
Erin terlihat gelisah. Bolak balik melihat ke arah gerbang. Sikapnya yang tidak biasa tentu saja membuat Andrew yang sedang menonton TV terganggu.
"Rin, kamu kenapa sih? Sini duduk sebelah daddy."
"Jam berapa sekarang dad?"
"Baru jam 7 sayang. Kenapa? Kamu nungguin Daffa?"
"Iya tadi dia bilang mau datang jam 7-an."
"Sabar aja Rin. Mungkin macet di jalan. Tadi kenapa nggak barengan aja kesininya?" tanya Yuna yang datang membawa secangkir kopi untuk Andrew.
"Tadi Daffa bilang mau pulang dulu. Makanya dia nggak jemput Erin."
"Jangan-jangan.... " Andrew meledek putri semata wayangnya.
"Please dad, don't tease me , okay?"
"Tenang Rin, dia pasti datang," Yuna menenangkan putrinya. "Honey, jangan begitu dong."
"Mommy masak apa?" tahya Erina untuk mengalihkan kegugupannya.
"Tadi mommy masak opor ayam. Kan kamu bilang Daffa senang opor ayam. Selain itu mommy juga masak japchae dan shrimp shapo tofu. Untuk dessert mommy bikin strawberry shorbet."
"Waah mommy hebat."
"Kamu nggak kepengen belajar masak, Rin? Cowok indonesia senangnya cewek yang bisa masak lho."
"Nanti saja dad, kalau sudah menikah," jawab Erina. "Tapi kalau nanti habis menikah tetap tinggal disini, ada mommy yang masak kan?"
"Kamu lupa ya, kalau setelah kamu menikah kami akan pindah ke Texas?"
"OMG.. bagaimana mungkin aku melupakan hal tersebut. Mom, dad... can cancel that plan?"
Andrew menggeleng. Yuna hanya mengangkat bahu. Tugasnya adalah mengikuti kemana suami mengajaknya.
"Lalu Erin gimana? Sendirian disini?"
"Makanya cepat menikah supaya kamu nggak sendirian. Daddy kan sudah pernah bilang ke kamu mengenai hal ini," Andrew mengingatkan. "Your grandpa needs us."
"Me too."
Tiba-tiba...
"Assalaamu'alaykum."
__ADS_1
Serempak ketiganya menjawab salam dan melihat ke pintu. Tampak Daffa berdiri di pintu. Kedua tangan penuh. Tangan kiri memegang bungkusan dalam plastik berbentuk kotak, sementara tangan kanan memegang buket bunga yang sangat indah. Erina bergegas menghampiri Daffa yang langsung menyerahkan bungkusan di tangan kirinya. Erina menerimanya dengan dahi berkerut.
Daffa mendekati Andrew dan Yuna yang sekarang sudah berdiri menanti. Daffa menyerahkan buket tersebut kepada Yuna. Lalu mencium tangan Yuna dan Andrew dengan takzim.
"Kamu nggak salah kasih kan Daf? Bunga ini beneran buat tante?" tanya Yuna takjub sambil mencium bunga-bunga tersebut.
"Beneran tante," jawab Daffa sambil tersenyum. "Maaf om, Daffa nggak sempat membeli hadiah untuk om."
"Nggak papa Daf. Bagaimana kabar ayahmu?" Andrew mengajak Daffa duduk.
"Alhamdulillah kabar ayah baik, om. Bahkan minggu depan ayah akan mengikuti lomba 10K yang diadakan di Bali. Daffa dengar om juga akan ikut."
"Semoga om kuat. Sudah lama nggak latihan."
"Ini apa Daf?" tanya Erina sambil mengangkat bungkusan di tangannya.
"Itu kue brownies buatan bunda, sekalian ayah bunda titip salam buat om dan tante. Itu sebabnya aku nggak bisa jemput kamu. Aku harus pulang ke rumah untuk mengambil kue tersebut."
"Wah, bundamu sepertinya jago masak ya?" tanya Yuna yang sudah menata kue yang dibawa Daffa.
"Ah, biasa saja tante. Kebetulan bunda suka masak. Tapi kalau dibandingkan dengan tante yang lulusan sekolah kulinari, pasti kalah."
"Waah, jangan merendahkan orang yang belajar masak secara otodidak. Palet rasa mereka lebih hebat dari kami yang lulusan sekolah kulinari. Secara teknis kami memang unggul, tapi kalau untuk taste mungkin tisak jauh beda dengan yang otodidak seperti bundamu."
"Aku nggak mungkin membawakan bunga untukmu. Karena bunga yang ada dihadapanku malam ini jauh lebih cantik daripada buket tersebut," jawab Daffa sambil tersenyum. Kata-kata yang terdengar klise bahkan gombal, tapi mampu membuat Erina tersipu malu.
"Wah, nggak nyangka kamu yang terlihat kalem tapi jago mengucapkan gombalan seperti itu," ucap Andrew sambil terkekeh melihat Erina tersipu. "Perlu kamu tahu, Daf. Baru kali ini om melihat Erina tersipu seperti itu."
"Om Andrew benar. Nggak biasanya Erina tersipu hanya karena kata-kata seperti itu. Sepertinya kamu memberikan impact yang cukup besar kepada anak tante yang tomboy dan manja ini." Kini giliran Yuna yang berkomentar.
"Mom... dad.... please deh nggak usah ngeledek terus," protes Erina antara kesal dan malu. Ia pun tak mengerti kenapa dirinya bersikap seperti tadi.
Bahkan melihat kehadiran Daffa membuatnya lupa akan pertemuannya dengan Zafran.
"Daf, kita langsung makan saja yuk. Om Andrew sudah kelaparan dari tadi karena mencium wangi masakan yang tante buat."
"Wah, tante masak opor ayam? Ini kesukaan saya banget. Daffa yakin, opor ayam buatan tante nggak kalah enak dengan buatan bunda," puji Daffa setelah duduk di kursi. "Tante juga bisa bikin masakan Korea?"
"Sedikit-sedikit. Semoga kamu suka ya walau menunya nggak nyambung begini."
"Daf, siniin piringmu," pinta Erina. Lalu ia mengambilkan nasi dan lauk untuk Daffa. Tak lupa Erina mengisi gelas Daffa dengan orange juice.
Kali ini giliran Daffa yang terpana dengan sikap Erina. Tak disangkanya gadis tomboy yang dulu terkenal galak, ternyata jago melayani di meja makan. Hal yang jarang ditemui di masa sekarang ini.
"Terima kasih ya, Rin. Kayaknya kamu sudah siap nih menjadi seorang istri," puji Daffa tulus. "Sepertinya aku mendapat durian runtuh bila bisa mempersuntingmu."
__ADS_1
Semuanya tertawa mendengar ucapan Daffa. Mereka tak tahu ucapan tersebut serius atau bercanda. Terutama Erina yang tak berani berharap terlalu tinggi akibat terlalu sering disakiti.
Saat mereka sedang menikmati makan malam, tiba-tiba masuklah mbok Siti yang langsung mendekati Erina dan berbisik di telinganya.
Erina sangat terkejut saat mendengarnya. Bagaimana tidak terkejut kalau mbok Siti menyampaikan bahwa di ruang tamu ada Zafran.
"Kenapa mbok?" tanya Yuna curiga.
"Eeenghh.. anu nyah... di depan ada teman mbak Erin." ucap mbok Siti ragu.
"Siapa?" tanya Andrew.
"Den... den Zafran, tuan."
"Zafran? Wah sudah lama juga ya dia nggak kesini," ucap Yuna yang sepertinya belum mengetahui putrinya sudah putus dengan Zafran.
"Eh, nanti dulu... kok mommy jadi bingung. Astaga selama ini mami lupa kalau pacarnya Erin kan Zafran. Lalu kenapa sekarang malah kamu jalannya sama Daffa? Bahkan kalian berencana menikah. Coba jelaskan apa maksudnya ini? Mommy terlalu bahagia saat mendengar kamu memutuskan akan menikah sampai mommy tidak menyadari kami akan menikah bukan dengan Zafran."
"Tenang honey. Nanti aku jelaskan. Sekarang kita selesaikan dulu makan malam kita. Mbok, sediakan minum untuk tamu kita dan suruh dia menunggu sampai kita selesai makan."
Daffa meremas jemari Erina. Ia dapat melihat ketegangan di wajah gadis itu. Erina menoleh ke arah Daffa dan dilihatnya pria itu tersenyum kepadanya. Senyuman yang memberikan ketenangan. Tanpa bersuara Erina mengucapkan thank you. Entah mengapa kehadiran Daffa selalu dapat menenangkan emosinya yang mudah teraduk-aduk.
Tanpa mempedulikan Zafran yang menanti di ruang tamu, mereka melanjutkan makan malam sambil berbincang.
"Daf, kata Erin kamu mau bertemu kami karena akan membicarakan sesuatu. Apa itu?" tanya Andrew saat mereka menikmati hidangan penutup. "Kamu bukan mau melamar Erina kan?"
"Begini om, tante.... ehem... " Daffa berusaha membersihkan tenggorokannya yang terasa tercekat. Kali ini ganti Erina yang meremas jemari Daffa.
"Saya kesini bukan untuk melamar anak om dan tante. Bukan saat ini lebih tepatnya. Mungkin om dan tante sudah tau kalau kami baru saja memulai hubungan ini. Walau kami teman sekolah, tapi kami baru bertemu lagi."
"Usia kami memang sudah nggak muda lagi. Kami tidak berniat lama-lama pacaran. Kami memiliki tujuan yang sama dari hubungan ini, yaitu menikah. Tapi karena kami belum terlalu lama bertemu kembali, maka kami memutuskan untuk saling mengenal lebih jauh."
"Tadinya saya pikir akan butuh waktu lama bagi saya untuk meyakini hati ini dan menerima kehadiran Erina dalam hidup saya. Setelah beberapa kali bertemu, saya menjadi yakin langkah yang saya ambil adalah langkah yang tepat. Begitu banyak hal menarik dalam diri putri om dan tante. Kalau boleh dikatakan rasa ketertarikan saya semakin besar. Tapi ...."
"Daf, jangan paksakan dirimu menerimaku," ucap Erina seraya hendak melepaskan genggamannya. Namun Daffa tak melepaskannya. Semua itu tak luput dari pengamatan Andrew.
"Biarkan aku menyelesaikan penjelasanku, Rin. Seperti om dan tante tahu, untuk melanjutkan hubungan kami ke arah yang lebih serius saya nggak bisa egois dan mengabaikan pendapat orang-orang yang penting dalam hidup saya. Untuk itu saya hendak meminta ijin om dan tante untuk mengajak Erina bertemu dengan keluarga saya."
Erina walaupun sudah mengetahui alasan kedatangan Daffa malam ini tetap saja tak menyangka Daffa akan mengungkapkan niatannya untuk lebih serius dengan dirinya. Tiba-tiba Erina merasa seperti ada ratusan kupu-kupu beterbangan di perutnya.
"Jadi maksudmu ingin mengenalkan Erina kepada orang tuamu?" tanya Andrew meyakinkan.
"Iya om, sebagai tanda keseriusan saya ingin mengenalkan Erina kepada keluarga saya sebagai ..... calon istri."
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1