TAKLUK

TAKLUK
PENGAKUAN


__ADS_3

Ardian menatap ragu pintu yang berdiri tegak di hadapannya. Hari ini ia memutuskan pulang ke rumah setelah berhari-hari menginap di apartemennya. Wajahnya terlihat kusut. Setelah mengambil nafas panjang, Ardian membuka pintu rumah dan melangkah menuju ruang makan. Ia tahu di jam-jam seperti ini kedua orang tuanya sedang menikmati makan malam. Biasanya di malam weekend seperti ini keluarga mereka akan berkumpul. Arga, Amel, dirinya, Gustav dan Starla. Bahkan terkadang Erina ikut mengisi satu spot di meja makan tersebut apabila kedua orang tuanya sedang ke Texas.


"Assalaamu'alaykum. Malam yah, malam ma," sapa Ardian saat dilihatnya Arga dan Amel sedang duduk menikmati hidangan.


"Wa'alaykumussalaam. Nah, akhirnya pulang juga anakmu , ma." jawab Arga. "Kamu dari mana saja selama beberapa hari ini nggak pulang?"


"Mas, biarin Ardian duduk dulu. Dia kan baru saja sampai. Kamu belum makan malam kan? Sini duduk dekat ayahmu. Mama akan suruh mbok Iyem mengambilkan piring untukmu. Kamu mau teh atau kopi?"


"Ardi sudah makan ma," tolak Ardi.


"Mama yakin kamu belum makan. Bahkan mama bisa tau kalau selama beberapa hari ini kamu makannya nggak teratur. Tuh liat, mukamu kelihatan kurusan." Amel tak mau mendengar penolakan dari Ardian. Ia menyuruh asisten rumah tangga mereka untuk menyiapkan piring untuk Ardian.


"Nggak usah dimanja. Dia sudah besar."


"Bukan dimanja mas. Memangnya mas nggak bisa lihat kalau anakmu itu lebih kurus dari biasanya?" tanya Amel pada Arga. Ya, walaupun Ardian hanya anak tirinya namun Amel menyayanginya seperti anak sendiri. Ia tak pernah membedakan Ardian dan Gustav.


"Thanks, ma."


"Sekarang kamu makan dulu, lalu mandi. Setelah itu baru kita ngobrol. Sudah lama kita nggak ngobrol kan?"


Mereka melanjutkan makan malam yang sempat terhenti. Tak satupun yang bersuara saat makan malam. Suasana yang tidak seperti biasanya. Ardian bisa merasakan hal tersebut. Apakah Gustav telah memberitahu mereka mengenai kesalahanku, tanya Ardian dalam hati.


"Di, ayah mau bicara sama kamu," ucap Arga setelah mereka selesai makan malam.


"Mas, biarkan Ardian mandi dulu. Biar lebih segar. Lihat tuh, penampilan anak kita acak-acakan gitu. Kamu pasti kurang tidur ya, Di?" tanya Amel. "Kalau perlu ngobrolnya ditunda besok. Biarkan Ardi istirahat dulu. Besok kalau sudah lebih segar, pasti lebih enak ngobrolnya."


"Mel, kamu terlalu sering memanjakan anak-anak," tegur Arga.


"Bukan memanjakan, mas. Tapi kurasa Ardian memang butuh istirahat. Tuh lihat, matanya sudah kayak mata panda," sahut Amel.


"Nggak apa-apa, Ma. Kita ngobrol malam ini. Ada sesuatu yang harus Ardian sampaikan pada kalian."

__ADS_1


Arga dan Amel saling berpandangan. Ada tatapan keprihatinan di mata Amel. Berbeda dengan tatapan Arga.


"Ayah tunggu kamu di ruang kerja. Jangan lama-lama mandinya. Jangan lupa shalat isya dulu."


Setengah jam kemudian ketiganya telah berkumpul di ruang kerja Arga. Saat Ardian masuk, ternyata sudah ada Gustav disana. Arga duduk di sofa panjang, sementara Amel duduk di sampingnya. Gustav duduk di salah satu sofa tunggal yang ada di sana.


"Kapan datang bro?" tanya Ardian pada Gustav.


"Belum lama. Tadi gue ke kamar lo, tapi kayaknya elo lagi di kamar mandi. Bagaimana kabar lo?" tanya Gustav.


"Ya begitulah."


"Duduk, Di." perintah Arga. Wajahnya tampak keras. Sementara itu Amel yang duduk di sampingnya, menepuk-nepuk lengan sang suami.


"Kalian mau minum apa? Mau mama buatkan coklat panas?"


"Nggak usah, ma," tolak Ardian. "Ada hal penting yang Ardi mau bicarakan dengan kalian."


Semuanya saling pandang. Raut wajah Arga dan Amel menunjukkan mereka sudah tahu apa yang akan Ardian bicarakan. Terlihat tatapan kekecewaan terpancar dari mata Arga.


"Ardi mohon maaf karena sudah mengecewakan kalian. Ardi telah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Ardi telah ..... merenggut kesucian Erin." ucap Ardian tanpa basa basi. Ia yakin kedua orang tuanya sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya melalui Gustav.


Arga yang sedari tadi sudah menahan emosinya, kali ini benar-benar kehilangan kesabaran. Amarah yang telah ditahannya sejak tadi kini menggelegak. Ia berdiri lalu menghampiri Ardian dan menamparnya keras. Saking kerasnya tamparan Arga, bahkan tubuh Ardian terjatuh. Arga yang masih emosi menarik kerah baju anaknya lalu kembali menamparnya. Ardian tak melakukan perlawanan.


"Mas, sudah mas. Sabar mas, kendalikan dirimu. Ardi itu anakmu," bujuk Amel seraya memeluk suaminya dari belakang.


"Kenapa kamu tega melakukan hal itu? Dia sahabatmu sendiri!" hardik Arga.


"Ardi tahu itu, yah. Tapi Ardi benar-benar khilaf."


Ardian kembali duduk bersimpuh di hadapan Arga. Ia memeluk kaki sang ayah. Bahunya terguncang hebat. Ya, ia menangis. Ardian menangis bukan karena kerasnya tamparan yang barusan ia terima dari sang ayah, tapi ia menangis karena menyadari kesalahan yang ia buat telah mengecewakan kedua orang tuanya dan terlebih lagi telah merusak hidup Erina.

__ADS_1


"Kenapa kamu tega mempermalukan kami? Mau ditaruh dimana muka kami saat nanti bertemu dengan mister Andrew. Kamu sudah sangat mengecewakan dan merusak nama keluarga besar kita."


"Maafkan Ardi, yah." Hanya itu yang mampu Ardi ucapkan sambil sesenggukan. Hati Amel dan Gustav ikut perih merasakan kesedihan Arga dan Ardian. Gustav, walaupun hanya saudara tiri namun ia memiliki ikatan batin yang cukup kuat dengan Ardian. Mereka menjalani masa remaja mereka bersama. Ia tahu betapa sedih dan hancurnya perasaan Ardian akibat perbuatannya sendiri.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang, Di?" tanya Amel lembut. Ia masih terus memeluk lengan Arga dan tangannya mengusap-usap lengan sang suami, sebagai salah satu cara untuk menenangkan Arga.


"Ardi akan bertanggung jawab dan menikahi Erin."


"Mana mungkin kamu bisa menikahi dia. Kamu sendiri tau kan kalau Erin sudah memiliki tunangan."


"Sepertinya Erin sudah memutuskan pertunangannya dengan Daffa," ucap Gustav. Ia membantu Ardian berdiri dan duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Kamu yang telah merusak pertunangan mereka!" tuding Arga kesal.


"Pertunangan Erin dan Daffa putus bukan karena Ardian, yah." Gustav membela Ardian. Ardian telah menceritakan permasalahan yang terjadi antara Erina dengan Daffa.


"Apapun permasalahan di antara mereka, kamu nggak berhak menyerobot tunangan orang ataupun memperkeruh hubungan mereka. Sebagai sahabat seharusnya kamu membantu Erin dan Daffa memperbaiki hubungan mereka. Bukannya malah merusak pertunangan mereka."


Ardian tak membantah sedikitpun ucapan Arga karena apa yang dikatakan Arga itu benar adanya. Seharusnya ia membantu Erina dan Daffa, bukan malah merenggut kesucian Erina. Apa yang telah ia lakukan terhadap Erina malah memperkeruh hubungan sahabatnya itu.


"Ayah sudah pernah mengingatkanmu untuk tidak menikung tunangan orang lain. Ayah tak pernah mengajarkan kalian hal seperti itu." Arga bersandar di sofa. Ia benar-benar tak menyangka Ardian melakukan perbuatan seperti itu.


"Ayahmu sudah berkali-kali mengingatkanmu untuk stop minum dan segera menikah. Semua itu supaya tidak terjadi hal seperti ini," ucap Amel. "Tapi mama rasa sekarang bukan saatnya kita membahas hal yang sudah lalu atau kenapa begini kenapa begitu. Yang terpenting saat ini adalah kamu mempertanggung jawabkan perbuatanmu."


"Ma, bagaimana kalau ternyata Erin dan keluarganya melaporkan Ardi ke polisi lalu dia dipenjara?" tanya Gustav khawatir.


"Kalau itu yang terjadi, Ardi harus mengakui perbuatannya dan masuk penjara."


"Kalian tega melihat Ardi masuk penjara?" tanya Gustav lagi.


"Kenapa tidak? Ardian sudah dewasa. Dia sudah berani bertindak sejauh itu maka dia juga yang harus bertanggung jawab sepenuhnya. Termasuk bila dia harus masuk penjara," jawab Arga lugas. "Kami kecewa, tapi kami lebih kecewa bila Ardian tidak mau bertanggung jawab. Masuk penjara merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban yang harus ia lakukan bila pihak Erin menuntut hal tersebut."

__ADS_1


Tak satupun yang berbicara setelah mendengar ucapan Arga. Ardian hanya mampu tertunduk penuh penyesalan.


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2