"Atau gue jebak si Zafran buat menghamili gue ya? Jadi keluarganya nggak bakal menolak gue sebagai menantu mereka dan dia nggak jadi kawin dengan cewek itu," ucap Erina absurd. Pernyataan yang mampu menghentikan tawa mereka.
"Elo sehat kan Rin? Nah, ini nih yang bikin gue nggak yakin kejiwaan lo sehat," rutuk Alexia kesal. "Nggak usah punya ide aneh deh. Lagian ngapain sih elo masih aja mikirin tuh cowok. Nggak faedah tau!"
"Terus gue harus gimana?" Wajah Erina terlihat putus asa. "Gue nggak mau kawin dengan cowok yang disiapkan eyang Fatma."
"Jangan bilang elo dijodohin sama cowok yang waktu itu dikenalin sama eyang Fatma? Yang elo bilang anak mami."
"Itu yang bakal terjadi kalau tahun ini gue nggak menikah," ucap Erina lemas. Ketiga sahabatnya hanya mampu menatap prihatin.
"Kalau saran gue sih mendingan elo kawin sama Ardi. Kalian sudah lama saling kenal. Keluarga juga sudah saling kenal." Sekali lagi Raina mengajukan usul yang menurut Erina cukup absurd. Kali ini Alexia manggut-manggut menyetujui usulan tersebut.
"Gimana, Di?" tanya Alexia. "Menurut elo sendiri gimana, Rin?"
Ardian dan Erina saling berpandangan. Lalu keduanya terbahak-bahak membayangkan hal menggelikan terjadi di antara mereka.
"Nggak usah bercanda deh. Kasih usul yang benar dong," protes Erina. Ardian mengangguk menyetujui ucapan Erina.
"Ya cuma itu jalan keluarnya kalau memang elo nggak bisa menemukan calon suami sampai akhir tahun ini."
"Nikah sama si tomboy ini? Ya tuhan, bakal seperti apa rumah tangga kita nanti." Ardian menggeleng-geleng membayangkan hal tersebut. "Yang ada tiap hari perang dunia."
"Maksud lo gue barbar?" tanya Erina sengit.
"Emangnya nggak?" Ardian balik bertanya.
"Ka****t lo Di! Dasar sahabat terkutuk!"
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐