
Calon menantu? Apakah itu artinya ....
⭐⭐⭐⭐
Happy Reading
"Selamat siang eyang," sapa Daffa seraya mencium pipi eyang Marni. Lalu ia menghampiri Mira dan melakukan hal yang sama.
"Kok lama mas?" tegur Mira. "Kamu yang mengundang kok malah terlambat."
"Iya bun, tadi Daffa ke toilet dulu. Maaf ya."
"Oalaah ini tho calon menantu eyang. Sini cah bagus." Daffa menghampiri eyang Fatma dan mencium tangannya dengan takzim.
"Maaf Daffa belum sempat memperkenalkan diri ke eyang."
"Nggak papa nak Daffa. Seharusnya Erin segera mengajakmu ke rumah eyang. Bukannya malah bertemu di luar seperti ini," omel eyang Fatma menyalahkan Erina.
"Maaf eyang, bukan salah Erin. Tapi Daffa yang sedang sering dinas ke luar kota bahkan ke luar negeri," bela Daffa.
"Tetap saja, setidaknya Erin bisa menelpon atau mengabari eyang kalau sudah menemukan calon suami." Eyang Farma masih mengomeli Erina.
"Daffa yang ingin bertemu langsung dengan eyang. Kurang sopan kalau memberitahukan hal penting melalui telpon atau mengirim pesan."
"Sudahlah bu. Yang penting sekarang ibu sudah bertemu langsung dengan calon suami Erin." Yuna segera memotong saat dilihatnya eyang Fatma sudah siap mengomeli Erina.
"Iya eyang. Jadi eyang jangan sibuk menjodohkan Erin dengan pria lain ya."
"Habisnya kamu sih putus nyambung melulu kalau pilih pacar. Lebih baik eyang langsung carikan calon suami untukmu," sahut eyang Fatma tak mau kalah.
"Mas, kamu tahu nggak kalau ternyata eyang kakungnya Erin masih seduluran dengan eyang Hartono?" Info eyang Marni. Hartono adalah suami eyang Marni.
"Oh ya? Saudaraan gimana eyang?"
"Orang tua eyangmu dan orang tua Herjuno saudara sepupu. Tapi keluarga mas Herjuno memang sempat pindah ke Amerika karena bekerja di konsulat. Setelah pensiun mereka baru pindah ke Indonesia," jelas eyang Marni. "Sayangnya mas Hartono dan mas Herjuno nggak sempat bertemu. Eyangmu sudah keburu meninggal sebelum mas Herjuno kembali ke Indonesia."
"Jadi mommy dan tante Mira masih ada hubungan saudara?" tanya Erina tak percaya. "Unbelievable."
"Ternyata dunia sempit ya sayang."
"Bunda juga nggak nyangka akan seperti ini."
"Jadi ndhuk, kamu setuju kan kalau mereka menikah?" Kali ini eyang Marni yang langsung bertanya pada Mira. "Dan kamu Yuna, apakah kamu keberatan menjadikan Daffa sebagai menantu?"
"Yuna nggak pernah keberatan dengan pilihan Erin, eyang. Apalagi Andrew dan pak Irwan juga saling mengenal," jawab Yuna. "Sekarang terserah mereka apakah akan segera menikah atau masih mau menikmati masa-masa pacaran dulu."
__ADS_1
"Saya masih belum setuju sepenuhnya walaupun ternyata kami masih ada hubungan saudara," jawab Mira.
"Lho, apa masalahnya?" tanya Eyang Marni. "Kemarin-kemarin kamu yang ribut menyuruh Daffa segera menikah."
"Daffa sudah tau apa alasannya," jawab Mira sedikit judes.
"Apa karena Erina memiliki tatoo di kakinya?" tanya eyang Marni santai. Semuanya terkejut melihat betapa santainya eyang Marni mengatakan hal tersebut.
"Tatoo? Kamu punya tatoo, Rin?" tanya Eyang Fatma tak percaya. Sepertinya ia juga baru mengetahui hal tersebut.
"Lho, jeng Fatma nggak tahu?" tanya eyang Marni sambil terkekeh.
"Ibu... ibu tahu kalau Erin memiliki tatoo di kakinya?" tanya Mira ragu. "Ibu nggak keberatan dengan hal itu?"
"Mir... Miiiir.. kowe tuh kok ya kuno. Jaman saiki wis biasa tho cah wedhok bertatoo, merokok, minum, pesta-pesta, **** bebas, hidup bareng tanpa menikah." Eyang Marni kembali terkekeh. "Bahkan anak jaman sekarang tuh banyak yang nggak mau punya anak. Opo kuwi istilahe.. child free kalau nggak salah."
"Maaf eyang.. apakah eyang setuju dengan hal-hal seperti itu?" tanya Yuna ragu.
"Eyang nggak suka dengan hal-hal macam itu. Menurut eyang hal seperti itu nggak sesuai dengan tuntunan agama kita dan adat timur. Tapi eyang juga nggak bisa melarang seandainya ada cucu atau cucu menantu yang seperti itu. Kecuali untuk urusan **** bebas dan hidup bareng tanpa menikah. Memang wis jaman edan."
"Tapi bu...."
"Mir, ibu ngerti kowe pasti keberatan dengan hal-hal seperti itu. Tapi dari berbagai hal yang tadi ibu sebutkan, ibu yakin kalau mereka berdua nggak melakukan perzinahan. Buat ibu, kalau masalah tatoo, merokok atau minum itu nggak ada artinya dibandingkan kalau mereka melakukan hubungan **** sebelum menikah."
"Kalian berdua belum melakukan 'itu' kan?" tanya eyang Fatma. Keduanya menggeleng dengan cepat. Memang mereka sudah berciuman dan bercumbu, namun mereka berdua tidak melakukan hal 'itu'.
"Tuuh kan.. jadi nggak ada alasan menolak Erin menjadi menantumu, Mir."
"Tapi Mira tetap nggak mau kalau dia masih merokok dan minum. Nggak baik buat kesehatan dia dan terutama untuk rahimnya. Sebagai wanita nggak seharusnya mengabaikan hal tersebut." Mira bersikeras.
"Bun, Daffa janji akan memenuhi syarat yang bunda ajukan."
"Syarat apa Daf?" tanya Erina bingung.
"Bunda mengajukan syarat supaya kamu berhenti merokok dan minum. Aku juga setuju mengingat alasan yang bunda katakan tadi. Maaf sayang, aku takkan memaksamu kalau memang itu berat."
"It's okay. Erin sanggup," ucap Erina yakin. "Ada syarat lain tante?"
Mira terkejut mendengar pertanyaan Erina yang seperti menantangnya.
"Ada. Tante mau kamu bisa memasak makanan-makanan kesukaan Daffa. Tante nggak mau anak tante makan masakan pembantu." Mira mengajukan syarat lainnya.
"Siap! Tapi Erin juga punya syarat," tantang Erina. Yang lain terkejut mendengar ucapan Erina.
"Apa?"
__ADS_1
"Erin mau tante yang mengajarkan sendiri bagaimana cara membuat makanan kesukaan Daffa. Bagaimana?"
"Kenapa tidak minta mommy kamu untuk mengajarkan? Bukankan mommy kamu jago masak."
"Ribet kalau belajar sama mommy. Jangan-jangan mau masak opor malah jadi masak samgyetang*." sahut Erina.
"Benar jeng Mira. Bukan hanya itu. Jangan-jangan nanti kami berdua malah ribut." Mau tak mau yang lain tertawa mendengar ucapan Yuna.
"Bagaimana bun?" tanya Daffa sedikit cemas.
"Kalau malam minggu besok saat makan malam dengan keluarga mister Andrew, dia bisa membuat opor kesukaanmu, maka bunda akan mengajarkan dia masak. Bagaimana?" Wah, tantangan yang tidak main-main.
"Rin, apakah kamu sanggup? Kamu cuma punya waktu dua hari." Daffa khawatir Erina tak mampu memenuhi tantangan tersebut.
"Erin terima tantangan tante Mira." Erina menyanggupi. Tentu saja jawaban tersebut membuat yang lain terkejut. Apalagi Yuna yang sangat mengenal putri semata wayangnya yang tak pernah masak selain mie instan.
"Sudah... sudah .. mengenai tantangan bisa dibicarakan nanti. Sekarang kita makan siang dulu. Eyang sudah lapar," ucap eyang Marni.
⭐⭐⭐⭐
"Beb, kamu yakin bisa memenuhi tantangan bunda?"
"Kenapa? Kamu nggak yakin?" Erina balik bertanya.
"Aku hanya khawatir."
"Tenang saja, aku akan minta eyang Marni untuk mengajariku."
"Eyang Marni?"
"Iya. Tadi aku sempat berkirim pesan dengan tante Aira. Dia bilang, bunda belajar masak dari eyang Marni. Dan opor kesukaanmu resepnya dari eyang Marni."
"Wah... kamu hebat. Aku nggak sangka kamu sampai kepikiran menghubungi tante Aira," puji Daffa. "Memang nggak salah aku memilihmu menjadi calon istri."
"Aku siap melakukan apapun supaya tante Mira bisa menerimaku sebagai calon menantu."
"Kamu jangan memaksakan dirimu kalau memang tidak sanggup. Terutama mengenai minum dan merokok. Aku nggak keberatan kalau kamu nggak bisa berhenti dalam waktu sebulan."
"Kamu meragukanku? Tanpa tantangan dari tante Mira, aku memang sudah berhenti minum. Untuk merokokpun kurasa bukan hal yang sulit."
Daffa meraih tangan Erina dan mengecup punggung tangannya dengan mesra. Lalu ia menarik Erina ke dalam pelukannya. Di kursi supir, pak Mamat memperhatikan kedua sejoli tersebut sambil tersenyum simpul. Ah, masa muda memang indah.
⭐⭐⭐⭐
*samgyetang \= sop ayam ginseng khas korea
__ADS_1